5 Strategi untuk Melatih Anak Mengenali Hoaks dan Misinformasi di Internet

teknologi 2 Jan 2021

Anak-anak masa kini cenderung akrab dengan teknologi. Sebagai generasi alpa, teknologi tidak bisa dipisahkan dari mereka. Gadget dan internet sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi saat pandemi COVID-19 sejak Maret lalu, anak-anak harus belajar dari rumah. Mereka melakukan pembelajran jarak jauh atau disebut juga sekolah daring. Ini semakin membuat mereka lebih intens dalam mengakses teknologi, internet khusunya.

Di satu sisi sekolah daring ini membuat anak-anak tetap bisa mendapatkan haknya atas pendidikan meski sedang pandemi. Namun pada sisi lainnya, ini bisa berpotensi anak terpapar hoaks dan misinformasi di internet. Tentu hal ini harus dicegah. Orang tua punya peran penting untuk membantu anak mengenali hoaks dan misinformasi di internet.

Hoaks

Sekolah daring membuat anak semakin sering berselancar di internet. Saat berselancar di internet, tidak semua hal yang Anda baca di internet itu benar. Alasannya cukup sederhana, ada begitu banyak informasi atau berita palsu bertebaran atau hoax. Ini karena informasi sangat mudah untuk disebarkan di internet.

Kata hoax adalah berasal dari Bahasa Inggris dan kini kerap muncul di berbagai media. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber. Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Menurut Silverman (2015), hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun 'dijual sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekedar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Dampak Hoaks

Hoaks kini dengan mudah dikonsumsi oleh anak-anak. Penyebaran konten digital nyaris tanpa filter memungkinkan anak  mengakses informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibat buruk dari hoaks adalah munculnya rasa saling curiga, sikap tak percaya, intoleransi, bahkan kebencian terhadap pihak atau kelompok tertentu. Usia muda dengan kemampuan mengolah informasi yang masih terbatas berpotensi membuat anak mudah terpapar efek buruk dari hoaks.

Selain itu dampak negatif lainnya dari hoaks adalah :

1. Hoksxbuang-buang waktu dan uang

Berdasarkan perhitungan situs cmsconnect.com, membaca hoaks dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi individu. Hal ini terjadi berkat produktivitas yang menurun akibat efek mengejutkan dari hoaks ini.

2. Hoaks jadi pengalih isu

Di dunia maya, khususnya bagi para penjahat cyber, hoaks dapat digunakan untuk memuluskan aksi ilegal mereka. Ya, penjahat siber diketahui sering menyebar hoaks soal adanya kerentanan sistem di sebuah layanan internet, misalnya Google Gmail.

3. Hoaks penipuan publik

Selain kehebohan, ada jenis hoax yang dibuat untuk mencari simpati dan uang. Di Indonesia, kabar hoaks yang banyak menipu publik beberapa waktu lalu adalah pesan pembukaan pendaftaran CPNS nasional yang dikirim lewat WhatsApp. Setelah ramai tersebar, barulah pemerintah mengklarifikasi bila pihaknya belum akan membuka pendaftaran CPNS.

4. Hoaks pemicu kepanikan publik

Apakah Anda beberapa bulan lalu menerima pesan berantai soal tindak perampokan di Surabaya yang pelakunya menyilet wajah korban? Ini menimbulkan kepanikan tersendiri. Masyarakat semakin was-was.

Strategi Mengenali Hoaks

Tentu orang tua wajib menjaga anak-anaknya agar tidak terpapar hoaks dan misinformasi di internet. Bahaya hoaks sungguh nyata mengancam kehidupan anak-anak. Berikut adalah strategi yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk melatih anak mengenali hoks dan misinformasi di internet.

1. Jalin Komunikasi yang Baik

Komunikasi adalah kunci, dalam hal ini, orang tua harus bertindak sebagai teman bagi anak. Penting untuk memberi contoh kepada anak untuk tidak mudah mengakses sumber-sumber informasi yang kredibilitasnya diragukan. Misalnya, anda juga tidak mudah menyebarkan sebuah berita yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan, jika perlu, anda bisa  langsung menghapus konten-konten yang terindikasi bersifat provokatif atau menghasut. Ini adalah sebuah langkah bijak.

2. Budayakan Membaca Buku

Meski kini informasi makin mudah di dapat di internet, usahakan untuk selalu mengajak anak membaca buku. Sediakan banyak buku bacaan di rumah. Budayakan membaca buku sedini mungkin, ini bisa meningkatkan kecerdasan literasi anak.

Melatih anak agar memiliki kecerdasan  literasi sangat penting di tengah maraknya hoaks yang beredar di internet. Dibanding informasi di internet , konten yang dimuat di buku jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

3. Ajak Anak Berpikir Kritis

Ajak untuk selalu berpikir kritis, termasuk saat mereka mendapatkan sebuah informasi di internet. Anda bisa mengajukan beberapa pertanyaan agar anak bisa tahu apakah informasi yang didapatnya itu hoaks atau tidak.

Misalnya saat anak menerima pesan berantai dengan judul “dari grup sebelah”, yang beredar melalui pesan di WhatssApp misalnya, anda bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut :

· Siapa yang membuat pesan ini?

· Apa tujuan pesan ini?

· Siapa target pembacanya?

· Siapa yang diuntungkan atau dirugikan dengan pesan ini?

· Apakah pesan ini penting?

· Apakah media yang memuat pesan ini bisa dipercaya?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu anak untuk menenali berita yang didapatnya. Dengan begitu anak akan semakin kritis saat menerima berita. Mereka tidak akan mudah dipengaruhi oleh hoaks dan misinformasi yang beredar di internet.

4. Cari Referensi Alternatif

Berita tak hanya dikeluarkan oleh satu media. Mengecek beberapa sumber untuk berita yang sama merupakan trik yang bisa anda ajarkan ke anak. Dengan demikian, ia bisa belajar untuk melihat, mana yang benar dan mana yang salah. Atau, bisa jadi mereka juga belajar melihat berita dari sudut yang berbeda.

Pastikan Anak bisa membicarakannya bersama anda, kapanpun ia mau. Diskusikan hal-hal yang membuat mereka bimbang agar lama kelamaan mereka akan terbiasa dengan hal semacam ini.

Biasakan anak untuk selalu mencari referensi alternatif terhadap sebuah berita yang beredar di internet. Ajak anak untuk selalu mencari informasi pada media-media yang terpercaya. Ajarkan juga jangan terpengaruh judul berita yang bombastis. Berita dengan judul bombastis biasanya hanya bersifat klik bait, antara isi dan judul tidak singkron. Dan ini rawan hoaks tentunya.

5. Asah Kepekaan Emosi

Terakhir, agar anak bisa mengenali hoaks dan misinformasi di internet anda bisa mengasah kepekaan emosi anak. Saat menerima sebuah berita, ajari anak mengenali emosinya. Berita yang mengandung hoaks biasanya menimbulkan efek perubahan emosi yang ekstrim.

Misalnya, ketika anak menerima sebuah berita, dia lalu merasa sangat marah atau sangat senang, bisa jadi emosinya sedang dimainkan oleh berita tersebut. Berita yang bisa membuat perubahan emosi yang ekstrim seringkali diterima begitu saja tanpa di cari dulu kebenaran informasinya.

Mengajari Anak Mengenali dan Tidak Menyebarkan Hoax
Hoax begitu mengerikan karena dapat memicu terjadinya pertikaian hingga perilaku kejahatan. Orang-orang yang tidak bersalah pun menjadi korban dari adanya hoax.

Ajari anak untuk tidak menerima begitu saja setiap berita yang didapat. Ajarkan untuk mengambil jeda dalam merespon sebuah berita. Tak perlu buru-buru bereaksi, melainkan harus berpikir jernih menanalisa sumber berita.

Agar Anak Paham Tentang Hoax dan Etika Penyebarannya
Dibalik semakin canggihnya teknologi, terdapat sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dalam menggunakannya. Salah satu contohnya yaitu dalam penyebaran hoax atau berita palsu.

Utamakan berpikir kritis dulu setiap menerima sebuah berita. Lalu berikan emosi yang wajar, tak pelu berlebihan. Ini akan membuat anak tidak mudah digiring dengan berita hoaks.

Dian Kusumawardani

"Pengajar di BKB Nurul Fikri dan Konselor Menyusui"

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.