<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title><![CDATA[Kejarpena]]></title><description><![CDATA[Kejarpena]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/</link><image><url>https://blog.kejarcita.id/favicon.png</url><title>Kejarpena</title><link>https://blog.kejarcita.id/</link></image><generator>Ghost 4.48</generator><lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 01:49:20 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://blog.kejarcita.id/rss/" rel="self" type="application/rss+xml"/><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa]]></title><description><![CDATA[soal HOTS mendorong siswa untuk menganalisis informasi, mengevaluasi masalah, hingga menciptakan solusi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/cara-menyusun-soal-hots-untuk-guru-pemula-mudah-dipahami-dan-dijelaskan-kepada-siswa/</link><guid isPermaLink="false">6a6a8a5666a1b904b0daadea</guid><category><![CDATA[Tips and Tricks]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Tue, 04 Aug 2026 06:04:26 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/pexels-nasirun-khan-102497153-15275051.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/pexels-nasirun-khan-102497153-15275051.jpg" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa"><p>Pada pembelajaran abad ke-21, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah menjadi kompetensi yang perlu dikembangkan melalui soal HOTS (<em>Higher Order Thinking Skills</em>). Namun, masih banyak guru pemula yang menganggap penyusunan soal HOTS sebagai hal yang rumit karena harus mampu mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Padahal, dengan memahami konsep serta mengikuti panduan cara membuat soal HOTS <em>(High Order Thinking Skill)</em> secara bertahap, guru dapat menyusun soal yang berkualitas, mudah dipahami siswa, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.</p><h2 id="apa-yang-dimaksud-dengan-soal-hots-high-order-thinking-skill">Apa yang Dimaksud dengan Soal HOTS (High Order Thinking Skill)?</h2><p>Soal HOTS (<em>Higher Order Thinking Skills</em>) adalah jenis soal yang dirancang untuk mengukur <a href="https://blog.kejarcita.id/pentingnya-menguasai-high-order-thinking-skills-hots-di-era-digital/">kemampuan berpikir tingkat tinggi</a> siswa. Berbeda dengan soal yang hanya menguji kemampuan mengingat atau memahami materi, soal HOTS mendorong siswa untuk menganalisis informasi, mengevaluasi suatu permasalahan, hingga menciptakan solusi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, siswa tidak cukup hanya menghafal konsep yang dipelajari, tetapi juga dituntut untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi atau konteks. Penerapan soal HOTS juga bertujuan mengembangkan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, dan pengambilan keputusan.</p><blockquote>Dalam Taksonomi Bloom Revisi, soal HOTS umumnya mengukur kemampuan pada tiga tingkat kognitif tertinggi, yaitu menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Pada tingkat C4, siswa diminta mengidentifikasi hubungan antar-konsep, menemukan penyebab suatu peristiwa, atau membandingkan berbagai informasi. Pada tingkat C5, siswa dituntut memberikan penilaian atau mengambil keputusan berdasarkan alasan dan bukti yang logis. Sementara itu, pada tingkat C6, siswa diharapkan mampu menghasilkan ide baru, merancang solusi, atau menciptakan suatu karya berdasarkan pemahaman yang telah dimiliki. Melalui tahapan tersebut, soal HOTS membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir secara lebih mendalam dan sistematis.</blockquote><p>Meski sering dianggap sebagai soal yang sulit, sebenarnya soal HOTS tidak selalu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi atau menggunakan bahasa yang rumit. Soal HOTS berbeda dengan soal LOTS (<em>Lower Order Thinking Skills</em>) yang berfokus pada kemampuan mengingat dan memahami informasi. Sebuah soal dapat dikategorikan sebagai HOTS apabila mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis, menghubungkan berbagai konsep, memberikan argumentasi yang logis, atau menyelesaikan suatu permasalahan berdasarkan informasi yang tersedia. Dengan demikian, guru tidak perlu membuat soal yang panjang atau membingungkan, melainkan cukup menyusun pertanyaan yang mampu mengukur proses berpikir tingkat tinggi sesuai dengan tujuan pembelajaran.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/7-kegiatan-belajar-yang-meningkatkan-kemampuan-berpikir-kritis-dan-problem-solving-siswa"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">7 Kegiatan Belajar yang Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Problem Solving Siswa</div><div class="kg-bookmark-description">Berpikir kritis adalah cara berpikir secara terbuka, rasional, dan berdasarkan bukti atau fakta yang ada.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Dian Kusumawardani</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2023/03/pexels-ketut-subiyanto-4559555.jpg" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa"></div></a></figure><h2 id="panduan-cara-membuat-soal-hots-high-order-thinking-skill">Panduan Cara Membuat Soal HOTS (High Order Thinking Skill)</h2><p>Menyusun soal HOTS <em>(High Order Thinking Skill)</em> tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Guru pemula pun dapat membuat soal HOTS yang berkualitas apabila memahami tahapan penyusunannya. Pada dasarnya, soal HOTS dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi terhadap suatu permasalahan. Agar soal yang dibuat benar-benar sesuai dengan tujuan pembelajaran, berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan.</p><h3 id="1-tentukan-tujuan-pembelajaran-dan-indikator">1. Tentukan Tujuan Pembelajaran dan Indikator</h3><p>Langkah pertama dalam menyusun soal HOTS adalah menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru perlu memastikan bahwa soal yang dibuat mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), atau indikator pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Dengan demikian, soal tidak hanya relevan dengan materi yang diajarkan, tetapi juga mampu mengukur kompetensi yang memang diharapkan dikuasai oleh siswa.</p><p>Selain itu, guru perlu memilih indikator yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Misalnya, alih-alih meminta siswa menyebutkan definisi suatu konsep, guru dapat meminta mereka membandingkan dua konsep, menganalisis penyebab suatu fenomena, mengevaluasi suatu pendapat, atau memberikan solusi terhadap sebuah permasalahan. Pemilihan indikator yang tepat akan membantu guru menghasilkan soal yang benar-benar mengukur kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar kemampuan mengingat informasi.</p><h3 id="2-pilih-stimulus-yang-kontekstual">2. Pilih Stimulus yang Kontekstual</h3><p>Ciri khas soal HOTS adalah adanya stimulus yang menjadi dasar bagi siswa untuk berpikir. Stimulus dapat berupa teks bacaan, gambar, grafik, tabel, infografis, berita, ilustrasi, hasil penelitian sederhana, hingga studi kasus yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kehadiran stimulus membuat siswa tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga dituntut untuk memahami informasi yang tersedia sebelum menjawab pertanyaan.</p><p>Agar lebih bermakna, stimulus sebaiknya diambil dari situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, pada mata pelajaran IPA, guru dapat menggunakan fenomena perubahan iklim atau pencemaran lingkungan sebagai stimulus. Pada mata pelajaran IPS, guru dapat mengangkat isu ekonomi lokal atau aktivitas masyarakat di sekitar siswa. Sementara itu, pada mata pelajaran Matematika, guru dapat menyajikan permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan sederhana atau data hasil survei. Stimulus yang kontekstual akan membantu siswa menghubungkan konsep yang dipelajari dengan kondisi nyata sehingga proses berpikir menjadi lebih mendalam.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/482002393_1792377974828621_3918720937021085129_n--1-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/08/482002393_1792377974828621_3918720937021085129_n--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/08/482002393_1792377974828621_3918720937021085129_n--1-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/482002393_1792377974828621_3918720937021085129_n--1-.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><h3 id="3-susun-pertanyaan-yang-mengukur-berpikir-tingkat-tinggi">3. Susun Pertanyaan yang Mengukur Berpikir Tingkat Tinggi</h3><p>Setelah stimulus ditentukan, langkah berikutnya adalah menyusun pertanyaan yang mendorong siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pertanyaan HOTS tidak meminta siswa mengulang informasi yang telah dipelajari, tetapi mengajak mereka mengolah informasi, mencari hubungan antar-konsep, menyampaikan argumentasi, hingga menghasilkan solusi berdasarkan data yang tersedia.</p><blockquote>Guru dapat menggunakan kata kerja operasional yang sesuai dengan Taksonomi Bloom Revisi, seperti <em>menganalisis</em>, <em>membandingkan</em>, <em>mengevaluasi</em>, <em>menyimpulkan</em>, <em>menghubungkan</em>, <em>merancang</em>, <em>mengembangkan</em>, atau <em>memberikan alasan</em>. Misalnya, daripada bertanya &quot;Apa penyebab banjir?&quot;, guru dapat mengubahnya menjadi &quot;Berdasarkan ilustrasi tersebut, analisis faktor utama penyebab banjir dan jelaskan solusi yang paling efektif untuk mengatasinya.&quot; Bentuk pertanyaan seperti ini mendorong siswa untuk berpikir lebih mendalam karena mereka harus mengolah informasi sebelum memberikan jawaban.</blockquote><p>Selain itu, guru juga perlu menghindari pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan secara langsung dalam buku teks. Semakin besar proses penalaran yang dilakukan siswa untuk memperoleh jawaban, semakin besar pula peluang soal tersebut termasuk kategori HOTS.</p><h3 id="4-buat-rubrik-atau-kunci-jawaban-yang-jelas">4. Buat Rubrik atau Kunci Jawaban yang Jelas</h3><p>Tahap terakhir yang tidak kalah penting adalah menyusun rubrik atau kunci jawaban. Banyak guru hanya fokus membuat pertanyaan, tetapi belum menentukan indikator penilaian yang jelas. Akibatnya, proses penilaian menjadi kurang konsisten, terutama pada soal uraian yang memungkinkan adanya variasi jawaban dari siswa.</p><p>Rubrik penilaian sebaiknya disusun sejak awal dengan memuat aspek-aspek yang akan dinilai, seperti ketepatan analisis, kualitas argumentasi, kelengkapan jawaban, penggunaan data pendukung, hingga kreativitas dalam memberikan solusi. Dengan adanya rubrik, guru memiliki pedoman yang objektif saat memberikan skor sehingga hasil penilaian menjadi lebih adil dan dapat dipertanggungjawabkan.</p><p>Selain memudahkan proses koreksi, rubrik penilaian juga membantu guru memberikan umpan balik yang lebih spesifik kepada siswa. Siswa dapat mengetahui bagian mana yang sudah baik dan aspek apa yang masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian, soal HOTS tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mendorong perkembangan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah secara berkelanjutan.</p><h2 id="tips-membuat-soal-hots-agar-mudah-dipahami-siwa">Tips Membuat Soal HOTS Agar Mudah Dipahami Siwa</h2><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/z5kAeGcLQLQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Mengenal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Bersama kejarcita.id"></iframe></figure><h3 id="1-gunakan-bahasa-yang-sederhana-dan-tidak-ambigu">1. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Tidak Ambigu</h3><p>Bahasa yang digunakan dalam soal sebaiknya jelas, lugas, dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Hindari penggunaan kalimat yang terlalu panjang, istilah yang kurang familiar, atau kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna. Dengan bahasa yang sederhana, siswa dapat lebih fokus pada proses menganalisis dan menyelesaikan masalah daripada berusaha memahami maksud pertanyaannya.</p><h3 id="2-fokus-pada-satu-kompetensi-dalam-satu-soal">2. Fokus pada Satu Kompetensi dalam Satu Soal</h3><p>Setiap soal HOTS sebaiknya dirancang untuk mengukur satu kompetensi atau indikator pembelajaran tertentu. Hindari menggabungkan terlalu banyak kemampuan dalam satu pertanyaan karena dapat menyulitkan siswa dan membuat hasil penilaian kurang akurat. Soal yang fokus akan membantu guru mengetahui secara lebih spesifik kemampuan berpikir tingkat tinggi yang telah dikuasai siswa.</p><h3 id="3-pastikan-stimulus-mendukung-pertanyaan">3. Pastikan Stimulus Mendukung Pertanyaan</h3><p>Stimulus, seperti teks, gambar, grafik, tabel, atau studi kasus, harus memiliki keterkaitan langsung dengan pertanyaan yang diajukan. Stimulus yang relevan memberikan informasi yang dibutuhkan siswa untuk melakukan analisis, evaluasi, atau menyusun solusi. Sebaliknya, stimulus yang tidak mendukung hanya akan menambah beban membaca tanpa memberikan manfaat dalam proses berpikir.</p><h3 id="4-sesuaikan-tingkat-kesulitan-dengan-jenjang-siswa">4. Sesuaikan Tingkat Kesulitan dengan Jenjang Siswa</h3><p>Meskipun bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, soal HOTS tetap harus disesuaikan dengan usia, jenjang pendidikan, dan karakteristik peserta didik. Guru perlu mempertimbangkan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa agar soal terasa menantang, tetapi masih dapat diselesaikan melalui penalaran yang logis.</p><h3 id="5-lakukan-uji-coba-atau-review-soal">5. Lakukan Uji Coba atau Review Soal</h3><p>Sebelum digunakan dalam asesmen, lakukan peninjauan kembali atau uji coba soal kepada rekan guru maupun beberapa siswa. Langkah ini membantu menemukan kalimat yang kurang jelas, kesalahan teknis, atau tingkat kesulitan yang belum sesuai. Dengan demikian, guru dapat melakukan perbaikan sehingga soal menjadi lebih berkualitas dan mampu mengukur kemampuan siswa secara tepat.</p><h3 id="6-hindari-soal-yang-terlalu-panjang-tanpa-tujuan-yang-jelas">6. Hindari Soal yang Terlalu Panjang Tanpa Tujuan yang Jelas</h3><p>Panjang pendeknya soal bukan penentu bahwa soal tersebut termasuk HOTS. Yang terpenting adalah kualitas pertanyaan dan proses berpikir yang dituntut dari siswa. Jika informasi dalam soal terlalu banyak tetapi tidak relevan, siswa justru akan kesulitan menemukan inti permasalahan. Oleh karena itu, sajikan informasi secukupnya agar siswa dapat fokus menganalisis dan memberikan jawaban berdasarkan pemahaman mereka.</p><h2 id="kesalahan-yang-sering-dilakukan-guru-saat-membuat-soal-hots">Kesalahan yang Sering Dilakukan Guru Saat Membuat Soal HOTS</h2><p>Masih banyak guru yang keliru dalam menyusun soal HOTS karena menganggap bahwa soal yang sulit atau panjang secara otomatis termasuk kategori HOTS. Padahal, esensi soal HOTS bukan terletak pada tingkat kesulitannya, melainkan pada kemampuan soal tersebut dalam mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, mengevaluasi berbagai kemungkinan, atau menciptakan solusi terhadap suatu permasalahan. Oleh karena itu, soal yang singkat pun dapat dikategorikan sebagai HOTS apabila mampu mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/tips-membuat-soal-latihan-sendiri-di-rumah/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Tips Membuat Soal Latihan Sendiri di Rumah</div><div class="kg-bookmark-description">Kemajuan teknologi memungkinkan murid untuk menyerap ilmu dari berbagai sumber. Termasuk media online yang kini sangat mudah dijangkau dan menjadi sumber utama penyebaran informasi secara cepat. Tidak sulit tetapi tidak juga mudah untuk membuat soal latihan sendiri di rumah.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Anisa Cahyani</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2020/06/composition-creativity-desk-education-207756.jpg" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa"></div></a></figure><p>Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pertanyaan yang masih berfokus pada hafalan, penggunaan stimulus yang tidak relevan dengan pertanyaan, serta bahasa soal yang terlalu rumit sehingga membingungkan siswa. Stimulus seharusnya menjadi dasar bagi siswa untuk menganalisis atau memecahkan masalah, bukan sekadar pelengkap. Selain itu, penggunaan kalimat yang jelas, efektif, dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa akan membantu mereka memahami maksud soal tanpa mengurangi tantangan berpikir yang ingin diukur. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, guru dapat menghasilkan soal HOTS yang lebih berkualitas dan mampu mengukur kompetensi siswa secara lebih akurat.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Menyusun soal HOTS bukanlah kemampuan yang diperoleh secara instan, tetapi dapat dikuasai melalui pemahaman konsep dan latihan yang berkelanjutan. Dengan menerapkan langkah-langkah penyusunan yang tepat, guru dapat membuat soal yang tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah siswa. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/IMG-20260314-WA0015.jpg" class="kg-image" alt="Cara Menyusun Soal HOTS untuk Guru Pemula: Mudah Dipahami dan Dijelaskan kepada Siswa" loading="lazy" width="900" height="1600" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/08/IMG-20260314-WA0015.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/IMG-20260314-WA0015.jpg 900w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Jika Anda ingin meningkatkan keterampilan dalam menyusun soal HOTS dan mengembangkan asesmen pembelajaran yang lebih efektif, ikuti pelatihan guru bersama kejarcita. Didampingi oleh narasumber berpengalaman dan materi yang aplikatif, pelatihan kejarcita membantu guru menghasilkan soal HOTS yang berkualitas serta siap diterapkan di kelas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan program pelatihan, jangan ragu menghubungi Admin kejarcita dan temukan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Penalaran Matematis dalam Matematika Gembira]]></title><description><![CDATA[<p>Sering kali kita terlalu fokus pada jawaban yang benar, padahal yang tidak kalah penting adalah bagaimana murid sampai pada jawaban tersebut. Ketika murid diberi ruang untuk berpikir, bertanya, mencoba, dan berdiskusi, mereka sedang membangun kemampuan yang akan berguna jauh melampaui pelajaran matematika. Yuk, kenali bagaimana penalaran matematis dikembangkan dalam pembelajaran</p>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/penalaran-matematis-dalam-matematika-gembira/</link><guid isPermaLink="false">6a6ffc1fd70df340d1086973</guid><category><![CDATA[infografis]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Mon, 03 Aug 2026 02:27:26 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n-1.jpg" alt="Penalaran Matematis dalam Matematika Gembira"><p>Sering kali kita terlalu fokus pada jawaban yang benar, padahal yang tidak kalah penting adalah bagaimana murid sampai pada jawaban tersebut. Ketika murid diberi ruang untuk berpikir, bertanya, mencoba, dan berdiskusi, mereka sedang membangun kemampuan yang akan berguna jauh melampaui pelajaran matematika. Yuk, kenali bagaimana penalaran matematis dikembangkan dalam pembelajaran Matematika Gembira melalui infografis berikut.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n.jpg" class="kg-image" alt="Penalaran Matematis dalam Matematika Gembira" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/08/759717025_1664089719051668_8043897300074663727_n.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah]]></title><description><![CDATA[Asesmen awal memberikan informasi mengenai sejauh mana siswa telah menguasai pengetahuan yang dibutuhkan untuk mempelajari materi baru]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/7-ide-asesmen-awal-yang-sebaiknya-dilakukan-di-minggu-pertama-sekolah/</link><guid isPermaLink="false">6a6a87c066a1b904b0daadae</guid><category><![CDATA[teaching]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Fri, 31 Jul 2026 03:23:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-airlangga-35865693.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-airlangga-35865693.jpg" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah"><p>Minggu pertama sekolah merupakan momen penting bagi guru dan siswa untuk memulai proses pembelajaran dengan baik. Selain membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan rutinitas baru, guru juga perlu memanfaatkan waktu ini untuk mengenali karakteristik setiap peserta didik. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui asesmen awal. Asesmen ini tidak hanya membantu memetakan kemampuan akademik siswa, tetapi juga memberikan informasi mengenai minat, gaya belajar, serta kondisi sosial emosional mereka. Dengan data tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih tepat sasaran, inklusif, dan sesuai kebutuhan siswa. Berikut tujuh ide asesmen awal yang praktis, menyenangkan, dan mudah diterapkan di minggu pertama sekolah.</p><h2 id="mengapa-asesmen-awal-penting-untuk-dilakukan">Mengapa Asesmen Awal Penting untuk Dilakukan?</h2><h3 id="1-membantu-guru-memahami-kemampuan-awal-siswa">1. Membantu Guru Memahami Kemampuan Awal Siswa</h3><p><a href="https://blog.kejarcita.id/7-tips-pembentukan-karakter-siswa-setelah-asesmen-awal/">Asesmen awal</a> memberikan informasi mengenai sejauh mana siswa telah menguasai pengetahuan atau keterampilan prasyarat yang dibutuhkan untuk mempelajari materi baru. Hasil asesmen ini membantu guru mengetahui apakah sebagian besar siswa sudah siap mengikuti pembelajaran atau masih memerlukan penguatan pada materi sebelumnya. Dengan demikian, guru tidak perlu menebak-nebak tingkat kemampuan kelas, melainkan dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang diperoleh dari asesmen.</p><h3 id="2-menjadi-dasar-menyusun-strategi-pembelajaran">2. Menjadi Dasar Menyusun Strategi Pembelajaran</h3><p>Setelah mengetahui kemampuan awal siswa, guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang paling sesuai. Misalnya, jika hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami konsep dasar, guru dapat menggunakan aktivitas yang lebih menantang seperti pembelajaran berbasis proyek atau diskusi. Sebaliknya, apabila masih banyak siswa yang mengalami kesulitan, guru dapat memberikan penjelasan tambahan, latihan bertahap, atau pendampingan sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Strategi yang tepat akan membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/cara-membantu-siswa-menetapkan-tujuan-belajar-di-awal-tahun/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Cara Membantu Siswa Menetapkan Tujuan Belajar di Awal Tahun</div><div class="kg-bookmark-description">tujuan yang jelas mendorong siswa untuk mengatur waktu belajar, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan menjaga kebiasaan belajar yang baik</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2025/12/pexels-karola-g-7692682.jpg" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah"></div></a></figure><h3 id="3-mendukung-pembelajaran-berdiferensiasi">3. Mendukung Pembelajaran Berdiferensiasi</h3><p>Setiap peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Ada siswa yang mampu memahami materi dengan cepat, ada pula yang memerlukan waktu dan bimbingan lebih banyak. Melalui asesmen awal, guru dapat mengidentifikasi perbedaan tersebut sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kesiapan, minat, maupun profil belajar siswa. Pendekatan ini memungkinkan setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka dapat berkembang secara optimal.</p><h3 id="4-mengurangi-kesenjangan-kemampuan-siswa-sejak-awal-semester">4. Mengurangi Kesenjangan Kemampuan Siswa Sejak Awal Semester</h3><p>Perbedaan kemampuan antar siswa merupakan hal yang wajar. Namun, apabila tidak dikenali sejak awal, kesenjangan tersebut dapat semakin besar seiring berjalannya proses pembelajaran. Siswa yang belum menguasai materi prasyarat berpotensi mengalami kesulitan memahami materi berikutnya, sementara siswa yang sudah menguasainya dapat merasa kurang tertantang. Dengan asesmen awal, guru dapat segera memberikan tindak lanjut, seperti penguatan, remedial, atau pengayaan, sehingga kesenjangan kemampuan dapat diminimalkan sejak awal semester.</p><h3 id="5-menjadi-dasar-pengambilan-keputusan-dalam-pembelajaran">5. Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan dalam Pembelajaran</h3><p>Data yang diperoleh dari asesmen awal dapat menjadi dasar bagi guru dalam mengambil berbagai keputusan selama proses pembelajaran. Misalnya, menentukan kelompok belajar, memilih media pembelajaran, menyusun aktivitas kelas, hingga merancang bentuk asesmen lanjutan. Karena keputusan tersebut didasarkan pada kondisi nyata peserta didik, pembelajaran akan lebih terarah dan mampu menjawab kebutuhan siswa secara lebih tepat.</p><h3 id="6-meningkatkan-efektivitas-proses-pembelajaran">6. Meningkatkan Efektivitas Proses Pembelajaran</h3><p>Pembelajaran yang dimulai dengan memahami kondisi awal siswa cenderung berjalan lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang dilakukan tanpa pemetaan kemampuan. Guru dapat memanfaatkan waktu belajar secara lebih efisien karena materi yang diberikan sesuai dengan kesiapan peserta didik. Siswa pun merasa lebih mudah mengikuti pembelajaran karena tingkat kesulitan materi dan aktivitas belajar telah disesuaikan dengan kemampuan mereka. Pada akhirnya, asesmen awal menjadi fondasi penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang aktif, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.</p><h2 id="7-ide-asesmen-awal-yang-sebaiknya-dilakukan">7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan</h2><h3 id="1-tes-diagnostik-singkat">1. Tes Diagnostik Singkat</h3><p>Tes diagnostik singkat merupakan salah satu bentuk asesmen awal yang paling umum dilakukan pada minggu pertama sekolah. Melalui tes ini, guru dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi prasyarat yang akan menjadi dasar pembelajaran berikutnya. Tes yang dibuat tidak perlu terlalu panjang, cukup terdiri atas 5&#x2013;10 soal yang mewakili kompetensi penting. Misalnya, guru Matematika dapat memberikan soal mengenai operasi hitung dasar sebelum memulai materi aljabar, sedangkan guru Bahasa Indonesia dapat memberikan soal tentang kemampuan membaca pemahaman sebelum memasuki materi teks. Hasil tes dapat membantu guru mengidentifikasi siswa yang sudah menguasai materi, siswa yang memerlukan penguatan, maupun siswa yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Agar lebih efektif, susun soal yang bervariasi, sesuai tujuan pembelajaran, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan dapat dikerjakan baik melalui platform digital maupun lembar kerja cetak.</p><h3 id="2-angket-minat-dan-gaya-belajar-siswa">2. Angket Minat dan Gaya Belajar Siswa</h3><p>Selain kemampuan akademik, guru juga perlu mengenali minat dan preferensi belajar setiap siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui angket sederhana yang berisi pertanyaan mengenai hobi, mata pelajaran favorit, aktivitas yang disukai, cara belajar yang paling nyaman, hingga target belajar yang ingin dicapai selama satu semester. Angket ini dapat dibagikan secara langsung di kelas maupun melalui formulir digital sehingga lebih mudah diolah.</p><p>Informasi yang diperoleh dari angket akan membantu guru merancang pembelajaran yang lebih menarik dan relevan dengan karakteristik peserta didik. Sebagai contoh, apabila sebagian besar siswa menyukai pembelajaran berbasis permainan atau diskusi kelompok, guru dapat lebih sering menggunakan metode tersebut. Dengan demikian, siswa akan merasa lebih terlibat dalam proses belajar karena aktivitas pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/699760825_1588092053318102_8217511688063034813_n--1-.jpg" class="kg-image" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/699760825_1588092053318102_8217511688063034813_n--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/699760825_1588092053318102_8217511688063034813_n--1-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/699760825_1588092053318102_8217511688063034813_n--1-.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><h3 id="3-aktivitas-kenali-diriku">3. Aktivitas &quot;Kenali Diriku&quot;</h3><p>Aktivitas &quot;Kenali Diriku&quot; merupakan cara sederhana namun efektif untuk membangun kedekatan antara guru dan siswa sejak awal tahun ajaran. Guru dapat meminta setiap siswa membuat kartu profil yang berisi nama panggilan, cita-cita, hobi, kelebihan yang dimiliki, tantangan belajar yang sering dihadapi, serta hal-hal yang membuat mereka bersemangat mengikuti pembelajaran. Aktivitas ini dapat dikemas secara kreatif dengan gambar, warna, atau ilustrasi agar lebih menyenangkan.</p><p>Melalui kegiatan tersebut, guru tidak hanya mengenal identitas siswa, tetapi juga memperoleh informasi mengenai karakter, motivasi, dan kebutuhan belajar mereka. Di sisi lain, siswa merasa lebih dihargai karena memiliki kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada guru dan teman-temannya. Hubungan yang positif sejak minggu pertama sekolah akan menciptakan suasana kelas yang lebih nyaman, terbuka, dan mendukung proses pembelajaran sepanjang semester.</p><h3 id="4-diskusi-atau-tanya-jawab-terbuka">4. Diskusi atau Tanya Jawab Terbuka</h3><p>Diskusi atau tanya jawab terbuka dapat menjadi asesmen awal yang efektif untuk mengetahui kemampuan komunikasi dan cara berpikir siswa. Guru dapat memberikan pertanyaan pemantik yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari atau materi yang akan dipelajari, kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat tanpa takut salah. Fokus utama kegiatan ini adalah menggali cara siswa berpikir, bukan mencari jawaban yang paling benar.</p><p>Selama diskusi berlangsung, guru dapat mengamati berbagai aspek, seperti keberanian berbicara di depan kelas, kemampuan menyampaikan ide secara runtut, keterampilan mendengarkan pendapat orang lain, hingga kemampuan berpikir kritis dalam menanggapi suatu persoalan. Hasil pengamatan tersebut menjadi informasi penting bagi guru untuk menentukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan partisipasi dan kepercayaan diri siswa.</p><h3 id="5-refleksi-pengalaman-belajar-sebelumnya">5. Refleksi Pengalaman Belajar Sebelumnya</h3><p>Refleksi pengalaman belajar membantu guru memahami pengalaman akademik yang telah dimiliki siswa sebelum memasuki materi baru. Guru dapat meminta siswa menuliskan beberapa hal sederhana, seperti mata pelajaran yang paling mereka sukai, materi yang masih sulit dipahami, pengalaman belajar yang paling berkesan, serta harapan mereka terhadap pembelajaran di kelas yang baru. Refleksi dapat dilakukan dalam bentuk tulisan singkat maupun diskusi kelompok kecil.</p><p>Dari hasil refleksi tersebut, guru dapat mengidentifikasi materi yang perlu diulang, metode pembelajaran yang disukai siswa, serta berbagai hambatan yang pernah mereka alami. Informasi ini sangat berguna untuk menyusun pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik sekaligus menghindari strategi yang kurang efektif berdasarkan pengalaman belajar sebelumnya.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/TX9UVrI7Mc4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Ayo Biasakan Gemar Belajar | Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat"></iframe></figure><h3 id="6-permainan-edukatif-berbasis-kelompok">6. Permainan Edukatif Berbasis Kelompok</h3><p>Asesmen awal tidak selalu harus berbentuk tes atau angket. Guru juga dapat menggunakan permainan edukatif berbasis kelompok agar suasana kelas menjadi lebih menyenangkan. Contohnya adalah kuis sederhana, tebak gambar, mencocokkan kartu (<em>matching card</em>), teka-teki, atau permainan kolaboratif yang berkaitan dengan materi pelajaran. Aktivitas ini membuat siswa lebih rileks sekaligus mendorong mereka untuk berinteraksi dengan teman sekelas.</p><p>Di balik suasana yang menyenangkan, permainan edukatif memberikan banyak informasi bagi guru. Guru dapat mengamati kemampuan bekerja sama, komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga cara siswa menyelesaikan masalah dalam kelompok. Hasil observasi tersebut menjadi pelengkap data akademik sehingga guru memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai karakteristik peserta didik.</p><h3 id="7-exit-ticket-hari-pertama">7. Exit Ticket Hari Pertama</h3><p><em>Exit ticket </em>merupakan asesmen awal yang dilakukan pada akhir pembelajaran sebagai bentuk refleksi singkat. Sebelum pulang, guru meminta siswa menjawab beberapa pertanyaan sederhana, misalnya <em>&quot;Apa yang kamu pelajari hari ini?&quot;, &quot;Hal apa yang masih membuatmu bingung?&quot;, </em>dan <em>&quot;Apa harapanmu terhadap pembelajaran berikutnya?&quot;.</em> Jawaban dapat ditulis pada secarik kertas, kartu kecil, atau melalui aplikasi pembelajaran.</p><p>Meskipun sederhana,<em> exit ticket</em> memberikan umpan balik yang sangat berharga bagi guru. Dari jawaban siswa, guru dapat mengetahui tingkat pemahaman awal, kesulitan yang masih dialami, serta harapan siswa terhadap proses belajar. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.</p><h2 id="tips-agar-asesmen-awal-berjalan-efektif">Tips Agar Asesmen Awal Berjalan Efektif</h2><h3 id="1-jangan-terlalu-banyak-instrumen-dalam-satu-hari">1. Jangan Terlalu Banyak Instrumen dalam Satu Hari</h3><p>Pada minggu pertama sekolah, siswa masih berada dalam masa adaptasi dengan lingkungan, guru, teman, maupun rutinitas belajar yang baru. Oleh karena itu, hindari memberikan terlalu banyak instrumen asesmen dalam satu hari karena dapat membuat siswa merasa lelah atau terbebani. Sebaiknya, guru membagi pelaksanaan asesmen ke dalam beberapa pertemuan, misalnya hari pertama untuk mengenal profil siswa, hari kedua untuk asesmen kemampuan akademik, dan hari berikutnya untuk menggali minat serta gaya belajar. Dengan cara ini, siswa dapat mengerjakan setiap asesmen dengan lebih fokus dan hasil yang diperoleh pun lebih optimal.</p><h3 id="2-gunakan-bahasa-yang-mudah-dipahami-siswa">2. Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami Siswa</h3><p>Instrumen asesmen sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Hindari penggunaan kalimat yang terlalu panjang, istilah teknis yang sulit dipahami, atau pertanyaan yang memiliki makna ganda. Bahasa yang mudah dipahami akan membantu siswa memberikan jawaban yang sesuai dengan kondisi sebenarnya, sehingga data yang diperoleh menjadi lebih valid dan dapat dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran.</p><h3 id="3-ciptakan-suasana-santai-agar-siswa-menjawab-dengan-jujur">3. Ciptakan Suasana Santai agar Siswa Menjawab dengan Jujur</h3><p>Banyak siswa menganggap asesmen sebagai ujian yang menentukan nilai sehingga mereka merasa tegang atau takut melakukan kesalahan. Padahal, asesmen awal bertujuan untuk mengenali kondisi awal peserta didik, bukan untuk memberikan penilaian akhir. Oleh sebab itu, guru perlu menciptakan suasana yang santai dan menyenangkan, misalnya dengan menyampaikan bahwa tidak ada jawaban benar atau salah untuk beberapa jenis asesmen, memberikan apresiasi atas setiap jawaban siswa, serta menggunakan aktivitas yang interaktif. Suasana yang nyaman akan mendorong siswa menjawab dengan lebih jujur dan terbuka.</p><h3 id="4-kombinasikan-asesmen-akademik-dan-nonakademik">4. Kombinasikan Asesmen Akademik dan Nonakademik</h3><p>Kemampuan akademik bukan satu-satunya aspek yang perlu diketahui guru. Asesmen awal akan lebih komprehensif jika juga mencakup aspek nonakademik, seperti minat, motivasi belajar, kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, maupun kondisi sosial emosional siswa. Dengan mengombinasikan kedua jenis asesmen tersebut, guru memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai karakteristik peserta didik. Informasi ini sangat bermanfaat untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga mendukung perkembangan karakter dan kesejahteraan siswa.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/asesmen-diagnostik-non-kognitif-untuk-mengenal-potensi-siswa/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Pentingnya Asesmen Diagnostik Non-Kognitif untuk Mengenal Potensi Siswa</div><div class="kg-bookmark-description">Asesmen diagnostik merupakan proses penilaian awal yang dilakukan untuk memetakan kemampuan dan kondisi siswa sebelum pembelajaran dimulai</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2025/10/pexels-tima-miroshnichenko-6671416.jpg" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah"></div></a></figure><h3 id="5-manfaatkan-platform-digital-untuk-mempermudah-pengumpulan-data">5. Manfaatkan Platform Digital untuk Mempermudah Pengumpulan Data</h3><p>Pemanfaatan teknologi dapat membuat proses asesmen awal menjadi lebih praktis dan efisien. Guru dapat menggunakan formulir digital, kuis interaktif, atau platform pembelajaran untuk mengumpulkan jawaban siswa secara otomatis. Selain menghemat waktu, hasil asesmen juga lebih mudah direkap, dianalisis, dan disimpan. Dengan demikian, guru dapat lebih cepat mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan menyusun tindak lanjut pembelajaran berdasarkan data yang telah diperoleh.</p><h3 id="6-dokumentasikan-hasil-asesmen-sebagai-acuan-pembelajaran-berikutnya">6. Dokumentasikan Hasil Asesmen sebagai Acuan Pembelajaran Berikutnya</h3><p>Hasil asesmen awal sebaiknya tidak berhenti sebagai data administrasi, tetapi didokumentasikan dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan selama proses pembelajaran. Guru dapat menyimpan hasil asesmen dalam bentuk portofolio, catatan perkembangan, atau rekapitulasi sederhana yang mudah diakses kembali. Dokumentasi ini membantu guru memantau perkembangan siswa dari waktu ke waktu, mengevaluasi efektivitas strategi pembelajaran yang telah diterapkan, serta menyusun program tindak lanjut bagi siswa yang memerlukan penguatan maupun tantangan belajar lebih lanjut. Dengan demikian, asesmen awal benar-benar menjadi fondasi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih terarah, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Asesmen awal bukan sekadar kegiatan di minggu pertama sekolah, tetapi menjadi langkah strategis untuk memahami kemampuan, kebutuhan, minat, dan karakteristik siswa sehingga pembelajaran dapat dirancang lebih efektif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik. Dengan menerapkan berbagai bentuk asesmen awal yang tepat, guru dapat mengambil keputusan pembelajaran berdasarkan data, bukan sekadar asumsi, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna bagi setiap siswa.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260129-WA0032--1-.jpg" class="kg-image" alt="7 Ide Asesmen Awal yang Sebaiknya Dilakukan di Minggu Pertama Sekolah" loading="lazy" width="900" height="1600" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260129-WA0032--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260129-WA0032--1-.jpg 900w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Untuk mendukung guru dalam merancang dan melaksanakan asesmen yang berkualitas, kejarcita menghadirkan berbagai program pelatihan, mulai dari asesmen pembelajaran mendalam, pembelajaran berdiferensiasi, penyusunan perangkat ajar, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar. Melalui Pelatihan Asesmen Pembelajaran Mendalam, guru akan mempelajari strategi menyusun asesmen yang bermakna, menginterpretasikan hasil asesmen untuk mendukung pembelajaran, serta merancang tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Bersama narasumber berpengalaman dan materi yang aplikatif, kejarcita siap mendukung peningkatan kompetensi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif dan berdampak. Mari tingkatkan kualitas pembelajaran bersama kejarcita.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa]]></title><description><![CDATA[Melibatkan siswa dalam menyusun aturan kelas dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan belajar]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/cara-menyusun-aturan-kelas-yang-disepakati-guru-dan-siswa/</link><guid isPermaLink="false">6a6a8a4366a1b904b0daade6</guid><category><![CDATA[teaching]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Thu, 30 Jul 2026 05:08:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-gokuldhamnar-35551100.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-gokuldhamnar-35551100.jpg" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa"><p>Suasana kelas yang tertib, nyaman, dan kondusif tidak tercipta begitu saja, melainkan dibangun melalui komitmen bersama antara guru dan siswa. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyusun aturan kelas yang disepakati oleh seluruh warga kelas. Berbeda dengan aturan yang dibuat secara sepihak, kesepakatan bersama dapat menumbuhkan rasa memiliki, tanggung jawab, serta kesadaran siswa untuk mematuhi aturan tanpa merasa terpaksa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk melibatkan siswa sejak awal dalam proses penyusunan aturan kelas. Lalu, bagaimana cara menyusun aturan kelas yang efektif dan dapat diterapkan secara konsisten? Simak langkah-langkahnya dalam artikel berikut.</p><h2 id="mengapa-aturan-kelas-perlu-disepakati-bersama">Mengapa Aturan Kelas Perlu Disepakati Bersama?</h2><h3 id="1-meningkatkan-rasa-memiliki-sense-of-belonging">1. Meningkatkan Rasa Memiliki (Sense of Belonging)</h3><p>Melibatkan siswa dalam menyusun aturan kelas dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan belajar. Ketika pendapat mereka didengarkan dan dijadikan bagian dari kesepakatan, siswa akan merasa bahwa aturan tersebut merupakan hasil keputusan bersama, bukan sekadar kewajiban yang harus dipatuhi.</p><h3 id="2-menumbuhkan-tanggung-jawab-siswa">2. Menumbuhkan Tanggung Jawab Siswa</h3><p>Kesepakatan yang dibuat bersama mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap perilaku mereka di kelas. Siswa akan lebih menyadari bahwa keberhasilan <a href="https://blog.kejarcita.id/5-cara-membangun-ruang-belajar-yang-aman-dan-inklusif-untuk-siswa/">menciptakan suasana belajar</a> yang nyaman merupakan tanggung jawab seluruh anggota kelas, bukan hanya guru.</p><h3 id="3-mengurangi-pelanggaran-aturan">3. Mengurangi Pelanggaran Aturan</h3><p>Siswa cenderung lebih mudah mematuhi aturan yang mereka ikut susun. Karena memahami alasan di balik setiap aturan, mereka tidak menganggapnya sebagai bentuk pembatasan, melainkan sebagai pedoman yang membantu seluruh warga kelas belajar dengan lebih baik. Akibatnya, potensi terjadinya pelanggaran aturan pun dapat berkurang.</p><h3 id="4-membangun-komunikasi-yang-sehat-antara-guru-dan-siswa">4. Membangun Komunikasi yang Sehat antara Guru dan Siswa</h3><p>Proses penyusunan aturan bersama membuka ruang dialog yang positif antara guru dan siswa. Guru dapat mendengarkan harapan, kebutuhan, maupun kekhawatiran siswa, sementara siswa belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang santun dan menghargai orang lain. Komunikasi yang baik akan memperkuat hubungan serta menciptakan suasana kelas yang lebih harmonis.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/bagaimana-membangun-komunikasi-yang-baik-siswa-dan-guru/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Bagaimana Membangun Komunikasi yang Baik Siswa dan Guru?</div><div class="kg-bookmark-description">Komunikasi antara guru dan siswa juga penting agar ilmu yang disampaikan dapat diserap juga diimplementasikan dengan baik.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Insani Miftahul Janah</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2022/03/trainer-gd77a8cba0_1920.jpg" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa"></div></a></figure><h3 id="5-menciptakan-budaya-kelas-yang-saling-menghargai">5. Menciptakan Budaya Kelas yang Saling Menghargai</h3><p>Aturan yang disepakati bersama membantu membangun budaya kelas yang menghargai hak, pendapat, dan perbedaan setiap individu. Siswa belajar bahwa setiap aturan dibuat demi kepentingan bersama sehingga mereka terdorong untuk saling menghormati dan bekerja sama dalam menjaga ketertiban kelas.</p><p>Dengan demikian, menyusun aturan kelas secara kolaboratif bukan hanya bertujuan menghasilkan daftar peraturan, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kerja sama, dan saling menghargai. Ketika siswa memahami alasan di balik setiap aturan, mereka akan lebih sadar pentingnya menjaga kesepakatan bersama sehingga suasana belajar menjadi lebih positif dan kondusif.</p><h2 id="prinsip-prinsip-menyusun-aturan-kelas-yang-efektif">Prinsip-Prinsip Menyusun Aturan Kelas yang Efektif</h2><h3 id="1-disusun-bersama-guru-dan-siswa">1. Disusun Bersama Guru dan Siswa</h3><p>Libatkan siswa dalam proses penyusunan aturan agar mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap kesepakatan yang dibuat. Keterlibatan ini juga meningkatkan komitmen siswa untuk mematuhi aturan selama proses pembelajaran.</p><h3 id="2-menggunakan-kalimat-yang-positif">2. Menggunakan Kalimat yang Positif</h3><p>Rumuskan aturan dengan bahasa yang menunjukkan perilaku yang diharapkan, misalnya &quot;Datang tepat waktu&quot; daripada &quot;Jangan terlambat&quot;. Kalimat positif lebih mudah dipahami dan mendorong siswa untuk berperilaku sesuai harapan.</p><h3 id="3-mudah-dipahami">3. Mudah Dipahami</h3><p>Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan sesuai dengan usia peserta didik. Hindari penggunaan istilah yang ambigu agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.</p><h3 id="4-realistis-dan-dapat-diterapkan">4. Realistis dan Dapat Diterapkan</h3><p>Pastikan setiap aturan sesuai dengan kondisi kelas dan mampu diterapkan secara konsisten. Aturan yang terlalu sulit atau tidak relevan akan lebih mudah diabaikan oleh siswa.</p><h3 id="5-jumlah-aturan-tidak-terlalu-banyak">5. Jumlah Aturan Tidak Terlalu Banyak</h3><p>Batasi aturan sekitar lima hingga delapan poin utama. Jumlah yang ringkas akan memudahkan siswa mengingat dan menerapkannya dalam kegiatan belajar sehari-hari.</p><h3 id="6-diterapkan-secara-konsisten">6. Diterapkan Secara Konsisten</h3><p>Guru dan siswa perlu sama-sama mematuhi aturan yang telah disepakati. Konsistensi dalam penerapan akan membangun rasa adil serta menumbuhkan budaya disiplin yang positif di kelas.</p><h2 id="cara-menyusun-aturan-kelas-yang-disepakati-guru">Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru</h2><h3 id="1-ajak-siswa-berdiskusi-tentang-kelas-yang-ideal">1. Ajak Siswa Berdiskusi tentang Kelas yang Ideal</h3><p>Langkah pertama dalam menyusun aturan kelas adalah mengajak siswa berdiskusi mengenai suasana kelas yang mereka harapkan. Guru dapat memulai dengan pertanyaan pemantik, seperti &quot;Menurut kalian, seperti apa kelas yang nyaman untuk belajar?&quot; atau &quot;Apa yang perlu kita lakukan agar semua orang merasa dihargai di kelas?&quot; Berikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk menyampaikan pendapatnya sehingga mereka merasa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Selama diskusi berlangsung, catat setiap ide tanpa langsung memberikan penilaian. Dengan cara ini, siswa akan merasa bahwa pendapat mereka dihargai dan lebih termotivasi untuk menjalankan aturan yang nantinya disepakati bersama.</p><h3 id="2-identifikasi-perilaku-yang-mendukung-pembelajaran">2. Identifikasi Perilaku yang Mendukung Pembelajaran</h3><p>Setelah berbagai pendapat terkumpul, langkah berikutnya adalah mengelompokkan ide-ide tersebut menjadi perilaku yang mendukung proses belajar. Misalnya, usulan seperti tidak berbicara saat guru menjelaskan, menjaga kebersihan, atau saling menghormati dapat dirangkum menjadi perilaku positif yang diharapkan di kelas. Sebaiknya guru menghindari membuat daftar larangan yang terlalu banyak karena dapat memberikan kesan negatif. Sebaliknya, fokuslah pada perilaku yang ingin dibangun agar siswa lebih mudah memahami tujuan dari setiap aturan.</p><h3 id="3-rumuskan-aturan-dengan-bahasa-positif">3. Rumuskan Aturan dengan Bahasa Positif</h3><p>Aturan kelas sebaiknya ditulis menggunakan kalimat yang positif, jelas, dan mudah dipahami. Misalnya, daripada menulis &quot;Jangan terlambat&quot;, guru dapat menuliskan &quot;Datang tepat waktu&quot;. Begitu pula dengan aturan seperti &quot;Mendengarkan saat teman berbicara&quot;, &quot;Menjaga kebersihan kelas&quot;, dan &quot;Menghargai pendapat orang lain&quot;. Penggunaan bahasa positif membantu siswa memahami perilaku yang diharapkan, bukan hanya perilaku yang harus dihindari. Selain itu, kalimat positif cenderung lebih mudah diingat dan menciptakan suasana belajar yang lebih mendukung.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/558981405_1387876366673006_8689492345531591555_n--2-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/558981405_1387876366673006_8689492345531591555_n--2-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/558981405_1387876366673006_8689492345531591555_n--2-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/558981405_1387876366673006_8689492345531591555_n--2-.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><h3 id="4-batasi-jumlah-aturan">4. Batasi Jumlah Aturan</h3><p>Agar aturan kelas efektif, jumlahnya tidak perlu terlalu banyak. Idealnya, cukup lima hingga delapan aturan utama yang mencakup berbagai aspek perilaku selama pembelajaran. Terlalu banyak aturan justru dapat membuat siswa kesulitan mengingat dan menerapkannya secara konsisten. Dengan jumlah aturan yang ringkas, guru juga lebih mudah mengingatkan siswa ketika terjadi pelanggaran serta memantau pelaksanaannya dalam kegiatan belajar sehari-hari.</p><h3 id="5-sepakati-konsekuensi-bersama">5. Sepakati Konsekuensi Bersama</h3><p>Selain menyusun aturan, guru dan siswa juga perlu mendiskusikan konsekuensi apabila kesepakatan tidak dijalankan. Konsekuensi sebaiknya bersifat edukatif dan bertujuan membantu siswa memperbaiki perilakunya, bukan sekadar memberikan hukuman. Misalnya, siswa yang terlambat mengumpulkan tugas dapat diberi kesempatan untuk menyelesaikannya dengan pendampingan atau diminta membuat rencana agar lebih disiplin. Dengan melibatkan siswa dalam menentukan konsekuensi, mereka akan lebih memahami bahwa tujuan aturan adalah menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bertanggung jawab.</p><h3 id="6-tulis-dan-pajang-kesepakatan-kelas">6. Tulis dan Pajang Kesepakatan Kelas</h3><p>Setelah semua aturan disepakati, tuliskan hasil kesepakatan dalam bentuk poster atau lembar kesepakatan kelas yang menarik dan mudah dibaca. Guru dapat mengajak siswa menghias poster tersebut agar mereka merasa memiliki aturan yang telah dibuat. Tambahkan tanda tangan guru dan seluruh siswa sebagai simbol komitmen bersama. Selanjutnya, pajang kesepakatan di tempat yang mudah terlihat sehingga dapat menjadi pengingat setiap hari selama proses pembelajaran berlangsung.</p><h3 id="7-lakukan-evaluasi-secara-berkala">7. Lakukan Evaluasi Secara Berkala</h3><p>Aturan kelas bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, melainkan dapat dievaluasi sesuai perkembangan kebutuhan kelas. Oleh karena itu, guru sebaiknya mengadakan refleksi atau evaluasi secara berkala, misalnya setiap beberapa minggu atau pada awal semester baru. Dalam evaluasi tersebut, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan apakah aturan yang ada masih relevan, sudah diterapkan dengan baik, atau perlu diperbaiki. Melalui proses evaluasi bersama, siswa belajar bahwa aturan dapat disempurnakan melalui komunikasi dan kerja sama, sehingga budaya kelas yang positif dapat terus terjaga.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/93il9e7WIDY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Budaya Sekolah Aman dan Nyaman"></iframe></figure><h2 id="kesalahan-yang-sering-dilakukan-saat-membuat-aturan-kelas">Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Membuat Aturan Kelas</h2><h3 id="1-aturan-dibuat-sepihak-oleh-guru">1. Aturan Dibuat Sepihak oleh Guru</h3><p>Menyusun aturan tanpa melibatkan siswa dapat membuat mereka merasa hanya sebagai pihak yang harus mematuhi, bukan bagian dari proses pengambilan keputusan. Akibatnya, siswa cenderung kurang memiliki rasa tanggung jawab dan lebih mudah mengabaikan aturan yang telah ditetapkan.</p><h3 id="2-terlalu-banyak-aturan">2. Terlalu Banyak Aturan</h3><p>Membuat terlalu banyak aturan justru dapat membingungkan siswa. Mereka akan kesulitan mengingat semua poin yang harus dipatuhi sehingga penerapannya menjadi kurang efektif. Sebaiknya, fokus pada beberapa aturan utama yang benar-benar penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.</p><h3 id="3-menggunakan-bahasa-yang-bersifat-negatif">3. Menggunakan Bahasa yang Bersifat Negatif</h3><p>Aturan yang didominasi kalimat larangan, seperti &quot;Jangan ribut&quot; atau &quot;Jangan berlari&quot;, cenderung membuat suasana kelas terasa kaku. Sebaliknya, gunakan kalimat positif yang menunjukkan perilaku yang diharapkan, misalnya &quot;Berbicara dengan suara yang pelan&quot; atau &quot;Berjalan dengan tertib&quot;.</p><h3 id="4-aturan-tidak-diterapkan-secara-konsisten">4. Aturan Tidak Diterapkan Secara Konsisten</h3><p>Aturan akan kehilangan maknanya apabila hanya diterapkan pada waktu atau siswa tertentu. Ketidakkonsistenan dapat menimbulkan anggapan bahwa aturan tidak benar-benar penting dan memicu rasa tidak adil di antara siswa.</p><h3 id="5-guru-tidak-memberikan-teladan">5. Guru Tidak Memberikan Teladan</h3><p>Guru merupakan contoh bagi siswa dalam menerapkan aturan kelas. Jika guru meminta siswa datang tepat waktu, tetapi sering terlambat, atau mengharapkan siswa bersikap sopan tetapi tidak menunjukkan sikap yang sama, maka siswa akan lebih sulit menghargai aturan tersebut.</p><h3 id="6-tidak-pernah-mengevaluasi-kesepakatan-kelas">6. Tidak Pernah Mengevaluasi Kesepakatan Kelas</h3><p>Kebutuhan dan dinamika kelas dapat berubah seiring waktu. Jika aturan tidak pernah dievaluasi, ada kemungkinan beberapa aturan sudah tidak relevan atau kurang efektif. Melakukan evaluasi secara berkala membantu guru dan siswa memperbaiki kesepakatan agar tetap sesuai dengan kondisi kelas.</p><h2 id="tips-agar-aturan-kelas-dipatuhi-oleh-semua-siswa">Tips Agar Aturan Kelas Dipatuhi oleh Semua Siswa</h2><h3 id="1-terapkan-aturan-secara-konsisten">1. Terapkan Aturan Secara Konsisten</h3><p>Guru perlu menerapkan aturan kepada seluruh siswa secara adil tanpa membeda-bedakan. Konsistensi akan membangun kepercayaan siswa dan menunjukkan bahwa setiap aturan memang penting untuk dipatuhi.</p><h3 id="2-berikan-apresiasi-terhadap-perilaku-positif">2. Berikan Apresiasi terhadap Perilaku Positif</h3><p>Tidak hanya mengingatkan saat terjadi pelanggaran, guru juga perlu memberikan apresiasi ketika siswa mematuhi aturan. Apresiasi sederhana, seperti pujian atau ucapan terima kasih, dapat memotivasi siswa untuk mempertahankan perilaku positif.</p><h3 id="3-lakukan-refleksi-kelas-secara-rutin">3. Lakukan Refleksi Kelas Secara Rutin</h3><p>Sediakan waktu untuk mengajak siswa mengevaluasi pelaksanaan aturan kelas. Refleksi membantu siswa menyadari keberhasilan maupun tantangan yang dihadapi sehingga mereka dapat bersama-sama mencari solusi yang lebih baik.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/refleksi-mengajar-6-hal-yang-perlu-dievaluasi-guru-setelah-satu-semester/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Refleksi Mengajar: 6 Hal yang Perlu Dievaluasi Guru Setelah Satu Semester</div><div class="kg-bookmark-description">Refleksi membantu guru meninjau kembali berbagai aspek pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga hasil yang dicapai siswa</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/06/pexels-eduard-perez-2158828645-37831198.jpg" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa"></div></a></figure><h3 id="4-libatkan-siswa-ketika-terjadi-pelanggaran">4. Libatkan Siswa Ketika Terjadi Pelanggaran</h3><p>Jika ada siswa yang melanggar aturan, ajak mereka berdiskusi mengenai penyebabnya dan cara memperbaikinya. Pendekatan ini membantu siswa belajar bertanggung jawab atas tindakannya, bukan sekadar menerima hukuman.</p><h3 id="5-jadilah-teladan-bagi-siswa">5. Jadilah Teladan bagi Siswa</h3><p>Guru perlu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan aturan yang telah disepakati, seperti bersikap disiplin, menghargai pendapat orang lain, dan menjaga komunikasi yang santun. Keteladanan merupakan salah satu cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan positif pada siswa.</p><h3 id="6-bangun-komunikasi-yang-terbuka">6. Bangun Komunikasi yang Terbuka</h3><p>Dorong siswa untuk menyampaikan pendapat, masukan, atau kesulitan yang mereka alami dalam menerapkan aturan kelas. Komunikasi yang terbuka akan menciptakan hubungan yang saling menghargai dan membuat siswa merasa nyaman untuk menjaga kesepakatan bersama.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Menyusun aturan kelas yang disepakati bersama bukan sekadar membuat daftar peraturan, tetapi juga membangun budaya belajar yang positif, disiplin, dan saling menghargai. Dengan melibatkan siswa sejak awal, guru dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, meningkatkan kepatuhan terhadap aturan, serta menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan kondusif. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260727-WA0003.jpg" class="kg-image" alt="Cara Menyusun Aturan Kelas yang Disepakati Guru dan Siswa" loading="lazy" width="899" height="1599" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260727-WA0003.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260727-WA0003.jpg 899w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Agar semakin optimal dalam menerapkan strategi pengelolaan kelas dan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru dapat mengikuti berbagai pelatihan profesional dari kejarcita. Mulai dari pelatihan manajemen kelas, asesmen, hingga strategi pembelajaran inovatif, kejarcita siap mendampingi sekolah melalui program pelatihan yang praktis dan aplikatif. Hubungi tim kejarcita untuk mendapatkan informasi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah Anda.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!]]></title><description><![CDATA[<p>Setiap siswa memiliki minat yang berbeda. Ada yang senang praktik langsung, menganalisis, berkreasi, membantu orang lain, memimpin, atau bekerja secara terstruktur.Melalui RIASEC, sekolah dapat membantu siswa mengenali area minat mereka sehingga lebih siap menentukan jurusan dan merencanakan karier di masa depan. Yuk, kenali lebih dalam enam area minat berdasarkan</p>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/yuk-kenali-6-area-minat-berdasarkan-teori-riasec/</link><guid isPermaLink="false">6a67d0a566a1b904b0daad75</guid><category><![CDATA[infografis]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Tue, 28 Jul 2026 02:50:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n--1-.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n--1-.jpg" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!"><p>Setiap siswa memiliki minat yang berbeda. Ada yang senang praktik langsung, menganalisis, berkreasi, membantu orang lain, memimpin, atau bekerja secara terstruktur.Melalui RIASEC, sekolah dapat membantu siswa mengenali area minat mereka sehingga lebih siap menentukan jurusan dan merencanakan karier di masa depan. Yuk, kenali lebih dalam enam area minat berdasarkan RIASEC melalui carousel ini!Ingin membantu siswa mengenali potensinya sejak dini? Program Tes Minat &amp; Bakat kejarcita siap menjadi solusi bagi sekolah untuk memetakan minat dan potensi setiap siswa secara lebih akurat. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1077" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743347396_1645637074230266_8499167202888278970_n.jpg 1077w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743425408_1645637047563602_4355897209269943586_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743425408_1645637047563602_4355897209269943586_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743425408_1645637047563602_4355897209269943586_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743425408_1645637047563602_4355897209269943586_n.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743203876_1645637080896932_3532171107117362349_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743203876_1645637080896932_3532171107117362349_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743203876_1645637080896932_3532171107117362349_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743203876_1645637080896932_3532171107117362349_n.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743118924_1645637137563593_4493853575064345533_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1077" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743118924_1645637137563593_4493853575064345533_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743118924_1645637137563593_4493853575064345533_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743118924_1645637137563593_4493853575064345533_n.jpg 1077w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743082042_1645637154230258_4008416251189258671_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743082042_1645637154230258_4008416251189258671_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743082042_1645637154230258_4008416251189258671_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743082042_1645637154230258_4008416251189258671_n.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743318695_1645637167563590_4898568858202778500_n.jpg" class="kg-image" alt="Yuk, Kenali 6 Area Minat Berdasarkan Teori RIASEC!" loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/743318695_1645637167563590_4898568858202778500_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/743318695_1645637167563590_4898568858202778500_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/743318695_1645637167563590_4898568858202778500_n.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana]]></title><description><![CDATA[10 ide proyek STEM sederhana menggunakan alat yang mudah ditemukan. Cocok untuk kegiatan belajar di rumah maupun di sekolah.]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/10-ide-proyek-stem-yang-bisa-dilakukan-dengan-alat-sederhana/</link><guid isPermaLink="false">6a5ed6b366a1b904b0daac24</guid><category><![CDATA[edukasi]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Fri, 24 Jul 2026 03:34:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-chipi1189-36859101.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-chipi1189-36859101.jpg" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana"><p>STEM merupakan singkatan dari <em>Science</em> (Sains), <em>Technology </em>(Teknologi), <em>Engineering </em>(Rekayasa), dan <em>Mathematics </em>(Matematika). Pendekatan pembelajaran ini mengintegrasikan keempat bidang tersebut dalam satu kegiatan sehingga siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkannya untuk menyelesaikan masalah nyata. Melalui pembelajaran STEM, siswa didorong untuk berpikir kritis, berkreasi, berkolaborasi, serta menemukan solusi melalui proses mengamati, mencoba, dan mengevaluasi hasil percobaan. Oleh karena itu, STEM menjadi salah satu pendekatan yang banyak diterapkan untuk mempersiapkan siswa menghadapi <a href="https://blog.kejarcita.id/parenting-di-era-digital-tantangan-dan-solusinya/">tantangan di era digital</a> dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.</p><p>Meskipun sering dikaitkan dengan laboratorium modern atau peralatan canggih, proyek STEM sebenarnya dapat dilakukan menggunakan alat dan bahan sederhana yang mudah ditemukan di rumah maupun di sekolah. Benda-benda seperti botol bekas, balon, sedotan, stik es krim, atau soda kue sudah cukup untuk membantu siswa memahami berbagai konsep sains dan rekayasa melalui kegiatan praktik yang menyenangkan. Selain lebih hemat biaya, proyek-proyek sederhana juga lebih mudah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Artikel ini akan membahas 10 ide proyek STEM yang bisa dilakukan dengan alat sederhana, lengkap dengan penjelasan mengenai tujuan, alat dan bahan, cara membuat, serta konsep STEM yang dapat dipelajari dari setiap proyek.</p><h2 id="mengapa-proyek-stem-dengan-alat-sederhana-tetap-efektif">Mengapa Proyek STEM dengan Alat Sederhana Tetap Efektif?</h2><p>Banyak orang menganggap bahwa pembelajaran STEM memerlukan teknologi canggih dan biaya yang besar. Padahal, inti dari STEM bukan terletak pada mahalnya alat yang digunakan, melainkan pada proses siswa dalam mengamati, bereksperimen, memecahkan masalah, dan menarik kesimpulan berdasarkan hasil yang diperoleh.</p><p>Penggunaan alat sederhana justru membuat pembelajaran lebih mudah diterapkan oleh berbagai sekolah dengan kondisi yang berbeda. Selain lebih hemat biaya, siswa juga dapat mengulang percobaan secara mandiri di rumah sehingga pemahaman mereka terhadap materi menjadi lebih mendalam. Kegiatan seperti ini juga membantu siswa mengembangkan rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba berbagai solusi.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/578271188_1418278056966170_8350625548857704176_n--1-.jpg" class="kg-image" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/578271188_1418278056966170_8350625548857704176_n--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/578271188_1418278056966170_8350625548857704176_n--1-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/578271188_1418278056966170_8350625548857704176_n--1-.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><h2 id="10-ide-proyek-stem-yang-bisa-dilakukan-dengan-alat-sederhana">10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana</h2><h3 id="1-membuat-gunung-api-mini-dari-soda-kue-dan-cuka">1. Membuat Gunung Api Mini dari Soda Kue dan Cuka</h3><p>Membuat gunung api mini merupakan salah satu proyek STEM yang paling populer karena mudah dilakukan dan mampu menarik perhatian siswa. Proyek ini hanya membutuhkan soda kue, cuka, botol kecil, wadah, sabun cair, dan pewarna makanan agar hasilnya terlihat lebih menarik. Saat cuka dituangkan ke dalam botol yang berisi soda kue, akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan gas karbon dioksida. Gas tersebut mendorong cairan keluar hingga menyerupai letusan gunung api. Melalui kegiatan ini, siswa dapat memahami konsep reaksi antara asam dan basa, mengamati hubungan sebab-akibat, serta belajar membuat prediksi berdasarkan hasil percobaan. Guru juga dapat mengajak siswa mencoba variasi jumlah soda kue atau cuka untuk melihat pengaruhnya terhadap besar kecilnya letusan.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/nfRqNWZ0k8o?start=1&amp;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Eksperimen di Rumah dengan 6 Bahan Murah dari Dapur | Gimana Cara Buat Gunung Meletus?"></iframe></figure><h3 id="2-merancang-jembatan-dari-stik-es-krim">2. Merancang Jembatan dari Stik Es Krim</h3><p>Proyek merancang jembatan dari stik es krim mengajak siswa berpikir seperti seorang insinyur yang harus membuat bangunan kuat dengan bahan yang terbatas. Alat dan bahan yang digunakan cukup sederhana, yaitu stik es krim, lem, serta beberapa benda sebagai beban uji. Siswa diminta menyusun stik menjadi bentuk jembatan sesuai desain yang mereka buat, kemudian menguji kekuatannya dengan menambahkan beban secara bertahap. Dari kegiatan ini, siswa akan memahami bahwa bentuk, susunan, dan cara menyambungkan material sangat memengaruhi kekuatan suatu struktur. Selain mempelajari konsep rekayasa <em>(engineering)</em>, siswa juga belajar merancang solusi, melakukan evaluasi, dan memperbaiki desain jika jembatan belum mampu menahan beban sesuai harapan.</p><h3 id="3-membuat-roket-balon">3. Membuat Roket Balon</h3><p>Roket balon merupakan proyek STEM sederhana yang memperkenalkan konsep gaya dan gerak melalui percobaan yang menyenangkan. Proyek ini menggunakan balon, sedotan, benang, dan selotip sebagai bahan utama. Benang direntangkan sebagai lintasan, kemudian sedotan dimasukkan ke dalam benang dan balon ditempelkan pada sedotan. Setelah balon ditiup dan dilepaskan, udara yang keluar akan menghasilkan gaya dorong sehingga balon bergerak sepanjang benang. Melalui percobaan ini, siswa dapat memahami prinsip aksi dan reaksi yang dijelaskan dalam Hukum III Newton, yaitu setiap aksi akan menghasilkan reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arah. Guru juga dapat mengajak siswa membandingkan pengaruh ukuran balon atau panjang lintasan terhadap kecepatan roket.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/contoh-pembelajaran-steam/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">8 Contoh Pembelajaran STEAM</div><div class="kg-bookmark-description">STEAM membantu siswa untuk menguasai keterampilan seperti kreativitas, kolaborasi, teknologi, dan pemecahan masalah</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2025/01/pexels-vanessa-loring-7869041--1-.jpg" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana"></div></a></figure><h3 id="4-menyaring-air-menggunakan-bahan-alami">4. Menyaring Air Menggunakan Bahan Alami</h3><p>Proyek penyaring air sederhana membantu siswa memahami pentingnya proses penyaringan dalam memperoleh air yang lebih bersih. Bahan yang digunakan mudah ditemukan, seperti botol bekas, kapas, arang, pasir, kerikil, dan air keruh. Semua bahan disusun secara berlapis di dalam botol, kemudian air keruh dituangkan secara perlahan hingga melewati setiap lapisan penyaring. Siswa akan melihat bahwa air yang keluar tampak lebih jernih karena sebagian kotoran berhasil disaring. Dari kegiatan ini, siswa belajar mengenai proses filtrasi, fungsi setiap lapisan penyaring, serta pentingnya menjaga kualitas air untuk kehidupan sehari-hari. Guru juga dapat menjelaskan bahwa hasil penyaringan ini belum tentu aman untuk diminum karena masih memerlukan proses pemurnian lebih lanjut.</p><h3 id="5-membuat-kincir-angin-mini">5. Membuat Kincir Angin Mini</h3><p>Membuat kincir angin mini merupakan proyek yang memperkenalkan konsep energi terbarukan secara sederhana. Proyek ini dapat dibuat menggunakan kertas lipat, sedotan, jarum pentul, dan penghapus pensil sebagai penyangga. Setelah baling-baling dirangkai, siswa dapat meniupnya atau meletakkannya di tempat yang terkena angin untuk melihat bagaimana baling-baling berputar. Dari percobaan tersebut, siswa memahami bahwa energi angin dapat diubah menjadi energi gerak. Guru juga dapat mengajak siswa membandingkan bentuk atau ukuran baling-baling untuk mengetahui desain mana yang menghasilkan putaran paling cepat. Kegiatan ini melatih kemampuan mengamati, bereksperimen, serta memahami penerapan energi angin dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada turbin pembangkit listrik tenaga angin.</p><h3 id="6-menumbuhkan-kecambah-dalam-berbagai-kondisi">6. Menumbuhkan Kecambah dalam Berbagai Kondisi</h3><p>Proyek ini mengajarkan siswa bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Bahan yang dibutuhkan hanya biji kacang hijau, kapas, gelas plastik, dan air. Siswa dapat menyiapkan beberapa gelas dengan perlakuan yang berbeda, misalnya diletakkan di tempat terang, tempat gelap, diberi air secukupnya, atau tanpa air. Selama beberapa hari, siswa diminta mengamati perubahan yang terjadi dan mencatat tinggi kecambah, warna daun, atau jumlah daun yang tumbuh. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bagaimana cahaya, air, dan lingkungan memengaruhi pertumbuhan tanaman. Selain itu, mereka juga belajar melakukan eksperimen dengan membandingkan hasil dari beberapa variabel yang berbeda.</p><h3 id="7-membuat-kompas-sederhana">7. Membuat Kompas Sederhana</h3><p>Membuat kompas sederhana merupakan cara yang menarik untuk mengenalkan konsep magnet kepada siswa. Proyek ini menggunakan jarum, magnet, gabus atau daun kecil, serta mangkuk berisi air. Jarum digosok menggunakan magnet ke satu arah beberapa kali hingga memiliki sifat magnet, kemudian diletakkan di atas gabus yang mengapung di permukaan air. Setelah beberapa saat, jarum akan berputar dan menunjukkan arah utara serta selatan sesuai medan magnet Bumi. Melalui percobaan ini, siswa memahami bahwa Bumi memiliki medan magnet yang dapat dimanfaatkan sebagai penunjuk arah. Guru juga dapat menghubungkan konsep ini dengan cara kerja kompas yang digunakan dalam kegiatan navigasi.</p><h3 id="8-membangun-menara-dari-sedotan-atau-spaghetti">8. Membangun Menara dari Sedotan atau Spaghetti</h3><p>Proyek membangun menara mengajak siswa berpikir kreatif untuk menciptakan struktur yang tinggi sekaligus kokoh menggunakan bahan yang terbatas. Alat dan bahan yang diperlukan hanya sedotan atau spaghetti, selotip, dan gunting. Siswa bekerja secara individu atau kelompok untuk merancang menara dengan tinggi tertentu, kemudian menguji apakah menara mampu berdiri tanpa roboh. Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa bentuk dasar seperti segitiga umumnya lebih kuat dibandingkan bentuk lainnya dalam menopang beban. Selain memahami konsep keseimbangan dan struktur bangunan, siswa juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, dan mengevaluasi desain yang telah dibuat agar menjadi lebih baik.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/THfKnEbuLX0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Definisi, Langkah-Langkah Penerapan, dan Penilaian STEM"></iframe></figure><h3 id="9-membuat-termometer-sederhana">9. Membuat Termometer Sederhana</h3><p>Melalui proyek ini, siswa dapat memahami cara kerja termometer menggunakan alat dan bahan yang sederhana, seperti botol kecil, sedotan, plastisin, serta air yang diberi pewarna makanan. Botol diisi dengan air berwarna, kemudian sedotan dipasang pada mulut botol dan ditutup rapat menggunakan plastisin agar tidak ada udara yang masuk. Saat botol diletakkan di tempat yang hangat atau dipegang dengan tangan, permukaan air di dalam sedotan akan naik karena cairan memuai akibat kenaikan suhu. Sebaliknya, ketika suhu lebih rendah, permukaan air akan turun. Percobaan ini membantu siswa memahami hubungan antara suhu dan pemuaian zat cair sekaligus mengenal prinsip kerja termometer yang digunakan untuk mengukur temperatur.</p><h3 id="10-merancang-mobil-balon">10. Merancang Mobil Balon</h3><p>Mobil balon merupakan proyek STEM yang memadukan konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dalam satu kegiatan. Mobil dibuat menggunakan bahan sederhana, seperti kardus bekas sebagai badan mobil, tutup botol sebagai roda, sedotan, tusuk sate sebagai poros, serta balon sebagai sumber tenaga. Setelah mobil selesai dirakit, balon ditiup dan dilepaskan sehingga udara yang keluar mendorong mobil bergerak ke depan. Dari percobaan ini, siswa belajar bahwa udara yang keluar dari balon menghasilkan gaya dorong yang mengubah energi menjadi gerak. Guru juga dapat menantang siswa memodifikasi ukuran roda, bentuk badan mobil, atau posisi balon untuk mengetahui desain mana yang mampu melaju paling jauh. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep fisika, tetapi juga belajar melakukan proses desain, pengujian, analisis, dan penyempurnaan seperti seorang insinyur.</p><h2 id="tips-agar-proyek-stem-berjalan-lebih-maksimal">Tips Agar Proyek STEM Berjalan Lebih Maksimal</h2><h3 id="1-sesuaikan-proyek-dengan-usia-dan-kemampuan-siswa">1. Sesuaikan Proyek dengan Usia dan Kemampuan Siswa</h3><p>Pilihlah proyek STEM yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa agar kegiatan dapat diikuti dengan baik. Untuk siswa sekolah dasar, gunakan proyek yang sederhana dengan langkah-langkah yang mudah dipahami, seperti membuat gunung api mini atau menumbuhkan kecambah. Sementara itu, siswa jenjang yang lebih tinggi dapat diberikan tantangan yang lebih kompleks, seperti merancang jembatan atau mobil balon. Pemilihan proyek yang tepat akan membuat siswa lebih percaya diri, antusias, dan mampu memahami konsep yang dipelajari.</p><h3 id="2-utamakan-keselamatan-selama-praktik">2. Utamakan Keselamatan Selama Praktik</h3><p>Meskipun menggunakan alat dan bahan sederhana, keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Guru perlu memastikan semua bahan yang digunakan aman serta memberikan petunjuk penggunaan alat sebelum kegiatan dimulai. Jika proyek melibatkan gunting, jarum, atau bahan lain yang berpotensi menimbulkan risiko, lakukan pendampingan selama proses berlangsung. Selain itu, biasakan siswa menjaga kebersihan area kerja dan merapikan kembali alat setelah kegiatan selesai agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan nyaman.</p><h3 id="3-dorong-siswa-mencatat-hasil-pengamatan">3. Dorong Siswa Mencatat Hasil Pengamatan</h3><p>Salah satu bagian penting dalam pembelajaran STEM adalah proses mengamati dan mendokumentasikan hasil eksperimen. Ajak siswa mencatat setiap perubahan yang mereka lihat, seperti waktu, ukuran, warna, atau hasil percobaan lainnya. Catatan tersebut dapat menjadi bahan untuk membandingkan hasil, menemukan pola, serta menyusun kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh. Dengan cara ini, siswa tidak hanya melakukan praktik, tetapi juga belajar berpikir secara sistematis dan berbasis bukti.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/penerapan-asesmen-dengan-pendekatan-stem/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Penerapan Asesmen dengan Pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika)</div><div class="kg-bookmark-description">Pendekatan STEM tidak hanya mengajarkan siswa terhadap pengetahuan teori namun juga memberikan pengalaman langsung dalam proses pembelajaran melalui proyek yang diberikan guru</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Sari</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2023/09/pexels-startup-stock-photos-7354.jpg" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana"></div></a></figure><h3 id="4-berikan-kesempatan-untuk-mencoba-kembali-dan-memperbaiki-desain">4. Berikan Kesempatan untuk Mencoba Kembali dan Memperbaiki Desain</h3><p>Dalam proyek STEM, kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan kesempatan untuk menemukan solusi yang lebih baik. Berikan ruang bagi siswa untuk mengevaluasi hasil percobaan, mengidentifikasi penyebab kegagalan, lalu mencoba kembali dengan melakukan perbaikan pada desain atau langkah kerja. Proses ini akan melatih ketekunan, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah, sekaligus membantu siswa memahami bahwa inovasi sering kali lahir melalui beberapa kali percobaan.</p><h3 id="5-diskusikan-hasil-eksperimen-bersama">5. Diskusikan Hasil Eksperimen Bersama</h3><p>Setelah proyek selesai, luangkan waktu untuk mendiskusikan hasil eksperimen bersama seluruh siswa. Guru dapat mengajak siswa menceritakan proses yang mereka lakukan, kendala yang dihadapi, serta alasan mengapa hasil setiap kelompok mungkin berbeda. Diskusi ini membantu siswa menghubungkan hasil percobaan dengan konsep STEM yang dipelajari sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghargai pendapat orang lain. Dengan refleksi di akhir kegiatan, pengalaman belajar menjadi lebih bermakna dan mudah diingat.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Melalui berbagai proyek STEM yang menggunakan alat sederhana, guru dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan bermakna tanpa harus bergantung pada fasilitas yang mahal. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya membantu siswa memahami konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan memecahkan masalah yang dibutuhkan di abad ke-21. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260724-WA0006.jpg" class="kg-image" alt="10 Ide Proyek STEM yang Bisa Dilakukan dengan Alat Sederhana" loading="lazy" width="1440" height="2560" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260724-WA0006.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/IMG-20260724-WA0006.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260724-WA0006.jpg 1440w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Agar pembelajaran STEM dapat diterapkan secara lebih optimal di kelas, guru juga perlu terus meningkatkan kompetensinya dalam merancang aktivitas yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kejarcita hadir sebagai mitra pengembangan profesional guru melalui berbagai program pelatihan yang membahas strategi pembelajaran inovatif, penyusunan perangkat ajar, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, hingga penerapan pendekatan seperti STEM. </p><p>Jika sekolah atau instansi Anda ingin menyelenggarakan pelatihan dengan tema serupa, kejarcita siap membantu mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan sehingga kegiatan dapat berjalan efektif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Webinar Kejarcita x Kemendikdasmen - Guru Siap, Kelas Bergerak: Strategi Pembelajaran STEAM di Era Digital]]></title><description><![CDATA[<blockquote>Yuk ikuti Webinar Kejarcita x Kemendikdasmen (GRATIS untuk Guru &amp; Tenaga Kependidikan)</blockquote><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1122" height="1402" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 1122w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><h2 id="%F0%9F%93%9A-guru-siap-kelas-bergerak-strategi-pembelajaran-steam-di-era-digital">&#x1F4DA; Guru Siap, Kelas Bergerak: Strategi Pembelajaran STEAM di Era Digital</h2><h3 id="%F0%9F%91%A9%E2%80%8D%F0%9F%8F%AB-keynote-speaker-prof-dr-nunuk-suryani-mpd-dirjen-guru-dan-tenaga-kependidikan">&#x1F469;&#x200D;&#x1F3EB; Keynote Speaker: Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan)</h3><p>&#x1F3A4;<strong> Narasumber</strong>: Dr. Nani Rahmah, M.Pd.</p><p>&#x1F399;&#xFE0F; <strong>Moderator: </strong>Alisya</p>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/guru-siap-kelas-bergerak-strategi-pembelajaran-steam-di-era-digital/</link><guid isPermaLink="false">6a60813166a1b904b0daac7e</guid><category><![CDATA[event]]></category><category><![CDATA[webinar]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Wed, 22 Jul 2026 08:42:26 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52-1.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote>Yuk ikuti Webinar Kejarcita x Kemendikdasmen (GRATIS untuk Guru &amp; Tenaga Kependidikan)</blockquote><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg" class="kg-image" alt="Webinar Kejarcita x Kemendikdasmen - Guru Siap, Kelas Bergerak: Strategi Pembelajaran STEAM di Era Digital" loading="lazy" width="1122" height="1402" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52.jpeg 1122w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><h2 id="%F0%9F%93%9A-guru-siap-kelas-bergerak-strategi-pembelajaran-steam-di-era-digital">&#x1F4DA; Guru Siap, Kelas Bergerak: Strategi Pembelajaran STEAM di Era Digital</h2><h3 id="%F0%9F%91%A9%E2%80%8D%F0%9F%8F%AB-keynote-speaker-prof-dr-nunuk-suryani-mpd-dirjen-guru-dan-tenaga-kependidikan">&#x1F469;&#x200D;&#x1F3EB; Keynote Speaker: Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan)</h3><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-21-at-11.40.52-1.jpeg" alt="Webinar Kejarcita x Kemendikdasmen - Guru Siap, Kelas Bergerak: Strategi Pembelajaran STEAM di Era Digital"><p>&#x1F3A4;<strong> Narasumber</strong>: Dr. Nani Rahmah, M.Pd.</p><p>&#x1F399;&#xFE0F; <strong>Moderator: </strong>Alisya Susmidha Yazki, S. Ag.</p><p>&#x1F4C5; Rabu, 22 Juli 2026</p><p>&#x1F551; 14.00&#x2013;16.00 WIB</p><p>&#x1F4CD; Zoom Meeting &amp; YouTube Live</p><p>&#x25B6;&#xFE0F; <a href="https://tinyurl.com/YTLivekejarcita-STEAM">https://tinyurl.com/YTLivekejarcita-STEAM</a></p><h3 id="%F0%9F%8E%81-benefit">&#x1F381; Benefit:</h3><ul><li>Sertifikat bercap Kementerian</li><li>Giveaway menarik</li><li>Handout materi eksklusif</li><li>Ilmu yang langsung aplikatif</li></ul><p>&#x1F4DD; <strong>Daftar sekarang:</strong><br><a href="https://tinyurl.com/Webinar-Steam-Kejarcita">https://tinyurl.com/Webinar-Steam-Kejarcita</a></p><p>&#x1F4DE; CP/WA: 085694978955 (Epin Kejarcita)</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar]]></title><description><![CDATA[penyusunan RAB merupakan langkah penting untuk memastikan seluruh kebutuhan dapat terpenuhi sesuai dengan dana yang tersedia]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/cara-hitung-rab-dengan-mudah-panduan-lengkap-cara-membuat-rab-yang-bena/</link><guid isPermaLink="false">6a34baa766a1b904b0daa3ee</guid><category><![CDATA[pendidikan]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Tue, 21 Jul 2026 06:00:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-cottonbro-7012270.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-cottonbro-7012270.jpg" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar"><p>Dalam setiap kegiatan sekolah, pengadaan sarana dan prasarana, pelatihan guru, seminar, maupun program pendidikan lainnya, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan langkah penting untuk memastikan seluruh kebutuhan dapat terpenuhi sesuai dengan dana yang tersedia. Bagi sekolah penerima Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), penyusunan anggaran juga perlu diselaraskan dengan ARKAS sebagai sistem pengelolaan anggaran sekolah.</p><p>Namun, masih banyak orang yang belum memahami cara membuat dan cara hitung RAB dengan benar sehingga anggaran yang disusun kurang akurat atau tidak sesuai kebutuhan. Padahal, proses penyusunan RAB dapat dilakukan secara sistematis dengan mengidentifikasi kebutuhan, menentukan volume, menetapkan harga satuan, dan menghitung total biaya yang diperlukan. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara lengkap cara membuat RAB dan cara hitung RAB, mulai dari pengertian, komponen penyusun, langkah-langkah perhitungan, hingga contoh sederhana yang dapat dijadikan referensi dalam berbagai jenis proyek maupun kegiatan.</p><h2 id="apa-yang-dimaksud-dengan-rab-sekolah">Apa yang Dimaksud dengan RAB Sekolah?</h2><p>Rencana Anggaran Biaya (RAB) sekolah adalah dokumen yang berisi rincian rencana penggunaan anggaran untuk mendukung pelaksanaan program, kegiatan, dan operasional sekolah dalam satu periode tertentu. RAB disusun sebagai pedoman dalam mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan sekolah, baik yang bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pemerintah daerah, maupun sumber pendanaan lainnya.</p><p>Dalam pengelolaan keuangan sekolah, RAB berfungsi sebagai acuan untuk memastikan setiap kegiatan memiliki alokasi anggaran yang jelas, terencana, dan sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan. Penyusunan RAB yang baik membantu sekolah mengelola dana secara efektif, menghindari pemborosan, mempermudah proses pengawasan serta pelaporan keuangan, dan mendukung terciptanya tata kelola keuangan sekolah yang transparan dan akuntabel.</p><h2 id="perbedaan-rab-dan-arkas-dalam-pengelolaan-anggaran-sekolah">Perbedaan RAB dan ARKAS dalam Pengelolaan Anggaran Sekolah</h2><p>Dalam pengelolaan anggaran sekolah, Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling berkaitan. RAB merupakan dokumen yang memuat rincian kebutuhan dan estimasi biaya untuk setiap kegiatan sekolah, sedangkan ARKAS adalah aplikasi resmi yang digunakan untuk menyusun, mengelola, dan melaporkan anggaran sekolah sesuai dengan ketentuan pemerintah.</p><p>Hubungan keduanya terletak pada <a href="https://blog.kejarcita.id/bagaimana-menyusun-rencana-kegiatan-dan-anggaran-sekolah/">proses penyusunan anggaran</a>. Sebelum anggaran dimasukkan ke dalam ARKAS, sekolah biasanya terlebih dahulu menyusun RAB sebagai acuan untuk menghitung dan merinci seluruh kebutuhan biaya suatu kegiatan. Rincian dalam RAB, seperti jenis barang atau jasa, jumlah kebutuhan, harga satuan, dan total biaya, akan mempermudah proses penginputan anggaran ke dalam ARKAS karena seluruh komponen anggaran telah tersusun secara sistematis.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/tugas-operator-sekolah-dan-bendahara-sekolah-di-era-digital/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Tugas Operator Sekolah dan Bendahara Sekolah di Era Digital</div><div class="kg-bookmark-description">Operator sekolah merupakan tenaga kependidikan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan data dan administrasi digital sekolah</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/05/pexels-cottonbro-6538584.jpg" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar"></div></a></figure><p>Dengan kata lain, RAB berfungsi sebagai dokumen pendukung yang menjadi dasar penyusunan anggaran di ARKAS. Setelah rincian anggaran selesai disusun dalam RAB, data tersebut kemudian disesuaikan dengan kode rekening, sumber pendanaan, dan komponen pembiayaan yang tersedia di ARKAS. Melalui alur ini, proses perencanaan anggaran menjadi lebih akurat, efisien, dan sesuai dengan regulasi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).</p><h2 id="tujuan-penyusunan-rab">Tujuan Penyusunan RAB</h2><h3 id="1-mengestimasi-kebutuhan-dana-kegiatan-sekolah">1. Mengestimasi Kebutuhan Dana Kegiatan Sekolah</h3><p>RAB membantu memperkirakan total biaya yang diperlukan untuk melaksanakan suatu kegiatan sekolah. Dengan mengetahui kebutuhan dana sejak awal, sekolah dapat menyusun anggaran secara lebih terencana, memastikan seluruh kebutuhan kegiatan telah diperhitungkan, serta menghindari kekurangan atau kelebihan alokasi dana.</p><h3 id="2-menjadi-dasar-penyusunan-anggaran-di-arkas">2. Menjadi Dasar Penyusunan Anggaran di ARKAS</h3><p>RAB menjadi acuan dalam menyusun rincian anggaran sebelum diinput ke dalam ARKAS. Rincian biaya yang telah disusun, seperti kebutuhan barang atau jasa, jumlah, harga satuan, dan total biaya, memudahkan sekolah dalam memasukkan komponen anggaran ke ARKAS secara lengkap, sistematis, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).</p><h2 id="penyusunan-rab-sekolah-harus-memperhatikan-ketentuan-dana-bosp">Penyusunan RAB Sekolah Harus Memperhatikan Ketentuan Dana BOSP</h2><p>Bagi sekolah yang menggunakan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), penyusunan RAB tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan kegiatan, tetapi juga harus mengikuti ketentuan penggunaan dana yang ditetapkan pemerintah. Setiap rencana belanja perlu disesuaikan dengan program sekolah, prioritas kebutuhan, serta komponen pembiayaan yang diperbolehkan dalam petunjuk teknis Dana BOSP.</p><p>Selain itu, sekolah juga perlu memperhatikan batasan atau pagu penggunaan anggaran pada komponen tertentu sesuai ketentuan yang berlaku pada tahun anggaran berjalan. Oleh karena itu, sebelum menyusun RAB, bendahara maupun tim perencana sekolah perlu memastikan bahwa kegiatan yang akan dianggarkan telah sesuai dengan RKAS dan dapat diakomodasi dalam ARKAS.</p><blockquote><strong>Catatan:</strong> Ketentuan pagu penggunaan Dana BOSP dapat berubah sesuai regulasi pemerintah setiap tahun sehingga sekolah perlu selalu mengacu pada petunjuk teknis Dana BOSP terbaru.</blockquote><h2 id="cara-membuat-rab-yang-benar">Cara Membuat RAB yang Benar</h2><h3 id="1-menentukan-ruang-lingkup-kegiatan-sekolah">1. Menentukan Ruang Lingkup Kegiatan Sekolah</h3><p>Langkah pertama dalam membuat RAB sekolah adalah menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan beserta ruang lingkupnya. Pada tahap ini, sekolah perlu mengidentifikasi tujuan kegiatan, bentuk pelaksanaan, serta seluruh kebutuhan yang akan dibiayai. Penentuan ruang lingkup yang jelas akan memudahkan penyusunan rincian anggaran dan memastikan setiap komponen belanja telah direncanakan sebelum dimasukkan ke dalam ARKAS.</p><p>Sebagai contoh, jika sekolah akan menyelenggarakan pelatihan guru, ruang lingkup kegiatan dapat mencakup penyediaan narasumber, konsumsi peserta, bahan pelatihan, alat tulis kantor (ATK), sertifikat, dokumentasi, dan kebutuhan pendukung lainnya. Sementara itu, untuk kegiatan pengadaan sarana dan prasarana, ruang lingkupnya dapat meliputi pengadaan peralatan belajar, furnitur, atau media pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Semakin jelas ruang lingkup kegiatan yang ditetapkan, semakin mudah pula proses penyusunan RAB.</p><h3 id="2-menyusun-daftar-kebutuhan">2. Menyusun Daftar Kebutuhan</h3><p>Setelah ruang lingkup kegiatan ditentukan, langkah berikutnya adalah menyusun daftar kebutuhan secara rinci. Setiap barang maupun jasa yang diperlukan perlu dicatat secara spesifik agar proses penyusunan anggaran lebih akurat dan memudahkan penginputan komponen belanja ke dalam ARKAS.</p><p>Sebagai contoh, apabila sekolah menyelenggarakan pelatihan guru, daftar kebutuhan dapat meliputi konsumsi peserta, kertas HVS, map, sertifikat, honor narasumber, sewa peralatan apabila diperlukan, serta perlengkapan pendukung lainnya. Sementara itu, untuk kegiatan pengadaan sarana dan prasarana, kebutuhan dapat berupa meja dan kursi siswa, papan tulis, LCD proyektor, komputer, perangkat laboratorium, atau media pembelajaran lainnya sesuai prioritas sekolah.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/693703009_1584313803695927_7338046223964526112_n--1-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar" loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/693703009_1584313803695927_7338046223964526112_n--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/693703009_1584313803695927_7338046223964526112_n--1-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/693703009_1584313803695927_7338046223964526112_n--1-.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><p>Penyusunan daftar kebutuhan yang rinci akan membantu sekolah memastikan bahwa seluruh komponen belanja telah direncanakan sejak awal sehingga penyusunan RAB menjadi lebih lengkap, akurat, dan siap dijadikan dasar untuk memasukkan rincian anggaran beserta komponennya ke dalam ARKAS.</p><h3 id="3-menentukan-volume-kebutuhan">3. Menentukan Volume Kebutuhan</h3><p>Volume kebutuhan menunjukkan jumlah setiap item yang diperlukan. Penentuan volume harus disesuaikan dengan skala kegiatan dan jumlah peserta atau pengguna.</p><p>Sebagai contoh, jika sebuah seminar diikuti oleh 100 peserta, maka kebutuhan konsumsi yang harus disediakan adalah 100 paket. Begitu pula jika diperlukan sertifikat untuk seluruh peserta, maka volume sertifikat yang harus dicetak juga sebanyak 100 lembar.</p><p>Ketelitian dalam menentukan volume sangat penting karena kesalahan pada tahap ini dapat menyebabkan kekurangan atau kelebihan anggaran.</p><h3 id="4-menentukan-harga-satuan">4. Menentukan Harga Satuan</h3><p>Setelah mengetahui jumlah kebutuhan, langkah selanjutnya adalah menentukan harga satuan untuk setiap item. Dalam penyusunan RAB sekolah, harga satuan tidak ditetapkan secara sembarangan, tetapi mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah masing-masing. SSH menjadi pedoman agar harga barang maupun jasa yang dianggarkan tetap wajar, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.</p><p>Sebagai contoh, berdasarkan SSH Tahun 2026 Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, harga kertas HVS A4 80 gram ditetapkan sekitar Rp60.000&#x2013;Rp62.400 per rim, sedangkan map folio manila berkisar Rp13.900&#x2013;Rp14.500 per pak. Contoh tersebut menunjukkan bahwa penyusunan RAB sebaiknya menggunakan harga yang telah ditetapkan dalam SSH, bukan berdasarkan perkiraan atau harga yang ditemukan secara acak di pasaran.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/WR68JfBd614?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) | Ekonomi SMA"></iframe></figure><p>Apabila suatu barang atau jasa belum tercantum dalam SSH, sekolah dapat menggunakan hasil survei harga atau penawaran dari penyedia sebagai bahan pertimbangan, sepanjang tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.</p><blockquote><strong>Catatan:</strong> Contoh harga di atas mengacu pada SSH Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Tahun 2026 sebagai ilustrasi. Dalam praktiknya, setiap sekolah wajib menggunakan SSH yang berlaku di daerah masing-masing. SSH ditetapkan oleh pemerintah daerah dan nilainya dapat berbeda antarwilayah.</blockquote><h3 id="5-menghitung-total-biaya">5. Menghitung Total Biaya</h3><p>Tahap berikutnya adalah menghitung total biaya untuk setiap item kebutuhan. Perhitungan dilakukan dengan mengalikan volume kebutuhan dengan harga satuan.</p><p>Rumus yang digunakan adalah:</p><blockquote><strong>Total Biaya = Volume &#xD7; Harga Satuan</strong></blockquote><p>Contohnya, jika konsumsi yang dibutuhkan sebanyak 100 paket dengan harga Rp25.000 per paket, maka total biaya konsumsi adalah:</p><blockquote><strong>100 &#xD7; Rp25.000 = Rp2.500.000</strong></blockquote><p>Lakukan perhitungan yang sama untuk seluruh item yang tercantum dalam daftar kebutuhan.</p><h3 id="6-memperhitungkan-pajak">6. Memperhitungkan Pajak</h3><p>Setelah menghitung total biaya setiap komponen, penyusun RAB juga perlu memperhitungkan kewajiban perpajakan atas pengadaan barang maupun jasa yang dilakukan sekolah. Beberapa transaksi dapat dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku sehingga komponen ini perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan anggaran.</p><p>Dengan memasukkan unsur pajak ke dalam RAB, sekolah dapat memperkirakan kebutuhan dana secara lebih akurat serta menghindari kekurangan anggaran pada saat proses pembayaran kepada penyedia barang atau jasa. Besaran pajak yang dikenakan mengikuti peraturan perpajakan yang berlaku pada saat transaksi dilaksanakan.</p><h3 id="7-menjumlahkan-seluruh-komponen-anggaran">7. Menjumlahkan Seluruh Komponen Anggaran</h3><p>Langkah terakhir adalah menjumlahkan seluruh total biaya dari masing-masing item untuk mendapatkan total anggaran yang dibutuhkan. Setelah seluruh biaya dan komponen pajak diperhitungkan, langkah terakhir adalah menjumlahkan seluruh anggaran untuk memperoleh total kebutuhan dana kegiatan. Bagi sekolah penerima Dana BOSP, total anggaran yang disusun juga perlu disesuaikan dengan ketentuan penggunaan dana, prioritas kebutuhan sekolah, serta perencanaan yang telah ditetapkan dalam RKAS dan ARKAS.</p><p>Dengan menjumlahkan seluruh komponen anggaran, Anda akan memperoleh gambaran lengkap mengenai dana yang harus disiapkan. Hasil inilah yang nantinya menjadi dokumen RAB dan dapat digunakan sebagai dasar pengajuan anggaran, pelaksanaan kegiatan, serta pengawasan penggunaan dana.</p><h2 id="langkah-langkah-menghitung-rab">Langkah-Langkah Menghitung RAB</h2><h3 id="1-menentukan-item-kebutuhan">1. Menentukan Item Kebutuhan</h3><p>Langkah pertama dalam menghitung RAB adalah mencatat seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sekolah. Daftar kebutuhan harus disusun secara rinci agar tidak ada komponen biaya yang terlewat dan seluruh kebutuhan dapat dianggarkan dengan tepat.</p><p>Sebagai contoh, untuk kegiatan pelatihan guru, item kebutuhan yang akan dihitung meliputi konsumsi peserta, kertas HVS A4 80 gram, map folio manila, spanduk, dan honor narasumber. Item-item tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan volume, harga satuan, hingga total anggaran yang akan dimasukkan ke dalam ARKAS.</p><h3 id="2-menentukan-jumlah-kebutuhan">2. Menentukan Jumlah Kebutuhan</h3><p>Setelah daftar kebutuhan selesai dibuat, tentukan jumlah atau volume masing-masing item sesuai kebutuhan kegiatan.</p><p>Contoh volume kebutuhan untuk kegiatan pelatihan guru adalah sebagai berikut.</p><ul><li>Konsumsi: 50 paket</li><li>Kertas HVS A4 80 gram: 2 rim</li><li>Map folio manila: 2 pak</li><li>Spanduk: 2 meter</li><li>Honor narasumber : 1 orang</li></ul><p>Penentuan volume yang tepat akan membantu sekolah menghindari kekurangan maupun kelebihan anggaran saat kegiatan dilaksanakan.</p><h3 id="3-menentukan-harga-satuan">3. Menentukan Harga Satuan</h3><p>Setelah volume ditentukan, langkah selanjutnya adalah menetapkan harga satuan setiap item. Dalam penyusunan RAB sekolah, harga satuan sebaiknya mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang berlaku di daerah masing-masing agar anggaran yang disusun sesuai dengan ketentuan.</p><p>Contoh harga satuan yang digunakan adalah sebagai berikut.</p><!--kg-card-begin: html--><table class="MsoTable15Plain4" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="564" style="width:423.0pt;border-collapse:collapse;mso-yfti-tbllook:1184;
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt">
 <tbody><tr style="mso-yfti-irow:-1;mso-yfti-firstrow:yes;mso-yfti-lastfirstrow:yes;
  height:49.2pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:5"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Uraian<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:1"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Volume<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:1"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Harga Satuan<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:0;height:51.95pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Konsumsi peserta</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">50 paket</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp25.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:1;height:49.2pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:4"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Kertas HVS A4 80 gram<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">2 rim<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp60.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:2;height:51.95pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Map folio manila</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">2 pak</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:51.95pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp13.900</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:3;height:49.2pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:4"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Spanduk<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">2 meter<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp100.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:4;mso-yfti-lastrow:yes;height:49.2pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Honor Narasumber</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">1 jam</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:49.2pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp1.700.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
</tbody></table><!--kg-card-end: html--><blockquote><strong>Catatan:</strong> Harga satuan pada contoh di atas hanya digunakan untuk mempermudah pemahaman proses perhitungan RAB. Dalam praktik penyusunan RAB sekolah, seluruh harga barang maupun jasa harus mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang berlaku di daerah masing-masing.</blockquote><h3 id="4-menghitung-biaya-per-item-dan-total-anggaran">4. Menghitung Biaya Per Item dan Total Anggaran</h3><p>Setelah volume dan harga satuan diketahui, hitung biaya masing-masing item menggunakan rumus berikut.</p><blockquote><strong>Total Biaya = Volume &#xD7; Harga Satuan</strong></blockquote><p>Berikut contoh perhitungannya.</p><!--kg-card-begin: html--><table class="MsoTable15Plain4" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="539" style="width:403.9pt;border-collapse:collapse;mso-yfti-tbllook:1184;
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt">
 <tbody><tr style="mso-yfti-irow:-1;mso-yfti-firstrow:yes;mso-yfti-lastfirstrow:yes;
  height:34.9pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:5"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Uraian<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:1"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Volume<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:1"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Harga Satuan<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:1"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Total<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:0;height:36.85pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Konsumsi peserta</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">50 paket</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp25.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp1.250.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:1;height:34.9pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:4"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Kertas HVS A4 80 gram<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">2 rim<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp60.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp120.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:2;height:36.85pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Map folio manila</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">2 pak</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp13.900</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp27.800</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:3;height:34.9pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:4"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Spanduk<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">2 meter<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp100.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp200.000<o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:4;height:34.9pt">
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:68"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Honor Narasumber</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">1 jam</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp1.700.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
  <td valign="top" style="background:#F2F2F2;mso-background-themecolor:background1;
  mso-background-themeshade:242;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:34.9pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:64"><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;color:black;
  mso-color-alt:windowtext;mso-fareast-language:EN-ID">Rp1.700.000</span><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
 <tr style="mso-yfti-irow:5;mso-yfti-lastrow:yes;height:36.85pt">
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal;
  mso-yfti-cnfc:4"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:
  &quot;Times New Roman&quot;;mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:
  EN-ID">Total Anggaran<o:p></o:p></span></strong></p>
  </td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt"></td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt"></td>
  <td valign="top" style="padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:36.85pt">
  <p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:normal"><strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID">Rp3.297.800</span></strong><span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
  mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;mso-fareast-language:EN-ID"><o:p></o:p></span></p>
  </td>
 </tr>
</tbody></table><!--kg-card-end: html--><p>Berdasarkan contoh RAB di atas, total anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan guru adalah Rp3.297.800. Nilai tersebut merupakan hasil penjumlahan seluruh komponen biaya yang meliputi konsumsi peserta sebesar Rp1.250.000, kertas HVS A4 80 gram sebesar Rp120.000, map folio manila sebesar Rp27.800, spanduk sebesar Rp200.000, serta honor narasumber sebesar Rp1.700.000.</p><p>Setelah total anggaran diperoleh, sekolah perlu memastikan bahwa seluruh komponen belanja telah sesuai dengan kebutuhan kegiatan, ketentuan penggunaan Dana BOSP, serta dapat diakomodasi ke dalam ARKAS. Dengan demikian, proses penyusunan anggaran menjadi lebih akurat, terdokumentasi dengan baik, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.</p><blockquote><strong>Catatan:</strong> Contoh perhitungan di atas merupakan ilustrasi RAB kegiatan pelatihan guru. Harga kertas HVS A4 80 gram, honor narasumber, dan map folio manila mengacu pada contoh Standar Satuan Harga (SSH) Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Tahun 2026 yang telah dibahas sebelumnya, sedangkan harga konsumsi peserta, dan spanduk kegiatan digunakan sebagai ilustrasi proses perhitungan. Dalam praktiknya, setiap sekolah wajib menggunakan SSH yang berlaku di daerah masing-masing.</blockquote><h3 id="interpretasi-hasil-rab">Interpretasi Hasil RAB</h3><p>Berdasarkan contoh perhitungan, total anggaran yang dibutuhkan untuk kegiatan pelatihan guru adalah Rp3.297.800. Dari total tersebut, komponen biaya terbesar berasal dari honor narasumber, yaitu sebesar Rp1.700.000, sedangkan komponen lainnya terdiri atas konsumsi peserta sebesar Rp1.250.000, kertas HVS A4 80 gram sebesar Rp120.000, map folio manila sebesar Rp27.800, dan spanduk kegiatan sebesar Rp200.000. Rincian ini membantu sekolah mengetahui alokasi dana untuk setiap kebutuhan sehingga anggaran dapat disusun secara lebih terencana, efisien, dan transparan.</p><p>Selain memberikan gambaran mengenai total dana yang harus disiapkan, RAB juga memudahkan sekolah dalam mengevaluasi apakah setiap komponen belanja telah sesuai dengan kebutuhan kegiatan. Dalam penyusunannya, harga satuan setiap barang atau jasa sebaiknya mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang berlaku di daerah masing-masing agar anggaran yang disusun wajar, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan.</p><p>Melalui contoh sederhana ini, dapat disimpulkan bahwa perhitungan RAB dilakukan dengan mengidentifikasi seluruh kebutuhan kegiatan, menentukan volume dan harga satuan setiap item, menghitung total biaya masing-masing komponen, kemudian menjumlahkannya untuk memperoleh total anggaran. Rincian anggaran tersebut selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam menyusun dan menginput komponen belanja ke dalam ARKAS sehingga proses perencanaan anggaran sekolah menjadi lebih sistematis dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).</p><h2 id="rab-untuk-pengadaan-sarana-dan-prasarana-sekolah">RAB untuk Pengadaan Sarana dan Prasarana Sekolah</h2><p>Selain digunakan untuk kegiatan pelatihan atau seminar, RAB juga banyak dimanfaatkan dalam pengadaan sarana dan prasarana sekolah. Misalnya, pengadaan meja dan kursi siswa, perangkat komputer, LCD proyektor, alat laboratorium, buku perpustakaan, maupun media pembelajaran lainnya.</p><p>Dalam penyusunannya, sekolah perlu memastikan bahwa setiap barang yang dianggarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan prioritas sekolah, telah direncanakan dalam RKAS, serta dapat diakomodasi dalam ARKAS. Selain itu, harga satuan setiap barang harus mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang berlaku di daerah masing-masing agar anggaran yang disusun sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/691592984_1584313847029256_3936776763473781507_n--1-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar" loading="lazy" width="1077" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/691592984_1584313847029256_3936776763473781507_n--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/691592984_1584313847029256_3936776763473781507_n--1-.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/691592984_1584313847029256_3936776763473781507_n--1-.jpg 1077w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><p>Sebagai ilustrasi, apabila sekolah akan menganggarkan pengadaan alat tulis kantor, meja, kursi, atau perlengkapan pembelajaran lainnya, harga satuan yang digunakan sebaiknya mengacu pada SSH pemerintah daerah. Dengan demikian, anggaran yang disusun menjadi lebih realistis, dapat dipertanggungjawabkan, dan memudahkan proses verifikasi pada saat penyusunan RKAS maupun penginputan ke ARKAS.</p><h2 id="kesalahan-yang-sering-terjadi-saat-menghitung-rab">Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung RAB</h2><h3 id="1-tidak-memasukkan-semua-komponen-biaya">1. Tidak Memasukkan Semua Komponen Biaya</h3><p>Salah satu kesalahan yang paling umum adalah tidak mencantumkan seluruh kebutuhan dalam RAB. Banyak penyusun anggaran hanya berfokus pada biaya utama, tetapi melupakan komponen pendukung yang sebenarnya diperlukan selama pelaksanaan kegiatan sekolah.</p><p>Sebagai contoh, dalam kegiatan pelatihan guru, sekolah mungkin telah menganggarkan konsumsi peserta dan honor narasumber tetapi lupa memasukkan kebutuhan seperti kertas HVS, map folio, atau spanduk kegiatan. Padahal, seluruh komponen tersebut tetap memerlukan anggaran dan harus dicantumkan dalam RAB sejak awal.</p><p>Untuk menghindari kesalahan ini, buatlah daftar kebutuhan secara rinci dan lakukan pengecekan ulang sebelum RAB diselesaikan.</p><h3 id="2-menggunakan-harga-yang-sudah-tidak-relevan">2. Menggunakan Harga yang Sudah Tidak Relevan</h3><p>Menggunakan harga barang atau jasa yang sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini dapat menyebabkan anggaran menjadi kurang akurat. Dalam penyusunan RAB sekolah, harga satuan sebaiknya mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) yang berlaku di daerah masing-masing agar anggaran sesuai dengan ketentuan.</p><p>Apabila suatu barang atau jasa belum tercantum dalam SSH, sekolah dapat menggunakan hasil survei harga atau penawaran dari penyedia sebagai bahan pertimbangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.</p><h3 id="3-salah-menghitung-volume-kebutuhan">3. Salah Menghitung Volume Kebutuhan</h3><p>Kesalahan dalam menentukan volume kebutuhan juga sering terjadi. Volume yang terlalu sedikit dapat menyebabkan kekurangan barang saat kegiatan berlangsung, sedangkan volume yang berlebihan dapat mengakibatkan pemborosan anggaran.</p><p>Sebagai contoh, kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 50 peserta hanya menganggarkan 40 paket konsumsi. Sebaliknya, apabila sekolah menyediakan jauh lebih banyak dari jumlah peserta yang hadir, sebagian anggaran menjadi tidak termanfaatkan secara optimal.</p><p>Oleh karena itu, pastikan volume kebutuhan dihitung berdasarkan jumlah peserta, durasi kegiatan, dan kebutuhan nyata di lapangan.</p><h3 id="4-tidak-melakukan-verifikasi-atau-pengecekan-ulang">4. Tidak Melakukan Verifikasi atau Pengecekan Ulang</h3><p>Kesalahan perhitungan, salah memasukkan angka, maupun kekeliruan dalam menjumlahkan total biaya dapat terjadi apabila RAB tidak diperiksa kembali sebelum digunakan. Kesalahan kecil, seperti salah mengetik harga satuan atau volume kebutuhan, dapat memengaruhi total anggaran yang disusun.</p><p>Karena itu, lakukan verifikasi terhadap seluruh komponen RAB sebelum dokumen digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran. Apabila memungkinkan, lakukan pengecekan silang oleh tim atau pihak lain agar hasil perhitungan lebih akurat.</p><h3 id="5-tidak-mengacu-pada-standar-satuan-harga-ssh">5. Tidak Mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH)</h3><p>Dalam penyusunan RAB sekolah, penggunaan harga yang tidak mengacu pada Standar Satuan Harga (SSH) dapat menyebabkan anggaran tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah daerah. Oleh karena itu, setiap harga barang maupun jasa yang dicantumkan dalam RAB perlu diverifikasi berdasarkan SSH yang berlaku agar anggaran dapat dipertanggungjawabkan.</p><h3 id="6-tidak-menyesuaikan-rab-dengan-ketentuan-dana-bosp">6. Tidak Menyesuaikan RAB dengan Ketentuan Dana BOSP</h3><p>Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyusun RAB tanpa memperhatikan ketentuan penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Padahal, setiap komponen belanja yang dianggarkan harus sesuai dengan jenis kegiatan dan penggunaan dana yang diperbolehkan berdasarkan regulasi yang berlaku. Apabila RAB tidak disusun sesuai ketentuan Dana BOSP, proses penganggaran, pelaksanaan, maupun pelaporan keuangan sekolah dapat mengalami kendala.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/5-bentuk-dukungan-kemdikbud-untuk-di-daerah-3t-dalam-situasi-pandemi/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">5 Bentuk Dukungan Kemdikbud Untuk di Daerah 3T Dalam Situasi Pandemi</div><div class="kg-bookmark-description">Mungkin belajar daring dinilai mudah bagi siswa siswi yang tinggal di perkotaan, namun bagaimana dengan siswa-siswi yang tinggal di pelosok desa? Atau bahkan bersekolah di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang masih belum berstandar nasional dalam segala aspek?</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Epin Supini</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2020/09/pexels-gerd-altmann-21696.jpg" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar"></div></a></figure><p>Dengan menghindari berbagai kesalahan di atas, sekolah dapat menyusun RAB yang lebih akurat, realistis, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. RAB yang disusun dengan baik tidak hanya membantu memperkirakan kebutuhan dana, tetapi juga mempermudah penyusunan anggaran serta penginputan rincian belanja ke dalam ARKAS sehingga pengelolaan keuangan sekolah menjadi lebih efektif, transparan, dan akuntabel.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) sekolah merupakan langkah penting dalam proses perencanaan anggaran karena membantu sekolah merinci seluruh kebutuhan kegiatan secara sistematis sebelum anggaran diinput ke dalam ARKAS. Dengan adanya RAB, proses penginputan komponen belanja menjadi lebih mudah, terstruktur, serta meminimalkan risiko kesalahan dalam penyusunan anggaran.</p><p>Agar RAB dapat berfungsi secara optimal, penyusunannya perlu mengikuti ketentuan yang berlaku, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan secara rinci, menentukan volume yang sesuai, menggunakan harga satuan berdasarkan Standar Satuan Harga (SSH), hingga memastikan setiap komponen belanja telah sesuai dengan ketentuan penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Dengan demikian, RAB tidak hanya menjadi dasar dalam menyusun dan menginput anggaran ke dalam ARKAS, tetapi juga mendukung pengelolaan keuangan sekolah yang lebih efektif, transparan, akuntabel, dan sesuai regulasi.</p><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-13.39.07.jpeg" class="kg-image" alt="Cara Hitung RAB dengan Mudah: Panduan Lengkap Cara Membuat RAB yang Benar" loading="lazy" width="720" height="1280" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-13.39.07.jpeg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-13.39.07.jpeg 720w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><p>Untuk mendukung peningkatan kompetensi pendidik, kejarcita tidak hanya menyediakan berbagai program pelatihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, tetapi juga memberikan layanan administrasi <em>end-to-end</em> untuk setiap pelaksanaan pelatihan. Mulai dari persiapan dokumen, pengelolaan administrasi kegiatan, hingga pelaporan, seluruh proses didukung secara menyeluruh sehingga sekolah dapat melaksanakan pelatihan dengan lebih praktis, tertib, dan efisien. Jika sekolah Anda berencana mengadakan pelatihan bagi guru atau tenaga kependidikan, hubungi Admin kejarcita melalui <strong>WhatsApp (0819-7388-8808)</strong> untuk mendapatkan pendampingan dan layanan administrasi yang memudahkan seluruh proses pelaksanaannya.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mengenal Fresh Start Feeling]]></title><description><![CDATA[<p>Masih ingat nggak perasaan di hari pertama masuk sekolah kemarin? Rasanya lebih semangat, lebih termotivasi, dan pengen jadi versi diri yang lebih baik. Perasaan ini dikenal sebagai Fresh Start Feeling. Yuk, kenali apa itu Fresh Start Feeling dan cari tau tips supaya semangat di awal bisa berubah jadi kebiasaan yang</p>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/mengenal-fresh-start-feeling/</link><guid isPermaLink="false">6a5ed3c466a1b904b0daabf5</guid><category><![CDATA[infografis]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Tue, 21 Jul 2026 02:10:47 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748657466_1649226503871323_3914888836515990785_n-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748657466_1649226503871323_3914888836515990785_n-1.jpg" alt="Mengenal Fresh Start Feeling"><p>Masih ingat nggak perasaan di hari pertama masuk sekolah kemarin? Rasanya lebih semangat, lebih termotivasi, dan pengen jadi versi diri yang lebih baik. Perasaan ini dikenal sebagai Fresh Start Feeling. Yuk, kenali apa itu Fresh Start Feeling dan cari tau tips supaya semangat di awal bisa berubah jadi kebiasaan yang konsisten lewat postingan berikut!</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748657466_1649226503871323_3914888836515990785_n.jpg" class="kg-image" alt="Mengenal Fresh Start Feeling" loading="lazy"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747931506_1649226500537990_8761076556529451235_n-1.jpg" class="kg-image" alt="Mengenal Fresh Start Feeling" loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/747931506_1649226500537990_8761076556529451235_n-1.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/747931506_1649226500537990_8761076556529451235_n-1.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747931506_1649226500537990_8761076556529451235_n-1.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748385194_1649226507204656_8723692061585718847_n.jpg" class="kg-image" alt="Mengenal Fresh Start Feeling" loading="lazy"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747105671_1649226597204647_630712657550261709_n.jpg" class="kg-image" alt="Mengenal Fresh Start Feeling" loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/747105671_1649226597204647_630712657550261709_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/747105671_1649226597204647_630712657550261709_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747105671_1649226597204647_630712657550261709_n.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747153703_1649226593871314_7910969454797453892_n.jpg" class="kg-image" alt="Mengenal Fresh Start Feeling" loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/747153703_1649226593871314_7910969454797453892_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/747153703_1649226593871314_7910969454797453892_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747153703_1649226593871314_7910969454797453892_n.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan]]></title><description><![CDATA[Presentasi pembelajaran yang menarik bergantung pada cara guru menyajikan materi agar mampu melibatkan siswa secara aktif]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/cara-membuat-presentasi-pembelajaran-yang-tidak-membosankan/</link><guid isPermaLink="false">6a56c42066a1b904b0daa9c8</guid><category><![CDATA[teaching]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Mon, 20 Jul 2026 02:05:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-mikael-blomkvist-6476787.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-mikael-blomkvist-6476787.jpg" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan"><p>Presentasi pembelajaran yang menarik tidak hanya bergantung pada desain slide yang estetik, tetapi juga pada cara guru menyajikan materi agar mampu melibatkan siswa secara aktif. Di tengah beragam distraksi yang dihadapi siswa saat ini, presentasi yang dipenuhi teks, minim visual, dan disampaikan secara satu arah cenderung membuat mereka cepat <a href="https://blog.kejarcita.id/10-tips-membantu-anak-yang-tidak-fokus-belajar-di-rumah-general/">kehilangan fokus</a>. Oleh karena itu, guru perlu menyusun presentasi yang jelas, ringkas, serta didukung gambar, diagram, atau aktivitas interaktif yang relevan dengan tujuan pembelajaran. </p><p>Dengan memadukan isi materi yang terstruktur, desain yang nyaman dipandang, dan strategi pembelajaran yang mendorong partisipasi siswa, presentasi dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan pemahaman, menjaga perhatian siswa, sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.</p><h2 id="mengapa-presentasi-pembelajaran-sering-terasa-membosankan">Mengapa Presentasi Pembelajaran Sering Terasa Membosankan?</h2><h3 id="1-terlalu-banyak-teks-dalam-satu-slide">1. Terlalu Banyak Teks dalam Satu Slide</h3><p>Salah satu kesalahan yang paling sering ditemukan adalah memasukkan terlalu banyak teks ke dalam satu slide. Alih-alih membantu menjelaskan materi, slide yang penuh dengan paragraf panjang justru membuat tampilannya menyerupai halaman buku atau modul. Akibatnya, siswa lebih memilih membaca isi slide sendiri daripada memperhatikan penjelasan guru. Ketika perhatian siswa terbagi antara membaca dan mendengarkan, pemahaman terhadap materi menjadi kurang optimal. Sebaiknya, slide hanya memuat poin-poin penting yang kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh guru secara lisan.</p><h3 id="2-desain-yang-kurang-menarik">2. Desain yang Kurang Menarik</h3><p>Desain presentasi juga berperan besar dalam mempertahankan perhatian siswa. Penggunaan warna yang monoton, ukuran huruf yang terlalu kecil, atau tata letak yang kurang rapi dapat membuat slide sulit dibaca dan kurang menarik untuk disimak. Selain itu, pemilihan jenis huruf yang terlalu dekoratif atau kombinasi warna dengan kontras rendah juga dapat mengurangi kenyamanan siswa saat melihat presentasi. Desain yang sederhana, konsisten, dan mudah dibaca akan membantu siswa lebih fokus pada materi yang disampaikan.</p><h3 id="3-guru-hanya-membaca-isi-slide">3. Guru Hanya Membaca Isi Slide</h3><p>Presentasi akan terasa membosankan apabila guru hanya membaca isi slide tanpa memberikan penjelasan tambahan atau melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Padahal, slide seharusnya berfungsi sebagai alat bantu visual yang mendukung penjelasan guru, bukan menggantikannya. Jika guru hanya membacakan poin-poin yang sudah tertulis, siswa cenderung merasa tidak memperoleh informasi baru sehingga perhatian mereka mudah teralihkan. Oleh karena itu, guru perlu memperkaya presentasi dengan contoh, ilustrasi, pertanyaan pemantik, maupun diskusi singkat agar pembelajaran menjadi lebih interaktif dan bermakna.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/coba-deh-ini-rekomendasi-template-presentasi-kece-biar-ngajar-makin-oke/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Rekomendasi Template Presentasi Kece Biar Ngajar Makin Oke!</div><div class="kg-bookmark-description">Dalam menghadirkan materi pelajaran yang dapat menarik perhatian siswa, para guru bisa mulai bereksplorasi dengan menghadirkan materi pelajaran menggunakan sebuah presentasi.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Kejarcita</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2023/02/pexels-thisisengineering-3862382.jpg" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan"></div></a></figure><h2 id="cara-membuat-presentasi-pembelajaran-yang-tidak-membosankan">Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan</h2><h3 id="1-tentukan-tujuan-pembelajaran-terlebih-dahulu">1. Tentukan Tujuan Pembelajaran Terlebih Dahulu</h3><p>Sebelum mulai membuat slide, pastikan Anda telah menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tujuan ini akan menjadi acuan dalam memilih materi, contoh, maupun aktivitas yang akan dimasukkan ke dalam presentasi. Dengan demikian, setiap slide memiliki fungsi yang jelas dan mendukung capaian pembelajaran. Hindari memasukkan informasi yang terlalu banyak atau tidak berkaitan langsung dengan topik karena dapat mengalihkan perhatian siswa dari inti materi. Presentasi yang terarah akan membantu proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien.</p><h3 id="2-gunakan-prinsip-satu-slide-satu-ide">2. Gunakan Prinsip &quot;Satu Slide, Satu Ide&quot;</h3><p>Agar materi lebih mudah dipahami, gunakan prinsip <em>one slide, one idea</em> atau satu slide untuk satu gagasan utama. Setiap slide sebaiknya hanya membahas satu konsep atau poin penting sehingga siswa dapat mengikuti alur pembelajaran secara bertahap tanpa merasa kewalahan menerima banyak informasi sekaligus. Misalnya, jika sedang menjelaskan proses fotosintesis, pisahkan pembahasan mengenai pengertian, faktor yang memengaruhi, dan tahapan proses ke dalam slide yang berbeda. Cara ini membuat presentasi lebih terstruktur sekaligus memudahkan guru dalam memberikan penjelasan secara mendalam.</p><h3 id="3-kurangi-teks-perbanyak-visual">3. Kurangi Teks, Perbanyak Visual</h3><p>Visual memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi dengan lebih cepat dibandingkan teks yang panjang. Oleh karena itu, gunakan gambar, ilustrasi, ikon, diagram, grafik, atau infografis sederhana untuk membantu menjelaskan materi. Visual yang relevan dapat meningkatkan perhatian siswa sekaligus mempermudah mereka mengingat konsep yang dipelajari. Meski demikian, pastikan setiap gambar yang digunakan benar-benar mendukung isi pembelajaran dan tidak sekadar menjadi hiasan. Jika perlu, tambahkan keterangan singkat agar siswa lebih mudah memahami hubungan antara visual dan materi yang dijelaskan.</p><h3 id="4-pilih-warna-dan-font-yang-nyaman-dibaca">4. Pilih Warna dan Font yang Nyaman Dibaca</h3><p>Desain presentasi yang sederhana dan konsisten akan membuat siswa lebih fokus pada materi. Gunakan kombinasi warna dengan kontras yang jelas, misalnya teks berwarna hitam pada latar putih atau teks putih pada latar berwarna gelap. Hindari penggunaan terlalu banyak warna mencolok dalam satu slide karena dapat mengganggu konsentrasi. Selain itu, gunakan maksimal dua jenis font yang mudah dibaca, seperti Arial, Calibri, atau Poppins. Pastikan ukuran huruf minimal 24 pt agar seluruh siswa, termasuk yang duduk di bagian belakang kelas, tetap dapat membaca isi presentasi dengan nyaman.</p><h3 id="5-sisipkan-aktivitas-interaktif">5. Sisipkan Aktivitas Interaktif</h3><p>Presentasi yang hanya berisi penjelasan dari guru cenderung membuat siswa menjadi pasif. Agar pembelajaran lebih hidup, selingi presentasi dengan berbagai aktivitas interaktif, seperti pertanyaan pemantik, polling sederhana, kuis singkat, tebak gambar, diskusi kelompok, atau studi kasus yang berkaitan dengan materi. Aktivitas tersebut dapat dilakukan di sela-sela pergantian topik sehingga siswa memiliki kesempatan untuk berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapatnya. Dengan keterlibatan aktif siswa, suasana kelas menjadi lebih dinamis dan proses belajar pun terasa lebih menyenangkan.</p><h3 id="6-gunakan-animasi-secukupnya">6. Gunakan Animasi Secukupnya</h3><p>Animasi dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu menjelaskan alur materi, terutama pada konsep yang memiliki tahapan atau urutan tertentu. Misalnya, gunakan efek <em>appear</em> untuk menampilkan poin-poin pembahasan secara bertahap agar perhatian siswa tetap terfokus pada penjelasan yang sedang disampaikan. Namun, hindari penggunaan animasi yang berlebihan, seperti efek berputar, melompat, atau suara yang tidak diperlukan. Terlalu banyak animasi justru dapat mengganggu konsentrasi siswa dan membuat presentasi terlihat kurang profesional.</p><h3 id="7-akhiri-dengan-ringkasan-dan-refleksi">7. Akhiri dengan Ringkasan dan Refleksi</h3><p>Sebelum mengakhiri presentasi, berikan ringkasan yang memuat poin-poin penting dari materi yang telah dipelajari. Ringkasan membantu siswa mengingat kembali konsep utama sekaligus memperkuat pemahaman mereka. Setelah itu, lakukan refleksi melalui beberapa pertanyaan sederhana atau <em>exit ticket</em> untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi. Guru juga dapat meminta siswa menyampaikan hal baru yang mereka pelajari atau bagian yang masih dirasa sulit. Langkah ini tidak hanya membantu mengevaluasi efektivitas pembelajaran, tetapi juga menjadi dasar untuk merencanakan tindak lanjut pada pertemuan berikutnya.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/w7LJ4oTPJl0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="8 Strategi Refleksi Siswa yang Menarik dan Mudah untuk Diterapkan di Kelas"></iframe></figure><h2 id="kesalahan-yang-sebaiknya-dihindari-saat-membuat-presentasi">Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Membuat Presentasi</h2><h3 id="1-terlalu-banyak-bullet-point">1. Terlalu Banyak Bullet Point</h3><p><em>Bullet point</em> memang membantu merangkum informasi, tetapi jika jumlahnya terlalu banyak dalam satu slide, siswa akan kesulitan menentukan informasi yang paling penting. Slide yang dipenuhi daftar panjang juga cenderung membuat siswa lebih sibuk membaca daripada mendengarkan penjelasan guru. Sebaiknya, batasi jumlah poin pada setiap slide dan gunakan kalimat yang singkat, jelas, serta mudah dipahami.</p><h3 id="2-menggunakan-warna-yang-terlalu-mencolok">2. Menggunakan Warna yang Terlalu Mencolok</h3><p>Pemilihan warna yang kurang tepat dapat mengganggu kenyamanan siswa saat membaca presentasi. Kombinasi warna yang terlalu cerah atau memiliki kontras rendah, seperti kuning pada latar putih atau merah pada latar hijau, dapat membuat teks sulit dibaca. Gunakan palet warna yang sederhana dan konsisten agar tampilan slide terlihat profesional sekaligus nyaman dipandang.</p><h3 id="3-memasukkan-terlalu-banyak-animasi">3. Memasukkan Terlalu Banyak Animasi</h3><p>Animasi memang dapat membuat presentasi terlihat lebih dinamis, tetapi penggunaannya perlu dibatasi. Efek transisi atau animasi yang berlebihan justru dapat mengalihkan perhatian siswa dari materi yang sedang dijelaskan. Pilih animasi yang sederhana dan gunakan hanya jika benar-benar membantu menjelaskan alur atau urutan suatu konsep.</p><h3 id="4-menggunakan-gambar-berkualitas-rendah">4. Menggunakan Gambar Berkualitas Rendah</h3><p>Gambar yang buram, pecah, atau tidak relevan dengan materi dapat mengurangi kualitas presentasi. Selain membuat tampilan slide kurang menarik, gambar berkualitas rendah juga dapat menimbulkan kebingungan bagi siswa. Oleh karena itu, gunakan gambar dengan resolusi yang baik dan pastikan visual tersebut mendukung penjelasan materi yang sedang disampaikan.</p><h3 id="5-membaca-slide-kata-demi-kata">5. Membaca Slide Kata demi Kata</h3><p>Kesalahan yang sering dilakukan saat presentasi adalah membaca seluruh isi slide tanpa memberikan penjelasan tambahan. Padahal, slide berfungsi sebagai alat bantu visual, bukan naskah yang harus dibacakan. Guru sebaiknya menggunakan poin-poin pada slide sebagai panduan, kemudian mengembangkannya melalui penjelasan, contoh, ilustrasi, atau pengalaman yang relevan agar pembelajaran terasa lebih hidup.</p><h3 id="6-membuat-slide-terlalu-padat">6. Membuat Slide Terlalu Padat</h3><p>Memasukkan terlalu banyak teks, gambar, tabel, dan grafik dalam satu slide dapat membuat tampilannya terasa penuh dan membingungkan. Siswa akan kesulitan menentukan fokus utama dari informasi yang disajikan. Sebaiknya, berikan ruang kosong (<em>white space</em>) yang cukup agar setiap elemen terlihat lebih rapi dan mudah dipahami. Slide yang sederhana justru lebih efektif dalam membantu siswa menangkap inti materi.</p><h2 id="tips-agar-presentasi-lebih-interaktif-di-kelas">Tips Agar Presentasi Lebih Interaktif di Kelas</h2><p>Presentasi pembelajaran akan lebih efektif apabila tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga melibatkan siswa secara aktif selama proses belajar. Ketika siswa diberi kesempatan untuk berpikir, berdiskusi, dan berpartisipasi, mereka cenderung lebih mudah memahami serta mengingat materi yang dipelajari. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk membuat presentasi lebih interaktif di kelas.</p><h3 id="1-gunakan-model-pembelajaran-yang-mendorong-diskusi">1. Gunakan Model Pembelajaran yang Mendorong Diskusi</h3><p>Presentasi tidak harus berlangsung satu arah, di mana guru menjelaskan materi sementara siswa hanya mendengarkan. Agar pembelajaran lebih interaktif, padukan presentasi dengan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk berdiskusi, bertukar pendapat, dan memecahkan masalah bersama. Misalnya, guru dapat menerapkan <em>Problem Based Learning</em> (PBL) dengan menyajikan sebuah permasalahan nyata melalui slide, kemudian meminta siswa berdiskusi dalam kelompok untuk mencari solusi berdasarkan konsep yang dipelajari. Selain itu, model <em>Project Based Learning</em> (PjBL) juga dapat digunakan dengan menjadikan presentasi sebagai pengantar proyek yang akan dikerjakan siswa secara kolaboratif.</p><p>Guru juga dapat menerapkan strategi pembelajaran aktif lainnya, seperti <em>Think-Pair-Share, Discovery Learning,</em> atau diskusi kelompok kecil. Melalui berbagai model tersebut, presentasi tidak lagi menjadi media untuk menyampaikan informasi semata, tetapi menjadi pemantik yang mendorong siswa berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan ide. Dengan demikian, keterlibatan siswa selama pembelajaran akan meningkat, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna.</p><h3 id="2-selipkan-kuis-menggunakan-platform-digital">2. Selipkan Kuis Menggunakan Platform Digital</h3><p>Kuis singkat di tengah atau akhir presentasi dapat membantu mengukur pemahaman siswa sekaligus menjaga semangat belajar mereka. Guru dapat memanfaatkan berbagai platform digital yang menyediakan kuis interaktif dengan hasil yang dapat ditampilkan secara langsung. Selain membuat suasana kelas lebih menyenangkan, kuis juga memberikan umpan balik cepat mengenai materi yang sudah dipahami maupun yang masih perlu dijelaskan kembali.</p><h3 id="3-sajikan-studi-kasus-singkat">3. Sajikan Studi Kasus Singkat</h3><p>Mengaitkan materi dengan situasi nyata melalui studi kasus akan membantu siswa memahami penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Sajikan sebuah permasalahan sederhana yang sesuai dengan topik pembelajaran, kemudian ajak siswa menganalisis penyebab, mencari solusi, atau memberikan pendapat mereka. Aktivitas ini dapat melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.</p><h3 id="4-tambahkan-permainan-edukatif">4. Tambahkan Permainan Edukatif</h3><p>Permainan sederhana dapat menjadi selingan yang menyenangkan tanpa mengurangi esensi pembelajaran. Misalnya, guru dapat menggunakan tebak gambar, menyusun kata, mencocokkan konsep, atau permainan berbasis kelompok yang berkaitan dengan materi. Aktivitas ini mampu meningkatkan antusiasme siswa sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan kolaboratif.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/10-tip-membuat-presentasi-powerpoint-yang-efektif-dan-menarik/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">10 Tip Membuat Presentasi Power Point yang Efektif dan Menarik</div><div class="kg-bookmark-description">Selama ini Power Point digunakan untuk melakukan presentasi di berbagai bidang pekerjaan. Seminar-seminar, pelatihan-pelatihan hingga presentasi penawaran produk atau jasa institusi tertentu.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Enni Kurniasih</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2020/08/pexels-ketut-subiyanto-4126704.jpg" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan"></div></a></figure><h3 id="5-minta-siswa-menjelaskan-kembali-materi">5. Minta Siswa Menjelaskan Kembali Materi</h3><p>Di akhir pembahasan suatu topik, mintalah beberapa siswa untuk menjelaskan kembali isi slide menggunakan bahasa mereka sendiri. Cara ini tidak hanya membantu guru mengetahui tingkat pemahaman siswa, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri mereka. Selain itu, teman-teman sekelas dapat memperoleh sudut pandang yang berbeda dalam memahami materi.</p><p>Pada akhirnya, presentasi pembelajaran yang menarik bukan ditentukan oleh banyaknya efek animasi atau desain yang rumit, melainkan oleh kemampuan guru menciptakan interaksi yang bermakna. Semakin aktif siswa terlibat dalam proses pembelajaran, semakin besar pula peluang mereka untuk memahami, mengingat, dan menerapkan materi yang telah dipelajari.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Pada dasarnya, presentasi pembelajaran yang efektif adalah presentasi yang mampu membantu siswa memahami materi sekaligus mendorong mereka untuk aktif selama proses belajar. Dengan memadukan desain yang sederhana, visual yang relevan, serta strategi pembelajaran yang interaktif, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260314-WA0019--1-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Membuat Presentasi Pembelajaran yang Tidak Membosankan" loading="lazy" width="900" height="1600" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260314-WA0019--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260314-WA0019--1-.jpg 900w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Untuk mendukung pengembangan kompetensi guru, kejarcita juga telah menyelenggarakan berbagai pelatihan seputar pengembangan media ajar, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, hingga penyusunan presentasi yang efektif. Jika sekolah atau instansi Anda ingin menghadirkan pelatihan serupa bagi para pendidik, jangan ragu untuk menghubungi Admin kejarcita melalui <strong>WhatsApp (+62819-7388-8808)</strong> dan dapatkan informasi mengenai program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah Anda.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang]]></title><description><![CDATA[Perubahan pola tidur, berkurangnya kebiasaan belajar, serta suasana santai selama liburan dapat menyebabkan motivasi belajar menurun]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/cara-meningkatkan-motivasi-belajar-siswa-setelah-libur-panjang/</link><guid isPermaLink="false">6a56c43e66a1b904b0daa9cc</guid><category><![CDATA[edukasi]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Sun, 19 Jul 2026 01:38:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-ron-lach-10646529.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-ron-lach-10646529.jpg" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang"><p>Libur panjang menjadi momen yang dinantikan oleh siswa untuk beristirahat dan melakukan berbagai aktivitas di luar kegiatan akademik. Namun, setelah kembali ke sekolah, sebagian siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas belajar yang lebih terstruktur.</p><p>Perubahan pola tidur, berkurangnya kebiasaan belajar, serta suasana santai selama liburan dapat menyebabkan motivasi belajar menurun, seperti kurang fokus, pasif saat pembelajaran, atau kurang bersemangat menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan strategi yang tepat untuk membantu siswa kembali membangun semangat belajar, mulai dari menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, <a href="https://blog.kejarcita.id/pentingnya-bonding-orang-tua-dan-anak-di-tengah-kesibukan/">memberikan dukungan positif</a>, hingga menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa.</p><h2 id="mengapa-motivasi-belajar-siswa-sering-menurun-setelah-libur-panjang">Mengapa Motivasi Belajar Siswa Sering Menurun Setelah Libur Panjang?</h2><p>Menurunnya motivasi belajar setelah libur panjang merupakan kondisi yang umum dialami oleh banyak siswa. Selama masa liburan, rutinitas harian yang biasanya terstruktur berubah menjadi lebih fleksibel. Jam tidur dan waktu bangun cenderung bergeser, sementara aktivitas belajar berkurang dan digantikan dengan kegiatan rekreasi atau berkumpul bersama keluarga. Perubahan kebiasaan tersebut membuat siswa memerlukan waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan jadwal sekolah yang lebih disiplin.</p><p>Selain perubahan rutinitas, sebagian siswa juga masih terbawa suasana santai sehingga belum siap menghadapi tuntutan akademik. Mereka mungkin merasa kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, atau kembali berkonsentrasi di kelas. Di sisi lain, ada pula siswa yang merasa cemas karena akan mempelajari materi baru, menghadapi guru yang berbeda, atau menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang kembali aktif setelah liburan.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/peran-guru-dan-orang-tua-dalam-mengembangkan-anak-indonesia-hebat/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Peran Guru dan Orang Tua dalam Mengembangkan Anak Indonesia Hebat</div><div class="kg-bookmark-description">konsep &#x201C;Anak Indonesia Hebat&#x201D;, yaitu generasi yang cerdas secara intelektual, berkarakter kuat, serta memiliki daya saing global</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/02/pexels-olly-3760279.jpg" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang"></div></a></figure><p>Dampak dari kondisi tersebut dapat terlihat dari menurunnya fokus saat pembelajaran berlangsung, berkurangnya partisipasi dalam diskusi kelas, hingga menurunnya disiplin dalam menyelesaikan tugas. Namun, guru tidak perlu menganggap hal ini sebagai tanda rendahnya minat belajar siswa. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi yang wajar setelah jeda belajar dalam waktu yang cukup lama. Melalui pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, pemberian motivasi, serta aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif, guru dapat membantu mereka kembali membangun semangat dan kesiapan belajar secara bertahap.</p><h2 id="cara-meningkatkan-motivasi-belajar-siswa-setelah-libur-panjang">Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang</h2><h3 id="1-awali-pembelajaran-dengan-aktivitas-yang-menyenangkan">1. Awali Pembelajaran dengan Aktivitas yang Menyenangkan</h3><p>Hari-hari pertama setelah libur panjang sebaiknya tidak langsung diisi dengan materi yang berat atau tugas dalam jumlah banyak. Guru dapat memulai pembelajaran melalui aktivitas yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, kuis ringan, berbagi cerita tentang pengalaman selama liburan, atau diskusi santai mengenai harapan siswa di semester yang baru. Aktivitas tersebut dapat membantu mencairkan suasana kelas sekaligus mengurangi rasa canggung setelah lama tidak bertemu. Ketika siswa merasa nyaman dan diterima, mereka akan lebih siap untuk mengikuti proses pembelajaran berikutnya.</p><h3 id="2-lakukan-asesmen-awal-untuk-mengetahui-kesiapan-belajar">2. Lakukan Asesmen Awal untuk Mengetahui Kesiapan Belajar</h3><p>Setelah masa liburan, kemampuan dan kesiapan belajar setiap siswa bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, guru perlu melakukan asesmen awal untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi sebelumnya serta mengidentifikasi kompetensi yang masih perlu diperkuat. Asesmen awal tidak selalu berbentuk tes tertulis, tetapi dapat dilakukan melalui tanya jawab, diskusi kelompok, lembar refleksi, atau aktivitas sederhana yang menggambarkan kesiapan akademik maupun kondisi emosional siswa. Hasil asesmen ini dapat menjadi dasar bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/672348377_1564770738983567_4527581112532842897_n--2-.jpg" class="kg-image" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang" loading="lazy"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><h3 id="3-tetapkan-target-belajar-yang-realistis">3. Tetapkan Target Belajar yang Realistis</h3><p>Menetapkan target belajar yang realistis dapat membantu siswa kembali membangun kebiasaan belajar secara bertahap. Guru dapat mengajak siswa menyusun target harian atau mingguan yang sederhana, misalnya menyelesaikan satu tugas tepat waktu, aktif bertanya di kelas, atau membaca materi sebelum pelajaran dimulai. Target yang dapat dicapai akan memberikan pengalaman berhasil bagi siswa sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, target yang terlalu besar sejak awal justru berpotensi membuat siswa merasa terbebani.</p><h3 id="4-gunakan-metode-pembelajaran-yang-variatif">4. Gunakan Metode Pembelajaran yang Variatif</h3><p>Pembelajaran yang monoton dapat membuat siswa cepat kehilangan fokus, terutama setelah mereka terbiasa dengan suasana santai selama liburan. Oleh sebab itu, guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang lebih variatif agar kegiatan belajar menjadi menarik. Misalnya melalui diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek (<em>Project Based Learning</em>), pembelajaran berbasis masalah (<em>Problem Based Learning</em>), permainan edukatif, atau penggunaan media pembelajaran interaktif. Variasi metode tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membantu mereka memahami materi melalui berbagai pengalaman belajar yang lebih bermakna.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/93il9e7WIDY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="Budaya Sekolah Aman dan Nyaman"></iframe></figure><h3 id="5-berikan-apresiasi-atas-usaha-siswa">5. Berikan Apresiasi atas Usaha Siswa</h3><p>Memberikan apresiasi merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Apresiasi tidak harus berupa hadiah atau penghargaan yang bernilai besar, tetapi dapat diwujudkan melalui pujian yang tulus, ucapan terima kasih, pemberian umpan balik positif, maupun pengakuan terhadap usaha yang telah dilakukan siswa. Ketika siswa merasa bahwa setiap proses belajarnya dihargai, mereka akan lebih percaya diri dan terdorong untuk terus berkembang. Selain meningkatkan motivasi, apresiasi juga membantu menumbuhkan karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.</p><h3 id="6-bangun-komunikasi-yang-positif-dengan-siswa">6. Bangun Komunikasi yang Positif dengan Siswa</h3><p>Komunikasi yang baik antara guru dan siswa menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Setelah libur panjang, guru dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita, pendapat, maupun kesulitan yang dialami siswa selama masa transisi kembali ke sekolah. Berikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menyampaikan ide, serta mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut dihakimi. Sikap empati dan keterbukaan dari guru akan membuat siswa merasa dihargai sehingga mereka lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Lingkungan belajar yang aman dan suportif pada akhirnya akan membantu menjaga motivasi belajar siswa secara berkelanjutan.</p><h2 id="peran-guru-dalam-menjaga-motivasi-belajar-tetap-konsisten">Peran Guru dalam Menjaga Motivasi Belajar Tetap Konsisten</h2><p>Membangun motivasi belajar siswa tidak cukup dilakukan hanya pada minggu pertama setelah libur panjang, tetapi perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pendamping yang membantu siswa tetap antusias dalam belajar. Guru dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dengan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari, memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif berpartisipasi, serta menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi agar suasana kelas tidak monoton.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/cara-membangun-motivasi-belajar-anak/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Cara Membangun Motivasi Belajar Anak</div><div class="kg-bookmark-description">Salah satu cara membangun motivasi belajar anak yaitu dengan meningkatkan baca anak. Perlu orangtua ketahui bahwa membaca merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan anak untuk meningkatkan motivasi belajarnya.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Agnes Meilina</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2023/02/pexels-rodnae-productions-7092365.jpg" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang"></div></a></figure><p>Selain itu, komunikasi yang positif dan evaluasi secara berkala juga berperan dalam menjaga motivasi belajar siswa. Guru perlu memberikan umpan balik yang membangun, mengapresiasi setiap perkembangan yang dicapai siswa, serta membantu mereka mengatasi kesulitan belajar tanpa menghakimi. Dukungan emosional, seperti menunjukkan empati, mendengarkan pendapat siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta nyaman, akan membuat siswa merasa dihargai dan lebih percaya diri. Dengan pendampingan yang konsisten, motivasi belajar siswa dapat terjaga sehingga mereka lebih siap menghadapi berbagai tantangan pembelajaran sepanjang semester.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Setelah libur panjang, tantangan guru bukan hanya mengembalikan siswa ke rutinitas sekolah, tetapi juga membangun kembali semangat dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Dengan strategi yang tepat, seperti menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, memahami kesiapan belajar melalui asesmen awal, memilih metode pembelajaran yang variatif, serta memberikan dukungan positif, guru dapat membantu siswa beradaptasi dan kembali memiliki motivasi belajar yang baik. Kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang aktif dan bermakna menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang optimal bagi siswa. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260314-WA0017.jpg" class="kg-image" alt="Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Setelah Libur Panjang" loading="lazy" width="900" height="1600" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260314-WA0017.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260314-WA0017.jpg 900w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Untuk mendukung pengembangan kompetensi tersebut, kejarcita telah menyelenggarakan berbagai pelatihan bagi guru terkait pengelolaan kelas, perancangan asesmen awal, serta penerapan metode dan model pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Bagi sekolah atau guru yang ingin mengadakan pelatihan serupa untuk mengembangkan kemampuan profesional dan menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, dapat menghubungi Admin kejarcita melalui <strong>WhatsApp (+62819-7388-8808) </strong>untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai program yang tersedia. </p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Urgensi Penerapan STEM dalam Kurikulum Nasional untuk Masa Depan Generasi Bangsa]]></title><description><![CDATA[Pelajari bagaimana pendekatan STEM mampu menyelaraskan Kurikulum nasional dengan kebutuhan industri modern, sekaligus mengubah siswa menjadi problem solver]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/urgensi-penerapan-stem-dalam-kurikulum-nasional-untuk-masa-depan-generasi-bangsa/</link><guid isPermaLink="false">6a58a05566a1b904b0daab76</guid><category><![CDATA[pendidikan]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Fri, 17 Jul 2026 01:03:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Unsplash.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote>Pernahkah Bapak dan Ibu Guru memperhatikan bagaimana anak-anak kita merespons dunia di sekitar mereka? Mulai dari si kecil di TK yang jemarinya begitu lincah di atas layar gawai, hingga remaja SMA yang mulai fasih berdiskusi dengan <em>Artificial Intelligence</em> (AI) seperti ChatGPT.</blockquote><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Unsplash.jpg" alt="Urgensi Penerapan STEM dalam Kurikulum Nasional untuk Masa Depan Generasi Bangsa"><p>Di tengah pesatnya gelombang transformasi digital ini, kita semua menyadari satu hal: dunia tempat mereka akan tumbuh dewasa nanti sudah jauh berbeda dari dunia kita dulu. Lanskap pendidikan sedang mengalami pergeseran yang sangat mendasar.</p><p>Sebagai pendidik, tanggung jawab kita kini telah melampaui batas-batas konvensional. Kita tidak lagi hanya dituntut untuk mengisi kepala siswa dengan tumpukan fakta dan hafalan materi.</p><p>Tantangan nyata di ruang kelas kita hari ini adalah bagaimana melatih mereka agar mampu mengolah data, melek teknologi, dan memiliki mentalitas adaptif yang tangguh.</p><p>Di sinilah pendidikan berbasis STEM (<em>Science, Technology, Engineering, and Mathematics</em>) hadir, bukan sebagai beban baru, melainkan sebagai pilar utama untuk mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.</p><h2 id="menghubungkan-ruang-kelas-kurikulum-dan-dunia-nyata">Menghubungkan Ruang Kelas, Kurikulum, dan Dunia Nyata</h2><p>Bagi kita yang setiap hari berdiri di depan kelas, menyelaraskan materi pelajaran dengan tantangan global terkadang terdengar seperti angan-angan yang jauh. Namun, penerapan STEM sebenarnya adalah jembatan paling nyata untuk menghidupkan semangat Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka Belajar yang kita jalankan saat ini.</p><p>Kedua kurikulum tersebut sama-sama menitikberatkan pada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa secara holistik.</p><p>Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini ada jarak yang cukup besar antara teori di bangku sekolah dan kebutuhan industri di luar sana. Melalui pendekatan STEM, kita memiliki kesempatan emas untuk memperkecil jarak tersebut.</p><p>Pendekatan ini bisa dimulai dari hal sederhana: mengajak anak TK belajar pola lewat permainan balok, memandu siswa SD dan SMP melakukan eksperimen sains sederhana, hingga menuntun remaja SMA<a href="https://codero.id/id/blog/5-manfaat-mengenalkan-teknologi-iot-untuk-anak-sebagai-investasi-keterampilan-masa-depan"> merancang solusi teknologi untuk masalah</a> di lingkungan rumah mereka.</p><blockquote>Dengan cara ini, sekolah membantu siswa bertransformasi, dari sekadar &quot;pembelajar teoretis&quot; yang pasif menjadi individu yang kritis dan mampu memecahkan masalah nyata sehari-hari.</blockquote><p>Langkah kecil yang Bapak dan Ibu Guru ambil di kelas hari ini merupakan bagian dari investasi bagi daya saing bangsa di kancah internasional.</p><p>Di masa depan, lapangan kerja di bidang STEM akan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan bidang lainnya. Dan tugas kita bersama adalah memastikan anak-anak didik kita siap menjadi pemain utamanya, bukan sekadar penonton di negeri sendiri.</p><h2 id="menyalakan-percikan-logika-dan-imajinasi-bagaimana-stem-mengubah-cara-berpikir-siswa">Menyalakan Percikan Logika dan Imajinasi: Bagaimana STEM Mengubah Cara Berpikir Siswa?</h2><p>Bapak dan Ibu Guru tentu sudah tidak asing dengan pertanyaan klasik yang sering terlontar di ruang kelas: <em>&quot;Bu, Pak, buat apa sih kita belajar rumus ini di kehidupan nyata?&quot;</em></p><p>Sering kali, materi sains atau matematika terasa berjarak dari dunia anak-anak karena diajarkan secara terisolasi dalam kotak-kotak teoretis.</p><p>Di sinilah STEM hadir membawa keajaiban kecil ke dalam proses belajar-mengajar kita. Pendekatan ini tidak hadir untuk menambah beban materi baru, melainkan untuk meruntuhkan sekat antarmata pelajaran.</p><p>Melalui STEM, siswa diajak menggunakan sains dan matematika sebagai &quot;alat&quot; untuk merancang solusi nyata. Proses terintegrasi inilah yang secara alami memicu kemampuan berpikir tingkat tinggi (<em>Higher Order Thinking Skills</em>/HOTS) mereka.</p><p>Saat kita menerapkan STEM di kelas, kita sedang menanam tiga pilar mentalitas penting dalam diri siswa:</p><h3 id="1-menghadapi-masalah-dengan-daya-kritis">1. Menghadapi masalah dengan daya kritis</h3><p>Di dalam kelas berbasis STEM, siswa tidak disuapi jawaban siap pakai. Baik ketika anak TK yang sedang bingung mencari tahu mengapa menara baloknya selalu roboh, hingga remaja SMA yang sibuk menganalisis data kegagalan arus listrik, mereka dilatih untuk melakukan hal yang sama: mengamati fakta, mengumpulkan bukti, dan mengambil keputusan secara mandiri.</p><h3 id="2-menjadikan-ruang-kelas-laboratorium-kreativitas">2. Menjadikan ruang kelas laboratorium kreativitas</h3><p>Ketika ditantang merancang sebuah proyek, mulai dari membuat jembatan kokoh dari stik es krim hingga memprogram robotika sederhana, siswa belajar satu hal yang mahal: <em>gagal itu hal yang biasa</em>.</p><p>Pengalaman ini melatih mereka untuk berani bereksperimen, membongkar pasang ide, dan terus berinovasi tanpa dihantui rasa takut salah.</p><h3 id="3-menemukan-makna-kolaborasi">3. Menemukan makna kolaborasi</h3><p>Proyek STEM jarang sekali diselesaikan sendirian. Di ruang ini, siswa belajar menurunkan ego, mendengarkan sudut pandang teman sebangkunya, dan menyatukan berbagai keahlian unik mereka dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.</p><p>Menariknya, berbagai riset telah membuktikan apa yang sering kita rindukan di sekolah: ketika anak-anak terlibat dalam pembelajaran berbasis proyek STEM, atmosfer kelas berubah drastis.</p><p>Mereka lebih termotivasi karena proses belajar menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Dan hebatnya, pemahaman mereka terhadap konsep sains justru tertanam jauh lebih mendalam dan membekas lama dibandingkan dengan jika mereka hanya diminta menghafal isi buku teks dengan metode konvensional.</p><blockquote>Melalui STEM, kita tidak hanya mengajar, tetapi juga menemani mereka membangun masa depan.</blockquote><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Dokumentasi-Tim-Codero.jpg" class="kg-image" alt="Urgensi Penerapan STEM dalam Kurikulum Nasional untuk Masa Depan Generasi Bangsa" loading="lazy" width="1920" height="1080" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Dokumentasi-Tim-Codero.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Dokumentasi-Tim-Codero.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1600/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Dokumentasi-Tim-Codero.jpg 1600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/Urgensi-Penerapan-STEM-dalam-Kurikulum-Nasional-untuk-Masa-Depan-Generasi-Bangsa---Dokumentasi-Tim-Codero.jpg 1920w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><h2 id="meruntuhkan-tembok-keterbatasan-menghidupkan-stem-di-tengah-tantangan-fasilitas">Meruntuhkan Tembok Keterbatasan: Menghidupkan STEM di Tengah Tantangan Fasilitas</h2><p>Ketika berbicara tentang koding, robotik, atau eksperimen sains yang canggih, sebagian dari kita mungkin membatin: <em>&#x201C;Bisakah metode ini diterapkan di sekolah saya? Jangankan laboratorium mewah, fasilitas dasar saja masih terbatas.&#x201D;</em></p><p>Jujur saja, ini adalah gajah di dalam ruangan yang tidak bisa kita abaikan. Kesenjangan infrastruktur pendidikan dan tingkat kesiapan kita sebagai pendidik di berbagai daerah adalah tantangan nyata di lapangan.</p><p>Namun, kabar baiknya, kita tidak sedang berjuang sendirian. Saat ini, berbagai inisiatif kolaboratif mulai bergerak serentak untuk mengulurkan tangan dan membawa solusi konkret ke ruang kelas kita:</p><h3 id="1-gerakan-nasional-smart-indonesia-stem">1. Gerakan Nasional &quot;Smart Indonesia STEM&quot;</h3><p>Gerakan ini hadir bagai angin segar untuk meratakan akses pendidikan. Melalui penyediaan modul pembelajaran yang siap pakai, platform digital terbuka, dan sistem pemantauan berbasis data, gerakan ini menargetkan literasi STEM bagi 10 juta siswa.</p><p><strong>Tujuannya satu:</strong> memastikan anak-anak di pelosok daerah memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang bersekolah di kota-kota besar.</p><h3 id="2-sinergi-lintas-sektor-melalui-csr">2. Sinergi lintas sektor melalui CSR</h3><p>Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan pihak swasta kini mulai mengambil peran. Melalui program<a href="https://codero.id/id/CSR"> <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) berbasis teknologi</a>, banyak sekolah mulai terbantu dengan hibah alat praktikum, seperti perangkat koding dan <em>kit</em> robotik sederhana, hingga program <em>mentorship</em> langsung dari para ahli industri untuk siswa di daerah 3T.</p><h3 id="3-berdaya-melalui-komunitas-guru-kkg-mgmp">3. Berdaya melalui komunitas Guru (KKG &amp; MGMP)</h3><p>Terbatasnya pelatihan formal bukan lagi jalan buntu. Kita bisa saling menguatkan melalui simpul komunitas kita sendiri, baik melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) di jenjang TK dan SD, maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di jenjang SMP dan SMA.</p><p>Melalui analisis pembelajaran bersama (<em>lesson analysis</em>) dan saling berbagi praktik baik (<em>best practice</em>), kita bisa merancang pembelajaran STEM yang kreatif, bahkan dengan memanfaatkan alat dan bahan sehari-hari yang ada di sekitar kita.</p><h3 id="4-memanfaatkan-teknologi-inovatif-yang-terjangkau">4. Memanfaatkan teknologi inovatif yang terjangkau</h3><p>Siapa bilang belajar sains harus selalu di laboratorium fisik yang mahal? Hari ini, teknologi seperti <em>Augmented Reality</em> (AR) dapat kita manfaatkan melalui gawai untuk memvisualisasikan konsep sains yang abstrak menjadi simulasi 3D yang hidup dan interaktif di depan mata siswa.</p><blockquote>Bapak dan Ibu Guru yang luar biasa, integrasi STEM pada akhirnya tidak hadir untuk menambah beban kurikulum atau membuat hari-hari mengajar kita menjadi lebih rumit. Justru sebaliknya, ini adalah upaya kita bersama untuk memanusiakan pendidikan melalui sentuhan teknologi dan kekuatan kolaborasi.</blockquote><p>Dengan semangat untuk tidak pernah berhenti belajar dan berinovasi, keterbatasan fasilitas bukanlah akhir dari segalanya. Bersama-sama, mari kita jembatani kesenjangan yang ada, demi mengantarkan anak-anak didik kita, mulai dari tingkah lucunya di masa TK hingga langkah mantapnya di bangku SMA, menjadi generasi muda Indonesia yang kritis, kreatif, dan siap memimpin masa depan di era global.</p><p></p><p></p><p></p><p><em>Created by,</em></p><p>Codero</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[YT Live kejarcita: Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru! Menemukan Cara Belajar yang Asik!]]></title><description><![CDATA[<h2 id="yt-live-kejarcita">YT Live Kejarcita</h2><h3 id="gratis-untuk-umum">Gratis untuk umum</h3><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1082" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 1082w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>YT Live kejarcita</figcaption></figure><h3 id="topik-tahun-ajaran-baru-semangat-baru-menemukan-cara-belajar-yang-asik">Topik: &quot;Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru! Menemukan Cara Belajar yang Asik!&quot;</h3><p><strong>Narasumber: Danti Pudjiati, S.Pd, M.Hum</strong></p><h3 id="jadwal-dan-pelaksanaan">Jadwal dan Pelaksanaan</h3><ul><li>Hari/Tanggal	: Jumat, 17 Juli 2026 pukul 14.00 WIB</li><li>Waktu		: 14.00 WIB</li><li>Tempat	: YouTube Kejarcita</li></ul><h3 id="poin-poin-yang-dibahas">Poin-poin</h3>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/yt-live-kejarcita-tahun-ajaran-baru-semangat-baru-menemukan-cara-belajar-yang-asik/</link><guid isPermaLink="false">6a5893b166a1b904b0daab36</guid><category><![CDATA[event]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Thu, 16 Jul 2026 08:21:51 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04-1.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<h2 id="yt-live-kejarcita">YT Live Kejarcita</h2><h3 id="gratis-untuk-umum">Gratis untuk umum</h3><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg" class="kg-image" alt="YT Live kejarcita: Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru! Menemukan Cara Belajar yang Asik!" loading="lazy" width="1082" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04.jpeg 1082w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>YT Live kejarcita</figcaption></figure><h3 id="topik-tahun-ajaran-baru-semangat-baru-menemukan-cara-belajar-yang-asik">Topik: &quot;Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru! Menemukan Cara Belajar yang Asik!&quot;</h3><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-15.04.04-1.jpeg" alt="YT Live kejarcita: Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru! Menemukan Cara Belajar yang Asik!"><p><strong>Narasumber: Danti Pudjiati, S.Pd, M.Hum</strong></p><h3 id="jadwal-dan-pelaksanaan">Jadwal dan Pelaksanaan</h3><ul><li>Hari/Tanggal	: Jumat, 17 Juli 2026 pukul 14.00 WIB</li><li>Waktu		: 14.00 WIB</li><li>Tempat	: YouTube Kejarcita</li></ul><h3 id="poin-poin-yang-dibahas">Poin-poin yang dibahas:</h3><ul><li>Menumbuhkan semangat belajar di tahun ajaran baru</li><li>Metode belajar yang seru</li></ul><p>Ikuti keseruannya di sini: <a href="https://youtube.com/live/L94OCwymyJc?feature=share">https://youtube.com/live/L94OCwymyJc?feature=share</a></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?]]></title><description><![CDATA[<p>Jadi, lebih baik belajar sedikit-sedikit tapi rutin, atau sekaligus banyak dalam satu waktu? Yuk, swipe ke bawah untuk cari tau jawabannya!</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1077" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 1077w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg" class="kg-image" alt loading="lazy" width="1080" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure>]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/lebih-efektif-mana-belajar-sedikit-sedikit-tapi-sering-atau-belajar-sekaligus-banyak/</link><guid isPermaLink="false">6a588f6366a1b904b0daab19</guid><category><![CDATA[infografis]]></category><dc:creator><![CDATA[Kejarcita]]></dc:creator><pubDate>Thu, 16 Jul 2026 08:02:11 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n-1.jpg" alt="Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?"><p>Jadi, lebih baik belajar sedikit-sedikit tapi rutin, atau sekaligus banyak dalam satu waktu? Yuk, swipe ke bawah untuk cari tau jawabannya!</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg" class="kg-image" alt="Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?" loading="lazy" width="1077" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748705065_1650191990441441_5513597472907746156_n.jpg 1077w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg" class="kg-image" alt="Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?" loading="lazy" width="1087" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748623964_1650191987108108_4878831060805631230_n.jpg 1087w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg" class="kg-image" alt="Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?" loading="lazy" width="1076" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/748514236_1650191947108112_474190217037132388_n.jpg 1076w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg" class="kg-image" alt="Lebih Efektif Mana: Belajar Sedikit-Sedikit tapi Sering atau Belajar Sekaligus Banyak?" loading="lazy" width="1080" height="1350" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/747761351_1650192067108100_697252103341595620_n.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita.id</figcaption></figure>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru]]></title><description><![CDATA[Dengan memiliki checklist persiapan yang terstruktur, guru dapat bekerja lebih sistematis, meminimalkan kendala selama proses pembelajaran]]></description><link>https://blog.kejarcita.id/checklist-persiapan-guru-menyambut-tahun-ajaran-baru/</link><guid isPermaLink="false">6a56c3c166a1b904b0daa9c4</guid><category><![CDATA[teaching]]></category><dc:creator><![CDATA[Agnes Meilina]]></dc:creator><pubDate>Thu, 16 Jul 2026 01:07:00 GMT</pubDate><media:content url="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-pamanjoe-35548840.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/pexels-pamanjoe-35548840.jpg" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru"><p>Tahun ajaran baru merupakan momen penting bagi guru untuk mempersiapkan berbagai aspek pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berjalan optimal sejak hari pertama. Persiapan tersebut tidak hanya mencakup penyusunan perangkat ajar, penyesuaian dengan kalender pendidikan, dan perencanaan asesmen awal pembelajaran, tetapi juga kesiapan dalam mengenali karakteristik peserta didik, menyelesaikan administrasi, serta merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Persiapan yang matang akan membantu guru menghadapi berbagai tantangan di awal semester, seperti adaptasi dengan siswa baru, pengelolaan kelas, hingga penerapan kurikulum secara efektif. Dengan memiliki checklist persiapan yang terstruktur, guru dapat bekerja lebih sistematis, meminimalkan kendala selama proses pembelajaran, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna sejak awal tahun ajaran.</p><h2 id="mengapa-guru-perlu-melakukan-persiapan-sebelum-tahun-ajaran-baru">Mengapa Guru Perlu Melakukan Persiapan Sebelum Tahun Ajaran Baru?</h2><h3 id="1-membantu-proses-belajar-berjalan-lebih-efektif-sejak-hari-pertama">1. Membantu Proses Belajar Berjalan Lebih Efektif Sejak Hari Pertama</h3><p>Persiapan yang dilakukan sebelum tahun ajaran baru memungkinkan guru memulai pembelajaran dengan lebih terarah. Perangkat ajar, materi, dan <a href="https://blog.kejarcita.id/10-strategi-guru-agar-optimal-dalam-mengaja/">strategi pembelajaran</a> yang telah disusun sebelumnya membantu guru mengoptimalkan waktu di kelas sehingga siswa dapat langsung mengikuti kegiatan belajar tanpa banyak penyesuaian.</p><h3 id="2-mengurangi-beban-administrasi-yang-menumpuk">2. Mengurangi Beban Administrasi yang Menumpuk</h3><p>Awal semester biasanya diiringi dengan berbagai tugas administrasi, mulai dari penyusunan modul ajar hingga penilaian. Dengan menyiapkan dokumen dan administrasi sejak sebelum pembelajaran dimulai, guru dapat bekerja lebih efisien dan memiliki lebih banyak waktu untuk fokus mendampingi proses belajar siswa.</p><h3 id="3-meningkatkan-kesiapan-menghadapi-karakter-siswa-yang-beragam">3. Meningkatkan Kesiapan Menghadapi Karakter Siswa yang Beragam</h3><p>Setiap peserta didik memiliki kemampuan, minat, dan gaya belajar yang berbeda. Persiapan melalui asesmen awal maupun peninjauan data siswa membantu guru memahami kebutuhan belajar mereka sehingga strategi pembelajaran yang diterapkan menjadi lebih tepat sasaran dan mampu mengakomodasi keberagaman di dalam kelas.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/7-tips-pembentukan-karakter-siswa-setelah-asesmen-awal/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">7 Tips Pembentukan Karakter Siswa Setelah Asesmen Awal</div><div class="kg-bookmark-description">Asesmen awal adalah evaluasi yang dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik siswa sebelum pembelajaran dimulai</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Insani Miftahul Janah</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2023/09/pexels-pragyan-bezbaruah-1822375.jpg" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru"></div></a></figure><h3 id="4-mendukung-terciptanya-lingkungan-belajar-yang-positif">4. Mendukung Terciptanya Lingkungan Belajar yang Positif</h3><p>Guru yang telah mempersiapkan aktivitas awal pembelajaran, aturan kelas, serta strategi membangun komunikasi dengan siswa akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Lingkungan belajar yang positif dapat meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, serta keterlibatan siswa selama mengikuti pembelajaran.</p><h2 id="checklist-persiapan-guru-menyambut-tahun-ajaran-baru">Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru</h2><h3 id="1-meninjau-kalender-pendidikan-dan-jadwal-mengajar">1. Meninjau Kalender Pendidikan dan Jadwal Mengajar</h3><p>Langkah pertama yang perlu dilakukan guru adalah mempelajari kalender pendidikan yang berlaku di sekolah. Perhatikan tanggal penting seperti awal dan akhir semester, hari libur, pelaksanaan asesmen, ujian, hingga kegiatan sekolah lainnya. Selain itu, pastikan jadwal mengajar dan pembagian kelas sudah sesuai sehingga guru dapat menyusun rencana pembelajaran, target materi, dan agenda evaluasi dengan lebih terstruktur.</p><h3 id="2-menyiapkan-perangkat-ajar">2. Menyiapkan Perangkat Ajar</h3><p>Perangkat ajar menjadi pedoman utama dalam melaksanakan pembelajaran. Guru perlu menyiapkan modul ajar, Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Capaian Pembelajaran (CP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), media pembelajaran, serta rubrik penilaian sesuai kurikulum yang berlaku. Sebaiknya perangkat ajar disusun secara fleksibel agar dapat disesuaikan dengan kemampuan, karakteristik, dan kebutuhan belajar peserta didik di setiap kelas.</p><h3 id="3-menyusun-asesmen-awal-pembelajaran">3. Menyusun Asesmen Awal Pembelajaran</h3><p>Asesmen awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan belajar siswa sebelum materi baru diberikan. Hasil asesmen ini dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan strategi, metode, maupun tingkat kesulitan materi yang akan diajarkan. Guru dapat menggunakan berbagai bentuk asesmen, seperti kuis singkat, tanya jawab, angket minat belajar, atau refleksi sederhana agar memperoleh gambaran awal mengenai kondisi peserta didik.</p><h3 id="4-mengenali-karakteristik-dan-kebutuhan-peserta-didik">4. Mengenali Karakteristik dan Kebutuhan Peserta Didik</h3><p>Setiap siswa memiliki latar belakang, minat, gaya belajar, dan kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu, guru perlu mengenali karakteristik peserta didik sejak awal agar dapat menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan berpusat pada siswa. Jika terdapat peserta didik dengan kebutuhan belajar tertentu, guru juga dapat menyiapkan strategi pendampingan yang sesuai sehingga setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.</p><h3 id="5-menyiapkan-administrasi-pembelajaran">5. Menyiapkan Administrasi Pembelajaran</h3><p>Administrasi pembelajaran yang tertata akan memudahkan guru dalam menjalankan proses belajar mengajar sepanjang semester. Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain daftar hadir, buku nilai, agenda kelas, jadwal penilaian, serta dokumentasi pembelajaran. Dengan administrasi yang rapi, guru akan lebih mudah memantau perkembangan siswa, melakukan evaluasi, dan menyusun laporan hasil belajar ketika dibutuhkan.</p><h3 id="6-menata-ruang-kelas-dan-lingkungan-belajar">6. Menata Ruang Kelas dan Lingkungan Belajar</h3><p>Lingkungan belajar yang nyaman dapat meningkatkan semangat dan konsentrasi siswa saat mengikuti pembelajaran. Guru dapat menata posisi tempat duduk sesuai kebutuhan, menyediakan sudut baca atau pojok literasi, memasang hasil karya siswa sebagai bentuk apresiasi, serta menyepakati aturan kelas bersama peserta didik. Suasana kelas yang bersih, aman, dan tertata juga akan mendukung terciptanya proses belajar yang lebih kondusif.</p><h3 id="7-menyiapkan-strategi-ice-breaking-dan-aktivitas-awal-semester">7. Menyiapkan Strategi Ice Breaking dan Aktivitas Awal Semester</h3><p>Hari-hari pertama sekolah merupakan waktu yang tepat untuk membangun hubungan positif antara guru dan siswa. Guru dapat menyiapkan aktivitas perkenalan, permainan edukatif, diskusi ringan, atau menyusun kontrak belajar bersama. Kegiatan ini tidak hanya membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga menciptakan suasana kelas yang lebih hangat, menyenangkan, dan mendukung kolaborasi selama proses pembelajaran.</p><figure class="kg-card kg-embed-card"><iframe width="200" height="113" src="https://www.youtube.com/embed/6Z7KloFZMsk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen title="10 Strategi Ice Breaking di Kelas"></iframe></figure><h3 id="8-mempersiapkan-media-dan-teknologi-pembelajaran">8. Mempersiapkan Media dan Teknologi Pembelajaran</h3><p>Pemanfaatan teknologi dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif. Sebelum semester dimulai, pastikan perangkat seperti laptop, proyektor, atau koneksi internet berfungsi dengan baik. Guru juga dapat menyiapkan bahan presentasi, video pembelajaran, bank soal digital, maupun platform pembelajaran yang akan digunakan sehingga proses belajar berlangsung lebih efektif dan mampu meningkatkan keterlibatan siswa.</p><h3 id="9-menyusun-target-pembelajaran-semester">9. Menyusun Target Pembelajaran Semester</h3><p>Menetapkan target pembelajaran sejak awal membantu guru mengarahkan proses belajar secara lebih sistematis. Target tersebut dapat berupa kompetensi yang ingin dicapai, materi yang harus diselesaikan, hingga rencana evaluasi pada setiap akhir bab atau fase pembelajaran. Dengan target yang jelas, guru lebih mudah memantau kemajuan belajar siswa dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan.</p><h3 id="10-menyiapkan-diri-sebagai-guru">10. Menyiapkan Diri sebagai Guru</h3><p>Selain mempersiapkan administrasi dan perangkat pembelajaran, guru juga perlu mempersiapkan diri secara profesional. Melakukan refleksi terhadap pengalaman mengajar pada tahun sebelumnya dapat menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu dipertahankan maupun diperbaiki. Guru juga dapat menetapkan target pengembangan diri, mengikuti pelatihan atau komunitas belajar, serta memperbarui wawasan tentang strategi pembelajaran agar semakin siap menghadapi tantangan di tahun ajaran baru. Kesiapan mental dan kompetensi yang terus berkembang akan membantu guru memberikan pengalaman belajar yang lebih berkualitas bagi peserta didik.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/619086357_1481750510618924_9071445660388406166_n.jpg" class="kg-image" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru" loading="lazy" width="1128" height="2048" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/619086357_1481750510618924_9071445660388406166_n.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w1000/2026/07/619086357_1481750510618924_9071445660388406166_n.jpg 1000w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/619086357_1481750510618924_9071445660388406166_n.jpg 1128w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>sumber: kejarcita</figcaption></figure><h2 id="tips-agar-persiapan-tahun-ajaran-baru-lebih-efisien">Tips Agar Persiapan Tahun Ajaran Baru Lebih Efisien</h2><h3 id="1-buat-checklist-mingguan">1. Buat Checklist Mingguan</h3><p>Agar persiapan tidak terasa berat, susun daftar pekerjaan berdasarkan prioritas dan target penyelesaiannya setiap minggu. Misalnya, minggu pertama untuk menyusun perangkat ajar, minggu kedua menyiapkan asesmen awal, dan minggu berikutnya mempersiapkan media pembelajaran. Cara ini membantu guru bekerja lebih teratur sekaligus memastikan tidak ada tugas penting yang terlewat.</p><h3 id="2-gunakan-template-administrasi">2. Gunakan Template Administrasi</h3><p>Memanfaatkan template administrasi, seperti format modul ajar, daftar hadir, jurnal mengajar, atau rubrik penilaian, dapat menghemat banyak waktu. Guru hanya perlu menyesuaikan isi dokumen dengan mata pelajaran dan kebutuhan kelas tanpa harus membuat format baru dari awal setiap semester.</p><h3 id="3-manfaatkan-platform-digital">3. Manfaatkan Platform Digital</h3><p>Berbagai platform digital dapat membantu guru mengelola pembelajaran dengan lebih praktis, mulai dari menyimpan materi, membuat kuis, membagikan tugas, hingga memantau hasil belajar siswa. Selain membuat pekerjaan lebih efisien, penggunaan teknologi juga mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi peserta didik.</p><h3 id="4-siapkan-materi-secara-bertahap">4. Siapkan Materi Secara Bertahap</h3><p>Tidak semua materi harus diselesaikan sekaligus sebelum tahun ajaran dimulai. Guru dapat memprioritaskan materi untuk beberapa minggu pertama, kemudian melengkapinya secara bertahap sesuai jadwal pembelajaran. Cara ini membuat proses persiapan lebih ringan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.</p><h3 id="5-berkolaborasi-dengan-rekan-guru">5. Berkolaborasi dengan Rekan Guru</h3><p>Berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat dapat membantu guru menemukan ide, solusi, maupun sumber belajar yang lebih beragam. Kolaborasi juga memungkinkan guru saling bertukar perangkat ajar, media pembelajaran, atau strategi mengajar yang telah terbukti efektif sehingga persiapan menjadi lebih efisien.</p><figure class="kg-card kg-bookmark-card"><a class="kg-bookmark-container" href="https://blog.kejarcita.id/pentingnya-guru-melakukan-refleksi-dengan-sesama-rekan-guru/"><div class="kg-bookmark-content"><div class="kg-bookmark-title">Pentingnya Guru Melakukan Refleksi dengan Sesama Rekan Guru</div><div class="kg-bookmark-description">Refleksi dengan sesama rekan guru bisa menjadi sarana berbagi pengalaman mengajar dan bisa memberikan kritik dan saran yang membangun.</div><div class="kg-bookmark-metadata"><img class="kg-bookmark-icon" src="https://blog.kejarcita.id/favicon.png" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru"><span class="kg-bookmark-author">Kejarpena</span><span class="kg-bookmark-publisher">Dian Kusumawardani</span></div></div><div class="kg-bookmark-thumbnail"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2022/03/people-gd34256eab_1920.png" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru"></div></a></figure><h3 id="6-ikuti-pelatihan-untuk-mengembangkan-kompetensi">6. Ikuti Pelatihan untuk Mengembangkan Kompetensi</h3><p>Persiapan guru tidak berhenti ketika tahun ajaran baru dimulai. Di tengah kesibukan mengajar, guru tetap perlu meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pelatihan, webinar, atau komunitas belajar yang relevan. Kegiatan ini dapat memberikan wawasan baru mengenai strategi pembelajaran, pemanfaatan teknologi pendidikan, hingga pendekatan asesmen yang lebih efektif. Dengan terus mengembangkan kemampuan, guru dapat menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih berkualitas sepanjang semester.</p><h3 id="kesimpulan">Kesimpulan:</h3><p>Persiapan yang matang merupakan langkah penting agar guru dapat memulai tahun ajaran baru dengan lebih percaya diri dan menciptakan pembelajaran yang efektif sejak hari pertama. Mulai dari menyusun perangkat ajar, melaksanakan asesmen awal pembelajaran, mengenali karakteristik peserta didik, hingga menata administrasi dan media pembelajaran, setiap persiapan memiliki peran dalam mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal. Selain itu, guru juga perlu terus mengembangkan kompetensinya agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia pendidikan. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260129-WA0038--1-.jpg" class="kg-image" alt="Checklist Persiapan Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru" loading="lazy" width="720" height="1280" srcset="https://blog.kejarcita.id/content/images/size/w600/2026/07/IMG-20260129-WA0038--1-.jpg 600w, https://blog.kejarcita.id/content/images/2026/07/IMG-20260129-WA0038--1-.jpg 720w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>pelatihan kejarcita</figcaption></figure><p>Untuk mendukung hal tersebut, kejarcita menghadirkan berbagai pelatihan yang relevan, seperti Pelatihan Penyusunan Perangkat Ajar dan Pelatihan Pelaksanaan Asesmen Awal Pembelajaran, yang dirancang untuk membantu guru menyusun pembelajaran secara lebih terarah, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan di kelas. Dengan mengikuti pelatihan yang tepat, guru dapat semakin siap menghadapi berbagai tantangan dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap peserta didik. Bagi sekolah atau guru yang ingin mengikuti pelatihan dengan tema serupa, dapat menghubungi Admin kejarcita melalui <strong>WhatsApp (+62819-7388-8808).</strong></p>]]></content:encoded></item></channel></rss>