10 Cerita Mengharukan Belajar di Rumah

edukasi Jun 26, 2020

Terbatasnya aktivitas di tengah wabah covid-19 berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sekolah-sekolah di seluruh Indonesia dialihkan ke rumah masing-masing. Keseharian para siswa menjadi berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Begitu pun dengan guru dan orang tua yang mendampingi mereka.

Banyak terjadi peristiwa yang mengharukan di antara mereka selama belajar dari rumah. Tidak jarang kisah-kisahnya "mengandung bawang" hingga menyentuh hati banyak orang. Kejadian demi kejadian tersebut dari orang yang berbeda tentu harus diabadikan dalam tulisan agar bisa Anda baca. Kita bisa belajar darinya untuk mengambil hikmah dan bahan refleksi diri.

1.Tidak punya Smartphone

Kerapkali saat ini kegiatan yang dilakukan dari rumah menggunakan sistem online. Begitu pula pada aktivitas belajar mengajar. Mau tidak mau pembelajaran disampaikan dan diterima menggunakan smartphone. Faktanya tidak semua wali murid memiliki ponsel pintar yang dapat digunakan oleh anaknya. Alhasil, anak tersebut tidak mengikuti sesi belajar daring secara maksimal.

Ada seorang murid yang harus  menumpang pada teman yang merupakan tetangganya sendiri.  Hingga suatu hari ia tidak diperbolehkan datang ke rumahnya lagi untuk menerima materi secara online. Semangatnya sangat menggebu dalam belajar. Meskipun tidak mengikuti sekolah daring, Ia tetap belajar mandiri tanpa adanya HP android. Mengandalkan buku-buku yang dipinjamkan oleh pihak sekolah, dia meminta keluarga untuk mengajarinya setiap hari.

2.Mengurangi Waktu Bekerja

Sebagian orang tua memutuskan untuk mengurangi waktu bekerja karena menganggap penting pendidikan anaknya. Belajar di rumah tidak cukup untuk bergantung pada jadwal sekolah online dari guru. Anak harus tetap mendapat pendampingan sebagaimana saat sekolah secara normal. Sebab itu seorang karyawan perusahaan garmen meminta izin pada atasan untuk terus work from home selama dua bulan penuh. Semestinya peraturan baru dari perusahaan karena protokol covid-19 mengharuskannya tetap ke kantor namun hanya 3 hari seminggu. Ia rela melepas sebagian gajinya agar dapat membimbing anaknya belajar di rumah secara maksimal.

3.Berburu Wifi Gratisan

Kisah ini datang dari sebuah keluarga yang tidak berkecukupan. Sekolah dari rumah adalah sebuah beban baru baginya. Pasalnya ia harus menyediakan kuota internet setiap hari untuk anak-anaknya. Di hari-hari sebelum wabah corona, dia biasanya cukup menghabiskan budget Rp10.000 dalam sebulan khusus paket data. Namun kali ini Rp30.000 bahkan Rp50.000 pun masih tidak cukup karena dipakai belajar secara virtual dan jatah games anak yang semakin banyak.

Guna menyiasatinya, pasutri ini datang ke tempat-tempat yang menyediakan wifi gratis. Salah satu andalannya adalah corner Indomaret yang dekat dari rumahnya. Mereka datang ke sana sebentar hanya untuk mengunduh materi berbentuk video serta tugas-tugas yang diberikan oleh guru menggunakan wifi agar lebih hemat. Mereka hanya perlu membeli paket data jika ada pertemuan online dengan guru melalui aplikasi semacam Google Meet, Zoom, dan sebagainya.

4.Guru Mengajar Berkeliling

Di pedesaan menerapkan sekolah daring sangatlah tidak efektif. Terlebih di daerah terpencil dan terbelakang. Selain karena banyak wali murid yang tidak menggunakan android atau ios, sinyal internet yang tersedia pun kurang memadai. Kondisi ini menggerakkan hati seorang guru yang berada di kawasan Sumenep, Madura untuk mengajar keliling. Dalam seminggu, ada 3 hari yang dia khususkan untuk mengunjungi rumah murid-muridnya. Hal ini tentu melanggar aturan protokol kesehatan dari pemerintah yang mengharuskan berdiam di rumah. Akan tetapi, ia berani mengambil resiko tersebut demi keberlanjutan pendidikan anak didiknya.

5.Orang Tua Begadang

Tidak semua orang tua bisa mendampingi anak saat belajar, memecahkan soal-soal yang ditugaskan gurunya, bahkan memposisikan diri untuk menjelaskan dengan detail mata pelajaran tertentu. Situasi yang menuntut untuk di rumah saja menjadi PR baru bagi para orang tua. Ada beberapa di antara mereka yang berjuang keras hingga begadang. Hal demikian bukan dalam rangka pekerjaan, namun belajar memahami materi dari guru untuk putra-putrinya.  Meskipun materinya adalah hal yang paling tidak mereka suka dan bisa, demi anak semua itu bukanlah halangan yang berarti. Bagi orang tua yang sama-sama bekerja, kondisi ini pastinya melelahkan. Namun mereka tetap bersemangat dan bersuka cita melakukannya.

6.Ayah Ibu Belajar Medsos

Sebab wabah Corona, wali murid tidak hanya dituntut untuk belajar lagi materi-materi sekolah dasar dan sekolah menengah. Mereka pun menjadi wajib aktif bermedia sosial. Suka maupun tidak suka, jika belum punya akun, maka harus segera membuatnya. Metode belajar daring banyak menjadikan medsos sebagai alat untuk mengembangkan soft skill anak didik.

Guru-guru kerap kali memberi tugas untuk mengunggah karya muridnya di akun Instagram atau facebook. Jika tidak diunggah, mereka tidak memberikan nilai. Itulah mengapa ayah ibu yang gagap teknologi (gaptek) harus belajar otodidak perkembangan IT saat ini. Ada orang tua yang rela meluangkan waktu untuk private belajar fitur-fitur media sosial di sela-sela kesibukannya. Semua itu demi kelancaran kegiatan belajar anak-anaknya.

7.Jauh dari Orang Tua

Ketika anjuran pemerintah untuk tidak banyak melakukan aktifitas di luar rumah, hubungan keluarga semakin intens. Banyak yang mensyukuri moment ini karena bisa lebih sering melakukan hal-hal baru bersama. Namun bagi sebagian orang, kondisi sekarang justru menjadi lebih menyedihkan karena berpisah dengan orang tua maupun anak. Rasa iri pada diri anak tentu selalu terlintas tatkala melihat teman-temanya berkumpul dengan ayah ibu mereka. Sebagaimana yang dialami Raka, bocah berusia 8 tahun. Orang tuanya pergi merantau ke luar pulau karena tuntutan pekerjaan. Ia hanya tinggal bersama kakek neneknya di Malang. Belajar pun didampingi mereka.

8.Doa Bertemu Teman

Pembatasan sosial secara tatap muka dan berkerumun membuat sedih masyarakat. Tidak dapat bertemu dengan sahabat, rekan kerja, bahkan keluarga di kampung halaman dalam waktu berbulan-bulan adalah sesuatu yang meresahkan. Apalagi bagi anak-anak yang biasanya setiap hari bermain dan sekolah bersama teman-temannya, kini hanya berkutat di rumah dengan ditemani gadget. Tibalah pada suatu waktu di mana kebosanan melanda, seorang ibu menyaksikan anaknya berdoa seusai sholat.

“Ya Allah, kenapa aku tidak bisa bermain seperti dulu? Aku kangen teman-teman, aku ingin pergi ke sekolah lagi. Apakah masih lama aku harus belajar di rumah?”

Begitulah kalimat dalam doanya yang sangat jujur dan polos. Menyentuh sekali hingga membuat ibunya menangis.

9.Menghibur Ayah

Hari yang berat sering dialami oleh seorang ayah beranak 2 dengan penghasilan yang kurang memadai dari sebuah desa di Situbondo. Ia adalah duda yang ditinggal mati istrinya. Kedua anaknya sangatlah rewel dan nakal. Susah sekali diatur untuk belajar. Tugas dari guru banyak yang tidak mereka kerjakan. Sebagai seorang ayah yang single parent, kondisi tersebut tentu sangatlah menguras pikiran dan beban perasaan. Di bulan April kemarin, perusahaan memutuskan kontrak kerja dengannya sebab wabah corona. Ia sangat terpukul dan hampir frustasi. Mengetahui hal tersebut, kedua anaknya jadi bertingkah manis. Belajar tidak usah disuruh, bangun tidur lebih awal kemudian membantu membereskan tempat tidur. Tugas-tugas dari guru pun mereka kerjakan. Si Ayah menjadi semangat melihat perubahan anak-anaknya dan berhenti bersedih.

5 Sikap Positif untuk Ditanamkan ke Anak Akibat Pandemi Virus Corona
Peran orang tua sangat berpengaruh di tengah pandemi Covid-19 ini. Daripada Anda stress memikirkan permasalahan yang akan memicu timbulnya penyakit dari dalam tubuh, lebih baik Anda menanamkan sikap positif kepada anak-anak di rumah.

10.Menjenguk Guru Via Virtual

Murid-murid dari sebuah sekolah swasta bersepakat melakukan video call untuk menjenguk wali kelasnya yang sakit parah. Mereka sangat antusias karena gurunya yang sedang sakit itu sangatlah telaten dan menyenangkan dalam mengajar. Di sela-sela video call berlangsung, murid sejumlah kurang lebih 25 orang tersebut memegang bunga dan kertas dengan ucapan semangat dan doa kesembuhan untuk gurunya. Spontan sang guru terharu dan bercucuran air mata.

Ini Kata Guru-Guru Tentang Pengalaman Belajar Jarak Jauh
Pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda membuat para orang tua gusar dan cemas terhadap pendidikan anak-anak mereka. Setelah mengetahui bagaimana peliknya keadaan pendidikan di Indonesia saat ini, mari kita lihat beberapa kendala yang dialami oleh para pendidik yang harus Anda ketahui.

Cerita mengharukan yang terjadi di antara guru, murid dan orang tua selama wabah ini menjadi momen yang tidak akan terlupakan. Dari kisah-kisah di atas, cerita manakah yang menginspirasi Anda?

Miela Baisuni

Freelance content writer & social media specialist, traveller.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.