Cara Membimbing Anak agar Mencintai Apa yang Mereka Lakukan

Rasa bosan dan jenuh adalah sesuatu yang manusiawi untuk dirasakan oleh kita semua, termasuk anak-anak. Ada kalanya, kita sebagai orang dewasa tidak bersemangat untuk melakukan rutinitas sehari-hari. Rasanya, apa yang dikerjakan hanya itu-itu saja.

Rasa bosan dan jenuh ini juga bisa dialami oleh anak-anak. Rutinitas anak hanya sebatas belajar di sekolah, bermain bersama teman-teman, dan menghabiskan waktu di rumah. Bermain mungkin menjadi hal yang akan selalu menyenangkan karena ada banyak jenis permainan yang bisa dilakukan. Tetapi pergi belajar ke sekolah mungkin menjadi sesuatu yang membosankan untuk anak. Padahal, belajar adalah gerbang menuju masa depan yang cerah.

Mengenal Faktor Internal yang Menghambat Siswa Dalam Belajar
Kegiatan pembelajaran harus diperhatikan dengan baik, untuk memastikan siswa bisa memahami dan menerima materi pelajaran dengan optimal.

Lalu, bagaimana agar anak-anak tidak bosan untuk belajar? Caranya yaitu buat anak untuk cinta belajar. Dalam kata lain, orang tua perlu membimbing anak agar mereka mencintai apa yang mereka lakukan.

Apa yang Dimaksud dengan Mencintai Apa yang Sedang Dilakukan?

sumber: https://www.pexels.com

Ketika seseorang mencintai sesuatu yang sedang ia lakukan, ia akan mampu menjaga semangatnya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Walaupun rasa bosan dan jenuh itu hadir, mereka akan selalu berusaha untuk jatuh cinta berkali-kali dengan apa yang sedang dilakukan.

Mereka menanamkan kepada diri sendiri mengenai rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Ketika seseorang sudah jatuh cinta dengan sesuatu yang sedang dilakukan, sesuatu tersebut menjadi nilai yang sangat berharga bagi mereka, tidak peduli apa pun yang terjadi.

Intinya, mencintai apa yang sedang dilakukan ialah memiliki rasa syukur, mengagumi, dan menyukai setiap tindakan yang kita lakukan untuk mengerjakan suatu hal. Jauh dari itu, mencintai apa yang sedang dilakukan juga bermakna kita akan bertanggung jawab terhadap semua konsekuensi yang ada dari hal tersebut. Sehingga kita tidak hanya mau menerima hal-hal positifnya saja, tetapi kita juga mau menerima sisi negatifnya.

Bagaimana Cara Membimbing Anak agar Mencintai Apa yang Mereka Lakukan?

sumber: https://www.pexels.com

Hal terpenting yang perlu dipahami oleh orang tua ketika membimbing anak agar mencintai apa yang mereka lakukan yaitu dengan melakukannya secara perlahan. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan masih sulit mencerna sesuatu secara cepat. Bukannya mengikuti arahan orang tua, anak justru menjadi pembangkang ketika orang tua terus memaksakan kehendaknya dengan tidak bijak dan tergesa-gesa.

Berikut cara membimbing anak agar mencintai apa yang mereka lakukan yang bisa diterapkan orang tua.

1. Tetap Jalani dan Lakukan Hal Tersebut

Cara pertama untuk mencintai sesuatu yang kita lakukan yaitu dengan tetap menjalani dan melakukan hal tersebut. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai sesuatu yang sedang dijalani jika yang ia lakukan hanya menghindar saja? Hal tersebut berlaku juga bagi anak.

Anak tidak mungkin bisa cinta belajar jika ia terus menghindari belajar. Bukannya belajar, anak malah sengaja mencari kegiatan lain sebagai alasan untuk tidak belajar, seperti bermain dan  mengajak orang tua jalan-jalan disaat ia memiliki tugas sekolah yang harus dikerjakan.

Orang tua bisa menjelaskan kepada anak mengenai arti tanggung jawab, sehingga anak bisa tetap belajar untuk menuntaskan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Selain itu, orang tua juga bisa berada di sisi anak ketika mereka mengerjakan tugas agar anak tidak merasa sendirian dan anak memiliki tempat untuk bertanya ketika menghadapi kesulitan.

Orang tua bisa membuat strategi untuk mengatur jam belajar anak dengan membuat selingan mata pelajaran. Orang tua bisa menyisipkan pelajaran yang anak sukai ketika ia  sudah bosan mempelajari mata pelajaran yang ia tidak suka.

2. Ketahui Makna dari Sesuatu yang Sedang Dilakukan

Selain mengajari anak mengenai rasa tanggung jawab, orang tua bisa menjelaskan makna dari belajar itu sendiri. Beritahu anak secara perlahan mengenai pentingnya belajar bagi masa depan mereka.

Mungkin sebelumnya anak mengikuti pelajaran di sekolah karena terpaksa, tetapi ketika ia sudah tahu betapa pentingnya pendidikan, ia akan menjalaninya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Belajar pun terasa lebih mudah karena anak sudah mencintai hal yang mereka lakukan.

3. Buat Daftar Hal yang Ingin Ditingkatkan dari Kegiatan yang Dilakukan Sekarang

Kadang, rasa bosan itu datang karena kita merasa tidak tertantang untuk mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, orang tua dapat membimbing anak untuk membuat daftar hal yang ingin ditingkatkan dari proses belajar. Misalnya, anak menyukai pelajaran musik.

Orang tua dapat membantu anak untuk membuat target dalam pelajaran musik. Sebagai contoh, anak mampu menguasai alat musik gitar dalam jangka waktu tertentu, atau anak bisa memainkan lagu tertentu. Dengan demikian, anak akan menjadi penasaran dan akhirnya mencapai target tersebut.

4. Ciptakan Lingkungan Senyaman Mungkin

Ketika anak bosan belajar, orang tua dapat mendukungnya dengan menciptakan lingkungan senyaman mungkin untuk belajar. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Yang pertama, orang tua bisa menyiapkan camilan kesukaan anak untuk menemani mereka belajar di rumah. Yang kedua, orang tua bisa mendesain kamar anak sebagai ruang yang menyenangkan untuk belajar; seperti meletakkan aromatherapy, memasang musik yang menciptakan suasana relaks, atau membelikan perlengkapan belajar seperti buku catatan dan alat tulis.

Yang ketiga, orang tua bisa merancang liburan bersama anak ketika libur sekolah tiba. Jika lingkungan kita sudah nyaman untuk melakukan rutinitas, maka kita pun akan semakin bersemangat menjalaninya dan perlahan mencintai hal yang kita lakukan.

5. Jadilah Teman Diskusi Anak

Kadang, anak merasa sungkan untuk bercerita kepada orang tua mengenai kesulitan yang mereka hadapi. Jika demikian, orang tua bisa berperan sebagai teman diskusi bagi anak. Pada posisi ini, orang tua bisa memposisikan diri sebagai teman anak, sehingga kita tidak perlu menggurui mereka ketika berdiskusi dengannya.

Walaupun orang tua memposisikan diri sebagai teman anak, orang tua tetap boleh memberikan pandangannya sebagai orang yang sudah penah melewati fase tersebut. Sekali lagi, jangan terlihat menggurui ya. Takutnya anak menjadi sungkan ketika berdiskusi dengan orang tua tetapi justru merasa dihakimi.

6. Buat Catatan Harian Mengenai Kegiatan yang Sudah Dilakukan

Cara terakhir yang bisa diajarkan orang tua kepada anak untuk mencintai hal yang mereka lakukan yaitu membuat catatan harian. Catatan harian tersebut berisikan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan anak dalam satu hari. Cara ini terlihat sederhana, tetapi memiliki arti yang besar untuk membantu kita dalam mencintai sesuatu yang kita lakukan. Tidak peduli kegiatan tersebut merupakan hal kecil ataupun besar, anak bisa menuliskannya dalam catatan harian.

Kegiatan ini adalah proses untuk menyadari anak terhadap potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Selain itu, kegiatan ini merupakan proses menumbuhkan rasa syukur terhadap sesuatu yang sudah kita selesaikan. Dengan demikian, anak akan semakin mencintai hal-hal yang sudah ia lakukan dan bersemangat untuk melakukan hal yang lebih besar lagi.

Pentingnya Memahami Karakteristik Siswa, Bagaimana Caranya?
Karakteristik siswa ini tidak hanya sifat bawaan sejak lahir, melainkan juga terbentuk melalui sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Demikian artikel mengenai cara membimbing anak agar mencintai apa yang mereka lakukan. Ikuti blog.kejarcita.id untuk mendapatkan kumpulan artikel seputar pendidikan jarak jauh, usaha sosial dan inovasi teknologi.