Kenali 5 Ciri-ciri Anak Stress Selama Masa Karantina

parenting Mei 03, 2020

Hampir tiga bulan lamanya, Covid-19 telah menghantui masyarakat Indonesia. Banyak hal yang menjadi kurang maksimal karena adanya wabah ini. Salah satunya adalah proses belajar mengajar. Adanya himbauan agar melakukan aktivitas di rumah mengakibatkan pembelajaran nyaris lumpuh. Namun, dengan adanya perkembangan teknologi, proses pembelajaran bisa dilakukan via online dengan menggunakan berbagai media.  Hal tersebut mengakibatkan anak hanya berdiam diri di rumah. Hari-hari sebelumnya yang biasanya mereka berkomunikasi dan melakukan banyak aktivitas di luar rumah bersama teman sebaya, guru, bahkan orang lain, kini menjadi hanya sebatas aktivitas bersama keluarga di rumah. Itupun jika anak-anak memiliki saudara, lalu bagaimana jika anak hanya beraktivitas bersama orangtua? Benarkah anak akan stress selama masa karantina?

Sebelum membahas lebih jauh perihal stress yang terjadi pada anak. Mari kita telaah dulu apa yang dimaksud dengan stress. Karena kita seringkali salah mengartikan perihal stress, frustasi, dan depresi. Padahal ketiganya mempunyai definisi dan tingkatan yang berbeda dalam menjelaskan perilaku pada manusia.

Dalam istilah medis, stres didefinisikan sebagai suatu rangsangan fisik dan psikologi yang menghasilkan reaksi mental dan fisiologi yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Sedangkan secara teknis, stres merupakan pengrusakan keseimbangan tubuh (homeostasis), yang dicetus oleh pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Anak-anak yang sedang mengalami stres mungkin tidak tahu bahwa mereka sedang berada dalam kondisi stres, sehingga dibutuhkan peran orang tua untuk mengenali tanda-tanda stres pada anak (Catootjie, 2009).

Dikutip dari alodokter.com, stress merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau suatu perubahan. Stres juga dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah, atau bersemangat. Stress yang akan dibahas di sini adalah stress yang terjadi pada anak akibat adanya perubahan kegiatan pembelajaran. Semula, anak yang telah terbiasa melakukan aktivitas di luar rumah, kini harus terbiasa menjalani karantina di dalam rumah selama berminggu-minggu.

Ciri-Ciri Stress Pada Anak

Irzal (2010) menuturkan bahwa seorang anak yang stres dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tingkah lakunya. Berikut ini merupakan ciri-ciri stress yang terjadi pada anak, diantaranya adalah:

1. Sakit kepala

Seringkali kita mengira bahwa ketika anak sakit kepala adalah akibat dari fisik anak yang kelelahan akibat kegiatan sehari-hari yang telah dilakukan. Padahal, sakit kepala bisa menjadi salah satu ciri stress anak yang sering diabaikan oleh orang tua. Namun demikian, orangtua harus bisa membedakan sakit kepala anak akibat stress dan sakit kepala anak akibat aktivitas yang berlebihan.

2. Tidak bisa konsentrasi

Sama halnya dengan sakit kepala, tidak bisa konsentrasi juga menjadi akibat dari anak yang mengalami stress. Dengan demikian, anak akan sulit untuk konsentrasi dalam melakukan aktivitas, utamanya adalah dalam melakukan proses pembelajaran yang dilakukan jarak jauh. Akibatnya, anak menjadi pasif dan tidak bisa menerima pembelajaran secara maksimal.

3. Gangguan tidur

Tidak adanya kegiatan pembelajaran di sekolah, tentu mengakibatkan jam tidur anak menjadi berantakan. Biasanya, ketika anak tidur jam 9 malam agar esok harinya bisa segar kembali ketika berangkat sekolah, kini jam tidur anak menjadi sesuka hatinya karena anak akan berkata, ‘toh besok tidak sekolah’, sehingga anak akan bangun dan tidur sesuai dengan yang dia inginkan. Gangguan tidur yang dimaksudkan di sini bisa berarti dua hal, anak akan lebih banyak tidur atau yang kedua adalah anak akan lebih sulit tidur.

4. Mengompol

Ciri psikosomatis anak akibat stress yang keempat adalah mengompol. Seringkali kita tidak mengabaikan ciri yang satu ini. Anak yang mengompol selalu mendapatkan makian karena tidak bisa menahan kencingnya. Padahal, mengompol bisa jadi akibat anak stress.

5. Masalah pencernaan

Asam lambung merupakan masalah pencernaan yang paling sering kita jumpai. Anak yang mengalami masalah pencernaan bisa jadi karena dirinya stress namun tidak terucapkan di lisan. Anak memang cenderung tidak pandai mengutarakan apa yang dirasakannya, sehingga kita sebagai orang tua harus pandai-pandai menelaah apa yang terjadi pada anak. Jika tidak, maka keterlambatan mengenali sesuatu yang terjadi pada anak seringkali membuat orang tua menyesal karena merasa kurang memperhatikan anak dengan maksimal.

Kelima ciri di atas merupakan reaksi psikosomatis yang terjadi pada anak.

Namun demikian, setiap anak mempunyai karakter yang berbeda dalam menunjukkan reaksinya terhadap stres. Setidaknya, sesibuk apapun aktivitas kita, alangkah baiknya jika kita tetap meluangkan bagi buah hati kita.

Anak merupakan manifestasi paling berharga bagi orangtua.

Tentu petuah tersebut tidak asing di telinga kita. Perihal menghiraukan atau tidaknya, pastinya akan kembali pada pribadi kita masing-masing. Stress pada anak tidak bisa dianggap sepele. Hal tersebut bisa mengganggu berbagai aktivitas anak, bahkan tumbuh kembang sang buah hati. Akan sangat disayangkan jika fase-fase perkembangan anak yang harusnya sempurna, menjadi banyak terjadinya fiksasi karena kelalaian orangtua akan perkembangan dan pertumbuhan sang anak.

Lalu bagaimana cara mengatasi stress pada anak tersebut?

Sebuah jurnal mengatakan bahwa salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi stress pada anak adalah dengan brain gym (senam otak). Apa itu senam otak? Brain Gym adalah serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan.

Dengan adanya brain gym (senam otak), anak diharapkan bisa menjadi lebih rileks dan tidak stress. Penelitian tersebut juga membandingkan hasil responden sebelum dilakukannya senam otak dan setelah dilakukannya senam otak. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa senam otak yang dilakukan dapat menurunkan tingkat stress yang terjadi pada anak.

Denisson (2008) mengemukakan bahwa meskipun brain gym mampu memudahkan kegiatan belajar dan melakukan penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan, dan tuntutan hidup sehari-hari. Program Brain Gym menekankan keterampilan belajar fisik, kemampuan berbasis tubuh yang menjadi kurang diperhatikan ketika keterampilan mental menjadi bagian utama kurikulum.

Bagaimanapun, stress tidak bisa dianggap remeh.

Stainback (1999) menyatakan bahwa stres yang terlalu banyak atau terlalu sedikit sama-sama dapat berbahaya. Jika orang tua terlalu melindungi anaknya dari bermacam-macam stres, anak tidak akan pernah belajar bagaimana menghadapi berbagai macam stres secara aman.

Dengan demikian, peran orangtua menjadi sangat penting. Mengapa? Karena bagaimanapun, tanggung jawab seorang anak sepenuhnya berada di bawah naungan orangtua. Meskipun lingkungan dan sosial mempunyai peran yang tidak kalah penting, tanggung jawab utama tetap ada pada orangtua.

Pola Asuh yang Harus Diterapkan Agar Anak Berprestasi
Tidak semua orang tua mengerti pola asuh yang tepat untuk buah hatinya, terlebih untuk bisa menjadi bintang di sekolahnya. Lalu, apa pola asuh yang harus diterapkan agar anak bisa berprestasi?

Dalam masa karantina yang sangat panjang ini, sejatinya merupakan kesempatan emas bagi kita sebagai orangtua untuk menyempurnakan kembali kelekatan (attachment) kita kepada anak. Mendekap kembali buah hati kita, mengembalikan waktu berharga bagi anak yang sempat tertunda karena kesibukan aktivitas kita.  

Ada saat-saat di mana anak akan mengenang masa kecilnya bersama kita. Mengenang saat belajar bersama, bermain bersama, bahkan saat kita menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Memori itu akan melekat dan tersimpan rapi di ingatan anak-anak kita, andai kita semua menyadari betapa berharganya sebuah waktu.

Haniffa Aulia

"Mimpi adalah sebuah keyakinan kepada Tuhanmu, jika kau mempunyai keyakinan yang baik kepada Tuhanmu, maka kau akan bertemu dengan mimpimu."

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.