Mengenal 6C Untuk Pendidikan Masa Kini dan Masa Depan

Langkah utama dalam memajukan sebuah bangsa, yaitu dengan memperbaiki kualitas pendidikannya. Pasalnya, pendidikan memiliki peran penting dalam mendidik dan menumbuhkan ilmu pengetahuan dan karakter anak bangsa. Itu karena anak-anak kita saat ini menjadi penerus bangsa di masa depan. Merekalah yang menentukan arah Indonesia selanjutnya.

Coba kita lihat negara maju seperti Jepang, Singapura, Korea dan lainnya yang memiliki kualitas pendidikan yang cukup baik dan berkualitas. Lantas, apakah Indonesia sebagai negara berkembang memiliki kualitas pendidikan yang buruk? Tentu tidak. Namun, tak ada salahnya jika kita mengevaluasi dan mengikuti metode pendidikan di negara-negara maju guna mencerdaskan anak bangsa.

Dalam hal ini, guru dan sekolah memiliki peran penting untuk sama-sama membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim juga hingga saat ini berupaya untuk memunculkan inovasi dan kebijakan pendidikan baru untuk meningkatkan sistem pendidikan yang lebih baik, salah satunya Merdeka Belajar.

Konsep Merdeka Belajar yang digalakkan Nadiem Makarim diharapkan dapat mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang andal, kreatif, dan inovatif. Nadiem juga melibatkan Badan Standar Nasional Pendidikan untuk membantu mengembangkan standar nasional pendidikan Indonesia.

Hal yang dipelajari dalam dunia pendidikan harus memiliki dampak positif bagi siswa di masa depan. Kalau tidak ada, harus dihilangkan. Kalau ada dan sangat penting serta berdampak positif, harus dikembangkan dan ditambah.

Mengenal 6C untuk Pendidikan Masa Depan

Pendidikan menjadi wadah bagi siswa-siswi Indonesia untuk mendapatkan pengajaran, bimbingan, ilmu pengetahuan, dan karakter yang baik untuk masa depan mereka. Setelah menyelesaikan pendidikan, diharapkan anak-anak memiliki keterampilan atau kemampuan yang berguna bagi diri maupun bangsa.

Setidaknya ada 6 keterampilan atau kemampuan yang wajib dimiliki anak-anak dan untuk masa depan. Skill ini disebut 6C, yaitu Critical Thinking, Collaboration, Creative and Innovative Thinking, Computational Thinking, Compassion, and Communication.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai keterampilan 6C untuk pendidikan masa depan.

1. Communication (Komunikasi)

Communication atau komunikasi adalah suatu usaha yang dilakukan oleh tenaga pendidik, yaitu guru kepada peserta didik untuk mentransfer ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya. Komunikasi dilakukan baik secara lisan maupun tulisan. Manusia hakikatnya adalah makhluk sosial. Maka dari itu, kemampuan berkomunikasi sangatlah penting.

Namun, perlu kita ingat, kemampuan berkomunikasi setiap orang berbeda-beda. Bagi yang merasa kemampuan berkomunikasinya kurang, bisa terus dilatih supaya membaik.

Komunikasi sangatlah penting untuk pendidikan di masa sekarang atau era 4.0 ini. Siswa sangat membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Komunikasi yang baik akan memberikan dampak yang positif. Kemampuan komunikasi ini juga dibutuhkan pada masa depan. Seseorang dapat menjalin relasi dengan banyak orang, mengemukakan pendapat/ide, menyampaikan informasi, dan lain sebagainya.

Miskonsepsi dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. Apa Saja?
Kurikulum merdeka berfokus pada materi pelajaran yang esensial dan pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila.

2. Collaboration (Kolaborasi)

Collaboration atau kolaborasi artinya kerja sama. Kerja sama di sini dilakukan oleh semua pihak, mulai dari tenaga pendidik, orang tua, sampai peserta didik.

Pelaksanaan proses pendidikan tentu memerlukan kerja sama yang baik untuk tercapainya tujuan pendidikan. Collaboration juga termasuk tanggung jawab. Di sekolah janganlah sampai mencampuradukkan antara masalah pribadi dan sekolah dan mampu menempatkan diri.

Maka dari itu, dibutuhkan adanya kolaborasi dan kerja sama yang baik antara tenaga pendidik dan peserta didik. Dengan itu, tujuan pendidikan bisa terwujud dengan baik.

Pembiasaan kolaborasi di sekolah dapat mengajarkan siswa untuk bisa melakukan kolaborasi di lingkungan masyarakat atau lingkungan kerjanya nanti. Dengan kerja sama yang baik, siswa bisa mencapai tujuan bersama dengan timnya.

3. Critical Thinking (Berpikir Kritis)

Critical thinking atau keterampilan berpikir kritis artinya seseorang mampu menelaah dengan analisis, kemampuan pemecahan masalah (problem solving), melakukan evaluasi, dan juga mampu mengambil keputusan. Saat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mereka akan terampil dalam melakukan berbagai penilaian, analisis, evaluasi, memecahkan masalah, rekonstruksi, serta pengambilan keputusan.

Keputusan dan pemecahan masalah yang dihasilkan akan mengarah pada tindakan yang bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir kritis akan digunakan untuk memahami, mengamati, dan memberi solusi/penyelesaian terhadap suatu permasalahan. Hal ini sangat diperlukan mulai dari sekarang. Orang dengan kemampuan berpikir kritis akan sangat dibutuhkan di berbagai aspek.

Dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, guru bisa menggunakan model pembelajaran yang tepat seperti Problem Based Learning.

4. Creative and Innovative (Kreatif dan Inovatif)

Dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik harus memiliki kreativitas dan inovatif dalam mengajar. Pendidik yang kreatif dan inovatif pastinya akan disenangi oleh peserta didik.

Peserta didik akan senang dalam belajar karena pembelajaran disampaikan dengan berbagai cara dan selalu ada saja hal-hal yang baru. Peserta dididk jadi tidak cepat bosan serta memotivasi mereka untuk selalu rajin belajar.

Dengan adanya kreativitas, pembelajaran tidak akan jenuh dan menarik perhatian siswa agar mengikuti pembelajaran dengan baik. Selain tenaga pendidik, peserta didik juga harus menjadi kreatif dalam mengerjakan soal. Dengan berpikir kritis, itu akan membantu mereka dalam berpikir kritis dan inovatif.

Peran Utama Guru dalam Proses Pembelajaran Anak
Peran guru dalam proses pembelajaran anak memang sangat penting dan tidak mudah.

5. Computational Thinking (CT)

Poin ini adalah di luar dari 4C di atas, ini termasuk ke dalam 2C. Supaya tenaga pendidik dapat mengajar dengan maksimal, mereka harus memiliki kecakapan yang harus dikuasai, yaitu computational thinking/logic.

Kemampuan ini akan diimplementasikan pada saat proses belajar mengajar. Kemampuan ini dapat digunakan guru untuk menganalisis masalah kompleks, memahami masalahnya, dan menemukan solusi yang tepat.

6. Compassion

Poin 2C yang berikutnya adalah compassion. Di sini, artinya seseorang harus mencintai dan menjalankan profesi/pekerjaan dengan senang hati.

Kalau sebuah pekerjaan dijalankan dengan senang hati, akan lebih mudah dikerjakan dan memberikan dampak positif kepada orang lain. Dampak-dampak itu adalah rasa tanggung jawab, memberikan teladan dan contoh kepada peserta didik, dan memberikan motivasi untuk selalu belajar. Saat mengajar dengan ikhlas, tenaga pengajar tidak akan merasa terbebani dengan kesulitan dalam mengajar yang dihadapi.

Itulah beberapa hal mengenai 6C untuk pendidikan masa depan. Jika ini dilakukan dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar akan berjalan efektif dan lancar. Bahkan, siswa-siswi juga bisa mendapatkan keterampilan tersebut untuk masa depan mereka.

Untuk mewujudkan 6C tersebut, guru harus bisa menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dengan menggunakan berbagai model atau metode pembelajaran kreatif.

‌‌‌‌