7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Membantu Guru Menjaga Kesehatan Mental

Dalam menjalankan tugasnya, guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga mengelola kelas, menyiapkan perangkat ajar, melakukan penilaian, dan menyelesaikan berbagai administrasi sekolah. Beragam tanggung jawab tersebut dapat memicu stres dan kelelahan, terutama jika tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup dan pengelolaan emosi yang baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi hal penting agar guru dapat menghadapi berbagai tantangan pekerjaan, membangun hubungan positif dengan murid, dan menjalankan kegiatan mengajar dengan nyaman. Upaya menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti mengatur waktu kerja, meluangkan waktu untuk beristirahat, serta menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

1. Mengatur Waktu Kerja dan Istirahat dengan Seimbang

Mengatur waktu kerja merupakan salah satu langkah penting yang dapat dilakukan guru untuk menjaga kesehatan mental. Dalam kesehariannya, guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga perlu menyiapkan perangkat ajar, memeriksa tugas, melakukan penilaian, dan menyelesaikan administrasi sekolah. Jika seluruh pekerjaan tersebut tidak dikelola dengan baik, guru dapat merasa kewalahan dan kesulitan membagi waktu untuk beristirahat.

Untuk mengatasinya, guru dapat membuat jadwal harian dan menentukan prioritas pekerjaan. Misalnya, menyelesaikan tugas yang memiliki tenggat waktu paling dekat terlebih dahulu, kemudian melanjutkan pekerjaan lain sesuai tingkat kepentingannya. Guru juga dapat memanfaatkan waktu luang di sekolah untuk menyelesaikan tugas-tugas ringan agar pekerjaan tidak menumpuk setelah pulang.

Selain itu, guru perlu menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hindari kebiasaan membawa semua pekerjaan ke rumah atau menyelesaikan tugas hingga larut malam jika tidak mendesak. Setelah jam kerja berakhir, guru dapat meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan hobi, atau sekadar beristirahat. Dengan pembagian waktu yang lebih seimbang, guru dapat menjaga energi, mengurangi tekanan pekerjaan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Psikoedukasi untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental pada Guru
Psikoedukasi literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai wawasan mengenai gangguan mental serta kesadaran dan pengetahuan mengenai kesehatan mental

2. Meluangkan Waktu untuk Beristirahat Sejenak

Kesibukan mengajar sering kali membuat guru harus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Mulai dari mengajar di kelas, mendampingi murid, mengikuti rapat, hingga menyelesaikan administrasi. Jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda, rutinitas tersebut dapat membuat tubuh terasa lelah dan pikiran sulit berkonsentrasi. Oleh karena itu, guru perlu membiasakan diri meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak di sela-sela kesibukan.

Istirahat tidak selalu harus dilakukan dalam waktu yang lama. Guru dapat memanfaatkan beberapa menit di antara kegiatan untuk melakukan peregangan ringan, minum air putih, menikmati udara segar, atau duduk dengan tenang sebelum melanjutkan pekerjaan. Jeda singkat ini dapat menjadi kesempatan untuk mengalihkan perhatian sementara dari tugas yang sedang dikerjakan dan membantu tubuh merasa lebih nyaman.

Selain istirahat selama bekerja, guru juga perlu memperhatikan kualitas tidur pada malam hari. Tidur yang cukup membantu tubuh memulihkan energi dan mendukung kemampuan mengatur emosi. Sebaiknya, guru menghindari kebiasaan bekerja hingga terlalu malam dan membangun rutinitas tidur yang teratur. Dengan memberikan waktu istirahat yang memadai, guru dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kegiatan pembelajaran berikutnya dengan kondisi yang lebih baik.

sumber: kejarcita.id

3. Membiasakan Diri Mengenali dan Mengelola Emosi

Dalam proses pembelajaran, guru dapat menghadapi berbagai situasi yang menguji kesabaran. Misalnya, ketika murid sulit berkonsentrasi, suasana kelas menjadi kurang kondusif, atau hasil pembelajaran belum sesuai dengan harapan. Selain itu, tuntutan administrasi dan keterbatasan waktu juga dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, berbagai situasi tersebut dapat memengaruhi suasana hati dan kenyamanan guru saat bekerja.

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah membiasakan diri mengenali emosi yang muncul. Ketika merasa kesal, cemas, atau kewalahan, guru dapat mencoba memahami penyebab perasaan tersebut sebelum mengambil tindakan. Misalnya, guru menyadari bahwa dirinya mudah tersinggung karena kelelahan atau memiliki terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan. Dengan mengenali pemicunya, guru dapat menentukan langkah yang lebih tepat untuk mengatasi situasi tersebut.

Guru juga dapat melakukan latihan pernapasan secara perlahan ketika mulai merasa tertekan. Berhenti sejenak sebelum merespons situasi yang memicu emosi dapat membantu guru mempertimbangkan tindakan dengan lebih tenang. Setelah kegiatan mengajar selesai, guru dapat melakukan refleksi sederhana mengenai hal-hal yang berjalan baik dan situasi yang perlu diperbaiki. Kebiasaan ini membantu guru memahami dirinya sendiri sekaligus menemukan cara yang lebih efektif untuk menghadapi tantangan pembelajaran.

4. Tidak Ragu Berbagi Cerita dengan Orang Terpercaya

Menjalankan berbagai tanggung jawab di sekolah terkadang membuat guru merasa lelah secara fisik maupun emosional. Dalam situasi tertentu, guru mungkin merasa kesulitan menghadapi masalah di kelas, tekanan pekerjaan, atau tuntutan untuk memenuhi harapan berbagai pihak. Jika semua beban tersebut dipendam sendiri, guru dapat merasa semakin terbebani. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memiliki orang terpercaya yang dapat diajak berbagi cerita.

Guru dapat menceritakan pengalaman atau kesulitan yang dihadapi kepada rekan kerja, sahabat, pasangan, maupun anggota keluarga. Berbagi cerita memberikan kesempatan bagi guru untuk mengungkapkan perasaan dan memperoleh sudut pandang lain. Terkadang, mendengarkan pengalaman orang lain yang menghadapi tantangan serupa juga dapat membantu guru menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan.

Di lingkungan sekolah, kebiasaan saling mendukung dapat dibangun melalui diskusi antarguru, berbagi strategi mengajar, atau bekerja sama menyelesaikan tugas tertentu. Lingkungan kerja yang terbuka dan suportif dapat membantu guru merasa lebih nyaman ketika menghadapi masalah. Namun, apabila tekanan emosional berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, atau memengaruhi aktivitas sehari-hari, guru sebaiknya mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional yang sesuai. Meminta bantuan merupakan salah satu langkah untuk merawat diri, bukan tanda ketidakmampuan dalam menjalankan profesi.

5. Melakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur

Menjaga kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan pikiran dan perasaan, tetapi juga dengan kondisi fisik. Guru yang memiliki jadwal padat terkadang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdiri saat mengajar, duduk memeriksa tugas, atau bekerja di depan komputer. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, tubuh dapat terasa kaku dan mudah lelah. Karena itu, melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat menjadi kebiasaan sederhana yang mendukung kesejahteraan guru.

Guru tidak harus langsung melakukan olahraga berat untuk memulai kebiasaan ini. Aktivitas sederhana, seperti berjalan kaki pada pagi atau sore hari, melakukan peregangan setelah mengajar, bersepeda santai, maupun mengikuti senam dapat menjadi pilihan. Guru dapat menyesuaikan jenis dan durasi aktivitas dengan kondisi tubuh serta waktu yang tersedia. Hal terpenting adalah memilih kegiatan yang nyaman dan dapat dilakukan secara konsisten.

Aktivitas fisik dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi ketegangan, dan mendukung kualitas tidur. Selain itu, olahraga bersama keluarga atau rekan kerja dapat menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sosial di luar rutinitas pekerjaan. Dengan menyisihkan waktu untuk bergerak, guru tidak hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani berbagai aktivitas di sekolah.

6. Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Setiap guru memiliki latar belakang, pengalaman, keterampilan, dan tantangan yang berbeda. Ada guru yang mampu menggunakan teknologi pembelajaran dengan baik, ada yang memiliki keterampilan mengelola kelas, dan ada pula yang unggul dalam membangun komunikasi dengan murid. Melihat kemampuan rekan kerja tentu dapat menjadi inspirasi untuk berkembang. Namun, jika terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, guru dapat merasa kurang mampu dan mengabaikan perkembangan yang telah dicapainya.

Untuk menghindari hal tersebut, guru perlu membiasakan diri berfokus pada proses pengembangan pribadi. Daripada terus memikirkan kemampuan yang belum dimiliki, cobalah mengevaluasi keterampilan yang sudah berkembang dan hal-hal yang masih dapat diperbaiki. Misalnya, guru yang sebelumnya kesulitan menggunakan media pembelajaran digital dapat menghargai kemajuannya ketika mulai mampu membuat presentasi interaktif atau memanfaatkan video pembelajaran di kelas.

Guru juga dapat menetapkan target pengembangan diri yang realistis sesuai kebutuhan. Tidak semua metode pembelajaran atau teknologi baru harus dikuasai dalam waktu bersamaan. Pilih satu keterampilan yang ingin ditingkatkan, pelajari secara bertahap, lalu terapkan dalam kegiatan mengajar. Dengan menghargai proses dan pencapaian kecil, guru dapat membangun kepercayaan diri sekaligus mengurangi tekanan yang muncul akibat perbandingan sosial.

7. Terus Mengembangkan Kompetensi Mengajar Secara Bertahap

Dunia pendidikan terus mengalami perkembangan, baik dalam penggunaan teknologi, pendekatan pembelajaran, maupun strategi untuk memenuhi kebutuhan murid yang beragam. Perubahan tersebut membuat guru perlu terus belajar agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pembelajaran. Namun, ketika guru merasa belum memiliki keterampilan yang memadai, perubahan tersebut terkadang justru menimbulkan kekhawatiran dan menambah beban pikiran.

Salah satu cara untuk menghadapinya adalah mengembangkan kompetensi mengajar secara bertahap. Guru dapat memulai dengan membaca referensi pendidikan, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti komunitas belajar, atau mempelajari metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan kelas. Guru juga dapat mengikuti pelatihan yang relevan untuk meningkatkan keterampilan dalam menyusun perangkat ajar, menggunakan teknologi pembelajaran, mengelola kelas, maupun melakukan asesmen terhadap perkembangan murid.

Kompetensi Pedagogik yang Perlu Dimiliki Guru dan Cara Mengembangkannya
Ada 4 kompetensi guru, seperti kompetisi pedagogik. Apa saja kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang guru?

Pengembangan kompetensi yang tepat dapat membantu guru memperoleh pengetahuan dan strategi baru untuk menghadapi tantangan pembelajaran. Misalnya, guru yang mempelajari pemanfaatan teknologi digital dapat menemukan cara untuk menyajikan materi dengan lebih menarik atau menyederhanakan beberapa pekerjaan pembelajaran. Hal ini dapat mendukung proses mengajar agar lebih terarah dan efektif.

Meskipun demikian, guru perlu memahami bahwa proses belajar membutuhkan waktu. Tidak perlu memaksakan diri untuk menguasai semua keterampilan sekaligus. Pilih pelatihan atau materi yang paling sesuai dengan kebutuhan, kemudian terapkan pengetahuan yang diperoleh secara bertahap. Dengan cara ini, pengembangan kompetensi dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas pembelajaran tanpa mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat dan menjaga kesehatan mental.

Kesimpulan:

Menjaga kesehatan mental merupakan hal penting bagi guru agar dapat menjalankan tugas dan menghadapi berbagai tantangan di sekolah dengan lebih baik. Kebiasaan sederhana, seperti mengatur waktu kerja, beristirahat secara teratur, mengelola emosi, berbagi cerita dengan orang terpercaya, melakukan aktivitas fisik, menghargai perkembangan diri, dan meningkatkan kompetensi secara bertahap dapat membantu guru menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain menerapkan kebiasaan tersebut, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga perlu didukung melalui lingkungan sekolah yang positif.

pelatihan kejarcita

Untuk mendukung kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan pendidikan, Kejarcita pernah menyelenggarakan pelatihan kesehatan mental yang ditujukan bagi murid. Program serupa juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru, mengingat kesehatan mental pendidik turut berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan nyaman. Jika sekolah ingin mengadakan pelatihan kesehatan mental bagi guru, silakan hubungi tim Kejarcita untuk mendiskusikan program yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.