7 Permasalahan yang Dihadapi Guru di Indonesia Saat Ini

Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur kemajuan dan keberhasilan bangsa. Kualitas pendidikan yang baik tak terlepas dari peran seorang guru. Kualitas guru dan profesionalnya dalam menjalankan tugas menjadi poros utama berlangsungnya pembelajaran sistematis dan tersruktur diyakini berperan penting dalam mencetak generasi yang bermutu dan berdaya saing global.

Kendati menjadi ujung tombak pendidikan, profesi guru tak terlepas dari berbagai permasalahan yang harus dihadapi. Berikut 7 permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia saat ini.

1. Kuantitas

Meskipun data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah guru yang cukup besar seperti yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik bahwa di tahun ajaran 2022/2023 mencapai 3,37 juta guru. Artinya terdapat kenaikan jumlah guru sekitar 2,7% dari tahun ajaran sebelumnya namun Indonesia tetap saja masih kekurangan jumlah guru. Apalagi jumlah guru saat ini belum semua memiliki sertifikasi, padahal sertifikasi menjadi ukuran kelayakan sebuah profesi.

2. Pendataan

Pendataan guru berguna untuk mengetahui jumlah supply dan demand yang sesungguhnya. Namun, proses pendataan guru sering kali mengalami masalah karena tiap tahun terdapat perubahaan data guru. Sehingga untuk mengetahui jumlah kekurangan dan kelebihan guru dengan akurat menjadi sulit. Salah satu indikasinya karena data yang dilaporkan oleh pihak sekolah tidak sesuai kenyataan lantaran adanya guru yang mengajar tidak sesuai ijazah dan keahliannya.

3. Pemerataan

Distribusi guru yang belum merata dapat terjadi karena perekrutan maupun penempatan guru yang tidak proporsional. Tak heran, di dalam satu wilayah terdapat sekolah yang memiliki kelebihan guru namun yang lainnya justru kekurangan jumlah guru. Masalah distribusi yang kurang merata ini banyak terjadi di Daerah 3T.

Sulitnya menempatkan guru di Daerah 3T disebabkan beberapa faktor seperti terbatasnya fasilitas, keamanan dan kesejahteraan yang akan diterima guru apabila mengabdikan diri.

Tips Membangun Pengajaran Berbasis Bukti untuk Siswa
Pengajaran berbasis bukti yakni sebuah prinsip bahwa guru harus menggunakan penelitian untuk bisa membuat keputusan yang tepat berkaitan dengan pembelajaran

4. Kompetensi

Kompetensi yang harus dikuasai guru diantaranya pedagogik, kepribadian, professional dan sosial. Kompetensi guru diukur menjadi dalam dua kelompok oleh Kemendikbudristek yaitu kelompok guru yang bergelar Sarjana (S1) dan belum Sarjana. Kemendikbudristek mengungkap bahwa skor atau nilai kompetensi guru di Indonesia perlu ditingkatkan.

Guru yang belum kompeten akan kesulitan menerapkan inovasi pembelajaran sehingga pola-pola pembelajaran konvensional menjadi lebih sering diterapkan dikelas. Dalam proses pembelajaran, guru dituntut mampu mengelola pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi yang maksimal dan untuk mewujudkannya diperlukan kompetensi pedagogik dan professional seorang guru.

5. Kemajuan Teknologi

Kemajuan internet dan teknologi yang berubah dengan cepat masih menjadi permasalahan bagi guru untuk menyesuaikan dan menemukan sistem pembelajaran yang efektif dan mengikuti perkembangan, terutama bagi guru yang sudah lanjut usia. Padahal teknologi komunikasi yang modern saat ini, sudah seharusnya menjadi kebutuhan guru untuk mengakses informasi dalam menunjang pembelajaran.

Selain itu, pembelajaran di era digital ini juga ditandai dengan terintegrasinya informasi dan komunikasi yang dapat mempermudah siswa mengakses sumber materi dan pengetahuan yang berlimpah. Oleh karena itu, kemajuan teknologi bisa menjadi suatu permasalahan bagi guru apabila tidak dapat menyesuaikannya dengan baik karena akan mengurangi kemampuan guru untuk berinovasi dan kolaborasi dalam mencetak generasi yang berkualitas tinggi.

6. Kesejahteraan

Salah satu permasalahan guru di Indonesia yaitu kesejahteran. Masih banyak guru honorer atau swasta yang menerima gaji tidak layak atau di bawah UMR yang menyebabkan kehidupan mereka jauh dari sejahtera. Gaji yang rendah menunjukkan standar hidup yang rendah pula. Hal ini yang menyebabkan minat masyarakat untuk menjadi guru juga menurun sehingga persaingan generasi muda yang cerdas untuk masuk fakultas keguruan dan mengikuti pendidikan profesi guru juga tidak terlalu ketat.

Kesejahteraan yang rendah juga berdampak pada timbulnya krisis motivasi guru dalam belajar yang turut berpengaruh terhadap hasil pendidikan.

7. Perlindungan

Dalam proses pembelajaran dan upaya mendidik karakter siswa, tak jarang guru dilaporkan oleh orang tua. Pasalnya, mereka tidak terima sang anak ditegur, dipukul atau diingatkan guru dalam rangka mendidik siswa. Tak heran kini, banyak kabar yang didengar bahwa guru terluka karena orang tua yang ringan tangan atau masuk buik arena dilaporkan.

Kasus guru yang dilaporkan atau menjadi korban kekerasan orang tua menjadi bukti bahwa lemahnya perlindungan pemerintah terhadap profesi guru. Selain berbagai permasalahan di atas, guru juga memiliki beberapa tantangan eksternal yang harus dihadapi seperti krisis moral anak didik dan masyarakat global.

Dampak Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Peserta Didik
PTK merupakan rancangan penelitian yang sengaja dilakukan guru atau pendidik sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran di kelas

Persoalan moral dan etika anak bangsa tak bisa dilibatkan dari peran guru dalam mengajar kognitif dan psikomotorik siswa untuk diterapkan dalam kehidupan dan mencetak mereka menjadi manusia yang berkarakter. Tantangan mencetak generasi yang berkarakter bukan hal yang mudah, apalagi guru tidak memiliki akses kontrol selama 24 jam terhadap siswa sehingga tak sedikit yang terbawa arus pergaulan amoral di luar yang tidak diketahui oleh guru.

Pendidikan yang dipandang sebagai proses memanusiakan manusia membuat etika moral siswa selalu menjadi tantangan bagi guru. Selain itu peran masyarakat global juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru agar terus meningkatkan profesionalitasnya.

Guru yang professional, memiliki kemampuan komunikasi mempuni, kreatif dan inovatif, memiliki etos kerja serta berkomitmen terhadap profesinya akan mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini.

Berikut ini 3 tingkatan kualifikasi professional yang harus dimiliki guru.

1. Tingkat Capability

Guru diharapkan punya pengetahuan, kecakapan serta keterampilan dalam mengelola proses pembelajaran dengan efektif

2. Sebagai Inovator

Guru diharapkan menjadi inovator yang berkomitmen terhadap perubahan dan reformasi. Dengan pengetahuan, kecakapan dan keterampilannya, guru dapat mengambil peran terhadap pembaharuan melalui ide-ide kreatif yang dibangun dan disampaikannya kepada siswa

3. Sebagai Developer

Guru harus memiliki perspektif yang luas dan memiliki visi keguruan. Menjadi ujung tombak kemajuan bangsa, permasalahan yang dihadapi guru hendaknya perlu ditangani secara serius oleh pihak pemangku kepentingan.

Selain itu, guru sendiri juga hendaknya memiliki keinginan untuk terus belajar sepanjang hayat apalagi di tengah perkembangan digital yang begitu pesatnya, guru harus aktif mencari informasi untuk mengembangkan inovasi dalam pembelajaran, kreatif dan berusaha untuk keluar dari zona nyaman mereka.

Ketika guru telah mampu menjadi mentor dan contoh yang baik untuk siswa serta mampu bersinergi dengan lingkungan, maka peran mereka sebagai ujung tombak kemajuan pendidikan sudah terlaksana dengan baik. Dengan demikian, kesempatan untuk sejajar dengan bangsa lain yang lebih maju juga terbuka karena kualitas pendidikan yang ikut mengalami peningkatan.

Pentingnya penanganan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia karena menyangkut kualitas pendidikan disebabkan tantangan globalisasi saat ini yang menuntu terselenggaranya pendidikan bermutu. Kendati begitu, pendidikan bermutu juga tak bisa dipisahkan dari kurikulum yang diterapkan. Oleh karena itu, guru harus cakap untuk menyesuaikan perubahan kurikulum dengan proses pembelajaran kreatif dan inovatif di kelas.