Sistem Pendidikan Homeschooling

parenting Sep 03, 2020

Membicarakan sistem pendidikan, maka homeschooling adalah salah satunya. Sistem pendidikan berbasis rumah ini bukanlah hal baru. Bahkan, sejak pandemi COVID-19, sekolah pun menjadi “semi” homeschooling dengan adanya Belajar Di Rumah (BDR). Guru memberikan kisi-kisi materi dan pembelajaran online, kemudian anak bersama orang tua mengeksekusi pelajaran di rumah. Di luar musim pandemi pun, banyak orang tua telah menjalankan sistem ini untuk pendidikan anak.

Lalu, apa itu sistem pendidikan homeschooling? Mengapa banyak orang tua tertarik menjalaninya?

Diawali dengan pemahaman bahwa setiap anak itu unik, maka mereka memiliki cara belajar yang unik pula. Begitu juga dengan minat dan bakat anak yang bervariasi. Sehingga, menjadikan anak-anak ini memiliki kebutuhan pembelajaran yang berbeda-beda, spesifik pada keunikannya masing-masing. Maka, konsep homeschooling  ini dirasa cocok untuk menyesuaikan kebutuhan pendidikan setiap anak.

Homeschooling menawarkan konsep bahwa setiap anak memiliki kebutuhan masing-masing pada sistem pendidikan. Oleh karena itu, kebutuhan ini harus dipenuhi menyesuaikan minat dan bakat yang ada pada diri si anak, tanpa menghilangkan kebutuhan anak pada dunia sekolah. Jika metode pendidikan konvensional, guru atau fasilitator lah sebagai pusatnya, maka homeschooling berpusat pada anak.

Sistem ini memungkinkan anak dan orang tua duduk bersama dalam menentukan metode pembelajaran yang paling sesuai dan diminati anak. Dalam pembelajaran pun, dapat dilakukan dengan hal yang paling menarik perhatian anak, sehingga lebih mudah dipahami. Tentu saja untuk anak yang lebih kecil, orang tua perlu mengeksplorasi terlebih dahulu ke arah mana minat dan bakat si anak tertuju. Juga, bagaimana karakter si anak, sehingga lebih mudah untuk menjalani homeschooling. Pada sistem konvensional, sekolah mengajarkan banyak pelajaran, entah anak didik membutuhkannya atau pun tidak, maka homeschooling spesifik hanya pada kebutuhan anak. Kecuali, jika anak membutuhkan ijazah seperti sekolah formal, maka perlu mengikuti ujian nasional yang mencakup semua mata pelajaran.

Tujuan akhir yang ingin dicapai dengan sistem pendidikan berbasis rumah ini bervariasi. Namun, secara singkat dapat dirangkum menjadi beberapa poin penting. Beberapa poin ini antara lain, motivasi anak dalam belajar, fokus pada tujuan yang ingin dicapai, disesuaikan dengan kondisi anak, kemandirian dan manajemen diri pada anak, dan kerja sama orang tua dan anak.

Anak termotivasi untuk belajar mandiri karena kurikulum dirancang sesuai minat anak. Dalam pembelajaran, tujuan belajar pun diketahui anak sejak awal. Sehingga, tidak heran, sejak usia dini pun, anak dapat terarah untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi tujuan pembelajaran ini disesuaikan dengan kebutuhan anak di setiap jenjang usianya, sehingga lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Pada homeschooling, anak-anak sejak awal dilibatkan dalam penentuan metode pembelajaran, bahkan pada tahap usia tertentu dapat menentukan sendiri fokus belajarnya. Hal ini menghasilkan anak yang secara mandiri dapat melakukan manajeman pada diri dan hidupnya. Pelaksanaan dalam sistem pembelajaran, dapat melekatkan hubungan dan kerja sama antar-anggota keluarga. Sekolah dan keluarga menjadi satu kesatuan.

Untuk menentukan kurikulum dan berbagai sarana prasarana yang mendukung, tentu saja orang tua perlu mengakses berbagai informasi terkait. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan kecepatan internet, banyak sumber informasi yang bisa diakses online. Baik itu berupa materi, konsultasi, maupun bimbingan melalui berbagai aplikasi dan website, salah satunya blog.kejarcita.id. Website ini menyediakan fasilitas pendampingan online, baik itu gratis ataupun berbayar.

Komunitas homeschooling pun sudah tersebar di berbagai lokasi di Indonesia. Baik yang berbasis materi umum, hingga agama, nasional maupun internasional. Juga, jika pelaku homeschooling ingin mendapatkan ijazah formal pun banyak lembaga yang dapat mendampingi. Pemerintah pun cukup suportif untuk memberikan kesetaraan pada anak-anak pelaku homeschooling, tidak ada bedanya secara esensi dengan sistem pendidikan formal.

Apa saja yang perlu dipersiapkan jika ingin melakukan homeschooling?

  1. Kesiapan orang tua untuk menjadi fasilitator utama dalam pendidikan si anak
  2. Pengenalan terhadap karakter, minat, dan bakat anak, sehingga bisa memilihkan kurikulum dan metode pembelajaran yang tepat
  3. Membangun lingkungan yang kondusif dalam pelaksanaan pembelajaran di rumah
  4. Sarana dan prasarana yang memungkinkan mendukung proses pelaksanaan

Sistem ini, dibalik segala keunggulannya, ternyata cukup menantang juga untuk dilakukan. Apa saja tantangan yang dihadapi?

  1. Pemilihan Kurikulum

Banyak kurikulum baik nasional maupun internasional yang dapat dipilih. Biasanya setiap keluarga memiliki visi dan misi masing-masing sebelum memilih kurikulum mana yang paling cocok. Menyesuaikan kebutuhan kurikulum dengan kebutuhan perkembangan anak sesuai tujuan keluarga adalah salah satu tantangan yang perlu dihadapi jika memilih homeschooling.

2. Pengetahuan Orang Tua

Menyiapkan kurikulum, sarana, hingga memberikan pelajaran sendiri kepada anak tentu saja membuat orang tua perlu belajar ekstra. Maka, tak jarang para orang tua perlu membekali dirinya melalui pelatihan ataupun sekolah dalam rangka memahami betul bagaimana sistem ini harus dilakukan. Kesiapan orang tua adalah salah satu poin penting keberhasilan.

3. Kesiapan Anak

Kesiapan orang tua dengan sistem homeschooling  yang kokoh menentukan pondasi yang kuat Ketika akan memulai homeschooling, sehingga si anak tidak kebingungan. Ketika anak siap menjalani homeschooling, maka proses pembelajaran akan lebih mudah dilakukan. Jika tidak, maka justru anak akan mengalami kebingungan dengan pembelajaran, apalagi dengan semua fleksibilitas yang ditawarkan. Komunikasi terus-menerus perlu dilakukan untuk mendukung kesiapan anak.

Orang Tua Jangan Menerapkan Ambisi Pribadi Pada Anak
Apabila dipandang berdasarkan definisi, ambisi memiliki arti yang sangat bagus dan berkemauan besar dalam mencapai sesuatu. Namun, dalam kehidupan sehari-hari si ‘Ambisi’ ini memiliki aura negatif yang dapat menghancurkan pribadi seseorang bahkan anak remaja yang belum dewasa pemikirannya.

4. Pengaturan Jadwal

Jika sekolah memiliki jadwal tetap dalam melakukan pembelajaran, maka homeschooling  lebih fleksibel dalam pengaturan waktunya. Untuk anak yang sudah besar dan mampu diajak bertanggung jawab terhadap waktu, mungkin hal ini tidak masalah. Untuk anak yang lebih kecil, tentu saja membutuhkan pengawasan ekstra agar tujuan kurikulum yang dipilih dapat dilakukan dalam waktu yang sudah dijadwalkan. Mengingat anak-anak kadang merasa “bebas” jika berada di rumah.

5.  Pengaturan Anggaran Dana

Jumlah biaya yang perlu dikeluarkan untuk homeschooling ini bervariasi. Dari rentang biaya yang ekonomis hingga mahal sekali. Fasilitas berasal dari orang tua sendiri, baik membuat ataupun membelinya. Tentu saja, ini membutuhkan anggaran biaya juga. Semakin banyak materi pembelajaran yang membutuhkan peraga, apalagi harus membeli sendiri, maka biaya yang perlu dianggarkan juga semakin besar.

6.  Komunitas Homeschooling

Mencari komunitas adalah salah satu poin pendukung yang biasanya dilakukan oleh para pelaku homeschooling. Melalui komunitas ini, para anggotanya akan saling berbagi informasi dan dukungan. Menemukan komunitas yang cocok juga merupakan tantangan tersendiri dalam proses pelaksanaan homeschooling. Sebaiknya, sejak awal homeschooling, sudah mengetahui komunitas mana yang akan diikuti, jika memang perlu. Jika memang dirasa tidak perlu, maka bisa juga tidak perlu mengikuti komunitas manapun.

Semua Anak itu Cerdas Menurut Konsep Multiple Intelligence
Semua anak itu cerdas. Anak-anak itu memiliki kemampuan kecerdasannya masing-masing. Teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner memandang bahwa semua anak itu cerdas dan kecerdasan itu bersifat majemuk.

Setiap keluarga memliki pertimbangan tersendiri saat memutuskan menggunakan sistem pendidikan  homeschooling bagi anak-anaknya.  Jika memang sudah siap dengan segala tantangannya, maka sistem ini sangat menarik untuk dilakukan. Selamat mencoba!

Enni Kurniasih

"Penulis, blogger, pemerhati pendidikan dan parenting"

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.