Peran Orang Tua dalam Mengurangi Dampak Lost Generation

edukasi Des 21, 2020

Sejak Maret lalu, Indonesia sedang berduka. Kemunculan pandemi COVID-19 membuat banyak perubahan dalam masyarakat, khususnya perubahan yang sifatnya regress. Virus mematikan atas Wuhan ini berdampak sistemik. Kemunculannya bahkan bisa menimbulkan adanya lost generation. Tentu ini harus segera diatasi. Lalu bagaimana peran orang tua dalam mengurangi dampak lost generation?

Apa Itu Lost Generation?

Dilansir dari halaman Wikipedia, lost generation (generasi yang hilang) adalah kelompok generasi sosial yang muncul selama Perang Dunia I. "Hilang" dalam konteks ini mengacu pada semangat "bingung, mengembara, tanpa arah" dari banyak orang yang selamat dari perang di awal periode pasca perang . Istilah ini juga secara khusus digunakan untuk merujuk pada sekelompok penulis ekspatriat Amerika yang tinggal di Paris pada tahun 1920-an.

Gertrude Stein dikreditkan dengan menciptakan istilah tersebut, dan kemudian dipopulerkan oleh Ernest Hemingway yang menggunakannya dalam prasasti untuk novel tahun 1926-nya The Sun Suga Rises : "Kamu semua adalah generasi yang hilang".

Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama tujuh bulan terakhir, menurut beberapa pakar bisa menyebabkan terjadinya lost generation. Ini tentu akan menjadi permasalahan baru bagi bangsa Indonesia. Belum juga mampu mengatasi pandemi dan dampak-dampak negatifnya, bayang-bayang lost generation sudah di depan mata.

Dampak Lost Generation

Terjadinya lost generation oleh pandemi COVID-19 ini ternyata menimbulkan banyak dampak pada berbagai bidang. Mulai dari kesehatan, psikologi hingga pendidikan anak-anak.

1. Risiko Kelahiran di Pandemi

Melahirkan di situasi pandemi tentu tidak mudah. Risiko tertular di RS saat bersalin tinggi. Di samping itu, membawa anak kembali ke RS untuk vaksin juga menjadi hal yang menakutkan bagi orang tua.

Bayi baru lahir belum punya imunitas yang cukup tinggi. Ini akan berpotensi tertular virus COVID-19.

2. Masalah Tumbuh Kembang Anak

Jika pandemi tidak kunjung usai, tumbuh kembang anak-anak Indonesia akan terancam. Hal ini bisa jadi merupakan dampak dari semakin banyaknya masyarakat yang mengalami masalah finansial akibat kehilangan pekerjaan atau pemasukan karena pandemi ini,  sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya.

Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, tentu tidak bisa tumbuh dengan optimal. Tumbuh kembang anak terhambat.

3. Terhambatnya Akses Imunitas Anak

Pandemi COVID-19 mengharuskan semua orang punya imunitas yang tinggi, agar terhindar dari penularan virus ini. Sayangnya, saat pandemi seperti ini akses imunitas anak menjadi terhambat.

Saat posyandu dan puskesmas belum bisa berjalan karena mereka kesulitan membedakan anak sakit dan sehat. Anak-anak tidak bisa lagi imunisasi di Puskesmas dan Posyandu.

Bagi orang-orang dengan kemampuan ekonomi yang cukup, mungkin akan lebih mudah mengakses imunisasi dengan berkunjung ke RS atau klinik yang hanya menerima anak sehat atau ke tempat yang khusus hanya menerima imunisasi. Akan tetapi, bagi keluarga yang tidak memiliki cukup dana untuk melakukannya, puskesmas bisa dibilang menjadi satu-satunya tujuan.

Akses imunisasi anak-anak menjadi terhambat. Padahal, imunisasi ini adalah salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk membentuk imunitas pada anak-anak.

4. Masalah Psikologi Anak

Pandemi yang tak kunjung usai membuat anak-anak berisiko mengalami beberapa masalah psikologi.  Misalnya trauma  anak-anak  nanti puluhan tahun ke depan dengan keadaaan yang terjadi sekarang: anak yang diisolasi, anak kehilangan orang tua, anak yang ketika orang tuanya sakit dititipkan ke tetangga.

5. Terhambatnya Akses Pendidikan

Pandemi COVID-19 juga membuat anak-anak terhambat akses pendidikannya. Meski saat pandemi dilakukan pembelajaran jarak jauh, dalam prakteknya ini belum berjalan secara maksimal.

Pembelajara jarak jauh belum bisa memenuhi akses pendidikan secara merata. Capaian pendidikan pun turun drastis, meskipun suda ada penyederhanaan kurikulum dari Kemendikbud.

Hal ini dikarennakan tidak semua anak bisa memiliki akses internet dan gadget yang mendukung pelaksanaan pendidikan jarak jauh.

Peran Orang Tua dalam Mengurangi Dampak Lost Generation

Menghadapi lost generation ini dibutuhkan kerjasama dari beberapa pihak, termasuk orang tua. Orang tua memiliki peran besar dalam menghadapi dampak lost generation ini.

Berikut adalah beberapa peran yang bisa dilakukan orang tua untuk mengurangi dampak lost generation.

1. Memberi ASI Hingga Usia 2 Tahun

Bagi keluarga yang masih memiliki anak bayi di saat pandemi seperti ini, sebaiknya berusaha untuk tetap memberi ASI (Air Susu Ibu). ASI memiliki kandungan gizi yang sangat baik bagi bayi. Zat-zat dalam ASI mampu memperkuat imunitas anak. Selain itu ASI gratis, tidak ada biaya yang harus dikeluarkan.

2. Menyediakan Makanan Gizi Seimbang

Makan makanan gizi seimbang setiap harinya bisa membuat anak tumbuh dengan baik. Makanan gizi seimbang tidak harus mahal. Banyak bahan makanan disekitar yang terjangkau dan bergizi tinggi.

Telur misalnya, studi yang dilakukan Ianotti et al. di dalam jurnal ilmiah Pediatrics [2107, 140(1)] mengungkapkan, bahwa, sebutir telur sehari selama enam bulan dapat memperbaiki pertumbuhan anak.

3. Melatih Penerapan 3M

Agar anak-anak terhindar dari penularan virus COVID-19, orang tua perlu sedini mungkin mengajarkan protokol kesehatan terkait virus ini. Latih anak untuk selalu disiplin melakukan 3M ; Memakai masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak.

4. Mendampingi Belajar

Saat ini anak-anak sedang belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh. Orang tua perlu mendampingi anak belajar. Membantu bila anak mengalami kesulitan dalam proses pembelajarannya.

Ini akan membuat anak bisa belajar dengan optimal. Selain itu juga bisa memperkuat bonding antara anak dan orang tua, yang akan membuat anak tidak stres saat belajar dari rumah.

5. Mengatur Keuangan dengan Bijak

Pandemi COVID-19 membawa dampak besar terhadap sektor perekonomian. Banyak karyawan di PHK, banyak pengusaha gulun tikar. Hal ini membuat orang tua harus lebih bijak mengatur keuangan.

Anggaran pendidikan dan pemenuhan gizi anak harus menjadi prioritas utama setelah pengeluaran rutin rumah tangga. Untuk sementara anggaran rekresasi ataupun hiburan dialihkan ke kebutuhan lainnya. Misalnya membeli kuota internet yang cenderung meningkat drastis saat pandemi.

6. Meluangkan Waktu Bermain dengan Anak

Pandemi COVID-19 ini juga membawa perubahan dalam dunia anak-anak. Anak-anak tidak bisa lagi bermain bebas di luar rumah. Anak-anak tidak bisa bermain bersama teman-temannya. Selama pandemi mereka harus di rumah saja. Tentu ini bisa memicu stres, anak-anak tak lagi bisa bersenang-senang.

Oleh karena itu, orang tua perlu meluangkan waktu bermain dengan anak di rumah. Ajak anak bermain bersama, misalnya bermain board game, menyusun balok bersama atau melakukan berbagai permainan sains yang menyenangkan. Ini akan membuat anak tetap terpenuhi kebutuhan bermainnya. Selain itu, saat anak bermain bersama dengan orang tua mereka menjadi lebih bahagia, sebab merasa diperhatikan.

Apa Kata Psikolog Tentang Perkembangan Mental Anak Selama PJJ?
Para psikolog banyak angkat suara mengenai kondisi mental anak di masa pandemi. Perubahan dari sebelum terjadinya wabah COVID-19 pada penyesuaian dengan virus ini butuh antisipasi dan kesiapan, baik fisik maupun psikis. Terlebih bagi anak-anak.

7. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Usahakan untuk selalu menerapkan pola hidup sehat dalam keluarga. Makan makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup dan berolahraga secara rutin setiap harinya. Pola hidup sehat akan membuat keluarga anda bisa terhindar dari berbagai penyakit, termasuk COVID-9.

Tips Agar Anak Bisa Fokus dan Tidak Cepat Bosan Saat KBM Online di Rumah
Tidak fokus saat belajar adalah salah satu faktor siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Sulit kosentrasi dapat terjadi karena beberapa hal, baik berasal dari internal maupun eksternal.

Demikian peran orang tua dalam mengurangi dampak lost generation. Semoga tulisan ini membantu anda dalam mengurangi dampak lost generation akibat pandemi COVID-19 ini.

Dian Kusumawardani

"Ibu rumah tangga yang suka menulis dan juga seorang konselor menyusui"

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.