5 Tips Menumbuhkan Budaya LIMAS untuk Memperkuat Karakter Siswa

Saat ini, pendidikan karakter sudah menjadi fokus utama dari sejumlah sekolah. Bukan hanya sekolah saja, beberapa universitas yang mengedepankan pendidikan karakter daripada pendidikan akademis. Untuk membentuk karakter anak harus dilakukan secara konsisten dan dibutuhkan proses yang cukup lama dan panjang. Lantas bagaimana tips menumbuhkan budaya LIMAS di sekolah?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan budaya LIMAS? Budaya LIMAS juga bisa disebut sebagai lima budaya sekolah. Budaya LIMAS atau budaya sekolah dimaknai sebagai sebuah tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan visi dan misi sekolah. Bisa juga dikatakan bahwa budaya sekolah berisi kebiasaan-kebiasaan yang telah disepakati bersama supaya bisa diterapkan dan dijalankan dalam jangka waktu yang lama. Apabila kebiasaan positif sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter tersebut sangat diharapkan bisa membentuk karakter anak yang baik.

Dalam membentuk atau memperkuat karakter seorang anak, perlu adanya suatu proses yang terjadi di dalam diri sendiri melalui pengalaman, pendidikan, dan pengaruh lingkungan. Selain itu, karakter juga akan terbentuk karena adanya nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang. Oleh karena itu, untuk membangun maupun meningkatkan karakter anak, seorang guru harus sedari dini menanamkan nilai-nilai moral, agama, dan kebiasaan baik supaya anak memiliki karakter yang positif.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa dalam pembentukan karakter dibutuhkan proses yang cukup lama karena dibutuhkan konsistensi dari semua warga sekolah. Dalam proses pembentukan karakter anak, harus dimulai dari suatu kebiasaan baik yang dilakukan dengan penuh komitmen dan dilakukan secara konsisten.

3 Syarat Pendidikan Karakter Berjalan Efektif

Adapun tiga syarat pendidikan karakter supaya dapat berjalan secara efektif menurut pendapat Doni Koesoema yaitu sebagai berikut.

1. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

Desain ini menerapkan interaksi antara guru dan siswa yang mana guru berperan sebagai seorang pendidik dan siswa berperan sebagai pelajar di kelas. Proses pembelajaran ini, kegiatan belajar tidak boleh berjalan secara monolog, yang mana guru menerangkan materi pembelajaran dan siswa mendengar penjelasan guru.

Dalam desain pembelajaran ini, hubungan antar guru dan siswa harus ada interaksi. Karena dengan adanya interaksi tersebut, akan tercipta pemahaman selama proses belajar. Dengan begitu, selain dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa, desain pembelajaran ini juga dapat memancing keaktifan siswa di dalam kelas.

2. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah

Pada desain pembelajaran ini, sekolah menekankan nilai-nilai kejujuran dan moral siswa. Untuk menanamkan pendidikan karakter, guru tidak hanya bertugas dalam memberikan pesan-pesan moral saja. Dalam hal ini, pesan-pesan moral tersebut akan dibarengi dengan peraturan sekolah yang bersifat tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran siswa. Selain itu, norma-norma yang diajarkan guru dapat membangun kultur sekolah yang dapat membentuk karakter siswa.

3. Desain Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas

Dalam menerapkan desain pendidikan karakter berbasis komunitas, sekolah tidak hanya berjuang secara sendirian saja. Bukan hanya sekolah saja, tetapi masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum dan negara memiliki tanggung jawab moral untuk membangun pendidikan karakter untuk siswa.

Dalam proses pembentukan karakter siswa, harus ada pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Dengan adanya proses pembiasaan inilah tercipta suatu budaya. Sehingga dalam membentuk karakter siswa di sekolah, perlunya suatu proses pembiasaan atau budaya positif yang dilakukan di sekolah. Adapun lima budaya atau biasa disebut dengan budaya LIMAS di sekolah yang dapat memperkuat karakter anak yaitu seperti gerakan literasi sekolah, kegiatan ekstrakulikuler, suatu pembiasaan saat KBM sedang berlangsung, berperilaku baik, dan tata tertib sekolah.

Kegiatan Ekstrakurikuler yang Dapat Menumbuhkan Karakter Pelajar Pancasila
Ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan di sekolah yang dilakukan diluar jam pelajaran sekolah.

5 Tips Menumbuhkan Kembali Budaya LIMAS di Sekolah untuk Memperkuat Karakter Anak

Berikut merupakan beberapa tips menumbuhkan budaya LIMAS di sekolah untuk memperkuat karakter anak. Simak penjelasan di bawah ini.

1. Membangun Kembali Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan literasi sekolah merupakan suatu gerakan dalam menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan supaya siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga akan tercipta suatu pembelajaran sepanjang hayat. Dalam penerapannya, gerakan literasi sekolah ini melibatkan semua warga sekolah, seperti guru, peserta didik, orang tua/wali murid, dan masyarakat setempat.

Adapun tujuan gerakan literasi sekolah yaitu untuk menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti siswa, membentuk serta meningkatkan budaya literasi dan insan literat di lingkungan sekolah, meningkatkan pengetahuan di lingkungan sekolah dan menjadi wadah untuk menumbuhkan strategi membaca.

Gerakan literasi sekolah juga memiliki beberapa manfaat seperti memperkaya pengetahuan kosa kata, meningkatkan pemahaman pembelajaran Bahasa Indonesia, menambah wawasan baru, meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis dan menyusun kata-kata, serta mengasah daya ingat melalui kegiatan membaca.

2. Melakukan Kegiatan Ekstrakulikuler

Adapun kegiatan ekstrakulikuler dibuat untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik. Dalam hal ini, sekolah berperan sebagai fasilitator peserta didik dalam mengembangkan minat dan bakat siswa. Apabila kegiatan ekstrakulikuler ini dapat berjalan dengan baik, maka banyak sekali kegiatan positif yang akan didapatkan siswa.

Beberapa kegiatan ekstrakulikuler yang dapat dikembangkan seperti karya ilmiah, pramuka, kerohanian, seni dan olah raga. Selain itu, kegiatan ekstrakulikuler juga dapat melatih mental dan fisik siswa karena terlibat dalam suatu organisasi maupun komunitas, sehingga di masa yang akan datang siswa tersebut akan terbiasa dengan aktivitas yang memerlukan pemikiran dan tenaga lebih.

3. Melakukan Kegiatan Pembiasaan pada Awal dan Akhir KBM

Pada kegiatan ini, sekolah berperan penting dalam membentuk kebiasaan yang bersifat rutin. Dalam kegiatan ini, guru bertanggung jawab dalam terlaksananya kegiatan ini. Adapun beberapa kegiatan yang bisa dilakukan secara rutin yaitu seperti melakukan apel di depan kelas, menyanyikan lagu Indonesia Raya atau Lagu Nasional, mengikuti kegiatan upacara bendera di hari Senin atau hari-hari penting lainnya dan berdoa sebelum dan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.

Apabila kegiatan tersebut bisa terlaksana dengan baik, maka siswa akan memperoleh banyak sekali manfaat. Manfaat yang bisa dirasakan siswa yaitu menjadi lebih dekat dengan Tuhan, mampu menyanyikan lagu nasional dan daerah, dan lain sebagainya.

4. Membiasakan Perilaku Baik yang Bersifat Spontan

Apabila seseorang sudah terbiasa berperilaku baik, maka besar kemungkinan mereka pun akan melakukan kegiatan baik secara spontan. Hal ini bisa terjadi karena adanya kegiatan rutin di sekolah.

Kegiatan Pembelajaran untuk Menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila
Pelajar Pancasila adalah pelajar yang memiliki karakter berlandaskan falsafah Pancasila atau memiliki nilai sila-sila Pancasila secara utuh dan komprehensif.

5. Menetapkan dan Menjalankan Tata Tertib Sekolah

Tata tertib di sekolah dijadikan sebagai patokan dan dasar atas tindakan semua warga sekolah. Dalam pembuatannya, harus adanya kesepakatan supaya tata tertib tersebut bisa dijalankan bersama. Dengan begitu, situasi di sekolah akan berjalan dengan tertib dalam jangka waktu yang lama karena adanya program sekolah bisa berjalan sesuai dengan aturan main.

Itulah beberapa tips menumbuhkan budaya LIMAS di sekolah yang dapat memperkuat karakter anak. Selain menanamkan budaya sekolah, perlu adanya niat dan komitmen yang kuat supaya budaya tersebut dalam terlaksana dengan baik. Hal ini dikarenakan sering adanya proses atau rencana kegiatan yang gagal karena kurang kuatnya komitmen semua warga sekolah dalam melaksanakan dan menerapkan budaya LIMAS sekolah.