Cara Mengembangkan Asesmen Formatif di Kelas

teaching 22 Jun 2022

Asesmen merupakan suatu/serangkaian upaya menyeluruh untuk menilai individu. Di sekolah, asesmen tidak terlepas dari proses pembelajaran untuk siswa. Hasil yang diperoleh dari asesmen akan sangat membantu guru dalam mempersiapkan, membuat dan melaksanakan kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Maka, tidak heran bila asesmen tidak asing lagi bagi guru. Selanjutnya, mari simak lebih lengkap mengenai apa itu asesmen?

Pengertian Asesmen

Asesmen disebut juga assesment (Bahasa Inggris) yang berarti penilaian. Menurut Robert M Smith (2002), asesmen merupakan suatu penilaian yang komprehensif serta melibatkan anggota tim agar dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan dari individu, hasil asesmen dapat digunakan dalam layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Asesmen menurut Nana Sudjana adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Asesmen secara sederhana dapat diartikan sebagai proses penilaian pada objek atau individu secara komprehensif.  Tujuan asesmen dalam pendidikan berarti upaya untuk melakukan penilaian terhadap siswa berdasarkan kriteria tertentu sehingga mengetahui kebutuhan belajarnya, agar guru dapat menyusun layanan pendidikan yang sesuai.

Asesmen dibagi menjadi tiga  jenis yaitu: 1). asesmen diagnosis, 2). asesmen formatif dan 3). asesmen sumatif. Sesuai istilahnya diagnosis (berdasarkan KBBI) adalah pemeriksaan terhadap suatu hal. Asesmen diagnosis merupakan upaya penilaian untuk mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan siswa di awal kegiatan pembelajaran.

Mengenal Asesmen Formatif dan Sumatif
Penilaian/asesmen merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Berikut bahasan asesmen formatif dan sumatif

Selanjutnya ada asesmen formatif diinterpretasikan sebagai semua kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas guru dan siswa untuk membantu menyediakan informasi, informasi yang diperoleh akan digunakan sebagai umpan balik untuk memperbaiki dan memodifikasi aktivitas belajar mengajar (Black & William, 1998). Asesmen formatif menjadi aktivitas guru dan siswa yang dilaksanakan sebagai upaya memantau kemajuan belajar siswa selama proses belajar berlangsung. Hasil penilaian formatif akan membantu guru supaya mengetahui dan mengurangi kesalahan, yang bertujuan menjadi umpan balik dalam menyempurnakan proses pembelajaran.

Sedangkan asesmen sumatif merupakan suatu aktivitas penilaian yang menghasilkan nilai atau angka yang digunakan sebagai pengukur kinerja siswa dalam proses belajar. Penilaian asesmen dilakukan pada saat penyampaian materi pelajaran telah selesai  diberikan.

Asesmen Formatif

Setiap jenis asesmen penting dilakukan serta bermanfaat bagi guru maupun siswa sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Pelaksanaannya disesuaikan tergantung kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Dalam artikel kali ini, akan membahas lebih lanjut mengenai asesmen formatif. Yuk, simak selengkapnya!

Asesmen formatif disebut juga dengan Assesment as Learning. Hampir sama dengan Assesment for  Learning (asesmen sumatif), namun perbedaannya pada asesmen formatif siswa juga bisa mendapatkan kesempatan sebagai penilai, bukan hanya guru saja. Jadi, siswa bisa mendapatkan pengalaman untuk melakukan penilaian terhadap diri sendiri atau teman sekelasnya juga. Dalam aktivitas penilaian, guru mengajak siswa  merumuskan prosedur penilaian, kriteria, maupun rubrik, sehingga siswa dapat mengetahui apa yang perlu dilakukan agar mendapat capaian pembelajaran secara maksimal.  

Penilaian ini dilakukan bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran, bukan hanya untuk menentukan tingkat kemampuan siswa saja. Hasil dari asesmen formatif digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kekuatan dan kelemahan pembelajaran yang telah dilakukan. Informasi yang didapatkan kemudian digunakkan untuk memperbaiki, mengubah atau memodifikasi pembelajaran agar lebih efektif dan dapat meningkatkan kompetensi siswa.

Untuk melaksanakan asesmen formatif, ada beberapa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru. Berikut ini prinsip-prinsip dalam menerapkan asesmen formatif:

Prinsip-prinsip Penilaian Formatif

a. Penilaian formatif terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Karena dilaksanakan saat pembelajaran berlangsung, penilaian formatif bisa dilakukan lebih dari satu  kali;

b. Melibatkan peserta didik dalam pelaksanaannya (misalnya melalui penilaian diri, penilaian antar-teman, dan refleksi metakognitif terhadap proses belajarnya);

c. Berkenaan tidak hanya dengan kemajuan penguasaan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan, tetapi juga motivasi belajar, sikap terhadap pembelajaran, gaya belajar, dan kerjasama dalam proses pembelajaran.

Teknik Asesmen Formatif

Sebagai upaya dalam memperoleh informasi mengenai kemajuan penguasaan kompetensi siswa. Baik dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang digunakan. Guru bisa melakukan penilaian formatif melalui kegiatan pembelajaran seperti observasi (Pengamatan), bertanya (Questioning), diskusi, Exit/Admit Slips, lembar catatan belajar peserta didik, Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman (Self- dan Peer-Assessment), latihan presentasi, peta konsep, penilaian kinestetik, papan bicara, kuis konstruktif, penugasan, daftar cek, jawaban bersama, contoh dan bukan contoh, tunjuk lima jari, menyebutkan hal-hal yang sudah dipelajari dan lainnya.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Asesmen Formatif

Dalam melakukan penilaian formatif guru perlu memperhatikan langah-langkah yang perlu dilalui. Karena pelaksanaannya  yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Menurut Bell dan Cowie (2002), penilaian formatif dilakukan melalui tahap-tahap:

1). Pengumpulan Informasi (elisitasi)

Tahap pertama asesmen formatif ialah pengumpulan informasi (elisitasi). Di tahap elisitasi, guru mengumpulkan bukti-bukti mengenai penguasaan kompetensi yang dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik. Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan ranah yang diharapkan. Entah ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Teknik yang diterapkan hendaknya bervariasi dari waktu ke waktu. Teknik yang sama apabila digunakan beberapa kali dalam satu tatap muka bisa menjadikan siswa bosan. Perlu diingat bahwa asesmen formatif umumnya tidak dilakukan secara formal dengan alat ukur atau instrumen yang standar. Pelaksanaannya juga biasanya tidak dengan aturan yang ketat seperti pada penilaian sumatif.

2). Pengolahan dan Interpretasi Informasi

Langkah selanjutnya dalam asesmen formatif ialah mengolah dan mengintepretasikan informasi yang diperolah. Guru harus cepat menangkap dan menyimpulkan penguasaan kompetensi siswa, dengan melihat hasil dari penilaian. Pada tahap ini pendidik membuat sejumlah kesimpulan atas beberapa pertanyaan, antara lain:

a. secara umum peserta didik telah menguasai materi/kompetensi secara umum;

b. apakah semua peserta didik telah menguasai materi dengan baik;

c. materi mana yang sudah dikuasai dan yang belum dikuasai dengan baik;

d. siapa saja yang telah menguasai materi dan yang belum menguasai materi dengan baik;

e. apa yang telah menyebabkan sejumlah anak belum menguasai materi dengan baik.

Untuk mengambil kesimpulan seberapa baik peserta didik telah mencapai kemajuan (menguasai kompetensi), pendidik umumnya membandingkan penguasaan yang telah dicapai peserta didik dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (criterion-referenced formative assessment). Meskipun demikian, ada sejumlah pendidik yang membandingkannya dengan penguasaan awal peserta didik yang bersangkutan (student-referenced formative assessment). Untuk dapat memberikan umpan balik dan tindakan yang tepat, pendidik dapat menggunakan dua pendekatan tersebut.

3). Pengambilan Tindakan berdasarkan hasil interpretasi penilaian

Setelah guru mengumpulkan informasi, lalu melakukan interpretasi, tahap berikutnya ialah mengambil tindakan. Di tahap ini, guru akan memberikan umpan balik (feedback) yang meliputi pemberitahuan mengenai tingkat penguasaan kompetensi dari siswa, materi mana saja yang telah dipahami, mana yang kurang atau belum dan bagaimana mengatasi serta tindak lanjut dari kegiatan pembelajarannya.

Bagian terpenting dari tahap ini adalah melakukan kegiatan pembelajaran kepada siswa yang difasilitasi oleh guru. Terutama bagi siswa yang belum memenuhi kriteria dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dan/atau kemajuannya belum optimal. Guru melakukan intervensi secara langsung atau dapat direncanakan terlebih dahulu dalam waktu yang cepat. Tindakan ini dapat dilakukan guru pada tingkat kelas, kelompok maupun individu.

Cara Mengembangkan Asesmen Formatif

Asesmen formatif dilaksanakan terintgrasi pada saat pelajaran berlangsung. Kunci utama dalam mengembangkan asesmen ini ialah guru bisa melakukan inisiatif dengan cepat saat melaksanakannya. Dengan tetap  memperhatikan/fokus pada  ranah kompetensi  yang ingin dicapai.

Berbagai Strategi Asesmen Formatif selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
Asesmen formatif membantu pendidik memberikan umpan balik kepada peserta didik dan memberikan tindak lanjut yang baik dalam proses belajar.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda ketahui mengenai asesmen formatif. Semoga bermanfaat.

Insani Miftahul Janah

Trying. Learning. Then Doing.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.