Cara Efektif Mengelola Emosi Saat Anak Tantrum

Anak menangis keras, berteriak, bahkan berguling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi adalah situasi yang sering membuat orang tua merasa kewalahan. Tantrum bisa terjadi di rumah, di tempat umum, atau saat orang tua sedang lelah secara fisik maupun emosional. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya ikut terpancing emosi, merasa malu, marah, atau menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu menenangkan anak dengan cepat.

Padahal, reaksi emosional orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak. Ketika orang tua merespons tantrum dengan kemarahan, suara tinggi, atau kepanikan, anak cenderung semakin sulit ditenangkan. Sebaliknya, sikap orang tua yang tenang dan terkendali dapat membantu anak merasa aman dan perlahan belajar mengelola emosinya sendiri. Anak pada dasarnya sedang belajar mengenali perasaan, dan orang tua berperan sebagai contoh utama dalam proses tersebut. Artikel ini akan membahas tentang pentingnya mengelola emosi diri ketika anak sedang tantrum. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Apa yang Dimaksud dengan Tantrum?

Tantrum adalah luapan emosi yang muncul ketika anak merasa kewalahan dan belum mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal dengan baik. Tantrum biasanya ditandai dengan perilaku seperti menangis keras, berteriak, memukul, menendang, berguling di lantai, atau menolak berkomunikasi. Perilaku ini bukanlah bentuk kenakalan, melainkan cara anak mengekspresikan emosi yang belum bisa ia kendalikan secara matang.

Tantrum paling sering terjadi pada anak usia 1–4 tahun, terutama pada fase toddler (2–3 tahun). Pada usia ini, perkembangan bahasa anak belum seimbang dengan kemampuan emosinya. Anak sudah memiliki keinginan yang kuat, tetapi belum mampu menyampaikan kebutuhan atau kekecewaannya dengan kata-kata. Akibatnya, emosi yang menumpuk sering kali keluar dalam bentuk tantrum. Seiring bertambahnya usia dan kemampuan regulasi emosi, frekuensi tantrum biasanya akan berkurang.

Tantrum tidak muncul tanpa alasan. Beberapa penyebab yang paling umum antara lain:

  • Kelelahan, baik secara fisik maupun mental, misalnya setelah bermain terlalu lama
  • Lapar atau haus, yang membuat anak mudah tersulut emosi
  • Frustrasi, karena keinginannya tidak dipahami atau tidak terpenuhi
  • Kesulitan berkomunikasi, saat anak tidak mampu mengungkapkan apa yang ia rasakan
  • Kebutuhan akan perhatian, terutama ketika anak merasa diabaikan
sumber: kejarcita.id

Pentingnya Mengelola Emosi Orang Tua

Saat anak mengalami tantrum, fokus orang tua sering tertuju pada bagaimana menghentikan perilaku tersebut secepat mungkin. Padahal, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana orang tua mengelola emosinya sendiri. Emosi orang tua memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi emosional anak, terutama pada situasi yang penuh tekanan seperti tantrum.

Hubungan Emosi Orang Tua dan Emosi Anak

Anak, khususnya usia dini, sangat peka terhadap emosi orang tuanya. Nada suara, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh orang tua dapat “dibaca” oleh anak meskipun tanpa kata-kata. Ketika orang tua merasa tenang, anak cenderung lebih mudah merasa aman dan perlahan menurunkan intensitas emosinya. Sebaliknya, ketika orang tua menunjukkan kemarahan, kecemasan, atau kepanikan, anak dapat ikut merasa terancam atau tidak dipahami, sehingga tantrum justru semakin meningkat.

10 Tips Praktis Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak Sejak Dini
kecerdasan emosional membantu anak mengambil keputusan yang bijak dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih matang

Emosi orang tua ibarat cermin bagi anak. Anak belajar memahami dunia emosinya melalui reaksi orang tua terhadap situasi yang ia hadapi. Oleh karena itu, mengelola emosi diri menjadi langkah awal dalam membantu anak menenangkan diri.

Peran Orang Tua sebagai Contoh Regulasi Emosi

Orang tua adalah teladan utama bagi anak dalam belajar mengelola emosi. Anak tidak belajar mengatur emosi dari nasihat semata, melainkan dari apa yang ia lihat dan rasakan sehari-hari. Ketika orang tua mampu tetap tenang, berbicara dengan nada lembut, dan menunjukkan cara menghadapi emosi dengan sehat, anak akan meniru pola tersebut secara bertahap.

Dengan menunjukkan regulasi emosi yang baik, orang tua membantu anak memahami bahwa perasaan marah, kecewa, atau sedih adalah hal yang wajar, tetapi harus diungkapkan dengan cara yang tepat. Inilah bekal penting bagi anak untuk membangun kecerdasan emosionalnya sejak dini. Oleh karena itu, mengelola emosi saat anak tantrum bukan hanya membantu meredakan situasi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi perkembangan emosional anak.

Cara Efektif Mengelola Emosi Saat Anak Tantrum

1. Tarik Napas dan Tenangkan Diri

Langkah pertama yang paling penting adalah menenangkan diri sendiri sebelum mencoba menenangkan anak. Saat melihat anak tantrum, tubuh orang tua sering kali ikut bereaksi secara otomatis, seperti jantung berdebar atau emosi naik dengan cepat. Dalam kondisi ini, menarik napas dalam-dalam dapat membantu menurunkan ketegangan.

Orang tua dapat mencoba teknik napas sederhana, misalnya menarik napas perlahan melalui hidung selama tiga hitungan, menahannya sebentar, lalu menghembuskannya melalui mulut. Lakukan beberapa kali hingga emosi terasa lebih stabil. Memberi jeda beberapa detik sebelum merespons anak juga sangat penting agar reaksi yang muncul bukan berasal dari amarah, melainkan dari kesadaran dan empati.

2. Kendalikan Pikiran Negatif

Saat anak tantrum, sering muncul pikiran negatif seperti “anak ini bandel”, “kenapa anakku seperti ini”, atau “saya orang tua yang gagal”. Pikiran-pikiran ini justru dapat memperburuk emosi dan membuat orang tua semakin sulit bersikap tenang.

Cobalah mengganti pikiran tersebut dengan sudut pandang yang lebih empatik, misalnya “anak sedang kesulitan mengungkapkan perasaannya” atau “anak sedang belajar mengelola emosi”. Dengan mengubah cara berpikir, orang tua akan lebih mudah bersikap sabar dan melihat tantrum sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak, bukan sebagai kesalahan pribadi.

3. Jaga Nada Suara dan Bahasa Tubuh

Nada suara dan bahasa tubuh orang tua memiliki pengaruh besar terhadap kondisi emosional anak. Suara yang tinggi, wajah tegang, atau gerakan tubuh yang kasar dapat membuat anak merasa terancam dan semakin sulit ditenangkan. Sebaliknya, nada suara yang lembut dan stabil dapat memberikan rasa aman bagi anak.

Selain itu, perhatikan bahasa tubuh saat menghadapi anak tantrum. Usahakan untuk berada pada posisi sejajar dengan anak, tidak membungkuk secara mengintimidasi, dan hindari menunjuk atau memegang anak dengan kasar. Bahasa tubuh yang tenang menunjukkan bahwa orang tua hadir untuk membantu, bukan untuk menghukum.

4. Fokus pada Keamanan Anak

Ketika anak sedang tantrum, prioritas utama orang tua adalah memastikan anak berada dalam kondisi aman. Jika tantrum terjadi di tempat yang berisiko, seperti dekat benda tajam atau di area umum, orang tua perlu mengamankan lingkungan sekitar terlebih dahulu.

Pada tahap ini, tidak perlu memaksakan anak untuk segera berhenti tantrum. Memaksa anak diam atau menuruti perintah dengan keras justru dapat memperburuk situasi. Biarkan anak meluapkan emosinya dengan aman sambil orang tua tetap mendampingi dan menjaga keselamatannya.

5. Validasi Emosi Anak

Validasi emosi berarti mengakui perasaan anak tanpa membenarkan perilaku negatifnya. Anak perlu merasa dipahami sebelum ia mampu menenangkan diri. Pada kesempatan ini orang tua dapat menyampaikan bahwa perasaan anak itu wajar, tetapi tetap memberikan batasan pada perilakunya.

Contoh kalimat validasi emosi yang bisa digunakan seperti:

  • “Mama tahu kamu sedang marah karena mainannya diambil.”
  • “Kamu kelihatan kecewa, ya, karena tidak boleh membeli itu.”
  • “Perasaanmu boleh marah, tapi tidak boleh memukul.”

Dengan memvalidasi emosi anak, orang tua membantu anak belajar mengenali dan menamai perasaannya. Hal ini menjadi langkah penting agar anak perlahan mampu mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat di kemudian hari.

sumber: kejarcita.id

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Setelah Anak Selesai Tantrum?

1. Mengajak Anak Berbicara dengan Tenang

Ketika anak sudah lebih tenang, orang tua dapat mengajaknya berbicara secara perlahan dan lembut. Hindari langsung menasihati atau menghakimi perilaku anak. Mulailah dengan kalimat sederhana yang menunjukkan perhatian, seperti menanyakan perasaan anak atau memastikan bahwa ia sudah merasa lebih baik. Percakapan yang dilakukan dalam suasana tenang akan membuat anak lebih terbuka dan merasa aman untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan.

2. Membantu Anak Menamai Emosinya

Anak sering kali mengalami tantrum karena belum mampu mengenali dan menyebutkan emosinya sendiri. Setelah tantrum selesai, orang tua dapat membantu anak menamai emosi yang tadi ia rasakan, seperti marah, sedih, kecewa, atau frustrasi. Dengan menyebutkan emosi tersebut, anak belajar bahwa perasaan memiliki nama dan dapat dikenali.

Positive Discipline: Rahasia Mendisiplinkan Anak Tanpa Drama Emosi
Positive Discipline menawarkan cara mendidik anak dengan penuh empati, kasih sayang, sekaligus ketegasan

3. Mengajarkan Cara Mengekspresikan Emosi yang Lebih Tepat

Setelah anak mengenali emosinya, orang tua dapat mengarahkan anak pada cara mengekspresikan emosi yang lebih tepat. Jelaskan bahwa merasa marah atau kecewa adalah hal yang wajar, tetapi ada cara yang lebih baik untuk menyampaikannya selain menangis berlebihan, berteriak, atau memukul.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak, terutama ketika anak belum mampu mengelola dan mengungkapkan emosinya dengan baik. Dalam menghadapi situasi ini, orang tua bukan sekadar berperan dalam menenangkan anak saja, tetapi juga sebagai contoh dalam mengelola emosi secara sehat. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa menghadapi anak tantrum bukan sekadar tantangan sesaat, melainkan kesempatan berharga bagi orang tua untuk membangun kedekatan emosional dan menanamkan kecerdasan emosi anak sejak dini.