Bentuk-Bentuk Layanan Pendidikan untuk ABK (Segregasi dan Inklusi)

pendidikan 16 Agt 2023

Setap anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik dan memenuhi perkembangan mereka, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus atau ABK. Saat seorang anak diidentifikasi memiliki kebutuhan khusus, maka pendidikan luar biasa sangat dibutuhkan. Pendidikan inilah yang membantu perkembangan mereka.

Meski anak berkebutuhan khusus tidak secara otomatis memerlukan pendidikan luar biasa, tetapi pendidikan ini lebih memadai dibandingkan sekolah umum. Dengan kata lain, pendidikan luar biasa sesuai dengan kebutuhan unik setiap siswa ABK yang tidak bisa diakomodasi oleh pendidikan umum. Dalam artikel ini, kita akan mengenal bentuk layanan untuk ABK.

Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi

Apakah Anda pernah mendengar bentuk layanan pendidikan segregasi? Sistem layanan pendidikan ini diselenggarakan terpisah dari pendidikan anak normal. Artinya, anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga yang memang diperuntukkan untuk ABK, misalnya SLB atau Sekolah Luar Biasa, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA.

Sistem layanan pendidikan segregasi bisa dikatakan sebagai sistem yang paling tua. Pasalnya, pada awal pelaksanaannya didasari adanya kekhawatiran atau keragaman terhadap perilaku serta kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk bisa belajar dengan anak normal. Bukan hanya itu, anak berkebutuhan khusus juga memiliki kelainan fungsi tertentu yang memerlukan layanan pendidikan dengan metode sesuai kebutuhan perkembangan mereka.

Anak tunarungu atau kehilangan kemampuan mendengar perlu komunikasi total dan persepsi bunyi. Anak tunanetra atau kehilangan kemampuan melihat memerlukan layanan yang khusus dengen orientasi mobilitas dan braille. Kemudian, anak tunadaksa atau kondisi anggota tubuh tidak sempurna memerlukan layanan mobilisasi dan aksesilbilitas serta layanan terapi yang bisa membantu fungsi fisiknya.

4 Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi

Sistem layanan pendidikan segregasi memiliki 4 macam/bentuk, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Sekolah Luar Biasa

Sekolah Luar Biasa atau SLB merupakan bentuk layanan pendidikan ABK yang cukup populer dan paling banyak dipilih. Lantaran SLB merupakan bentuk sekolah yang paling tua. SLB sendiri merupakan bentuk unit pendidikan mulai dari tahap persiapan sampai tingkat lanjutan.

Pada awalnya, sekolah luar biasa diselenggarakan sesuai dengan kelainan yang ada (setiap satu kelainan) sehingga ada SLB-A untuk siswa tunanetra, SLB-B untuk siswa tunarungu, SLB-C untuk siswa tunagrahita, SLB-D untuk siswa tunadaksa dan SLB-E untuk tunalaras. Setiap SLM memiliki tingkatannya sendiri, yaitu seperti dimulai dari tingkat persiapan, tingkat dasar hingga tingkat lanjut, dan sistem kegiatan pembelajaran sendiri yang mengarah pada individualisasi.

Selain dibedakan berdasarkan satu kelainan saja, adapula bentuk SLB yang digunakan untuk melayani pendidikan lebih dari 1 kelainan, yaitu SLB-BC yang diperuntukkan untuk siswa tunarungu dan tunagrahita. Adapula SLB-ABCD untuk siswa tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa.

2. Sekolah Luar Biasa Berasrama

Sekolah Luar Biasa Berasrama, yaitu bentuk layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dilengkapi dengan fasilitas asrama. Di sana, siswa bisa tinggal di asrama tersebut. Pengelolaan asrama itu juga menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah. Ini sama seperti SLB pada umumnya yang memiliki tingkatan persiapan sampai tingkat lanjut dan dibedakan sesuai dengan satu kelainan. Fungsi asrama di sini berfungsi sebagai program pembinaan setelah sekolah.

3. Kelas Jauh/Kelas Kunjung

Kelas jauh atau kelas kunjung merupakan lembaga pendidikan untuk ABK yang tinggal di tempat yang jauh dari sekolah luar biasa. Hal ini disebabkan masih terbatasnya sekolah khusus di wilayah-wilayah tertentu. Bentuk layanan ini diselenggarakan sesuai kebijaksanaan pemerintah untuk menuntaskan kewajiban belajar serta memberikan pemerataan kesempatan belajar.

4. Sekolah Dasar Luar Biasa

Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) merupakan unit sekolah yang diselenggarakan untuk mendidik anak berkebutuhan khusus dari berbagai kelainan dalam satu atap. Tenaga kependidikan yang bekerja SDLB terdiri dari kepala sekolah dan beberapa guru khusus untuk menangani masing-masing kelainan, seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, guru mata pelajaran agama, dan guru olahraga.

Selain tenaga kependidikan, di SDLB juga ada beberapa pekerja yang membantu melayani sesuai kebutuhan kelainan anak, seperti psikolog, fisioterapis, audiolog, speech therapish, dokter spesialis dan dokter umum. Kemudian, ada tenaga administrasi serta penjaga.

Bentuk Layanan Pendidikan Inklusi

Pendidikan inklusi merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan pada anak berkebutuhan khusus dan semua siswa yang memiliki potensi kecerdasan serta bakat istimewa untuk bisa belajar bersama-sama dengan siswa pada umumnya. Menurut Staub dan Peck (Effendi, 2013) pendidikan inklusif merupakan menempatkan ABK dengan tingkat ringan, sedang, maupun berat di kelas regular atau umum.

Sekolah inklusi juga bisa disebut layanan pendidikan yang mengkoordinir dan mengintegrasikan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler dalam program yang sama. Dengan pendidikan inklusi maka membantu siswa merasa lebih percaya diri dan tidak ada persepsi "dibeda-bedakan" dengan anak yang lain, ini juga membuat anak merasa tenang, senang, dan dihargai. Karena pada dasarnya, inklusi juga terjadi pada semua lingkungan sosial anak, baik di sekolah, lingkungan sosial di kelompok teman sebaya, lingkungan keluarga, dan masyarakat.

Pendidikan inklusi bukan hanya mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus, tetapi lebih luas dan melibatkan seluruh peserta didik dengan kondisi berikut.

  1. Anak yang terbiasa menggunakan bahasa pengantar yang berbeda dari yang digunakan dalam kelas.
  2. Anak yang sudah atau berisiko putus sekolah dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak baik, kelaparan, ekonomi, ataupun tidak berprestasi baik.
  3. Anak yang berasal dari latar belakang budaya, suku, ras, kasta atau agama yang berbeda.
  4. Anak yang memiliki penyakit AIDS atau HIV.
  5. Anak yang berusia sekolah, tetapi tidak sekolah.

Tujuan Pendidikan Luar Biasa

Pendidikan luar biasa memberikan kesempatan pada anak berkebutuhan khusus untuk bisa belajar bersama-sama layaknya anak normal di sekolah umum. Pendidikan ini memiliki beberapa tujuan, di antaranya sebagai berikut.

Tujuan bagi anak

  1. Anak merasa bagian dari masyarakat pada umumnya dan tidak dianggap berbeda.
  2. Mendapatkan keberagaman untuk belajar dan tumbuh.
  3. Meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri.
  4. Mendapatkan kesempatan yang sama, seperti yang didapatkan anak pada umumnya.

Tujuan bagi guru

  1. Membantu guru menghargai perbedaan.
  2. Menciptakan kepedulian.
  3. Memberikan tantangan untuk menciptakan metode pembelajaran yang beragam.

Tujuan bagi pihak sekolah

  1. Mendapatkan pengalaman untuk mengatur berbagai perbedaan .
  2. Mengembangkan bentuk apresiasi untuk setiap siswa dengan keunikan dan keistimewaan yang berbeda.
  3. Meningkatkan rasa empati serta kepekaan pada keterbatasan yang dimiliki siswa, sehingga dapat memenuhi setiap kebutuhan siswa.
  4. Bantu meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam mengajar semua siswa yang berbeda di kelas.

Itulah beberapa hal yang dapat Anda ketahui mengenai berbagai layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Tentunya tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa memenuhi hak anak dalam mendapatkan pendidikan yang baik dalam hidupnya. Orang tua, guru, sekolah dan lingkungan masyarakat perlu bekerja sama untuk memenuhi ketubuhan tumbuh kembang anak.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.