Hybrid Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Hybrid Learning merupakan bentuk pembelajaran kombinasi daring dan luring, alias melalui platform digital dan secara tatap muka. Pembelajaran ini mulai dikenal menyeluruh di dunia pendidikan saat memasuki era new normal di mana angka individu yang terjangkit virul Covid-19 mulai mengalami penurunan.

Saat itu Hybrid Learning dianggap istimewa karena siswa dapat belajar tatap muka dengan jarak minimal 2 meter, tetap menggunakan masker, namun di lain hari mereka belajar melalui media pembelajaran berbasis online, sehingga siswa merasa aman dari bahaya virus yang menjangkit seluruh pelosok bumi itu.

Dilansir dari laman Kemendikbud.go.id, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam bentuk fisik maupun psikis.

Tujuan mata pelajaran ini ialah sebagai pendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, penalaran, dan pengetahuan, penghayatan nilai-nilai (mental-emosional-sikap-sportivitas-spiritual-sosial), serta membiasakan para peserta didik untuk memiliki hidup lebih sehat dan mampu mengambil sikap pada kondisi darurat.

Pandemi Covid-19 memberikan banyak pembelajaran juga bagi tenaga pendidik. Mereka dituntut kreatif dan inovatif dalam menyampaikan pembelajaran. Terutama pelajaran yang sangat membutuhkan tatap muka, yakni pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.

Guru cukup mengalami kesulitan saat pengambilan nilai, memang siswa dapat mengunggah video untuk mengumpulkan tugas, tetapi jika dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan. Hal inilah yang cukup jadi PR bagi setiap guru.

Penerapan Hybrid Learning pada Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

sumber: https://www.pexels.com/

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan perlu diperhatikan secara khusus jika menggunakan metode pembelajaran Hybrid Learning. Dilansir dari situs ayoguruberbagi.kemendikbud.go.id, Dony Andri Setiawan, S.Pd sebagai kontributor menulis artikel berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran PJOK dengan Menggunakan Hybrid Learning di SMA Negeri 4 Malang” menuliskan bahwa ;

  • Waktu efektif yang digunakan untuk pembelajaran adalah 30 menit per jam pelajaran
  • Peralatan yang digunakan untuk melaksanakan Hybrid Learning adalah smartphone, tripod, laptop.
  • Aplikasi pilihan yang dapat digunakan antara lain ; Google Meet, Zoom, Offife 365
  • Menggunakan jaringan intrernet yang tersedia di sekolah (bagi guru)

Dony mengatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran Hybrid Learning SMA Negeri 4 Malang masih jauh dari standar, kendala yang dialami ialah saat berada di lapangan, distraksi suara yang tidak diinginkan tak dapat dicegah. Sehingga siswa yang melakukan pembelajaran dari rumah melalui aplikasi kesulitan memahami apa yang dijelaskan dan dipraktikkan.

Perbedaan Hybrid Learning dan Blended Learning
Hybrid learning merupakan pembelajaran yang menyatukan proses kegiatan belajar online dengan pembelajaran tatap muka.

Terkhusus untuk fasilitas pembelajaran olahraga setiap sekolah pastinya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, semua tinggal disesuaikan. Tentu saja kreativitas serta ide out of the box seorang guru sangat berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya proses belajar.

Tahap pembelajaran PJOK berbasis Hybrid Learning dapat dilaksanakan sebagai berikut ini;

  • Tahap pendahuluan yang dilaksanakan secara klasikal, kamera ponsel guru harus dapat mencakup seluruh sudut dan aktivitas pembelajaran. Salah satu siswa dapat membantu guru untuk mengoperasikan kamera ponselnya sehingga kegiatan belajar berlangsung dengan semaksimal mungkin.
  • Guru dan siswa yang hadir tatap muka di sekolah berkumpul di lapangan, guru membuka pelajaran, menyampaikan materi, tujuan pembelajaran, menggali informasi dan apersepsi, memotivasi siswa-siswi dan kamera turut merekam itu semua agar siswa yang belaar dari rumah dapat mengikutinya.
  • Peserta didik mempraktikkan yang telah dipelajari, baik yang ada di lapangan secara langsung maupun yang ada di rumah. Setelah itu berkumpul kembali untuk melaksanakan kegiatan penutup, yakni evaluasi, kesimpulan, refleksi, dan menyampaikan materi apa yang akan dipelajari di pertemuan selanjutnya.

Ide Tugas untuk Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan berbasis Hybrid Learning

sumber: https://www.pexels.com/

Terkadang ketika menerapkan Hybrid Learning guru memiliki kendala dalam memperhatikan siswa-siswi yang ada di rumah. Bagi yang hadir di sekolah mungkin saja tidak begitu merasakan kendalanya, langsung mempraktikkan apa yang telah ditugaskan oleh guru saat itu juga.

Namun bagi siswa yang berada di rumah akan mengalami kesulitan, bisa saja ruangan rumahnya terlalu sempit untuk mempraktikkan gerakan, peralatan olahraga yang tidak tersedia di rumah, atau rasa percaya diri siswa yang rendah sehingga takut untuk mempraktikkannya di hadapan kamera.

Ada beberapa ide tugas yang dapat diaplikasikan guru pada kelas PJOK berbasis Hybrid Learning, antara lain;

  • Membuat tugas praktik berkelompok dan output-nya berupa video. Jika beramai-ramai, murid tidak akan merasa malu dan cukup percaya diri. Hal ini juga melatih kekompakan siswa. Berikan tugas dan pilihkan kelompok dengan konsep bercampur antara siswa yang hadir secara luring, dan siswa yang mengikuti pelajaran secara daring. Sehingga siswa yang hadir secara luring dapat memastikan gerakan olahraganya sudah tepat atau belum.
  • Membuat kliping tentang bab yang sedang dibahas. Biarkan mereka berkreasi sekreatif mungkin. Mencari gambar-gambar yang relevan, meng-input informasi yang sesuai dan nantinya dapat dipresentasikan di kelas. Tentu saja harus mencampurkan antara siswa yang hadir secara langsung maupun yang hadir melalui media online.
  • Membuat kampanye kesehatan. Tugaskan para siswa secara berkelompok untuk membuat kampanye kesehatan, misalnya bertema “Pola Hidup Sehat” dan mengharuskan mereka membuat poster secara manual maupun digital untuk disebarluaskan melalui mading sekolah maupun media sosial sekolah. Tugas ini perlu pendampingan guru, terlebih pada siswa sekolah dasar yang masih belum memahami aplikasi edit gambar.
  • Jalan sehat, tugas ini lebih mengarah pada rekreasi untuk melepas penat siswa-siswi yang hadir secara offline. Bagi yang di rumah bisa ditugaskan melakukan streching ataupun jalan santai di sekitar rumah. Jika lingkungan sekitar sekolah yang dijadikan track jalan sehat masih asri, ajak siswa melepas alas kaki agar mereka melakukan grounding. Kegiatan ini dapat melepas stres dan mengurangi kecemasan siswa.
  • Breakdown Nutrisi, jadi tugas ini memberikan pengalaman siswa untuk mengenal apa saja yang mereka makan, kandungannya apa saja serta fungsinya pada tubuh mereka. Guru dapat menugaskan siswa-siswinya untuk membawa bekal dan sekaligus meminta mereka menjelaskan isi nutrisinya apa saja. Dengan begitu peserta didik memiliki kesadaran nutrisi mikro dan makro apa saja yang dapat membuat tubuh menjadi bugar dan sehat.
7 Strategi Pengelolaan Video Based Learning dalam Pembelajaran Hybrid
Tujuan dari penerapan pembelajaran hybrid untuk meningkatkan pembelajaran siswa serta mendorong guru untuk mengubah metode pembelajaran

Itulah beberapa cara dan tahapan menerapkan Hybrid Learning pada pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan agar tetap berjalan dengan baik. Hal yang perlu diperhatikan bahwa pelajaran ini sama pentingnya dengan pelajaran matematika, bahasa, ilmu pengetahuan alam dan sosial, serta pelajaran-pelajaran lainnya.

Dari mata pelajaran ini, banyak sekali sekolah yang menyumbang altlet nasional. Maka dari itu, guru perlu sekali memotivasi siswa, bukan untuk memberikan iming-iming saja, tetapi mau jadi atlet maupun tidak, pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan berdampak besar pada masa depan para siswanya.