Hubungan Relevan Kurikulum Merdeka dengan Perkembangan Era Society 5.0

Pendidikan merupakan proses belajar dari sebuah pengetahuan, keterampilan, serta habit sebuah kelompok yang diwariskan pada generasi ke generasi. Hal ini ternyata telah diimplementasikan melalui kegiatan pengajaran, pelatihan, dan penelitian. Pendidikan juga  termanifestasikan dalam bentuk bimbingan non-formal untuk orang lain, juga dapat dilakukan secara otodidak.

Tak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan adalah aspek yang sangat penting, memiliki peran besar terhadap kemajuan berpikir dan bertindak. Hal ini merupakan dampak positif dari terselenggaranya sistem pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan yang baik diawali dari kurikulum yang baik pula. Kurikulum berperan secara signifikan dalam proses majunya sebuah pendidikan.

Pendidikan di Indonesia cenderung mengacu pada kurikulum peninggalan zaman kolonial Belanda. Hal tersebut menyebabkan negara kita harus melakukan berbagai pembenahan dalam segi kurikulum. Perkembangan kurikulum di Indonesia setelah Merdeka pada tahun 1945, terjadi berulang-ulang, yakni pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013 hingga pada tahun 2022 terlahirlah Kurikulum Merdeka.

Perubahan kurikulum sering terjadi karena menyesuaikan dengan perubahan politik, budaya, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan serta teknologi dalam kehidupan bangsa dan negara.

Kurikulum merupakan substansi dari pendidikan, yang mana bertujuan memperjelas rencana kegiatan pembelajaran bagi peserta didik di sekolah. Tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar, jadwal, dan evaluasi dapat dipastikan mengacu pada kurikulum.

Lalu, apa hubungannya kurikulum terkini (Kurikulumm Merdeka) dengan Era Society 5.0?

Era Society 5.0

Dilansir dari Online Learning Binus University, Era Society 5.0 merupakan konsep yang memungkinkan umat manusia menggunakan ilmu pengetahuan berbasis teknologi modern seperti AI dan robot untuk memenuhi kebutuhan dan mempermudah kehidupan manusia. Komponen utama Society 5.0 ialah manusia dapat menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi. Perkembangan tersebut diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan sosial dan masalah ekonomi.

Sebenarnya, secara konvensional peminimalisiran kesenjangan sosial dan ekonomi sudah banyak dilakukan. Salah satunya melalui pendidikan. Melalui pendidikan, ekonomi dapat menjadi lebih baik karena dengan pendidikan itu sendiri, individu dapat memperoleh pekerjaan yang layak.

Cara konvensional ini berupa zonasi, di mana murid-murid yang diterima di suatu sekolah berasal dari zona sekitar sekolah atau memiliki jarak terdekat dengan sekolah. Di sini kita dapat memahami bahwa tidak ada sekolah favorit atau pengkhususan terhadap label sekolah. Sistem ini juga mengajarkan setiap masyarakat agar dapat menghargai keberagaman, termasuk keberagaman sosial dan ekonomi.

Dunia Pendidikan di Era Society 5.0

Perkembangan teknologi dan komunikasi kini membawa arus yang cukup drastis, baik dalam kehidupan masyarakat umum maupun pada dunia industri. Era Society 5.0 merupakan sebuah era di mana manusia harus hidup berdampingan dengan teknologi. Disadari atau tidak, kita telah hidup di era globalisasi yang pesat, hal ini juga menyebabkan evolusi teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT) dan robotika memberikan perubahan signifikan pada umat manusia.

5 Contoh Media Pembelajaran Berbasis Digital
e-Learning sendiri merupakan contoh media pembelajaran digital dengan penerapan multimedia interaktif.

Globalisasi yang pesat telah membuat perubahan yang sangat mendasar pada aspek kehidupan. Pada era Society 5.0 segala sektor kehidupan lebih banyak kaitannya dengan teknologi, bahkan hal-hal tradisional sekalipun kini dapat dikemas melalui teknologi. Hal ini mengharuskan kita berpikir kritis serta mampu beradaptasi serta berinovasi.

Kehadiran era 5.0 ini diharapkan agar kita sebagai makhluk berakal dapat terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pendidikan juga harus bertransformasi di era Society 5.0 ini. Pemanfaatan teknologi untuk kurikulum terkini memiliki dampak besar di saat dunia mengalami paandemi Covid-19.

Pembelajaran berlangsung melalui daring dan sumber belajar lebih beragam. Hanya saja, di Indonesia sendiri masih dinilai kurang merata, terutama di pelosok.

Mereka yang berada di pedalaman Indonesia masih sulit mengakses internet. Bahkan, ada beberapa daerah yang belum mengenal teknologi semacam telepon pintar, komputer dan sejenisnya. Maka dari itu perlu sekali dunia pendidikan mampu beriringan dengan teknologi agar setiap anak di Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, baik dari segi kurikulum maupun sarana pra-sarana.

Di era Society 5.0 peserta didik tak hanya diharuskkan  memiliki  cara berpikir yang kritis, tetapi juga kemampuan menganalisa dan kreasi. High Other Thinking Skills (HOTS) atau cara berpikir tingkat tinggi merupakan ide cemerlang dalam menemukan konsep pengetahuan yang sangat tepat dengan praktik langsung dan dapat merasakan bagaimana cara menghadapi masalah-masalah yang ada di lingkungan.

Model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan nalar berpikir kritis peserta didik ada beberapa macam, antara lain ; Inquiry Learning, Discovery Learning, Project Based Learning, dan Problem Based Learning.

Dari sisi para tenaga pendidik, pastinya harus mempelajari juga metode-metode belajar terbaru yang mengikuti perkembangan dalam era Society 5.0. Apalagi guru merupakan individu yang bertatap muka langsung menghadapi siswa. Mereka pasti mengetahui permasalahan apa saja yang siswa hadapi dalam proses belajar.

Namun yang perlu kita ketahui, meski teknologi berkembang pesat saat ini, isu kemanusiaan, kesetaraan, kesehatan mental, perkembangan psikologis siswa juga harus tetap dijadikan pegangan agar mereka dapat tumbuh dengan baik.

Hubungan Kurikulum Merdeka dan Society 5.0

Seperti yang sudah kita pahami bahwa Kurikulum Merdeka digagas sebagai kurikulum yang lebih fleksibel dan menyesuaikan perkembangan psikologis serta bakat minat para peserta didik. Hal yang menjadi perhatian dalam kurikulum ini ialah adanya materi yang esensial dan pengembangan karakter serta kompetensi peserta didik.

Hal yang perlu kita ketahui tentang karakteristik Kurikulum Merdeka antara lain;

a. Pembelajaran berdasarkan pada proyek, pengembangan soft skill, pematangan karakter yang disesuaikan dengan profil Pelajar Pancasila.

b. Memiliki konsentrasi pada informasi yang paling penting, hal ini berguna untuk memberikan cukup waktu untuk studi mendalam tentang keterampilan dasar seperti melek huruf serta berhitung.

c. Tenaga pendidik memiliki kebebasan untuk melakukan penyesuaian terhadap metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa, baik dalam konteks lokal maupun dalam mata pelajaran.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah melakukan upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia pada tahun 2019. Langkah awal mereka ialah dengan memperkenalkan gagasan Kebebasan Belajar. Hal tersebut merupakan hasil dari kebijakan program Belajar Mandiri. Namun tentunya di tahun 2023 ini semua suda teradaptasi dengan baik serta berkali-kali melakukan penyesuaian.

Merdeka Belajar merupakan bagian penting dari Kurikulum Merdeka. Hal ini dinilai sebagai inovasi yang cemerlang karena memiliki dampak yang cukup baik di dunia pendidikan. Dalam proses implementasinya, pasti mengalami banyak kendala, misalnya terkait kebijakan yang harus menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi sebelumnya.

Selain itu, era Society 5.0 juga memiliki peran dalam perubahan pada kebiasaan para peserta didik. Terdapat beberapa hasil penelitian yang dapat kita jadikan rujukan terkait implementasi Kurikulum Merdeka yang bisa direlasikan dengan Society 5.0.

Penelitian yang dilakukan oleh Houtman (2020) menjelaskan Merdeka Belajar menjadi inovasi dalam memberikan pada pemangku kebijakan terkait pelaksanaan kebijakan bahwa hasil belajar tidak selalu bisa diukur dari aspek kognitif berupa nilai, tetapi aspek afektif dan psikomotorik berupa sikap, keterampilan, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kompetensi juga diperlukan. Akreditasi juga menjadi faktor penentu lembaga pendidikan memberikan kualitas yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan.

Hal ini sesuai dengan kemunculan Society 5.0 yang merupakan dampak dari pesatnya revolusi industri 4.0. Era tersebut memiliki pengaruh besar pada tatanan yang awalnya industri konvensional menjadi industri digital. Seperti ojek pangkalan menjadi ojek online, telepon yang awalnya hanya bisa diakses melalui wartel kini semua orang memiliki telepon genggam.

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Era Digital dan Merdeka Belajar
Cara meningkatkan motivasi belajar siswa di era digital dan merdeka belajar ini adalah mengajak siswa membuat tujuan belajar.

Penelitian serupa yang dilakukan oleh K. Nagy dan E. Hajrizi pada tahun 2022 menjelaskan pengembangan model inovasi dalam dunia pendidikan sangat bermanfaat bagi transformasi kebutuhan sosial. Konsep era Society 5.0 tengah diperiksa melalui proses perencanaan serta implementasi inovasi. Pencetusan model inovasi akan terus disesuaikan dengan kebutuhan Society 5.0 terkait inovasi.

Paradigma menciptakan inovasi dalam menyesuaikan dengan kebutuhan Society 5.0 semakin mudah dan mampu membantu pemulihan dari global pandemi covid-19 karena kemajuan teknologi. Mari kita tinjau kembali fasilitas dan kebutuhan masing-masing sekolah di negeri ini, penting untuk menerapkan kurikulum mandiri agar siswa terlatih  lebih optimis dalam menghadapi tantangan di era disrupsi dan Society 5.0.