Tips Menjaga Kesehatan Mental Remaja

Orang tua tidak hanya berperan penting dalam memberi pendidikan saja, tetapi juga berperan dalam menjaga kesehatan mental anak-anaknya. Menjaga kesehatan mental itu sangat penting untuk kepribadian dan perilaku seorang anak. Jika kesehatan mental seorang anak terganggu, kemungkinan besar mereka akan mengalami penyakit mental yang dapat membahayakan dirinya sendiri jika tidak ditangani secepat mungkin.

Pengertian Kesehatan Mental

sumber: https://www.pexels.com/

Kesehatan mental adalah kondisi individu yang menyadari kondisi emosi, kejiwaan, dan psikis yang dimilikinya. Peristiwa yang dialami seseorang dalam hidupnya akan berdampak besar pada kepribadian dan perilaku seseorang di masa yang akan datang.

Misalnya, ketika seorang anak mengalami pelecehan saat usia dini dan tidak ditangani dengan baik, maka kemungkinan besar anak tersebut akan tumbuh dengan kondisi jiwa yang terganggu yang dapat menimbulkan gejala gangguan kesehatan jiwa. Masalah kesehatan mental tidak hanya sebatas itu saja, jika kesehatan mental seseorang terganggu cara mereka dalam mengatasi stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan akan turut berubah, bahkan mereka memiliki hasrat untuk menyakiti dirinya sendiri.

Adapun beberapa jenis gangguan mental yang umum terjadi antara lain seperti depresi, gangguan bipolar, kecemasan, gangguan stress pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif komplusif (OCD), dan psikosis.

Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

1. Pengalaman Traumatis

Seseorang yang pernah mengalami pengalaman traumatis bisa mengalami gangguan mental kemudian hari. Adapun beberapa contoh pengalaman traumatis yang berdampak pada kesehatan mental seseorang yaitu seperti mengalami bencana alam, perundungan, tindakan kekerasan fisik, dan kekerasan seksual.

2. Proses Perkembangan

Perubahan hormon dan perkembangan otak ketika anak mulai bertumbuh bisa menyebabkan gangguan mental. Ketika semua sistem saraf tidak berkembang secara maksimal, kondisi ini dapat membuat seseorang mengalami perubahan pola pikir, suasana hati, hingga perilaku.

3. Lingkungan

Selain pengalaman traumatis dan proses perkembangan, kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental remaja. Timbulnya tekanan dari lingkungan keluarga bisa menjadi penyebab gangguan mental pada remaja.

4. Faktor Genetik

Gangguan kesehatan mental juga bisa dialami oleh para remaja akibat faktor genetik. Kemungkinan remaja yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi gangguan kesehatan mental akan mengalami hal yang serupa.

Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Rentan dialami Remaja

1. Gangguan Cemas

Berdasarkan penelitian yang dilakukan WHO, terdapat sekitar 14% anak-anak dengan rentang usia 10 – 14 tahun mengalami gangguan cemas. Gejala ini akan bertambah buruk ketika remaja telah memasuki tahap dewasa, yaitu pada usianya yang ke-21 tahun. Gangguan cemas tidak hanya sekadar mengalami perasaan cemas saja.

Gangguan ini dapat mempengaruhi kehidupan dan rutinitas hidup mereka sehari-hari. Dampak yang dirasakan oleh remaja penderita gangguan cemas ini akan sangat fatal jika tidak diatasi dengan segera. Adapun kondisi yang biasanya dialami oleh seseorang yang mengalami gangguan cemas yaitu seperti sering merasakan perasaan takur secara terus menerus, gelisah, mudah marah, hingga mengalami gangguan tidur.

2. Stres dan Depresi

Pelajaran yang semakin sulit, banyaknya tugas yang harus dikerjakan, serta tekanan yang didapatkan remaja dari lingkungan sekitarnya secara perlahan-lahan akan membuat mereka mudah mengalami stress dan depresi. Jika kondisi ini dibiarkan begitu saja, anak akan mengalami depresi berat dan akan berdampak fatal pada kesehatan tubuh dan mentalnya.

Ketika anak mengalami depresi, orang tua dapat mendekatinya secara intim dan berusaha untuk merangkul kerapuhan mereka. Ingatkan anak-anak Anda, bahwa sebagai orang tua Anda akan terus mendukung mereka, serta jangan tinggalkan mereka sendirian menikmati rasa depresi tersebut.

Mengapa Kesehatan Mental Penting bagi Murid?
Pikiran dan emosional anak-anak dinilai belum stabil, sehingga mereka rentan terkena gangguan mental. Lingkungan keluarga, sosial dan sekolahnya juga dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Apabila Anda melihat anak-anak sering mengalami kesedihan yang mendalam, terlihat putus asa, kehilangan motivasi dan energi, sering kehilangan konsentrasi, hingga tidak jarang mereka mulai menyakiti dirinya sendiri, itu adalah beberapa tanda seseorang yang telah mengalami depresi. Ketika anak sudah ada di fase tersebut, Anda jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental anak Anda. Anda bisa melakukan konsultasi pada psikolog atau psikiater.

Gejala Gangguan Kesehatan Mental

Berikut adalah beberapa gejala umum dari gangguan kesehatan mental yang dapat dikenali, yaitu diantaranya:

  • Mengalami delusi, paranoia, atau halusinasi
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah merasakan takut, khawatir, atau perasaan bersalah
  • Tidak mampu mengatasi stress atau masalah sehari-hari
  • Mudah terpancing emosi dan rentan melakukan kekerasan
  • Memiliki kenangan buruk atau pengalaman hidup yang tidak dapat dilupakan
  • Mampu menyakiti diri sendiri atau orang lain
  • Menarik dirinya dari orang-orang yang ada di sekitarnya
  • Sering mengalami perubahan mood
  • Hidup seperti tidak memiliki harapan, tidak berdaya, putus asa, dan tidak berarti
  • Mudah merasa lelah, energi yang menurun, atau mengalami masalah gangguan tidur

Tips Menjaga Kesehatan Mental Remaja

sumber: https://www.pexels.com/

1. Mendorong Anak untuk Membagikan Perasaannya

Seorang anak yang tidak akrab dengan orang tua dan keluarganya cenderung mengalami stress yang berlebihan jika dibandingkan dengan seorang anak yang dekat dengan orang tua dan keluarganya sendiri. Kebanyakan anak sering merasa segan dan awas dengan orang tua yang terlihat pendiam dan tidak ekspresif dalam menunjukkan kasih sayangnya.

Untuk mencegah anak mengalami stress berlebih, Anda dapat memulainya dengan menanyakan bagaimana kabar mereka hari ini, bagaimana kegiatan di sekolahnya, apa mereka mengalami kesulitan dalam belajar, dan apa saja yang telah mereka lakukan pada hari itu. Dalam hal ini, orang tua perlu menyediakan waktu untuk membangun obrolan dengan anak-anaknya.

Biasanya anak merasa takut membagikan pemikiran mereka, apalagi ketika mendapatkan masalah di sekolahnya, mereka cenderung menyimpan permasalahan itu sendiri karena takut dimarahi atau mengecewakan orang tuanya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengingatkan anak, bahwa apapun yang terjadi, sebagai orang tua Anda ingin mendengar apa saja yang mereka rasakan dan pikirkan.

Ketika anak membagikan pemikiran dan perasaan mereka, tanggapilah dengan baik, jangan bersikap abai karena mereka akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan tersebut tidak penting.

2. Meluangkan Waktu untuk Memberi Dukungan pada Anak

Anak telah menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah dan mempersiapkan dirinya di rumah sebelum memulai pelajar di esok hari. Bisa dikatakan bahwa mereka telah berusaha semaksimal mungkin untuk belajar dan meningkatkan kemampuan akademiknya.

Oleh karena itu, cobalah untuk memberikan waktu dan ruang untuk mereka agar mereka dapat menikmati apa yang mereka ingin lakukan sendiri, seperti menyendiri atau melakukan hobinya. Sebab tidak bisa dimungkiri bahwa remaja membutuhkan waktu dan ruang sebagai seorang manusia normal yang ingin menikmati dirinya sendiri.

Dalam hal ini, orang tua dapat mencari berbagai cara yang dapat mendukung dan mendorong anak, misalnya dengan mendukung hobinya, memberikan mereka waktu untuk rehat seharian di akhir pekan setelah menghabiskan waktunya untuk belajar, atau dengan mengajak mereka liburan di luar untuk meningkatkan energi dan motivasi mereka.

Dengan memberikan hal-hal yang menarik dan membuat anak senang, mereka akan lebih menikmati hidup dan merasa baik-baik saja walau merasa lelah dengan rutinitas yang harus mereka jalani.

Ketika remaja sedang stress, Anda dapat membantu mereka dengan bertukar pikiran untuk menacari solusi dari masalah yang dialami. Namun, Anda harus bisa memastikan bahwa Anda tidak mengambil alih dan mendikte mereka tentang apa yang harus mereka lakukan. Biarkan mereka berpikir dan menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Cukup bantuk mereka menentukan arah yang baik dan bimbing setiap langkah yang mereka ambil.

3. Membantu Anak untuk Menyelesaikan Masalah yang Dimilikinya

Ketika anak sedang memiliki masalah, luangkahlah waktu untuk berdiskusi dan mencari solusi yang tepat. Dalam mengatasi masalah tersebut, pastikan bahwa tidak ada emosi yang tersulut, selesaikanlah dengan tenang. Dengarkan pendapat anak dan ingatkan mereka bahwa semua orang akan mendapatkan masalahnya sendiri-sendiri, dan itu adalah hal yang wajar untuk dialami.

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental Guru Selama KBM Online?
Sebagai guru, mungkin Anda merasa stres, khawatir, atau kewalahan menjalankan kegiatan belajar secara daring di tengah pandemi. Jika guru dan peserta didik tidak bisa mengikuti proses belajar dengan baik, maka kegiatan belajar akan terasa sia-sia.

4. Mengingatkan Mereka untuk Mencintai Diri Sendiri

Walau terdengar mudah, mencintai diri sendiri adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Pada kesempatan ini, Anda dapat mengingatkan anak untuk selalu mencintai dirinya sendiri. Ketika mereka mengalami masalah, ada baiknya untuk membagikan masalah tersebut kepada orang tua agar bisa diatasi bersama-sama. Anda juga bisa mengingatkan mereka bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, jadi mereka tidak perlu khawatir berlebihan.

Itulah penjelasan mengenai kesehatan mental, beberapa gejala yang dialami, jenis-jenis gangguan kesehatan mental, beserta beberapa tips yang dapat menjaga kesehatan mental remaja. Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan penting untuk menjaga kesehatan mental remaja. Melalui keluarga yang sehat dan pengertian, seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan tidak mudah merasa kacau ketika mengalami masalah yang besar.