Bukan Nakal, Perilaku Buruk Pada Murid Bisa Jadi Tanda Gangguan Kesehatan Mental

Pernahkan anda menjumpai murid yang susah diatur? Tak pernah memperhatikan saat di dalam kelas? Suka membantah bahkan mungkin berbuat onar dengan mengganggu teman-temannya? Pasti pernah ya. Lalu apa yang biasanya anda lakukan? Marah? Jengkel? Ya, sebagai manusia apa yang anda rasakan itu adalah hal yang wajar.

Namun tentunya sebagai guru, anda pasti mengelolah emosi yang anda rasakan tadi. Perjalanan sebagai guru tentu tidak berjalan semulus jalan tol. Murid-murid dengan perilaku diatas tentu akan anda temui. Tak jarang, murid-murid dengan tindakan-tindakan tersebut seringkali disebut sebagai murid yang nakal.

Apakah benar murid itu nakal? Apa sih sebenarnya definisi dari nakal? Apa saja penyebab kenakalan pada murid? Mungkinkah kenakalan itu bisa jadi karena adanya gangguan kesehatan mental? Semua pertanyaan-pertanyaan tadi bisa anda dapatkan jawabannya dalam artikel ini.

Murid Nakal?

Murid nakal? Sebenarnya apa sih definisi dari nakal? Bagaimana seseorang bisa disebut nakal? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), nakal didefinisikan sebagai suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya). Tentu sebagai guru anda sering menjumpai kondisi murid yang seperti ini.

Murid yang dianggap nakal tentu tidak begitu saja terjadi. Pasti ada faktor penyebabnya. Berikut adalah faktor-faktor penyebab kenakalan pada murid menurut Psikoterapis dan penulis buku psikologi 13 Things Mentally Strong People Don’t Do, Amy Morin.

  1. Cari perhatian,  saat murid menginginkan perhatian dari guru dan tak mendapatkannya, maka mengamuk atau memukul adalah salah satu cara yang dipilih. Meskipun tahu bakal dimarahi setelah melakukan perbuatan nakal itu, amurid tetap menjadikannya sebagai cara untuk mendapat perhatian. Mereka ingin guru di sekitar mereka melihat, berbicara dan memberikan perhatian penuh pada mereka.
  2. Mencontoh orang lain, murid belajar bersikap dengan cara melihat orang lain. Baik itu dengan cara menyaksikan aksi-aksi nakal teman di sekolah atau dari tontonan di televisi.
  3. Menguji kesabaran, saat guru menetapkan aturan pada murid mengenai apa saja yang tidak boleh mereka lakukan, murid-murid umumnya ingin mengetahui seberapa serius orangtua mereka dengan aturan tersebut.
  4. Minim keterampilan, biasanya masalah perilaku murid muncul karena kurangnya keterampilan yang dimiliki. Seorang murid yang minim kemampuan bersosialisasi bisa saja memukul anak yang lain ketika dia merasa tidak senang.
  5. Tidak mampu mengendalikan emosi, murid-murid sering tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan atas perasaan yang mereka miliki. Akhirnya mereka pun lebih mudah merasa marah dan menjadi agresif.
  6. Menunjukkan kekuasaan, perilaku menantang dan argumentatif sering muncul ketika seorang murid mencoba mendapatkan kembali kekuasaannya.
  7. Kebutuhan yang tak terpenuhi, saat murid-murid merasa lapar, lelah atau sakit, perilaku buruk biasanya mengikuti.
  8. Memiliki gangguan kesehatan mental, terkadang murid-murid memiliki gangguan kesehatan mental yang menjadi penyebab perilaku mereka bermasalah.

Gangguan Kesehatan Mental Pada Murid

Gangguan kesehatan mental bisa menjadi salah satu penyebab kenakalan pada murid. Beberapa gangguan kesehatan mental yang seringkali membuat anak dianggap nakal adalah sebagai berikut.

  1. CD (Conduct Disorder) , CD didefinisikan sebagai gangguan perilaku disruptif anak dan remaja serta ditandai pelanggaran persisten hak orang lain atau norma/aturan masyarakat. Gejala yang dapat dilihat antara lain kejam terhadap orang lain atau binatang, senang membuat masalah dan tidak memiliki rasa empati atau kasihan dengan makhluk yang disakiti. Gejala CD lain yang dapat diamati adalah sering mengancam, sering berbohong, sering menekan atau mengintimidasi teman dan orang lain, sering memulai perkelahian fisik, berperilaku kejam atau menyakiti orang lain bahkan hewan, mencuri, sering memanfaatkan orang lain dengan tujuan mendapat keuntungan, sering kabur dari rumah, sering keluar rumah tanpa tujuan yang jelas (nongkrong) dan sering membolos dari sekolah.
  2. ODD (Oppositional Defiant Disorder), perilaku ini dicirikan dengan pola berulang ketidaktaatan, perilaku bermusuhan, menantang figur otoritas tanpa terlalu jauh melanggar hak orang lain. Gejala ODD dapat terlihat sebelum usia 8 tahun. Perilaku ODD yang dapat diamati antara lain sering marah-marah, argumentatif terhadap orang dewasa, penolakan terhadap aturan, sengaja menjengkelkan orang lain, menyalahkan orang lain, sensitif dan mudah jengkel, marah, benci, pendendam, agresif terhadap teman sebaya dan kesulitan mepertahankan persahabatan.
  3. ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder), ADHD adalah gangguan mental yang ditandai dengan gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas. ADHD sendiri dapat diterlihat sebelum usia 7 tahun. Gejala ADHD dapat dikelompokan dalam tiga kelompok, yaitu inatensitas (sulit konsentrasi/memusatkan perhatian, berupa mudah terganggu perhatiannya, tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara), hiperaktivitas (selalu bergerak, sering gelisah, sulit untuk tenang dalam jangka lama) dan impulsivitas (sulit menunggu giliran).
  4. SAD (Separation Anxiety Disorder), SAD adalah sebuah gangguan kecemasan yang dapat terjadi saat murid merasakan kecemasan secara berlebih.  muncul dengan memperlihatkan perilaku marah serta rasa gelisah melalui sebuah teriakan atau berlari-lari. Murid-murid dengan perilaku ini dapat terjadi saat dirinya mengalami rasa cemas ketika berpisah dari orang-orang terdekatnya, seperti orangtua.
  5. SPD (Sensory Processing Disorder), ketika murid dilabeli sebagai  murid yang nakal, tak jarang mereka memiliki perilaku sensory processing disorder. Perlu Murid dengan perilaku sensory processing disorder terkesan tidak bisa diam, suka berteriak hingga sering menyentuh atau menggigit sebuah barang.
10 Strategi Menangani Siswa ADHD di Kelas
ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, merupakan kondisi mental yang membuat anak sulit memusatkan perhatian, berperilaku impulsif serta hiperaktif. Kondisi ini tentunya akan berdampak pada lingkungan sosial dan prestasi anak di sekolah.

Pentingnya Guru Memahami Gangguan Kesehatan Mental

Melihat banyaknya gangguan kesehatan mental yang mungkin bisa saja diderita oleh murid-murid, maka tidak ada salahnya bila guru juga mulai memahami tentang gangguan kesehatan mental ini. Pemahaman kesehatan mental tidak menjadi tanggung jawab guru BK (bimbingan Konseling) semata. Edukasi kesehatan mental juga perlu dilakukan di sekolah. Pengetahuan tentang kesehatan mental ini bisa membantu guru untuk bisa menghadapi kedaan murid-murid yang seringkali tidak bisa berbuat baik. Pengetahuan tentang kesehatan mental ini juga bisa menghindarkan guru untuk melakukan stigma.

Tidak ada murid yang nakal. Murid-murid yang dianggap nakal bisa jadi karena mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini tentu perlu dimengerti oleh guru. Guru yang bisa mengenali gangguan kesehatan mental yang dialami oleh muridnya, bisa membantu mencari jalan keluar. Mulai dengan melakukan komunikasi dengan orang tua, mengajak murid menemuhi psikolog sekolah atau yang seringkali disebut senagai guru bimbingan konseling (BK). Bahkan bila diperlukan, bisa meminta bantuan para ahli terkait, misalnya psikolog kejiwaan.

Semua Anak itu Cerdas Menurut Konsep Multiple Intelligence
Semua anak itu cerdas. Anak-anak itu memiliki kemampuan kecerdasannya masing-masing. Teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner memandang bahwa semua anak itu cerdas dan kecerdasan itu bersifat majemuk.

Dengan demikian murid-murid yang mengalami gangguan kesehatan mental bisa segera ditolong. Mereka akan bisa kembali berbuat baik dan mematuhi atauran. Guru pun akan bisa menjalankan tuganya dalam mendidik dengan baik dan lancar. Proses pembelajaran juga akan berjalan lancar tanpa gangguan. Murid-murid lainnya juga bisa belajar dengan tenang, tanpa takut diganggu oleh temannya. Tidak ada murid nakal.