Strategi Menerapkan Deep Learning di Sekolah: Pembelajaran, Tantangan, dan Solusinya

Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal informasi. Siswa tidak hanya mengetahui apa suatu materi, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana konsep tersebut bekerja serta mampu menerapkannya dalam berbagai situasi nyata.

Dalam dunia pendidikan, pendekatan deep learning memiliki tujuan yang pasti dalam kegiatan pembelajaran, yaitu meliputi:

1. Membentuk Siswa sebagai Pembelajar Mandiri

Deep learning membantu siswa mengembangkan kemampuan:

  • mencari informasi secara mandiri
  • mengelola proses belajar
  • serta bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri

2. Meningkatkan Kemampuan Problem Solving

Melalui pembelajaran berbasis eksplorasi dan analisis, siswa dilatih untuk:

  • memahami masalah secara menyeluruh
  • merancang strategi solusi
  • menguji dan memperbaiki hasil

3. Menyiapkan Kompetensi Abad ke-21

Deep learning mendukung pengembangan keterampilan utama abad ke-21, seperti:

  • berpikir kritis (critical thinking)
  • kreativitas
  • komunikasi
  • kolaborasi
  • literasi digital
  • serta kemampuan adaptasi

Dengan pendekatan ini, sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga siap menghadapi perubahan sosial dan teknologi di masa depan.

Pembelajaran yang Digunakan dalam Pendekatan Deep Learning

sumber: kejarcita.id

1. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Meaningful learning adalah proses pembelajaran yang membantu siswa memahami keterkaitan antara materi pelajaran dengan pengalaman nyata atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

Dalam pembelajaran bermakna, siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi membangun pemahaman melalui proses menghubungkan konsep baru dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri meaningful learning:

  • Materi dikaitkan dengan situasi nyata
  • Siswa memahami alasan mempelajari suatu konsep
  • Pengetahuan dapat diterapkan dalam konteks berbeda
  • Pemahaman bertahan lebih lama

2. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Joyful learning menekankan pentingnya suasana belajar yang positif dan menyenangkan. Emosi memiliki peran besar dalam proses belajar; ketika siswa merasa nyaman dan tertarik, otak lebih siap menerima dan mengolah informasi.

Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti sekadar bermain, tetapi menciptakan lingkungan belajar yang:

  • aman untuk berpendapat
  • tidak menakutkan
  • mendorong rasa ingin tahu
  • dan meningkatkan motivasi intrinsik

Karakteristik joyful learning:

  • interaksi aktif antara guru dan siswa
  • aktivitas variatif
  • penggunaan media menarik
  • adanya apresiasi terhadap usaha siswa

Suasana belajar yang positif membantu siswa lebih berani mencoba, bertanya, dan berpikir kritis.

Panduan Guru: Membuat Perencanaan Pembelajaran Mendalam Berbasis Deep Learning
deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses memahami konsep secara menyeluruh, bermakna, dan berkelanjutan

3. Mindful Learning (Pembelajaran Sadar dan Reflektif)

Mindful learning adalah proses pembelajaran yang melibatkan kesadaran penuh siswa terhadap apa dan bagaimana mereka belajar. Pendekatan ini berkaitan dengan kemampuan metakognitif, yaitu kemampuan memahami proses berpikir sendiri.

Dalam mindful learning, siswa diajak untuk:

  • merefleksikan pemahaman mereka
  • menyadari kesulitan belajar
  • mengevaluasi strategi belajar
  • serta memperbaiki cara belajar secara mandiri

Strategi Menerapkan Pendekatan Deep Learning di Kelas

1. Mendesain Pertanyaan Pemantik (Essential Questions)

Pertanyaan pemantik atau essential questions merupakan kunci dalam memulai pembelajaran berbasis deep learning. Pertanyaan ini dirancang untuk mendorong siswa berpikir, bukan sekadar mengingat informasi.

Berbeda dengan pertanyaan faktual yang memiliki satu jawaban benar, pertanyaan pemantik bersifat terbuka dan menuntut penalaran.

Karakteristik pertanyaan pemantik:

  • tidak dapat dijawab dengan satu kata
  • memancing rasa ingin tahu
  • berkaitan dengan kehidupan nyata
  • mendorong diskusi dan eksplorasi

Contoh:

  • Mengapa pertumbuhan jumlah pengguna media sosial bisa sangat cepat?
  • Apakah semua perubahan selalu bersifat linear?

Pertanyaan seperti ini membantu siswa membangun pemahaman secara bertahap sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningful learning).

2. Menggunakan Masalah Kontekstual

Deep learning terjadi ketika siswa melihat hubungan antara materi pelajaran dan dunia nyata. Oleh karena itu, guru perlu menghadirkan masalah kontekstual sebagai bagian dari proses belajar.

Masalah kontekstual membuat siswa memahami bahwa konsep yang dipelajari memiliki fungsi nyata, bukan sekadar materi ujian.

Cara menerapkan:

  • menggunakan kasus sehari-hari
  • fenomena sosial atau teknologi
  • situasi yang dekat dengan pengalaman siswa
  • studi kasus sederhana

Contoh:

Konsep eksponen diperkenalkan melalui cerita penyebaran kode referral aplikasi atau pertumbuhan populasi.

Strategi ini memperkuat meaningful learning karena siswa memahami alasan mereka belajar suatu konsep.

3. Mendorong Diskusi dan Refleksi

Deep learning membutuhkan proses berpikir aktif. Diskusi memungkinkan siswa menguji pemahaman mereka melalui interaksi dengan orang lain, sementara refleksi membantu mereka menyadari proses belajar yang dialami.

Bentuk kegiatan diskusi:

  • diskusi kelompok kecil
  • think–pair–share
  • presentasi ide
  • debat sederhana

Bentuk refleksi:

  • menuliskan hal yang dipahami hari ini
  • pertanyaan “apa yang masih membingungkan?”
  • refleksi akhir pembelajaran

Melalui diskusi dan refleksi, siswa belajar:

  • mengemukakan pendapat
  • menghargai perspektif berbeda
  • mengevaluasi pemikirannya sendiri

Strategi ini mendukung mindful learning, yaitu kesadaran siswa terhadap proses belajar mereka.

4. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Dalam pendekatan deep learning, penilaian tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga proses berpikir dan kemampuan penerapan konsep.

Penilaian autentik menilai kemampuan siswa dalam situasi nyata atau tugas yang bermakna.

Contoh penilaian autentik:

  • proyek atau produk karya
  • presentasi solusi masalah
  • portofolio belajar
  • jurnal refleksi
  • studi kasus

Penilaian ini membantu guru melihat sejauh mana siswa benar-benar memahami konsep, bukan hanya mampu mengerjakan soal rutin. Selain itu, siswa merasa pembelajaran lebih relevan dan menantang, sehingga meningkatkan keterlibatan belajar (joyful learning).

5. Diferensiasi Pembelajaran

Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan gaya belajar yang berbeda. Deep learning akan sulit tercapai jika pembelajaran diberikan dengan cara yang sama kepada semua siswa. Diferensiasi pembelajaran memungkinkan guru menyesuaikan proses belajar sesuai kebutuhan siswa.

Bentuk diferensiasi:

  • variasi tingkat kesulitan tugas
  • pilihan cara mengerjakan tugas
  • penggunaan media belajar yang berbeda
  • fleksibilitas produk akhir pembelajaran

Misalnya, siswa dapat memilih:

  • membuat presentasi
  • menulis laporan
  • atau membuat visualisasi konsep

Pendekatan ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif dan menyenangkan, sehingga mendukung joyful learning sekaligus memperdalam pemahaman siswa.

Tantangan Penerapan Pendekatan Deep Learning di Sekolah

1. Mindset Guru yang Masih Teacher-Centered

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan deep learning adalah pola pikir pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Dalam praktik pembelajaran tradisional, guru berperan sebagai sumber utama informasi, sementara siswa cenderung pasif menerima materi.

Kondisi ini menyebabkan:

  • pembelajaran didominasi ceramah
  • siswa jarang bertanya atau berdiskusi
  • fokus pada penyampaian materi daripada pemahaman konsep

Padahal, deep learning menuntut perubahan peran guru menjadi fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa. Perubahan peran ini sering kali menjadi tantangan karena:

  • guru terbiasa dengan metode lama
  • adanya kekhawatiran kelas menjadi sulit dikendalikan
  • atau kurangnya pengalaman menerapkan pembelajaran aktif

2. Keterbatasan Waktu Pembelajaran

Deep learning menekankan proses eksplorasi, diskusi, dan refleksi yang membutuhkan waktu lebih panjang dibanding pembelajaran berbasis ceramah.

Di sisi lain, guru sering menghadapi:

  • target penyelesaian materi yang padat
  • alokasi jam pelajaran terbatas
  • tuntutan administrasi pembelajaran

Akibatnya, guru merasa harus mengejar ketuntasan materi sehingga pembelajaran kembali berfokus pada penyampaian informasi secara cepat.

Padahal, pembelajaran mendalam tidak selalu berarti menambah waktu belajar, melainkan mengubah strategi agar siswa benar-benar memahami konsep inti. Tantangan ini terletak pada kemampuan guru memilih materi esensial dan merancang aktivitas belajar yang efektif.

3. Kemampuan Siswa yang Bervariasi

Setiap kelas memiliki keberagaman kemampuan akademik, minat belajar, serta gaya belajar siswa. Dalam pendekatan deep learning, siswa dituntut aktif berpikir dan mengeksplorasi, namun tidak semua siswa siap pada tingkat yang sama.

Beberapa kendala yang muncul antara lain:

  • siswa berkemampuan tinggi lebih cepat memahami
  • siswa lain membutuhkan bimbingan lebih intensif
  • perbedaan tingkat kepercayaan diri dalam berdiskusi
  • kesenjangan kemampuan literasi dan numerasi

Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini dapat menyebabkan sebagian siswa tertinggal atau kurang terlibat. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan strategi diferensiasi agar semua siswa tetap dapat mengalami pembelajaran mendalam sesuai kapasitasnya.

4. Keterbatasan Sarana dan Teknologi

Sering muncul anggapan bahwa deep learning hanya dapat diterapkan dengan dukungan teknologi canggih. Pada kenyataannya, teknologi memang membantu, tetapi tidak selalu tersedia secara merata di setiap sekolah.

Tantangan yang sering dihadapi meliputi:

  • keterbatasan akses internet
  • kurangnya perangkat digital
  • media pembelajaran yang terbatas
  • ruang kelas yang belum mendukung aktivitas kolaboratif

5. Sistem Penilaian yang Masih Berbasis Nilai Akhir

Tantangan lain yang cukup mendasar adalah sistem penilaian yang masih menekankan hasil akhir berupa angka atau nilai ujian. Sistem ini sering kali lebih menghargai jawaban benar dibanding proses berpikir siswa.

Akibatnya:

  • siswa fokus mengejar nilai
  • pembelajaran menjadi berorientasi ujian
  • eksplorasi ide dianggap membuang waktu
  • guru sulit menilai proses belajar secara menyeluruh

Deep learning justru menekankan pentingnya proses, refleksi, dan kemampuan menerapkan konsep. Ketidaksesuaian antara pendekatan pembelajaran dan sistem evaluasi ini menjadi hambatan dalam implementasi secara optimal.

Solusi Mengatasi Tantangan

1. Pelatihan dan Pengembangan Profesional Guru

Guru memegang peran utama dalam keberhasilan deep learning. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi langkah pertama yang perlu dilakukan.

Pelatihan tidak hanya berfokus pada teori pembelajaran, tetapi juga pada praktik nyata di kelas, seperti:

  • merancang pertanyaan pemantik
  • mengelola diskusi aktif
  • melakukan refleksi pembelajaran
  • serta menyusun penilaian autentik

Pengembangan profesional guru dapat dilakukan melalui:

  • workshop atau pelatihan pendidikan
  • komunitas belajar guru
  • webinar dan kursus daring
  • kegiatan berbagi praktik baik (best practices)

Ketika guru memahami filosofi deep learning, perubahan pembelajaran akan terjadi secara lebih alami karena guru memiliki kepercayaan diri dalam mencoba strategi baru.

2. Perubahan Desain Pembelajaran Secara Bertahap

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba mengubah seluruh sistem pembelajaran sekaligus. Pendekatan ini justru dapat menimbulkan kebingungan bagi guru maupun siswa.

Implementasi deep learning sebaiknya dilakukan secara bertahap, misalnya:

  • mulai dari penggunaan satu pertanyaan reflektif di akhir pembelajaran
  • menambahkan masalah kontekstual pada awal materi
  • mengurangi ceramah dan meningkatkan diskusi singkat
  • mencoba satu bentuk penilaian autentik dalam satu unit pembelajaran

3. Kolaborasi Antar Guru

Deep learning bukan tanggung jawab individu guru semata, melainkan bagian dari budaya belajar di sekolah. Kolaborasi antar guru menjadi strategi penting untuk mempercepat adaptasi pembelajaran.

Bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan antara lain:

  • diskusi rutin antar guru mata pelajaran
  • perencanaan pembelajaran bersama
  • observasi kelas dan refleksi kolektif
  • berbagi media dan strategi pembelajaran

4. Pemanfaatan Teknologi Sederhana namun Efektif

Penerapan deep learning tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Teknologi sederhana yang digunakan secara tepat justru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

Contoh pemanfaatan teknologi sederhana:

  • menggunakan presentasi interaktif untuk memancing diskusi
  • formulir daring untuk refleksi belajar siswa
  • video pendek sebagai stimulus pembelajaran
  • platform diskusi online untuk memperpanjang interaksi belajar

Fokus utama bukan pada kecanggihan alat, melainkan bagaimana teknologi membantu siswa berpikir lebih dalam, berkolaborasi, dan merefleksikan pembelajaran. Dengan pendekatan ini, sekolah dengan keterbatasan fasilitas tetap dapat menerapkan deep learning secara efektif.

5. Penyesuaian Sistem Evaluasi Pembelajaran

Agar deep learning berjalan optimal, sistem evaluasi perlu menilai tidak hanya hasil akhir, tetapi juga proses belajar siswa.

Penyesuaian evaluasi dapat dilakukan melalui:

  • penilaian formatif selama proses pembelajaran
  • penggunaan rubrik penilaian
  • portofolio belajar siswa
  • refleksi diri (self-assessment)
  • penilaian berbasis proyek atau studi kasus.
Mengenal Evaluasi Pembelajaran Dan Contoh Rubriknya
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses pengumpulan dan analisis data mengenai hasil belajar siswa untuk menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai dan untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan pengembangan dan perbaikan pembelajaran di masa yang akan datang.

Evaluasi yang berorientasi proses membantu siswa memahami bahwa belajar bukan sekadar memperoleh nilai, tetapi mengembangkan kemampuan berpikir dan memahami konsep secara mendalam.

Kesimpulan:

Deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konsep secara mendalam melalui meaningful learning, joyful learning, dan mindful learning sehingga siswa tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan tantangan abad ke-21. Meskipun penerapannya di sekolah menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan mindset guru, keterbatasan waktu, hingga sistem evaluasi yang masih berorientasi nilai akhir, strategi yang tepat, mulai dari desain pembelajaran kontekstual, diferensiasi, hingga penilaian autentik dapat membantu pembelajaran berjalan lebih efektif dan bermakna.

Sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi pendidikan, kejarcita juga telah menyelenggarakan pelatihan deep learning bagi pendidik untuk membantu guru memahami konsep sekaligus praktik implementasinya di kelas, sehingga sekolah dapat mulai menerapkan pembelajaran mendalam secara bertahap dan berkelanjutan.

pelatihan kejarcita