Perbedaan Homeschooling Dengan Un-Schooling

edukasi Sep 23, 2020

Setiap orangtua tentu akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, mulai dari perawatan, pola asuh, hingga pendidikan yang akan ditempuh oleh anak-anaknya. Berbicara mengenai pendidikan, tentukan anak-anak sangat membutuhkan pendidikan dalam pertumbuhannya dan masa depannya. Tujuan pendidikan yaitu mendapatkan ilmu pengetahuan serta membangun diri menjadi manusia yang lebih baik.

Untuk menempuh ilmu pengetahuan bukan hanya melalui sekolah, salah satu yang cukup populer terdapat metode homeschooling, home education, unschooling. Setiap orang tentu menginginkan metode pembelajaran yang efektif dan baik. Namun, mereka juga harus pintar memilih metode pendidikan yang tepat sesuai dengan kondisi.

Tak sedikit orangtua yang memilih mengajar anak-anaknya sendiri di rumah. Di mana orang tua berperan penting dalam proses pembelajaran ini, sekaligus anak-anak bisa melakukan hal yang mereka inginkan dengan bebas tanpa hambatan. Dapat dikatakan metode pembelajaran ini masuk ke bagian parenting, seperti homeschooling, home education atau unschooling.

Sederhananya, kata "parenting" memiliki arti sebagai pengasuhan anak oleh orangtua, salah satunya dalam bidang pendidikan. Hal ini mungkin sudah mulai dirasakan atau diterapkan banyak orangtua, sejak mewabahnya virus Corona yang membuat anak-anak harus belajar di rumah. Dimana anak-anak tetap belajar dirumah, mengerjakan tugas dari guru dan didampingi oleh orang tua. Hal tersebut dikatakan anak mengikuti metode pendidikan formal, yang mana pembelajaran memang dilakukan di sekolah dan hanya terhenti pada saat adanya virus ini.

Namun, bagaimana dengan homeschooling dan unschooling yang merupakan metode pembelajaran di rumah dengan membutuhkan parenting atau pola asuh orangtua? Apa perbedaan di antara keduanya?

Perbedaan Homeschooling Dengan Un-Schooling

Unschooling merupakan metode pembelajaran berbasis minat serta bakat yang dimiliki anak. Di mana dalam proses pembelajarannya anak-anak diberikan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka suka dan menentukan apa yang mereka ingin pelajari, misalnya anak-anak ingin belajar membaca atau mengerjakan latihan soal SD. Artinya anak-anak memiliki kebebasan belajar di dunia ini.

Banyak orang yang kerapkali menghubungkan antara usnchooling dengan homeschooling. Dimana mereka berpendapat jika unschooling merupakan bagian dari homeschooling. Bahkan ada yang menyatakan jika istilah unschooling merupakan homeschooling yang tidak menggunakan kurikulum tetap.

Pendapat tersebut didasari dengan pemahaman pendidikan di rumah atau secara mandiri yang dilakukan oleh orang tua. Hal tersebut sah-sah saja, namun nyatanya ada beberapa perbedaan antara unschooling dengan homeschooling. Berikut beberapa perbedaannya:

1. Berdasarkan Pengertiannya

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “Unschooling” memiliki arti “tidak sekolah”. Tidak sekolah bukan berarti tidak belajar, karena metode pendidikan ataupun pelajaran dilakukan sendiri oleh orang tua. Kurikulum pembelajarannya pun dirancang sendiri oleh orang tua sesuai dengan tingkat kepribadian, psikologis dan kecerdasan majemuk anak. Selain itu, kurikulum belajar juga disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga. Unschooling sendiri merupakan sebuah kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan secara mandiri.

Sedangkan homeschooling, atau yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti sekolah rumah merupakan metode pembelajaran yang dipilih oleh setiap keluarga atas tanggung jawabnya sendiri dalam mendidik anaknya di rumah, dimana orang tua bertanggung jawab atas proses pendidikan anak tanpa melibatkan sistem sekolah.

Meskipun begitu, pembelajaran dengan metode homeschooling bukan berarti sepenuhnya yang mengajar anak adalah orangtua, melainkan orangtua dapat memanggil guru privat atau mendaftarkan anak kursus.

2. Konsepnya

Berdasarkan konsepnya penggunaan unschooling dinilai lebih kompleks dan lebih pelik, dibandingkan homeschooling. Unschooling dapat digambarkan sebagai pembelajaran yang berorientasi dan berpusat kepada seorang anak pemelajar, yang berperan aktif serta berpengaruh terhadap pelajaran.

Dapat diartikan, konsep unschooling tidak resmi dan tidak bersistem seperti pendidikan formal, misalnya tidak ada ujian atau tes, kurikulum, silabus, dan waktu belajar. Maka tak heran jika anak-anak unschooling dinilai memiliki waktu bebas.

Unschooling tentu berbeda dengan anti schooling dan deschooling. Dimana anti schooling merupakan aktivisme atau sikap yang menentang sekolah dan menganggap sekolah buruk. Sedangkan deschooling merupakan suatu gerakan sistem tradisional sekolah menuju metode dengan batas yang tidak tegas.

Homeschooling yang merupakan pendidikan informal masih memiliki hubungan layaknya pendidikan formal (sekolah) dan pendidikan nonformal (lembaga kursus). Dimana proses pembelajaran homeschooling dilakukan dengan cara mengajari atau memberi materi pada anak guna  mendapatkan ilmu. Sedangkan unschooling merupakan proses pembelajaran berdasarkan cara atau perbuatan dari pengajar, bukan hanya terfokus pada materi pembelajaran melainkan karena akal dan pikiran.

Hal tersebut berbeda dengan homeschooling yang pada dasarnya masih mengadaptasi pendidikan formal. Unschooling sendiri tidak mengenal istilah resmi atau formal seperti semester, mata pelajaran dan ujian akhir. Meskipun dinilai melakukan hal yang sama, tetapi istilahnya berbeda. Artinya, seorang unschooler sama-sama mempelajari matematika, seni, ilmu pengetahuan alam, bahasa, dan lain-lain, tetapi mereka tidak menyebutnya sebagai mata pelajaran.

Seorang unschooler menentukan pembelajarannya sendiri sesuai dengan minat atau perhatiannya terhadap suatu bidang serta dengan gaya belajar sendiri berdasarkan tipe kepribadiannya. Anak-anak akan mendapatkan segala pengetahuannya sendiri selama hidup.

3. Proses Belajarnya

Perbedaan antara homeschooling dan unschooling selanjutnya yaitu dilihat dari proses belajarnya. Dimana pada homeschooling biasanya orang tua berperan sebagai fasilitator atau mentor seperti guru di sekolah konvensional. Homeschooling juga biasanya menggunakan buku belajar dan mengaitkan pelajaran yang ada di sekolah dengan dunia nyata sehari-hari. Dapat dikatakan jika model homeschooling sangat terstruktur sehingga seringkali disebut school at home.

Sedangkan proses belajar unschooling cenderung membebaskan anak. Artinya anak bisa belajar apapun sesuai dengan keinginannya, gambarannya seperti balita bermain sehari-hari sambil belajar, sebelum kenal dengan sekolah. Maka jangan heran bila banyak yang menyebut unschooling merupakan homeschooling yang bersifat tidak struktur secara kurikulum. Karena metode ini menganggap jika textbooks, kurikulum serta ujian di sekolah dapat membatasi anak dalam belajar.

Yang terpenting orang tua harus sadar apa tujuan pendidikan anak dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Orangtua tahu cara belajar yang lebih efektif untuk anaknya, apakah lewat pendidikan formal, informal, atau unschooling. Setiap orangtua tentu memiliki pilihan yang berbeda dalam memberikan hak pendidikan anak, intinya anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan baik. Karena hak pendidikan sudah tertuang dalam salah satu hak asasi anak di PBB maupun perundang-undangan Indonesia.

Sistem Pendidikan Homeschooling
Homeschooling menawarkan konsep bahwa setiap anak memiliki kebutuhan masing-masing pada sistem pendidikan. Oleh karena itu, kebutuhan ini harus dipenuhi menyesuaikan minat dan bakat yang ada pada diri si anak

4. Peran Orangtua

Seperti yang diketahui sebelumnya, peran orangtua dalam homeschooling yaitu sebagai pengajar sepenuhnya layaknya guru di sekolah. Meskipun begitu, orangtua juga bisa memanggil guru les privat untuk membantu pendidikan anak. Sedangkan dalam unschooling, orangtua berperan sebagai pendamping, pembangkit motivasi dan pengawas bagi anaknya sedang belajar mandiri.

5. Hasil Pembelajarannya

Hasil pembelajaran yang dimaksud yaitu, apakah anak mendapatkan ijazah atau tidak. Metode pendidikan homeschooling mempunyai kurikulum standar pada akhir proses pembelajaran, di mana anak mengikuti ujian untuk mendapatkan ijazah. Sedangkan pada unschooling, pembelajaran tidak mengikuti kurikulum standar sehingga tidak mendapatkan ijazah. Jika orangtua memang tidak mementingkan ijazah pada anak, biasanya mereka akan memilih unschooling.

Itulah sedikit penjelasan mengenai homeschooling dengan unschooling beserta perbedaan antara keduanya. Pada dasarnya setiap orangtua bebas menentukan metode pendidikan untuk anaknya, karena keduanya pun memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk melatih kemampuan, memberikan pengetahuan serta membentuk anak menjadi lebih baik.

Sebagai orangtua, Anda juga bisa mendiskusikan hal ini pada anak, apakah mereka setuju jika mendapatkan pendidikan dengan metode homeschooling ataupun unschooling. Karena anak akan lebih semangat jika sesuai dengan keinginan, minat dan kepribadiannya.

Masih Perlukah Ijazah Untuk Praktisi Homeschooling?
Sepertinya, masih banyak pertanyaan yang ada di benak masyarakat mengenai homeschooling, salah satunya berkaitan dengan ijazah. Misalnya, apakah ijazah homeschooling legal? atau apakah ijazah untuk praktisi homeschooling masih dibutuhkan atau tidak?

Orangtua juga bisa memberikan pendukung dalam proses pembelajaran anak, misalnya platform online belajar yang bisa membantu anak dalam mencapai materi pembelajaran, misalnya kejarcita.id. Di sana, anak bisa mendapatkan latihan soal beserta pembahasannya untuk mendukung mereka belajar di rumah.

Epin Supini

Writerpreuner.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.