Menerapkan Strategi Pembelajaran Andragogi

Strategi pembelajaran andragogi atau dikenal dengan pembelajaran orang dewasa dikenalkan oleh seorang pendidik asal Amerika, yaitu Malcolm Shepherd Knowles. Dalam bahasa Yunani, pedagogi berarti 'memimpin anak', sedangkan andragogi artinya 'memimpin manusia'. Dengan demikian, istilah andragogi dan pedagogi sebenarnya tidak jauh berbeda.

Pembelajaran andragogi awalnya ditujukan untuk pembelajaran orang dewasa. Namun, berbagai hasil eksperimen yang dilakukan banyak pendidik ketika menerapkan konsep pembelajaran andragogi dalam pendidikan anak-anak justru memberikan hasil yang lebih baik. Menurut Knowles, konsep andragogi merupakan model asumsi selain pedagogi yang dapat digunakan dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan pendekatan andragogi dapat membantu memusatkan kebutuhan belajar sehingga dapat mencapai pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi. Orang dewasa sebagai pembelajar dapat mengenali kebutuhan dan gaya belajar mereka sendiri. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih reflektif dan mandiri.

Pembelajaran orang dewasa (andragogi) juga dapat berpeluang dalam menciptakan pribadi yang professional bagi orang dewasa karena mereka bisa menerapkan apa yang dipelajari dengan cepat.

Pembelajaran Pedagogi vs Andragogi

Lebih lanjut, Knowles juga menegaskan bahwa terdapat perbedaan asumsi antara andragogi dan pedagogi.

1. Perbedaan Konsep Diri

Dalam pembelajaran andragogi, orang dewasa dipandang memiliki konsep diri yang bersifat mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Selanjutnya, orang dewasa juga dianggap telah matang secara psikologis sehingga hubungan antara guru dan pembelajar bersifat saling membantu dan timbal balik saja. Lain halnya konsep diri dalam pedagogi yang memandang pembelajar sebagai pribadi yang tergantung sehingga harus selalu diarahkan oleh pendidik.

2. Perbedaan Pengalaman

Pengalaman pembelajar dalam konsep andragogi sudah banyak sehingga sumber belajar yang mereka miliki juga lebih banyak serta komunikasi yang terbangun bisa dua arah. Di sisi lain, pembelajar dalam asumsi pedagogi memiliki pengalaman yang masih terbatas sehingga komunikasi yang terjalin dengan pendidik hanya satu arah.

Pendekatan yang Dapat Digunakan Dalam Mengorganisasikan Pembelajaran
pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pembelajaran, yakni Pendekatan Mata Pelajaran, Pendekatan Tematik, Pendekatan Terintegrasi, Pendekatan Blok Waktu Terpisah

3. Kesiapan Belajar

Dalam asumsi pedagogi, pendidik memegang peranan penting dalam menentukan pelajaran apa yang hendak dipelajari, kapan dan bagaimana cara mempelajarinya. Sementara itu, dalam pembelajaran andragogi, pembelajar yang menentukan mana yang menjadi kebutuhan mereka.

4. Orientasi Belajar

Orientasi belajar pada andragogi berpusat pada pemecahan masalah atau problem centered, sedangkan orientasi kegiatan belajar dalam pedagogi berupa subject centered yang berpusat pada orang dewasa. Dalam hal ini, orientasi belajar yang diterapkan berpusat pada masalah dan kurang kemungkinannya berpusat pada subjek.

5. Motivasi Belajar

Konsep andragogi berpatokan bahwa orang dewasa lebih termotivasi untuk belajar karena faktor internal mereka. Di sisi lain, dalam asumsi pedagogi, pembelajar termotivasi mengikuti pelajaran karena motivasi eksternal seperti guru dan orang tua. Asumsi tersebut dapat memicu timbulnya berbagai implikasi dalam penerapan strategi pembelajaran yang dipilih oleh pendidik berdasarkan pendekatan andragogi maupun pedagogi.

Kekurangan dan Kelebihan

1. Pedagogi

Keuntungannya:

a. Terdapat banyak pedoman dan panduan dalam menilai kemajuan peserta didik

b. Lebih efisien dalam hal penggunaan waktu dan sumber daya

Kekurangannya:

a. Otonomi yang dimiliki pembelajar lebih sedikit

b. Tingkat relevansi pengalaman dan proses belajar kemungkinan bisa terjadi

2. Andragogi

Kelebihannya:

a. Pembelajar diberi kendali atas diri sendiri sehingga bisa lebih mandiri

b. Berfokus pada pengalaman serta pengetahuan sebelumnya yang dimiliki oleh pembelajar

c. Mendorong kemampuan memecahkan masalah

Kekurangannya:

a. Bersifat terlalu bebas dan terbuka untuk pembelajar

b. Kemungkinan sulit untuk menilai kemajuan

Meskipun dalam strategi andragogi, orang dewasa tidak bisa disamakan dengan anak, tetapi strategi ini dapat diimplikasikan dalam merancang pembelajaran untuk peserta didik. Sebagai contohnya, dengan menekankan pada konsep problem centered, melibatkan partisipasi aktif peserta didik dalam perencanaan, atau evaluasi belajar dan menjadikan pengalaman sehari-hari mereka sebagai sumber belajar yang relevan.

Dalam proses pembelajaran, partisipasi aktif peserta didik bisa terwujud apabila didukung dengan iklim belajar yang kondusif dengan ditandai dengan hal-hal berikut.

  1. Kedisiplinan peserta didik dalam kegiatan belajar.
  2. Hubungan yang terjalin baik antar peserta didik maupun dengan guru sehingga dalam proses belajar bisa saling membantu dan menghargai.
  3. Peserta didik diberikan kesempatan yang lebih luas dalam kegiatan belajar (student centered) bukan berfokus pada teacher centered.

Selanjutnya, memberikan kesempatan peserta didik terlibat dalam proses evaluasi pembelajaran dengan mengumpulkan informasi atas perubahan yang terjadi selama mengikuti kegiatan belajar. Dalam melibatkan peserta didik pada evaluasi pembelajaran, langkah-langkah berikut bisa diterapkan.

  1. Lakukanlah assessment untuk melihat kebutuhan peserta didik selama belajar, merancang tujuan belajar dan hambatan yang mungkin dihadapi dalam prosesnya, serta menentukan prioritas dalam kegiatan belajar.
  2. Tentukan materi belajar sesuai dengan tema dan menyusun indikator pencapaian capaian pembelajaran.
  3. Identifikasilah karakteristik peserta didik untuk dijadikan bahan masukan dalam menentukan rencana pembelajaran.
  4. Rancang kegiatan pembelajaran beserta metode dan media yang akan digunakan.
  5. Tentukan sumber bahan dan fasilitas yang mendukung pembelajaran.
  6. Susunlah sistem evaluasi.
  7. Kemudian, tindak lanjutilah kegiatan pembelajaran.

Beberapa prinsip dalam penerapan strategi pembelajaran andragogi di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Peserta didik mampu mengikuti pelajaran secara aktif tanpa paksaan.
  2. Terciptanya kondisi yang saling membantu, menghargai, dan timbal balik secara positif di dalam kelas.
  3. Muncul semangat kolaborasi.
  4. Terciptanya iklim belajar yang kondusif sehingga dapat memfasilitasi peserta didik untuk belajar secara mandiri. Hal tersebut sangat sesuai dengan konsep pembelajaran andragogi yang menegaskan bahwa dalam proses pembelajaran harus mendukung gagasan bahwa orang dewasa itu merupakan sosok mandiri dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil juga bisa diterapkan dalam menentukan strategi pembelajaran.
  5. Menjadikan pengalaman sebagai sumber belajar. Oleh karena itu, proses belajar menekankan pada pengalaman yang dilalui oleh peserta didik secara individu, melalui diskusi kelompok, stimulasi, bermain peran, atau demonstrasi di dalam kelas.
  6. Kegiatan belajar menekankan aplikasi praktis dari pengalaman yang dilalui peserta didik dalam menemukan atau menjelaskan suatu konsep atau pengetahuan baru.
  7. Materi belajar juga sebisa mungkin dirancang berdasarkan pengalaman dan kondisi para peserta didik agar proses belajar menjadi lebih mudah dipahami.
Inkuiri Apresiatif sebagai Pendekatan Manajemen Perubahan Bagi Guru
Inkuiri Apresiatif adalah pendekatan dalam manajemen perubahan yang berfokus pada pencarian nilai-nilai positif dalam organisasi atau individu untuk memunculkan perubahan yang berkelanjutan

Strategi pembelajaran diartikan sebagai prosedur yang dijadikan acuan oleh pendidik dalam merancang kegiatan pembelajaran secara sistematis. Komponen di dalam strategi pembelajaran terdiri dari materi, bahan ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, dan evaluasi yang akan digunakan. Menerapkan strategi pembelajaran andragogi artinya pendidik harus mampu merancang pembelajaran yang menghargai peserta didik sebagai sumber belajar (student centered).

Pada akhirnya, pendidik memiliki keputusan sendiri dalam mempertimbangkan strategi pembelajaran dengan pendekatan andragogi atau pedagogi yang akan dipilih. Setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan di antara keduanya, bukan berarti andragogi lebih baik dari pedagogi. Begitu pula sebaliknya. Namun, kemungkinan pendekatan strategi pembelajaran tersebut tidak cocok diterapkan untuk karakter peserta didik tertentu di sekolah tertentu tetaplah ada. Selain itu, situasi belajar dan tujuan yang akan dicapai juga menjadi bahan pertimbangan lainnya dalam menentukan strategi pembelajaran yang paling baik.