Peran Guru dalam Mengatasi Konflik Antar Siswa di Kelas

Memilih profesi guru tidak hanya bertugas mencerdaskan generasi bangsa secara intelektual, akan tetapi guru juga bertanggung jawab mendidik moral dan karakter siswanya. Tidak heran jika para tenaga pengajar dituntut untuk memiliki kualitas yang bagus dalam banyak aspek. Apalagi ketika siswa sedang berada di sekolah, guru menjadi orangtua kedua mereka.

Dalam kegiatan pembelajaran, tidak jarang terjadi konflik di kelas. Konflik tersebut lebih banyak muncul antar siswa. Mulai dari hal sepele, hingga permasalahan yang serius. Ketika terjadi perselisihan di antara peserta didik, maka sudah semestinya guru turut andil menyelesaikannya. Jika tidak segera diatasi, proses belajar mengajar akan terganggu dan dapat berefek jangka panjang.

Bentuk Konflik antar Siswa

Konflik yang masih banyak terjadi di kalangan siswa menurut Robby Chandra adalah sebagai berikut:

a.  Ketegangan yang diekspresikan berlebihan oleh siswa. Di usia mereka yang masih labil, seringkali anak-anak belum bisa mengontrol emosi. Jika siswa dihadapkan dengan permasalahan, mereka masih butuh pendampingan ketat agar tidak kebablasan. Biasanya ketegangan yang timbul disebabkan oleh adanya rebutan barang yang bukan haknya. Bisa juga karena perbedaan pendapat tentang hal-hal sepele, semisal keisengan salah satu siswa pada siswa lainnya.

b. Adanya pemenuhan kebutuhan yang dirasa berbeda, atau yang sesungguhnya bertentangan. Bentuk konflik ini mengarah pada perasaan iri dan ingin diakui. Semisal kurang suka atas pencapaian temannya, merasa kehilangan perhatian dari orang terdekatnya, dan lain sebagainya.

c. Pemenuhan kebutuhan yang kurang tepat sasaran, bahkan dilampiaskan pada kekerasan. Contohnya adalah melakukan tawuran, berkelahi, hingga merundung siswa lain yang dianggap lebih lemah.

d. Sikap menghalangi orang lain dalam mencapai tujuannya. Hal tersebut bisa dikarenakan siswa yang bersangkutan menganggap remeh temannya, atau bisa juga disebabkan adanya keinginan untuk tidak tersaingi.

Bentuk-bentuk konflik di atas seringkali yang terjadi di antara siswa. Ada yang sifatnya ringan, ada pula yang sifatnya berat dan berdampak jangka panjang. Apabila terjadi konflik-konflik tersebut di dalam kelas, guru memang harus sigap dan punya inisiatif tinggi.

Sebab dan Cara Mengatasi Murid Yang Menyontek
Kebiasaan menyontek ini sepertinya berlaku secara universal ya. Kebiasaan ini bahkan ada diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh McCabe ke 24.000 siswa di 70 SMA, ditemukan fakta bahwa 64% siswa suka menyontek saat ujian.

Sikap dan Peran Guru dalam Mengatasi Konflik Antar Siswa

Adanya konflik di sekolah harus disikapi dengan bijak. Terlebih lagi di lingkungan sekolah tingkat menengah yang mana siswa-siswi sedang dalam masa pubertas. Masa remaja seringkali membuat anak rentan membuat kesalahan dan menghadapi kesulitan karena mereka masih dalam pencarian jati diri.

Dalam buku Psikologi Perkembangan, Hurlock memaparkan tentang dua alasan utama mengapa remaja berada pada masa sulit dan bermasalah. Pertama, menjalani fase anak-anak, permasalahan mereka lebih sering  diatasi oleh orang tua dan guru-guru. Oleh karena itu, siswa menjadi kurang pengalaman dalam hal problem solving. Lalu alasan kedua adalah adanya rasa mandiri dalam diri siswa remaja sehingga mereka antusias untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa siapapun, termasuk orangtua dan guru-gurunya.

Berlandaskan hal tersebut, bagaimana guru menyikapi konflik yang terjadi di antara siswanya? Berikut ini peran guru yang dapat dijalankan tanpa menimbulkan permasalahan baru di sekolah:

1. Guru Sebagai Mediator

Tenaga pengajar memiliki banyak peran dalam menjalankan profesi di sekolah. Khusus untuk mengatasi konflik antar siswa, guru sebaiknya menjadi mediator atau penengah bagi pihak yang bertikai. Sebagai role model murid-muridnya, guru diharapkan memperlihatkan pengaruhnya tanpa pandang bulu. Siapa pun yang berkonflik, maka guru menjadi tempat siswa untuk berkonsultasi.

Meredam konflik yang terjadi pada peserta didik memang bukan perkara mudah. Butuh skill komunikasi yang baik untuk memediasi mereka. Oleh karena itu, guru seharusnya belajar lebih peka terhadap situasi dan memahami konsep konseling dan mediasi dengan tepat. Jadi tidak hanya guru BK yang berkewajiban memiliki skill tersebut.

2. Melakukan Pendekatan Assertive

Tindakan assertive merupakan sebuah upaya untuk menunjukkan emosional individu secara jujur dan terbuka. Peran guru dalam menerapkan pendekatan assertive bertujuan agar siswa dapat lebih rasional dan mengekspresikan suasana hatinya. Selain itu juga lebih berani mengutarakan pendapat serta mempertahankan hak-hak dirinya.

Melalui cara ini, siswa yang terlibat konflik bisa lebih terbuka kepada satu sama lain tentang problem yang menyebabkan pertikaian. Pendekatan assertive membantu siswa agar tidak ada pihak yang merasa terintimidasi sedangkan pihak lainnya merasa berkuasa. Dengan demikian, permasalahan akan lebih mudah diatasi ketika siswa yang terlibat konflik bisa bersikap assertive.

3. Mendampingi Siswa Tanpa Penghakiman

Menjalankan peran ini sangat penting. Siswa yang membuat konflik butuh pendampingan khusus. Mereka didampingi bukan untuk dihakimi, namun untuk didengarkan dan dibantu mengatasi permasalahannya. Dikarenakan usia mereka yang masih diliputi kembimbangan, ketidakstabilan menghadapi konflik, maka guru tidak boleh lengah dalam mendampinginya.

Sikap netral, cara pandang yang objektif, serta kemampuan menghidupkan komunikasi dua arah adalah kuncinya. Dari problem yang dilakukan peserta didik, para guru juga belajar dan turut bertumbuh lebih baik. Sebagaimana diri guru yang tidak mau diadili sembarangan, begitu pun dengan siswa. Mereka berhak mendapatkan perlakuan yang suportif dan mendidik meskipun mereka telah melakukan kesalahan.

4. Memberikan Edukasi Problem Solving

Nah, selain tindakan saat konflik berlangsung, guru juga perlu melakukan upaya preventif. Salah satunya adalah dengan sering melatih peserta didik akan problem solving. Mulai dari memecahkan masalah yang ringan, sedang, hingga konflik berat sesuai usia mereka. Tindakan konkrit yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan studi kasus kepada siswa untuk mereka analisis dan diselesaikan.

Semakin baik jika guru membuat waktu khusus untuk memberikan edukasi mengenai ini. Namun jika tidak memungkinankan, bisa dengan menyisipkannya di setiap mata pelajaran. Siswa akan terbiasa dengan problem solving apabila interaksi secara real antar siswa juga diterapkan dasar-dasar tersebut. Ketika terjadi konflik, penyelesaiannya pun tidak akan serumit sebelum mereka teredukasi.

5. Mengkomunikasikan Masalah Siswa kepada Wali

Peran ini dilaksanakan hanya ketika konflik yang terjadi sudah sulit diatasi oleh guru. Orangtua atau wali siswa berhak untuk mengetahui masalah anak-anaknya. Komunikasi yang dipakai pun tidak hanya berupa pemberitahuan, namun harus melibatkan mereka pada diskusi sehat dengan guru untuk menemukan titik penyelesaian.

7 Tips Memberitahu Orangtua Mengenai Permasalahan Anaknya
Agenda paling menegangkan menjalani profesi guru adalah ketika harus berhadapan dengan wali murid yang bermasalah. Kondisinya akan unpredictable karena setiap orang tua memiliki sikap dan pandangan berbeda.

Sama halnya yang harus dilakukan pada murid, guru juga melakukan komunikasi dua arah dengan wali tanpa melakukan penghakiman. Mencari tahu kebiasaan siswa ketika di rumah, apakah ada masalah dalam keluarga, atau latar belakang lainnya adalah upaya yang diperlukan. Hal ini berguna agar konflik yang terjadi dapat diurai dan dihadapi secara bijak.

Peran guru dalam mengatasi konflik pasti akan dipenuhi dengan dinamika. Dibutuhkan keteguhan hati dan mental yang sehat agar dapat menjalankan perannya dengan baik. Semoga peran-peran tersebut dapat menjadi amal ibadah para guru dan mendatangkan banyak manfaat. Selain itu, guru juga bisa mengambil hikmah dari setiap masalah yang timbul di dalam kelas. Karena sejatinya menjadi guru itu bukan untuk menggurui, akan tetapi untuk terus belajar dan terinspirasi dari siswa-siswinya.