Rencana Alur Proyek yang Melibatkan Dimensi Rekayasa Teknologi

Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk mewujudkan kompetensi peserta didik sesuai dengan profil yang ingin dihasilkan sistem pendidikan Indonesia, yaitu berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila tersebut diperlukan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sesuai dengan yang tercantum dalam pembahasan resmi Kemdikbud. Tahap awal dalam merencanakan P5 adalah membuat rencana alur proyek dengan langkah berikut.

  1. Sekolah membentuk tim fasilitator yang akan berperan dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan kegiatan proyek di seluruh kelas.
  2. Tim fasilitator maupun kepala sekolah mengidentifikasi kesiapan satuan pendidikan. Dalam proses ini, dua pihak tersebut melakukan refleksi dan menentukan kesiapan dalam pelaksanaan proyek.
  3. Tim penanggung jawab menyusun rancangan terkait dimensi yang akan dipilih dalam proyek, misalnya tentang rekayasa tekonologi. Selanjutnya, tim tersebut menentukan tema dan waktu pelaksanaan projek.
  4. Kemudian, tim fasilitator menyusun modul proyek, meliputi tujuan dilakukannya projek, topik yang dipilih, alur dan durasi pelaksanaan, aktivitas, dan asesmen projek.
  5. Terakhir, tim menyusun strategi untuk menyusun pelaporan hasil proyek profil sesuai kebutuhan setiap satuan pendidikan.

Rencana alur projek yang disusun sebisa mungkin harus memiliki aktivitas yang beragam sehingga siswa dapat melakukan eksploratif dengan optimal. Pada tingkat SD, SMP, SMA sederajat, beragam tema utama dalam P5 tersedia dan bisa dipilih oleh satuan pendidikan misalnya tentang "Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI".

Tips Bagi Guru Antar Mapel dalam Merumuskan P5 dengan Mudah dan Cepat
Dengan adanya kolaborasi guru antar mata pelajaran dalam P5, siswa menjadi lebih kreatif, inovatif dan mudah untuk dibimbing

Dalam tema "Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI", siswa dilatih untuk berpikir kreatif, berinovasi, dan berempati dalam merekayasa produk berteknologi guna memudahkan kehidupan masyarakat. Selain itu, siswa juga didorong untuk terlatih dalam menyelesaikan masalah di sekitar dengan mengintegrasikan penerapan teknologi, inovasi, dan budaya smart society. Contoh kontekstualisasi dalam tema rekayasa digital seperti membuat desain yang inovatif sederhana dengan melibatkan penerapan teknologi dalam memecahkan permasalahan di lingkungan satuan pendidikan.

Setelah menentukan tema, selanjutnya, tim P5 memilih topik spesifik yang akan dikembangkan. Dalam memilih isu atau topik yang akan dijadikan fokus pembahasan harus memiliki keterkaitan dengan tema yang ditentukan. Sebagai contoh, tim fasilitator dan kepala sekolah di suatu sekolah dasar memutuskan bahwa dimensi yang akan difokuskan dalam Profil Pancasila adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia pada alam, dengan tema yang diusung adalah rekayasa teknologi dan topik spesifiknya berupa upcycle sampah untuk hasil yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Berangkat dari identifikasi tersebut, tim fasilitator di kelas 5 (fase C) akan memetakan proyek dengan fokus profil Pancasila yang ingin dicapai dalam proyek tersebut adalah sebagai berikut.

a. Siswa memiliki akhlak bernegara.

b.  Siswa mampu mengidentifikasi dan memahami peran, hak, dan kewajiban dasar sebagai warga negara dan mengimplementasikannya di keseharian.

Berikut ini adalah contoh alur proyek yang melibatkan dimensi Rekayasa Teknologi di tingkat SD/MI sederajat fase C.

  1. Pengenalan, yaitu mengenali dan membangun kesadaran siswa tentang pentingnya untuk berakhlak mulia terhadap alam dengan menjaga kebersihannya.
  2. Kontekstualisasi, yaitu siswa diajak untuk menggali permasalahan sampah anorganik yang belum dikelola secara optimal dalam lingkungan sekitar.
  3. Aksi, yaitu merumuskan peran yang dapat dilakukan dengan tindakan nyata untuk mengatasi sampah anorganik agar bisa dimanfaatkan menjadi barang yang fungsional dan memiliki daya ekonomis tinggi.
  4. Refleksi, yaitu melakukan proses evaluasi dan refleksi terhadap berhasil tidaknya aksi upcycle sampah.
  5. Tindak lanjut, yaitu proses penyusunan langkah strategis untuk melakukan asesmen dan mengembangkan rubrik penilaian.

Berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran, guru sebisa mungkin mengajak siswa untuk melihat kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari sebelum memulai pelaksanaan projek profil misalnya tentang upscycle sampah. Upaya menghadirkan kondisi nyata yang terjadi di lingkungan sekitar ke dalam kelas dapat dilakukan oleh guru dengan berbagai strategi misal memberikan pertanyaan pemantik guna memancing siswa untuk mengeksplor lebih lanjut untuk menemukan jawabannya. Pertanyaan yang diberikan juga harus tipe yang open-ended question atau pertanyaan terbuka dengan jawaban yang tidak tersedia di dalam buku dan sulit dicari melalui internet. Dengan demikian, siswa akan dituntut melakukan proses inkuiri agar bisa menjawabnya.

Contoh Strategi untuk Tema Profil Rekayasa Teknologi

Topik: Pengelolaan Sampah

Pertanyaan pemantik: Bagaimana cara memanfaatkan sampah anorganik di lingkungan agar menjadi produk yang bernilai guna tingi?

Selain dengan mengajukan pertanyaan pemantik, guru juga bisa memulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang terjadi atau dialami oleh para siswa di keseharian. Sebagai contoh, guru menyajikan masalah sampah anorganik yang dihasilkan rumah tangga setiap harinya berdasarkan sumber informasi dari media kredibel atau dari narasumber langsung melalui observasi lapangan bersama siswa.

Berikut alur rencana pembelajaran dan asesmen P5:

  1. Menentukan kompetensi yang akan dicapai dalam tujuan pembelajaran;
  2. Merancang indikator yang menjadi acuan dalam menentukan apa saja yang harus dipahami siswa;
  3. Menyusun strategi asesmen yang sesuai proyek untuk melihat dengan cara apa saja siswa bisa menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya;
  4. Mengembangkan topik dalam proyek sesuai dengan dimensi dan elemen profil Pancasila agar bisa mencapai tujuan pembelajaran;
  5. Mengolah hasil asesmen sesuai dengan bukti pencapaian yang diperoleh siswa; dan
  6. Menyusun pelaporan yang mengungkapkan sejauh mana siswa bisa mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam melaksanakan P5, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran menjadi kunci keberhasilan. Dengan demikian, guru sebagai fasilitator pembelajaran harus mampu berkreasi sedemikian rupa sehingga partisipasi belajar siswa bisa meningkat dalam beragam aktivitas yang dilakukan. Dalam serangkaian kegiatan yang sedang dilaksanakan guru perlu mendorong partisipasi siswa agar terlibat dalam kegiatan P5 sampai aktivitas tersebut berakhir.

Jika P5 yang sudah berjalan telah selesai, akan lebih baik diadakan suatu hal yang tak kalah bermakna untuk mengakhiri proses pembelajaran siswa dalam berbagai hal tersebut. Setidaknya ada dua kegiatan yang bisa diupayakan guru dalam mengakhiri kegiatan projek profil seperti mendesain perayaan belajar dan menyusun refleksi tindak lanjut proyek.

Membuat Modul Ajar Rencana Asesmen Awal Pembelajaran
Modul ajar berisi informasi, materi pelajaran, panduan, tugas, dan instruksi yang digunakan oleh siswa untuk memahami dan menguasai suatu topik

Lebih lanjut, keberhasilan kegiatan P5 perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk orang tua dan lingkungan. Sebisa mungkin, orang tua dan lingkungan harus diberikan pemahaman tentang perubahan atau inovasi yang terjadi dalam dunia pendidikan dapat berdampak positif yang signifikan terhadap anak mereka dan bukanlah sebuah beban. Sehingga, pihak satuan pendidikan dan guru perlu untuk memberi pemahaman tentang manfaat dari projek penguatan profil pelajar Pancasila yang akan diterapkan agar orang tua benar-benar merasakan bahwa pentingnya perubahan dalam pendidikan dan manfaat positifnya bagi anak mereka.

Selain orang tua, lingkungan masyarakat, pejabat pemerintah dan elemen lainnya yang tinggal di sekitar satuan pendidikan juga menjadi aspek yang tak kalah penting dalam kegiatan P5 karena menjadi sumber pembelajaran bermakna bagi siswa.