Apa itu Profil Pelajar Pancasila yang Merupakan Outcome dari Sekolah Penggerak Kemendikbud

edukasi Okt 10, 2020

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim terus berinovasi demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan mengerluarkan kebijakan sekolah penggerak. Sebuah program baru dari Kemendikbud yang bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan.

Kebijakan sekolah penggerak ini menjadi bukti, bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya berfokus pada kualitas lulusan saja, tetapi juga memperhatikan aspek sekolah. Perubahan di dalam sekolah juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.  Dimana perubahan ini dimulai dari sekolah-sekolah penggerak yang bisa menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lainnya.

Sekolah penggerak nantinya bertujuan untuk menghasilkan profil pelajar Pancasila yang mampu menjawab tuntutan zaman, mampu bersaing secara global dengan tuntunan nilai-nilai lokal. Pelajar Pancasila adalah gambaran ideal bagi generasi Indonesia di masa depan.

Sekolah Penggerak

Sekolah penggerak adalah sekolah yang dapat menggerakkan sekolah-sekolah lain. Sekolah penggerak bisa menjadi panutan, tempat pelatihan dan juga inspirasi bagi kepala sekolah dan guru-guru lainnya.

Di sekolah penggerak, guru-guru melakukan pembelajaran melalui beragam aktivitas yang menyenangkan dan memuat kompetensi-kompetensi bernalar kritis, kolaborasi dan kreatif. Pembelajaran yang berlangsung tidak hanya satu arah.

Sekolah penggerak tentu berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Ada 3 ciri utama yang membedakan sekolah penggerak dengan sekolah-sekolah lainnya, yaitu banyak tanya, banyak coba dan banyak karya.

Program sekolah penggerak ini diwujudkan melalui dua hal :

1. Organisasi Penggerak

Organisasi penggerak adalah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan. Organisasi-organisasi ini umumnya memiliki banyak pemgalaman dalam program pelatihan guru dan kepala sekolah.

Organisasi penggerak ini adalah kumpulan organisasi kemasyarakatan bidang pendidikan yang berpartisipasi dalam program penggerak yang akan diseleksi dan diverifikasi oleh tim pakar independen. Organisasi yang terpilih akan menyelenggarakan program rintisan peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah pada bidang literasi dan numerasi serta karakter selama dua tahun ajaran mulai dari 2020 hingga 2022 pada jenjang PAUD hingga SMP termasuk sekolah-sekolah luar biasa (SLB).

Organisasi yang berpartisipasi akan menerima dukungan pemerintah untuk mentransformasi sekolah menjadi Sekolah Penggerak. Organisasi penggerak ini dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Kelompok Gajah, Kelompok Macan, dan Kelompok Kijang. Dimana ketiga kategori tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Dan besarnya dana bantuan yang diberikan juga berbeda.

Organisasi penggerak ini ikut berpartisipasi dalam suksesnya pendidikan di dalam kelas. Organisasi penggerak berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan yang terkait untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan.

2. Guru Penggerak

Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang menerapkan merdeka belajar dan menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid.

Program guru penggerak ditujukan dengan fokus peningkatan kualitas melalui pelatihan dan pendampingan. Tujuannya agar peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah mampu menciptkan ekosistem pendidikan yang berkomitmen dan berdaya dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar murid.

Guru penggerak menggerakkan komunitas belajar bagi guru di sekolahnya dan wilayahnya, serta mengembangjan program kepemimpinan murid untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila

Pendidikan karakter menjadi salah satu mandat yang harus dilaksanakan oleh Kemendikbud. Kemendikbud memiliki tugas mempersiapkan manusia Indonesia di masa yang akan datang.

Demi mencapai tujuan tersebut, Kemendikbud telah membuat kurikulum pendidikan yang berbasis pancasila. Ada enam profil yang menjadi fokus pembinaan pendidikan karakter ini. Keenam profil tersebut disebut sebagai Profil Pelajar Pancasila.

Profil pelajar pancasila adalah enam profil pelajar Indonesia di masa depan. Berikut adalah profil pelajar pancasila:

1. Berakhlak Mulia

Pelajar Pancasila haruslah berakhlak mulia. Akhlak mulia ini bisa dilihat dari moralitas yang terpancar dari setiap pribadi pelajar pancasila. Pelajar Pancasila mengerti apa itu keadilan sosial, spiritualitas, punya rasa cinta kepada agama, manusia, dan cinta kepada alam.

Akhlak mulia ini menjadi karakter yang sangat penting untuk dimiliki pelajar pancasila. Dengan akhlak yang mulia pelajar pancasila bisa berperilaku baik kepada masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

2. Bernalar Kritis

Pelajar pancasila harus memiliki kemampuan bernalar kritis. Bernalar kritis adalah kemampuan beranalisa dan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang nyata.

Kemampuan untuk berpikir secara kritis dan menimbang berbagai solusi untuk suatu permasalahan adalah wujud konkret dari bernalar kritis.

Bernalar kritis juga merupakan asesmen kompetensi yang akan diuji oleh Kemendikbud dalam Kebijakan Merdeka Belajar.

3. Kreativitas

Pelajar Pancasila memiliki kemampuan bukan hanya memecahkan masalah, tetapi untuk menciptakan hal-hal secara pro aktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk bisa berinovasi dalam sehari-harinya.

4. Kebhinnekaan Global

Pelajar pancasila memiliki profil kebinekaan global. kebhinekaan global adalah perasaan menghormati keberagaman. Kebhinekaan global adalah toleransi terhadap perbedaan.

Dengan kebhinnekaan global, pelajar pancasila bisa menerima perbedaan, tanpa rasa judgement, tanpa menghakimi, dan tidak merasa dirinya atau kelompoknya dia lebih baik dari kelompok lain. itu artinya kebhinekaan global. Dan bukan di level Indonesia, sebagai negara mereka tapi juga di tingkat dunia.

Saat ini dunia ini menjadi semakin kecil lantaran informasi bisa diakses di manapun. Kebhinnekaan global menjadi hal yang penting dan harus menjadi aspirasi sistem pendidikan.

Pelajar pancasila akan bersaing di masa kini dan masa depan. Mereka tidak hanya bersaing di panggung Indonesia, melainkan juga panggung dunia.

5. Kemandirian

Pelajar Pancasila harus memiliki kemandirian. Penilaian terkait kemandirian bisa diukur dengan indikator motivasi.

Indikator ini dilihat dari apakah pelajar pancasila terdorong dengan motivasi internal dari dalam hatinya atau motivasi eksternal yanvharus terus didorong dari luar.

Kemandirian itu bertumpu dari namanya growth mindset, yaitu suatu filsafat bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik, kalau terus berusaha sehingga ingin terus mencari informasi lebih banyak, harus bekerja keras karena ingin menjadi lebih baik.

Growth mindset adalah kunci mindset kemandirian dari pelajar Pancasila.

6. Gotong Royong

Pelajar Pancasila mengetahui cara gotong royong. Pelajar Pancasila harus tahu cara berkolaborasi dan bekerjasama sesamanya.

Gotong royong ini penting karena saat ini tidak akan ada pekerjaan, dan aktivitas yang tidak membutuhkan gotong royong, tak membutuhkan kolaborasi apalagi di era industri 4.0.

Gotong royong yang nantinya menghasilkan sebuah kolaborasi menjadi salah satu ciri kecerdasan di masa depan. Sikap yang dibutuhkan untuk menghadapi era industri 4.0.

Project based learning menjadi salah satu metode melatih jiwa gotong royong dan kolaborasi para pelajar Pancasila. Melalui project based learning pelajar tidak hanya membaca materi dan diuji, melainkan juga bisa menghasilkan sebuah karya.

Asesmen Sekolah dalam Merdeka Belajar: Menyusun Portfolio Penilaian Tes Tertulis vs Projek
Mendikbud meluncurkan sebuah program inovatif yang diberi nama Merdeka Belajar. Bagaimana cara sekolah melakukan assemen terhadap proses pembelajaran?

Demikian adalah penjelasan tentang profil pelajar Pancasila yang merupakan outcome dari sekolah penggerak Kemendikbud. Profil pelajar Pancasila adalah gambaran karakter yang harus dimiliki oleh manusia Indonesia di masa yang akan datang.

8 Pemikiran Pak Nadiem Terhadap Pendidikan di Indonesia
Kali ini, penulis sudah merangkum 8 pemikiran Pak Nadiem terhadap Pendidikan di Indonesia yang diungkapkan secara apa adanya dalam sebuah wawancara online di kanal YouTube.

Masa yang akan datang adalah era industri 4.0. Pendidikan di era 4.0 harus mengedepankan budaya inovasi dan merdeka dalam belajar namun harus tetap berjiwa Pancasila.

Dian Kusumawardani

"Ibu rumah tangga yang suka menulis dan juga seorang konselor menyusui"

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.