Dampak Bullying pada Siswa dan Upaya Pencegahannya

edukasi 20 Jan 2026

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap individu lain yang dianggap lebih lemah, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Berbagai bentuk bullying, seperti bullying verbal, fisik, sosial, maupun cyberbullying, kerap dialami oleh siswa di berbagai jenjang pendidikan.

Dalam konteks pendidikan, bullying tidak dapat dianggap sebagai perilaku wajar atau sekadar kenakalan anak. Bullying berpotensi mengganggu kesehatan mental, perkembangan sosial, serta proses belajar siswa. Korban bullying sering mengalami tekanan psikologis, menurunnya rasa percaya diri, hingga berkurangnya motivasi belajar. Apabila tidak ditangani dengan baik, bullying dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang merugikan siswa, baik secara akademik maupun emosional.

Jenis-Jenis Bullying di Lingkungan Sekolah

1. Bullying Fisik

Bentuk bullying yang melibatkan tindakan kekerasan secara langsung terhadap tubuh atau barang milik korban. Perilaku ini dapat berupa memukul, menendang, mendorong, mencubit, menampar, atau merusak barang korban secara sengaja. Bullying fisik biasanya dilakukan oleh siswa yang memiliki kekuatan fisik lebih besar atau posisi dominan dibandingkan korban, sehingga korban merasa takut dan tidak mampu melawan. Dampak bullying fisik tidak hanya menimbulkan luka secara jasmani, tetapi juga dapat menyebabkan trauma psikologis dan rasa tidak aman di lingkungan sekolah.

2. Bullying Verbal

Bentuk bullying yang dilakukan melalui ucapan atau kata-kata yang bersifat menyakiti perasaan korban. Tindakan ini meliputi mengejek, menghina, memanggil dengan julukan buruk, mengancam, atau merendahkan korban di depan orang lain. Bullying verbal sering kali dianggap sepele karena tidak meninggalkan bekas fisik, namun dampaknya sangat besar terhadap kondisi mental siswa. Korban bullying verbal cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa tidak berharga, serta mengalami stres dan kecemasan.

3. Bullying Sosial

Bentuk bullying yang bertujuan merusak hubungan sosial dan posisi korban dalam kelompok pertemanan. Bullying ini dilakukan dengan cara mengucilkan korban, menyebarkan gosip atau fitnah, mengajak teman lain untuk menjauhi korban, serta mempermalukan korban di lingkungan sosial. Bullying sosial sering terjadi secara tersembunyi dan sulit terdeteksi oleh guru atau pihak sekolah, tetapi dapat menyebabkan korban merasa kesepian, tidak diterima, dan kehilangan dukungan sosial dari teman sebaya.

Cara Mewujudkan Sekolah Anti-Bullying
Penghapusan bullying di sekolah adalah keharusan yang mendesak demi memberikan kenyamanan dan keamanan bagi setiap siswa untuk mendapatkan pendidikan secara layak

4. Cyberbullying

Bentuk bullying yang dilakukan melalui media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan singkat, atau platform daring lainnya. Tindakan cyberbullying dapat berupa komentar kasar, ujaran kebencian, penyebaran foto atau video tanpa izin, serta ancaman yang dilakukan secara online. Cyberbullying memiliki dampak yang lebih luas karena dapat menyebar dengan cepat, dilakukan secara anonim, dan berlangsung tanpa batasan waktu maupun tempat. Akibatnya, korban sering merasa tertekan, malu, dan sulit menghindari perlakuan tersebut.

Faktor Penyebab Terjadinya Bullying

sumber: kejarcita.id

1. Faktor Individu

Pelaku bullying umumnya memiliki kemampuan empati yang rendah, kesulitan mengontrol emosi, serta keinginan untuk mendominasi atau menunjukkan kekuasaan atas orang lain. Beberapa siswa melakukan bullying sebagai bentuk pelampiasan rasa frustrasi, iri hati, atau ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Selain itu, siswa yang pernah menjadi korban bullying juga berpotensi menjadi pelaku sebagai bentuk balas dendam atau upaya mempertahankan diri.

2. Faktor Keluarga

Pola asuh yang keras, kurangnya perhatian dan kasih sayang, serta lingkungan keluarga yang penuh konflik atau kekerasan dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Anak yang terbiasa melihat atau mengalami kekerasan di rumah cenderung meniru perilaku tersebut dalam interaksi sosialnya, termasuk di lingkungan sekolah. Kurangnya pengawasan dan komunikasi antara orang tua dan anak juga membuat perilaku bullying sulit terdeteksi sejak dini.

3. Faktor Lingkungan Sekolah

Pengawasan guru yang kurang optimal, lemahnya penegakan aturan sekolah, serta budaya sekolah yang permisif terhadap perilaku agresif dapat memberikan ruang bagi bullying untuk berkembang. Selain itu, lingkungan sekolah yang kompetitif tanpa diimbangi pendidikan karakter dapat mendorong siswa untuk saling menjatuhkan demi memperoleh pengakuan atau status sosial di antara teman sebaya.

4. Faktor Media dan Teknologi

Akses yang mudah terhadap media sosial memungkinkan siswa melakukan intimidasi secara anonim tanpa takut dikenali. Konten kekerasan yang sering muncul di media juga dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku siswa, sehingga bullying dianggap sebagai hal yang wajar atau bahkan hiburan. Kurangnya literasi digital dan pengawasan penggunaan teknologi membuat bullying di dunia maya semakin sulit dikendalikan.

Dampak Bullying pada Siswa

1. Dampak Psikologis

a) Stres, kecemasan, dan depresi

Perlakuan negatif yang diterima secara terus-menerus membuat siswa merasa tertekan, takut, dan tidak aman, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Kondisi ini dapat memicu kecemasan berlebihan, gangguan emosional, hingga depresi, yang ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, mudah menangis, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.

b) Rendahnya kepercayaan diri

Ejekan, hinaan, dan perlakuan merendahkan yang dialami korban membuat siswa memandang dirinya secara negatif dan merasa tidak berharga. Akibatnya, siswa menjadi ragu terhadap kemampuan diri sendiri, enggan berpartisipasi dalam kegiatan kelas, serta takut berinteraksi dengan teman maupun guru, yang pada akhirnya menghambat perkembangan potensi diri siswa.

c) Trauma jangka panjang

Pengalaman buruk tersebut dapat membekas hingga siswa dewasa, memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan menjalin hubungan sosial. Dalam beberapa kasus, trauma akibat bullying dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental yang berkelanjutan, seperti fobia sosial atau gangguan kecemasan, sehingga berdampak pada kualitas hidup korban di masa depan.

kegiatan kejarcita

2. Dampak Akademik

a) Penurunan prestasi belajar

Perasaan takut dan tertekan membuat siswa sulit mengikuti proses pembelajaran dengan baik, sehingga pemahaman terhadap materi pelajaran menurun. Hal ini berdampak pada rendahnya nilai akademik dan berkurangnya kemampuan siswa dalam mencapai target pembelajaran.

b) Kurangnya konsentrasi dan motivasi belajar

Siswa korban bullying cenderung lebih fokus pada rasa takut dan kecemasan dibandingkan pada kegiatan belajar. Motivasi untuk hadir di sekolah dan mengikuti pelajaran pun menurun karena sekolah tidak lagi dipandang sebagai tempat yang aman dan menyenangkan, melainkan sebagai sumber tekanan.

c) Risiko putus sekolah

Siswa yang merasa tidak nyaman dan tidak terlindungi di sekolah dapat memilih untuk sering membolos atau bahkan berhenti sekolah sama sekali. Kondisi ini tentu merugikan siswa karena menghambat hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak.

sumber: kejarcita.id

3. Dampak Sosial

a) Menarik diri dari lingkungan sosial

Rasa takut ditolak atau disakiti kembali membuat siswa memilih untuk menyendiri dan menghindari interaksi dengan teman sebaya. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

b) Kesulitan membangun hubungan dengan teman  

Pengalaman negatif membuat siswa sulit mempercayai orang lain dan merasa cemas dalam menjalin pertemanan baru. Hal ini dapat menyebabkan siswa merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan sosial yang memadai di lingkungan sekolah.

c) Perilaku agresif atau menyimpang

Beberapa korban bullying justru menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan emosi atau bahkan meniru perilaku pelaku bullying. Kondisi ini berpotensi menciptakan siklus bullying baru apabila tidak segera ditangani secara tepat.

Peran Sekolah dalam Mencegah Bullying

1. Penerapan kebijakan anti-bullying

Sekolah perlu memiliki aturan tertulis yang jelas mengenai larangan bullying beserta sanksi yang tegas dan adil bagi pelaku. Kebijakan ini harus disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah, termasuk siswa, guru, dan tenaga kependidikan, agar tercipta pemahaman bersama bahwa bullying merupakan perilaku yang tidak dapat ditoleransi. Dengan adanya kebijakan yang jelas, sekolah dapat memberikan perlindungan bagi korban serta menciptakan efek jera bagi pelaku.

2. Penguatan pendidikan karakter

Melalui pendidikan karakter, sekolah dapat menanamkan nilai-nilai seperti empati, toleransi, saling menghargai, dan tanggung jawab kepada siswa. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, maupun budaya sekolah sehari-hari. Dengan karakter yang baik, siswa diharapkan mampu menghargai perbedaan dan menjalin hubungan sosial yang sehat dengan teman sebaya.

Contoh Perilaku Bullying yang Kerap Tak Disadari
Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

3. Peran guru dan konselor sekolah

Guru sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa di kelas memiliki peran strategis untuk mengamati perilaku siswa dan mengenali tanda-tanda terjadinya bullying. Sementara itu, konselor sekolah berperan dalam memberikan pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku bullying melalui layanan konseling. Kerja sama antara guru dan konselor sekolah diperlukan agar penanganan bullying dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

4. Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif  

Lingkungan belajar yang aman ditandai dengan suasana sekolah yang kondusif, hubungan yang harmonis antara warga sekolah, serta adanya ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat dan keluhan. Lingkungan yang inklusif juga menghargai keberagaman latar belakang, kemampuan, dan karakter siswa, sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya bullying dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.

Agnes Meilina

content writer - content creator - reviewer books

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.