ECOMSTER, Strategi Pendidikan Karakter Ala Menteri Nadiem

Penunjukkan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam Kabinet Indonesia maju Presiden Joko Widodo (2019-2024), sedikit mengejutkan publik. Pasalnya Nadiem belum pernah berkecimpung dan berkarir dalam mengelola pendidikan. Sebaliknya, Nadiem selama ini banyak berkiprah pada sektor ekonomi dan bisnis digital. Bahkan pada posisi terakhir sebelum ditunjuk sebagai menteri, Nadiem adalah CEO (Chief Executive Officer) dari perusahaan startup jasa transportasi online yang didirikannya sendiri.

Keraguan publik tersebut, dengan cepat direspon beliau dengan segera membuat berbagai gebrakan dan kebijakan yang responsif. Mengingat saat ini dan kedepan kita juga dihadapkan dengan era industri 4.0. Individu yang memiliki kemampuan kreatif, adaptif, dan berkarakter tentu saja sangat diperlukan, sehingga orientasi poin kebijakan yang dibuat juga sejalan dengan tema tersebut.

Salah satu kebijakan unggulan yang diinisiasi oleh Mendikbud (Nadiem Makarim) adalah mengenai penguatan pendidikan karakter sebagai perangkat utama dalam sistem pendidikan. Hal ini tidak semata berdasarkan ide pribadi beliau melainkan juga merupakan interpretasi dari visi misi presiden, yang mana juga memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

5 Kebijakan Utama Mendikbud Nadiem Makarim

Ada setidaknya lima (5) kebijakan utama yang menjadi fokus realisasi Mendikbud, yaitu : 1). pendidikan karakter yang berasaskan Pancasila; 2). deregulasi dan debirokratisasi guna mempercepat jalannya kebijakan strategis; 3). meningkatkan investasi dan inovasi; 4). penciptaan lapangan kerja dengan menguatkan pendidikan pelatihan dan vokasi yang inovatif dan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja; 5).pemberdayaan dan pemerataan akses teknologi pada setiap institusi pendidikan seluruh Indonesia.

Melalui lima (5) program strategis di atas, dapat dilihat jika adanya keinginan untuk menggeser paradigma lembaga pendidikan dari ‘bagaimana menciptakan tenaga kerja’, menjadi ‘bagaimana menciptakan lapangan kerja’. Hal ini merupakan gagasan ideal untuk membangun SDM yang kompetitif, unggul, mandiri dan berkarakter.

Pendidikan Karakter dan Pengamalan Pancasila Sebagai Modal Utama Menyongsong Industri 4.0

Pada pembahasan ini, kita akan berfokus pada kebijakan pertama, yaitu mengenai penguatan pendidikan karakter.

Penguatan pendidikan karakter dan pengamalan pancasila diyakini merupakan aspek yang perlu diperhatikan terlebih dahulu karena berkaitan dengan hal mendasar pada setiap individu. Apalagi dengan modernisasi dan perubahan yang begitu cepat saat ini, setiap pemuda harus memiliki karakter yang kuat, agar tidak mudah terjerumus dalam demoralisasi dan pada akhirnya membentuk sifat dan karakter yang buruk atau bertentangan dengan nilai-nilai karakter dan moral bangsa.

"Pertama, yang terpenting itu pendidikan karakter. Sekarang yang sedang terjadi dengan besarnya peran teknologi, kalau pemuda tidak punya karakter, integritas, analisa informasi dengan kuat, maka akan tergerus dengan berbagai macam informasi yang tidak benar," ujar Nadiem Makarim, dikutip dari tulisan Ratna Puspita di republika.co.id.

Pendidikan karakter sendiri seperti menurut Hamid dan Saebani (2013) merupakan pendidikan budi pekerti yang melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan karakter menjamah unsur mendalam dari pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Pendidikan karakter menyatukan tiga unsur tersebut.

Ramli (2003) juga memaparkan jika pendidikan karakter pada esensinya memiliki akar yang sama yaitu pendidikan moral dan akhlak. Hal ini juga yang disampaikan oleh mendikbud (Nadiem Makarim), bahwa esensinya dari pendidikan karakter adalah moralitas universal, atau dalam bahasa agamanya disebut akhlak.

"Apa itu moralitas? Moralitas adalah prinsip-prinsip dasar hidup, prinsip-prinsip dasar cara berinteraksi dengan sesama manusia, prinsip dasar cara berinteraksi antar organisasi atau institusi," Kata Nadiem Makarim, dikutip dari tulisan Larasati Dyah Utami (wartawan tribunnews).

Nadiem menjelaskan bahwa pendidikan karakter yang memiliki landasan Pancasila selama ini direpresentasikan hanya sebatas pada metode penghafalan butir-butir Pancasila, namun minim pada pengamalan dan pengaplikasian. Padahal menurutnya hal penting dari pendidikan karakter adalah bagaimana seorang pendidik bisa memberikan dan menunjukkan contoh nyata nilai-nilai karakter yang sudah ada pada pancasila ke dalam aktivitas pembelajaran secara konkrit.

Hal ini sesuai dengan pendapat John W. Santrock dalam karyanya : Essential Psychology (2009) bahwa, pendidikan karakter merupakan pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik untuk menanamkan nilai moral dan memberikan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang.

Sehingga dalam mencapai tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut guru sebagai pendidik perlu secara aktual dan kontekstual menanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari pendidikan agama dan tentu saja Ideologi pancasila sebagai landasan budi pekerti bangsa ini.

Pengaktualisasian nilai-nilai ini tentu saja tidak hanya pada jenjang Sekolah Dasar (SD) melainkan juga berkelanjutan sampai pada pendidikan tinggi. Sehingga membutuhkan keterlibatan seluruh stakeholder dalam pelaksanaan pendidikan karakter ini. Perlu adanya keterbukaan dan partisipasi dari orang tua, pemerintah, dan tentu saja masyarakat.

Anak-anak dan para mahasiswa harus banyak dilibatkan pada aktivitas kemasyarakatan dan socialpreneur agar jiwa sosial dan nilai-nilai karakternya bisa tumbuh secara alami dan konstruktif. Hal ini bisa diwujudkan dengan berbagai macam program mata pelajaran dan praktik pembelajaran aplikatif yang tentu saja disesuaikan dengan kurikulum dan tujuan pembelajaran.

ECOMSTER Sebagai Gagasan Ideal dalam menghasilkan SDM yang Adaptif dan Berkarakter

Gagasan besar mengenai pengembangan SDM yang memiliki jiwa kompetitif dan berkarakter di era industri 4.0 sebenarnya sudah dipaparkan oleh Nadiem Makarim sebelum menjabat sebagai menteri yaitu pada seminar yang bertajuk “Pengembangan SDM Indonesia Menuju Ekonomi Digital” pada November 2019 di Bali.

Beliau mengemukakan bahwa perlu adanya investasi dalam mencetak sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, adaptif, dan berkarakter. Menurutnya tantangan yang dihadapi kedepan bukan lagi pada tingkat lokal melainkan sudah berskala global. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang cepat dan dinamis serta akan banyak disrupsi inovasi dalam segala bidang termasuk pendidikan.

Pada kesempatan ini Nadiem mengutarakan gagasan

ECOMSTER
(English, Coding, Mentoring, Statistik, dan Karakter),

untuk menghasilkan SDM seperti yang diharapkan. Bidang yang disebutkan di atas akan menjadi acuan dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran apabila nantinya gagasan ini dapat terealisasi.

Berkaitan dengan English, yaitu kecakapan dalam berbahasa inggris yang harus dimiliki oleh setiap anak Indonesia, mengingat saat ini semua komunikasi dan interaksi pada bidang profesional menggunakan bahasa inggris. Hal ini karena kita berada pada era pasar bebas dimana semua akan terhubung dan terkoneksi tanpa ada batasan.

Coding adalah gagasan mengenai perlunya ada mata pelajaran mengenai coding dan programmer, karena saat ini keahlian pada bidang pengembangan aplikasi dan perangkat lunak sangat dibutuhkan mengingat kita berada pada era industri 4.0, yang mana segala hal dan aktivitas saat ini berpusat dan berorientasi pada IoT (Internet of Things). Dengan keahlian coding, tentu akan menguatkan cara berpikir kritis dan kreatif anak-anak serta lebih dari itu bisa membuka peluang baru bagi berdirinya startup, inovasi dan ekosistem digital baru yang akan membantu menguatkan perekonomian dan kemajuan teknologi bangsa ini.

Mentoring adalah bagaimana anak muda dan pelajar kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, pelatihan aktual dan mentoring dari para ahli, pakar dan profesional dari berbagai bidang baik nasional maupun global. Ini yang disebut Nadiem dengan istilah ‘Brain Drain The World to Indonesia’. Hal ini semata agar anak-anak kita bisa mendapatkan pengetahuan dan skill yang link and match dengan dunia usaha dan industri.

Terkait Statistik juga menjadi bagian penting di era digital dan “Big Data” saat ini, karena statistika berkaitan dengan metode penelitian yaitu bagaimana mempelajari proses pengumpulan data, pengolahan data, hingga pengambilan kesimpulan berdasarkan data yang sudah dianalisis secara kritis dan sistematis.

Proses ini memiliki kemiripan dengan konsep HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang artinya kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diterapkan dalam pembuatan soal-soal latihan di sekolah saat ini yang membutuhkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis dan mensintesis secara komprehensif setiap soal dan pertanyaan.

Era saat ini segala keputusan penting, bergantung dari data-data yang sudah diolah dan dianalisis, tentu saja agar semua itu dapat berproses membutuhkan para pakar dan ahli-ahli pada bidang statistika dan analisis data yang kompeten.

Komponen terakhir, adalah bagaimana pentingnya peran pendidikan Karakter yang menjadi elemen krusial, karena berkaitan dengan moral, etika, dan mentalitas. Inisiasi ini dimulai dengan cara mengadakan pembelajaran psikologi di tingkat Sekolah Menengah Atas. Sebab dengan mempelajari ilmu psikologi menurut Nadiem, akan membuat mental anak-anak Indonesia bisa lebih tangguh, kredibel, bertanggungjawab dan berkarakter.

Pendidikan karakter menjadi prioritas Nadiem Makarim (Mendikbud) sebab pendidikan karakter yang dimaksud bukan semata pada aspek kognitif dan mental, melainkan juga berkaitan dengan etika dan moral.

Dengan itu, menurut Nadiem penerapan nilai-nilai moral dan etika yang berlandaskan pancasila jangan hanya dicetuskan sampai pada taraf kurikulum, untuk kemudian hanya dibaca dan dihafal sebatas teori, namun harus benar-benar diterapkan dalam aktivitas kehidupan akademis dan masyarakat yang lebih luas.

Membangun Portofolio Digital Untuk Masa Depan Anak
Jenis penilaian di K13 dibagi menjadi penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian keterampilan selain berdasarkan praktik dan proyek juga didasarkan atas portofolio siswa. Lantas bagaimana menyiapkan portofolio digital untuk masa depan anak?

"Kita tidak mungkin belajar nilai-nilai, kalau tidak dilakukan melalui kegiatan pendidikan karakter tersebut. Selain itu pendidikan karakter harus melibatkan keluarga dan masyarakat. Jadi salah satu yang akan saya canangkan adalah bagaimana pendidikan karakter langsung ada masyarakat dan konten-konten kekinian, agar masyarakat tahu apa itu moralitas, masyarakat sipil, akhlak melalui contoh nyata bukan filosofi," terang Nadiem, seperti dikutip dari tulisan Ratna Puspita di republika.co.id.

Jadi, jelas bahwa yang diinginkan Mendikbud (Nadiem Makarim) adalah bagaimana perlu adanya kolaborasi dan keterlibatan oleh seluruh pihak dalam mendukung dan mengaktualisasi pendidikan karakter dalam berbagai aspek kehidupan. Menurutnya Pendidikan karakter tidak hanya semata pada ranah akademik dan pembelajaran tapi lebih jauh akar yang harus diperkuat adalah pada lingkungan keluarga dan masyarakat sosial. Sehingga pendidikan karakter akan benar-benar teraktualisasi dalam setiap karakter anak-anak secara konstruktif dan utuh.

Pola Asuh yang Harus Diterapkan Agar Anak Berprestasi
Tidak semua orang tua mengerti pola asuh yang tepat untuk buah hatinya, terlebih untuk bisa menjadi bintang di sekolahnya. Lalu, apa pola asuh yang harus diterapkan agar anak bisa berprestasi?

Tentu kita memiliki harapan yang besar melalui gebrakan yang sedang dan akan dilakukan oleh Mendikbud (Nadiem Makarim) dengan berbagai program dan kebijakan strategisnya. Gagasan mengenai ECOMSTER, Link and Match, moralitas universal, Brain Drain The World to Indonesia, Job seeker to job creator, serta gagasan kreatif dan visioner lainnya semoga mampu terealisasi dan bisa menjadi batu loncatan terhadap peningkatan kualitas Pendidikan dan SDM bangsa ini.